Posted on

WHEN YOU LONELY

Oleh : Alin

Dia kesepian lagi. Pria kurang beruntung ini kesepian lagi. Orang-orang yang dulu selalu terdengar bisikannya. Bahkan kini tak terdengar teriakannya. Dia tidak berada ditempat sepi tapi kesendirian mengurungnya. Ada bayangan yang selalu mengikutinya disetiap langkahnya dan mengatakan “semua meninggalkanmu, kau sendirian”. Dia ditinggalkan semuanya, semua yang pernah hadir dalam hidupnya. Teman, keluarga ataupun hal tercinta yang pernah ia miliki, sekarang semua itu mempenjarakan dirinya dalam kesendirian. Meninggalkannya dalam dunia yang sudah ia sebut sebagai penjara. Ia terkurung sendirian dan tidak seorangpun berbicara dengannya juga tidak seorangpun mengeluarkannya. Ditengah lelah dirinya terhadap kesendirian itu sesekali ia meminta kepada siapapun untuk mengeluarkan dirinya “siapapun, keluarkan aku dari ruang ini, ruang hampa nan sepi ini, aku mohon”. Namun sekali lagi tidak seorangpun mendengarkannya. Dalam kesepiannya ia teringat betapa ramainya dulu hidupnya, keluarga yang selalu ada, keluarga yang seperti surga yang memberikan apapun untuknya kini tak satupun ada lagi. Teman yang dahulu menjadi tempat menghabiskan masa, tidak satupun menemaninya. Ia teringat kembali mengapa mereka semua pergi, mengapa semua meninggalkannya. Tapi seperti yang kesudahan dia tidak pernah terima alasan mereka pergi. “aku tidak salah, aku tidak salah”. Kata itulah yang selalu ia ucapkan pada dirinya. Tidak satupun manusia didunia ini yang mengingkan hal buruk menimpa dirinya dengan sengaja. Begitu elaknya. Namun tak seorangpun percaya pada dirinya, tak satupun anggota keluarganya mendukungnya seperti dulu mereka selalu ada untuknya, teman-teman yang dulu pernah menjadi penyemangat baginya, semua tidak percaya dan kian menjatuhkan dia ke jurang penderitaan yang semakin dalam. Penderitaan yang bukan sekedar kesakitan melainkan juga pengasingan.
Semenjak semua orang meninggalkannya, semenjak semua orang mengasingkan dirinya dan membiarkan dirinya kesepian. Dia pria yang kesepian itu semakin bertambah kesepian. Ia menarik dirinya dari siapapun, dari apapun bernama dunia. Pengasingan dirinya membuat dirinya terbiasa sendiri.  Setiap langkahnya adalah dirinya, hidupnya adalah dirinya dan ketika ia mati, yang akan mati hanyalah dirinya dan tidak ada yang akan bersedih karena kematiannya. Pria kesepian itu kini tidak mengenal siapapun dan ia hanya mengenal dirinya. Ia merasa sangat mengenal dirinya yang tidak orang lain bisa lakukan. “mereka berbicara seolah tahu segalanya tentangku, tapi sungguh mereka sama sekali tidak tahu aku, bagaimana aku dan apa yang terjadi padaku”rintihnya dalam kemarahan. Iya.. saat ini tidak ada lagi cinta dalam dirinya, yang ada hanyalah kebencian terhadap dunia dan seluruh isinya. Yang ada hanyalah kemarahan terhadap apa yang telah ia miliki dulu. Dia telah lahir kembali menjadi sosok tidak menyenangkan karena buah dari pernah tersakiti sangat dalam. “aku tidak peduli apapun lagi selain aku dan hidupku, aku berjuang sendiri untukku sendiri, tidak akan ada kaitan dengan kalian lagi, tidak sama sekali, seperti kalian meninggalkanku, aku juga tidak akan kembali atau berharap kalian kembali”
Dunia terlalu kejam baginya. Sakit dan penderitaan tidak berhenti hanya karena dia berniat untuk lebih kuat. Dia harus benar-benar kuat, dia harus benar-benar berusaha untuk itu. “aku harus kuat, aku tidak boleh mati sebelum membuktikan segalanya, aku tidak rela mati sebelum membalas semuanya dan menutup semua mulut yang pernah bicara buruk tentangku”katanya didalam kesakitannya. Ia selalu berusaha bangkit dengan alasannya itu. Hidup yang ia jalani tidak berarti tanpa tujuannya membuktikan kebenaran dirinya, tanpa tujuannya itu dia mungkin sudah mengakhiri hidupnya sejak pertama kali semua meninggalkannya. Dalam kesepiannya, didalam kesakitannya dan didalam semua penderitaan yang berkumpul didadanya ia mencari kehidupan, tertatih langkahnya tidak menyurutkan niatnya untuk bekerja. Namun tidak mudah, tidak mudah baginya menemukan pekerjaan, ia berulang kali dipecat ketika perusahaan mengetahui latar belakangnya. Namun dia tidak surut, ia tetap mengombak dengan tinggi mencari kembali pekerjaan yang lain. Apapun dan bagaimanapun selagi itu benar. Baginya benar itu penting, sebab tujuannya adalah membuktikan kebenaran bagaimana mungkin ia mengambil langkah dengan cara yang salah. Apapun yang ia lakukan harus benar. Ia tidak akan melakukan kesalahan sekecil apapun. Termasuk membalas segala hinaan dan cemoohan mereka yang baru mengetahui tentang dirinya. Dia lebih kepada diamnya, ia sudah berjanji tidak akan membalas dengan cara yang salah. 
Dia mendengarkan segala yang mereka katakan tentang dirinya, mereka mengatakan dia lebih baik begini begitu, mereka mengatakan kamu seharusnya dulu jangan begini jangan begitu, mereka juga mengatakan kamu tidak boleh begini begitu. Mereka berbicara seolah tahu segalanya tentang dirinya. Dia kadang sangat lelah mendengarkan itu, namun dia tetap diam. Dia tidak menyalahkan mereka yang berbicara buruk tentangnya, baginya itu semua karena mereka tidak tahu kebenarannya. Baginya mereka yang berbicara itu seperti sekumpulan orang bodoh yang berbicara tentang bintang, yang mengatakan bahwa bintang itu indah jauh dan kecil. Sedangkan tidak seperti itu kenyataannya. “seperti itulah mereka menilaiku”ucapnya dalam menenangkan dirinya sendiri.
 “aku memang marah dahulu, ingin sekali langsung membalas semua perihal buruk padaku. Namun sekarang tidak lagi. Bagiku itu salah. Aku sangat tidak menyukai kesalahan. Karena kesalahanlah aku menjadi seperti ini. untuk itu aku tidak akan lagi melakukan hal yang salah” gemingnya dalam hati.
Dia sudah berniat akan memperbaiki kesalahan, membuktikan kebenaran dan menegakkan kebenaran tentang dirinya atau bahkan tentang orang lain yang mengalami hal yang sama seperti dirinya. Percaya atau tidak, bahwa niat yang baik akan membawa kepada hal yang baik. Hal baik tiba-tiba itu menghampiri dia, menyapa kesepiannya dan mengeluarkan dia dari penderitaan perlahan.
Pertemuan bermula ketika seseorang dengan kamera tidak sengaja menangkap kemuraman wajah Pria kesepian itu. “benar-benar wajah yang pas” kata seseorang itu. Pria itu mendengar seseorang itu berbicara, dia tahu bahwa gambar itu adalah wajahnya. tapi ia diam. Ia tidak ingin berurusan dengan orang lain lagi. Pria itu meninggalkan orang itu. namun sekali lagi kebaikan akan selalu memanggil pelakunya “Heiiii tunggu”. Pria kesepian itu berhenti menoleh dengan ragu, namun akhirnya ia benar-benar berhenti. Di dalam hatinya berkata “mengapa aku berhenti?”.
“Salam kenal, aku Whena, aku tadi tidak sengaja mengambil gambarmu. Dan aku tertarik mengajakmu bekerja denganku bagaimana” kata Orang bernama Whena itu sambil mengulurkan tangannya
Pria kesepian itu berfikir cukup lama, mereka pun saling memandang cukup lama juga. Pria itu akhirnya menjabat tangan Whena
“Leon ”ucap Pria kesepian akhirnya menyebutkan namanya kepada seseorang setelah sekian lama dirinya sendiri
“Oke. Jadi apa kamu mau ?” tanya Whena lagi
Pria bernama Leon itu, berfikir cukup lama. Ia sangat membutuhkan pekerjaan dan ini adalah kesempatan. Tapi ia berfikir kembali apakah hasilnya akan sama ? ia akan menendangnya ketika tahu seperti apa dirinya.
“Hallo…. bagaimana kenapa kamu diam terus? Ok. Aku kasih kamu kartu namaku. Kalau kamu berminat datang aja atau hubungi aku. tapi aku harap kamu menerima kesempatan ini ok” kata Whena lagi sambil menyodorkan kartu nama yang diterima oleh Ryo. Kemudian Whena beranjak pergi.
Selang beberapa hari, setelah berfikir dengan begitu banyaknya, pria berusia 25 tahun itu akhirnya menghubungi Whena dan menerima tawaran whena. Mereka akhirnya bertemu kembali disebuah Kafe didekat kantor Whena bekerja.
“kamu ini memang tidak suka bicara yah. Kita sudah hampir setengah jam disini tapi kamu tidak mengatakan apa-apa kecuali ku tanya” kata Whena sambil melirik senyum pada Leon
“Jadi apa pekerjaanku ?”tanya Leon kemudian
“ok. Kalau kamu mau langsung ke topik kita. Kamu memang orang yang tidak suka bicara sepertinya. Begini aku menawarimu sebagai model video Klip sebuah lagu. Bagaimana kamu pasti berminat kan ?”tanya Whena
“kamu yakin akan menggunakan aku ?”tanya Leon
“tentu, kamu punya karakter yang kuat dalam lagu ini. lagu seseorang yang patah hati dan kesepian. Aku bisa baca itu dikarakter wajahmu” jawab Whena
“Berapa yang akan aku dapat?”Leon bertanya lagi
“kalau kamu setuju, besok aku akan bawa kontrak kerjanya. Soal bayaran kamu pasti tidak akan kecewa. Ini lagu dari Solois terkenal Rumi Nade. Kamu tahu kan pasti ?” kata Whena dengan bangganya.
“Ok…”Leon mengiyakan tawaran itu.
“ok… dimana tempat tinggalmu. Biar aku antar pulang”tawar Whena
“Tidak perlu….”jawab Leon singkat kemudian beranjak pergi meninggalkan Whena.
Leon meninggalkan Whena di Kafe, Whena memandang lagi foto Leon dalam kameranya. Ia berbicara sendiri “entah kenapa wajahnya seseorang bisa sehampa ini ? bahkan matanya tidak mengatakan”. Whena begitu penasaran pada sosok Leon. Ia sudah begitu banyak mengambil objek wajah seseorang dalam menemukan model. Namun ia dibuat penasaran dengan karakter wajah Leon yang menurutnya penuh kekosongan. Whena kemudian mengambil sebuah notebooknya, dan mulai menulis sesuatu. Dan whena menghabiskan seharian waktu nya di Kafe sambil menulis.
Keesokan harinya, Whena dan  Leon bertemu kembali untuk menandatangi kontrak. Pertemuan di Kantor Whena. Leon mengenakan kemeja yang biasa ia kenakan yang menurut Leon paling bagus. Tapi tidak dengan pandangan orang-orang lain dikantor Whena. Semua orang menatapnya. Dalam hati Leon berkata “sebusuk itu kah aku”. setelah beberapa menit menunggu akhirnya Whena menghampiri Leon.
“Maaf menunggu. Sebab tadi ada sedikit keperluan”kata Whena.
Leon hanya mengangguk tanpa ekspresi. Kemudian mereka berdua masuk ke dalam ruangan kantor Whena. Whena mempersilahkan Leon untuk duduk dikursi dihadapannya. Menyodorkan sebuah map berisi kontrak dan sebuah pulpen.
“kamu bisa membacanya lebih dulu, baru setelah itu kamu tanda tangan disebelah sini”kata Whena menunjukan. Leon kemudian membacanya. Whena terus memperhatikan Leon. Hatinya berkata “siapa dia sebenarnya”. Whena merasa ia memiliki rasa penasaran yang tak beralasan. Karena tidak hal yang menarik dari Leon kecuali wajahnya yang tanpa ekspresi itu.
“sudah”kata Leon sambil menyerahkan kembali map itu.
Whena tersentak “oh.. ok” kata Whena singkat sambil mengambil Mapnya.
“kita akan mulai shooting minggu depan. Seminggu ini kamu harus menghapalkan skripnya. Dan ini skripnya. Dan kalau tidak ada dimengerti olehmu silahkan hubungi aku. aku sudah mengcastingmu kemarin saat di kafe. Dan karaktermu sangat cocok. Intinya aku memilihmu karena karakter naturalmu. Jadi kamu harus buktikan kalau pilihanku tidaklah salah. Ok” kata Whena menjelaskan sambil menyodorkan skrip pada Leon.
Leon mengiyakan kemudian pamit untuk pulang. Dan sekali lagi Whena menawarkan untuk mengantar tapi sekali lagi Leon menolaknya.
“sekali saja. Aku harus tahu dimana kamu tinggal. Anggap saja ini bagian dari pekerjaanku” bujuk Whena.
“Baiklah”akhirnya Leon mengiyakan.
Whena nampak lega, ia mengambil kunci mobilnya dan mereka akhirnya meninggalkan kantor. Disepanjang jalan Whena berbicara banyak hal mengenai pekerjaan dan disaut oleh Leon sesekali dengan singkat.
“oh yah… kamu tinggal dengan siapa disana ?”tanya Whena
“sendiri” jawab Leon
“oh… memang keluargamu……”kata whena terpotong
“Jangan tanya apapun lagi. Oke..bicarakan saja tentang pekerjaan”kata Leon mengejutkan Whena
“Sorry…”kata Whena terkejut mimik wajahnya berubah menjadi sungkan.
Seminggu kemudian saat proses shooting tiba. Leon telah tiba. Whena menghampiri Leon. Menanyakan persiapannya. Leon mengangguk mengatakan kesiapannya. Sang penyanyi Rumi Nade pun telah tiba dengan berbagai pengawalan oleh manajer dan asistennya. Ia menghampiri Leon dan Whena “Hallo semuanya… Hallo Leon senang bisa bertemu dan bekerja sama denganmu” sapa Rumi. Leon menjabat tangan Rumi. Leon bergumam dalam hatinya “ia tidak akan mau bersalaman tangan denganku ketika ia tahu kondisiku”. Whena tersenyum menyambut Rumi. Ia mengatakan sangat senang bisa diterima dalam proses pembuatan video Klip lagunya yang terbaru.
Hari itu hari yang panjang dan melelahkan bagi Leon. Namun semua berjalan lancar hingga 3 take terakhir. Namun pada Take terakhir Leon terjatuh pingsan. Semua panik termasuk Whena yang hadir mengawasi model pilihannya. Rumi berteriak “cepat panggil ambulance”. Whena berlari mendekati Leon. “Leon…. Leon” Panggil Whena berulang kali mencoba memabangunkan Leon. Leon tak juga terbangun. Leon dilarikan kerumah sakit saat ketika ambulance datang.
***
Cahaya datang menyilaukan mata Leon pagi itu. sesosok cantik ada disampingnya. Leon berusaha keras memperjelas pandangannya memastikan siapa orang disampingnya.
“kamu sudah bangun” tanya Whena sambil merapihkan selimut Leon
“kamu” ucap Leon pelan
“Kamu tidak sadar selama dua hari. Aku merasa khawatir karena aku tidak tahu bagaimana cara menghubungi keluargamu” kata Whena menatap sendu pada Leon.
“apa yang dokter katakan padamu” Leon pasrah saat itu
Whena terdiam. Ia bingung harus mengatakan apa. Whena mengingat kembali perkataan dokter yang memeriksa Leon kemarin “ Pasien adalah ODHA”.
“Apa kamu sudah tahu kalau aku ODHA?” Tanya Leon
Whena mengangguk dua kali kemudian menatap Leon. Whena Melihat Leon melepas nafas panjang. Leon merasa hal buruk akan segera terjadi. Ia akan sendirian lagi, ia akan kehilangan pekerjaan lagi. Dan orang yang ada disampingnya akan meninggalkannya seperti yang pernah terjadi dulu. pertama kali keluarganya tahu bahwa dirinya terkena HIV Aids.
“lalu kenapa kamu masih disini?”tanya Leon melihat kearah lain. Leon tidak melihat Whena.
“Kontrak kita dibatalkan oleh pihak Rumi. Tapi jangan khawatir kamu masih tetap mendapat bayaran untuk kerja kerasmu kemarin. Meski tidak sebanyak di dalam kontrak” kata Whena
“Pergilah… aku sudah mendengarkan apa yang ingin kamu bicarakan. Tinggalkan saja bayaranku di meja” kata Leon masih mempalingkan wajahnya dari Whena.
“Tidakkah kamu mau minta maaf ? kamu membuat semua kacau. Kalau kamu bilang dari awal ini semua tidak akan terjadi” kata Whena keras
“iyaa… maafkan aku… aku memang salah.. harusnya aku tidak mengambil tawaranmu. Maafkan aku. sekarang pergilah” kata Leon dengan wajah yang masih sama
“sekarang aku mengerti kenapa semua orang dan keluarga meninggalkanmu, karena kamu selalu mengatakan tinggalkan pergilah pergilah sekarang” ujar Whena
“aku pernah memohon untuk tinggal, tapi tidak satupun yang tinggal. Aku sudah sangat mengalah dengan memintamu pergi..jadi pergilah” jawab Leon
 “lalu kau akan kesepian lagi ?”tanya Whena dan Leon menoleh kearah Whena. Leon memandang wajah wanita keras kepala disampingnya. Leon merasa orang disebelahnya bukanlah manusia. Makhluk hidup bernama manusia yang selama ini dikenalnya adalah orang yang akan meninggalkan dengan segera setelah tahu penyakitnya. Tapi tidak dengan orang disebelahnya. Ia tetap tinggal meski Leon memintanya pergi. Dan bahkan mengkhawatirkan perihal kesepiannya.
“apa kamu tahu soal kesepian seseorang?” tanya Leon
“iya… aku bisa merasakan kesepian seseorang, bisa merasakan kesepianmu. Dan aku sudah tahu sejak pertama kali memotret dirimu. Dan untuk itu aku mengajakmu. Aku ingin mengeluarkanmu dari sana. dari tempat bernama kesepian itu. agar kamu bisa mendapat rasa ramai itu walau sedikit dengan bekerja denganku dan tim ku. Tapi setelah semua orang tahu. Kesepianmu tidak dapat diselematkan dengan hal itu” kata Whena
“sudah ku duga.. tidak ada yang bisa menyelamatkanku. Semua orang akan meninggalkanku lagi. Semua orang akan mengasingkanku. Aku sudah berfikir banyak hal sebelum menerima tawaranmu. Termasuk jika aku muncul media, dan kalau mereka tahu itu aku dengan AIDS, aku yakin semua akan bertambah buruk kondisinya. Tapi aku berfikir lagi. Aku membutuhkan uang untukku bisa membeli obat. Jadi aku terima tawaranmu. Aku juga berfikir kalau aku menerima tawaranmu, aku berharap orang-orang akan menerimaku, tapi seperti yang telah ku lalui sebelumnya, mereka pergi. Dan aku tidak dapat diselamatan dari penyakitku ataupun dari kesepianku” Leon menjelaskan alasannya
“Ada… pasti ada.. aku akan membantumu menyelamatkanmu”ucap Whena penuh keyakinan
Leon tersenyum, pertama kalinya baginya setelah sekian lama wajah nya tidak pernah tersenyum. Keyakinan Whena membuat secercah harapan untuk Leon. Whena melihat senyum Leon untuk pertama kalinya. Whena tersenyum kembali, didalam hatinya berkata “entah kenapa, entah atas alasan apa, aku tetap disini dan tinggal mendukungnya. Yang aku yakini bahwa yang aku lakukan adalah benar. Dan aku merasa salah jika aku meninggalkannya. Itu saja alasanku sekarang”.
***
Takdir, Whena menyakini bahwa pertemuannya dengan Leon adalah suatu takdir yang tak terhindarkan. Bagi Leon pun sama. Whena adalah takdir yang tak terhindarkan yang dikirim oleh tuhan untuk membantunya, menyelamatkannya dari penderitaan dan juga membantunya mengisi hari-hari disisa usianya.
Leon, kini bukan pria kesepian lagi. Meski kondisinya tidak sebaik dulu. penyakitnya kian memburuk tapi ia tidak sama sekali menderita. Whena, Whena adalah kuncinya membuka penjara kesepiannya. Dalam keadaan terburuk sekalipun, langkah Whena tetap ada dipihak Leon. Setelah sebelumnya Whena diberhentikan dari pekerjaanya karena kasus Leon menjadi model untuk video klip itu, bersama Leon Whena telah membangun usahanya sendiri. Ia mendirikan kantor berita sendiri, meski dengan jatuh bangun bersama Leon. Leon sendiri melalui kantor berita yang dirikan Whena banyak memuat artikel dan wawasan mengenai AIDS. Banyaknya respon positif dan berkurangnya stigma negatif terhadap penderita  AIDS akhirnya Leon beberapa kali menjadi nara sumber mengenai AIDS diberbagai stasiun televisi. Leon berusaha keras menyuarakan kebenaran menengenai penyakit AIDS.
Usahanya memang tidak akan membawa kembali semuanya yang telah hilang dihidupnya. Tapi leon berharap tidak akan ada Leon yang lain. Yang dipenjara kesepian karena semua orang meninggalkannya.
“tidak akan ada yang berubah, kamu tetap akan mati”ucap Whena terisak disamping Leon.
“Tidak… pasti ada, setelah ini tidak akan ada lagi orang-orang sepertiku kan? “kata Leon terbatuk-batuk
“Tapi tujuanmu untuk membuktikan pada keluargamu belum kamu selesaikan” kata Whena.
“aku sudah berubah fikiran when. Apapun yang ku lakukan aku akan tetap akan berakhir bukan. Aku telah sangat puas dengan usaha kita selamaa ini membangun fikiran yang benar terhadap AIDS” kata Whena.
Malam itu, dibulan April tanggal 12 tahun 2000 Leon meninggal dipangkuan Whena. Menghembuskan nafas terakhirnya dengan tanpa beban. Ia menyerahkan segalanya dan rasa terima kasihnya kepada Whena. Ia berjanji tidak akan kesepian dikehidupan berikutnya jika ia bertemu Whena lagi.
 Diakhir Tahun, Novel Whena yang ditulis olehnya sendiri diFilmkan. Setelah laris dalam tiga bulan terakhir setelah rilis akhir agustus. Sutradara ternamaan akhirnya memfilmkan novelnya. Di awal penayangannya Whena hadir sedikit bercerita mengenai isi Film tersebut selaku penulis.
“Novel ini dan juga tentunya yang sekarang adalah film yang akan kalian semua tonton, saya tulis berdasarkan kisah seseorang yang sangat berarti dihidup saya. Melalui film ini dan juga novel yang  sudah lebih dulu terbit saya ingin membuka fikiran kalian semua mengenai AIDS. Bahwa tidak semuanya mereka yang terjangkit penyakit ini adalah mereka yang melakukan penyimpangan, benar memang kebanyakan mereka yang terkena aids adalah dulunya pencandu narkoba, seks bebas dan lain sebagainya yang menurut orang lain buruk. Melalui film ini saya ingin mengungkap mengapa Leon saya terkena AIDS, mengapa Leon saya bisa terjangkit, mengapa Leon saya meninggal karena AIDS. Mari kita saksikan film ini bersama-sama” kata Whena dengan menahan haru dan tangisnya.
Film yang berdurasi 2 jam itu mengisahkan semua tentang Leon. Whena menitikan air mata tak henti saat pemutaran Filmnya. Ia teringat kembali kebersamaan dengan Leon. Lamunan nya kembali pada saat ia bersama Leon di Kafe saat mereka bertemu.
“memang kenapa kamu bisa kena AIDS ?” Tanya Whena
“Menurut dokter aku terinfeksi semenjak usia 16 tahunan. Karena baru aku tahu setelah usiaku 23 tahunan. Aku tidak tahu pasti. Kemungkinan adalah ketika usiaku belasan setelah perkelahianku dengan preman itu aku terinfeksi. Saat aku memukul wajahnya, tanganku terluka dan virusnya mungkin masuk melalui luka di tanganku ketanganku. Mungkin seperti itu. yang jelas aku tidak pernah memakai narkoba apalagi suka gonta-ganti pasangan, diusia itu manaa kenal aku dengan hal seperti itu” cerita Leon waktu itu dia masih ada.
“Terus kenapa semua orang ga percaya sama cerita kamu?”
“kalau semua orang percaya sama omonganku waktu itu, hari ini kamu ga mungkin sama aku disini. Kamu tahu kadang tuhan menciptakan kondisi yang sangat buruk untuk membuat cerita kita menjadi lebih indah. Aku tidak pernah peduli lagi alasan tuhan membuatku seperti ini, karena yang aku tahu, tuhan menciptakan kamu yang indahnya menggantikan semua penderitaanku yang pernah ku alami. Dan itu cukup” jawab Leon.
Lamunan Whena berakhir, dengan berakhirnya pemutaran Film. Semua penonton yang hadir bertepuk tangan untuk Whena. Whena berdiri menyambut semua penghargaan untuknya. Dalam hati Whena “ Leon, sekarang kamu harus bahagia, semua orang sudah tahu kebenaran tentangmu, dan semoga tidak ada lagi Leon yang lain yang sepertimu, terima kasih pernah ada. Dan aku Whena akan selalu ada disaatmu membutuhkanmu.”

“END”

247 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini