Posted on

When Bad Girl Fall In Love – Chapter 1

SALSA berjalan cepat menuju belakang sekolah. Lagi-lagi dia telat masuk. Alasannya sih karena bangun kesiangan.
Seperti biasanya, Salsa menaiki tangga yang sudah disediakan bersandar pada dinding dan menaiki anak tangganya satu persatu. Setelah sampai dipuncak, dia langsung meloncat masuk ke area sekolah.
“SALSA!!!” teriak Buk Sisil yang melihat Salsa masuk lewat belakang.
Salsa yang mendengar teriakannya otomatis menolehkan kepalanya kesumber suara. Buk Sisil sekarang sedang melipat tangannya didepan dada dengan satu tongkat ditangan kanannya. Salsa yang melihatnya langsung saja kabur dari tempat itu.
“SALSA!!!!!!!!” teriaknya lagi lalu berlari mengejar Salsa.
Sesekali Salsa menoleh kebelakang untuk mengecek keberadaan buk sisil. Buk sisil tampak berlari kecil mengejarnya. Tak lama buk sisil tidak kuat mengejar lagi karena kecapekan. Salsa yang menyadari buk sisil sudah tidak mengejar, menghentikan larinya dan berhenti dengan napas ngos-ngosan. Dia menempelkan telapak tangan kirinya ke dinding dan satu tangannya memegang dada.
Gila tu guru, niat banget ngejar gue. Batinnya.
Setelah dapat mengatur napasnya, Salsa berjalan santai menuju kelasnya. Kebetulan waktu itu kelas kosong. Salsa dengan santainya berjalan menuju meja paling belakang tempat teman-temannya berkumpul. Melisa, Sheryl dan Clara yang menyadari kedatangan Salsa pun menatapnya
“eh buk merry kemana?” tanyanya sambil duduk disebelah Melisa.
“sakit katanya, moga sembuhnya lama” ujar Melisa dan kemudian mereka berempat tertawa keras membuat beberapa siswa siswi lain dikelas melihat kerarah mereka.
“apa liat-liat?” ketus Salsa dan kemudian mereka kembali tertawa.
“apaan sih lo mel, doa lo jelek bener,” kata Sheryl sambil menghentikan tawanya.
Setelah mereka berhenti tertawa, mereka diam sejenak.
“eh kekantin yuk?” ajak Clara sambil menatap seluruh temannya.
“ayuk!” ucap mereka serempak kemudian berdiri dari kursi dan berjalan keluar kelas.
Mereka berempat berjalan beriringan di koridor menuju kantin. Sampai seorang guru memberhentikan mereka.
“eitss, mau kemana kalian? Mau kekantin ya?” tanya guru itu tajam yang setahu Salsa namanya buk yanti.
“mau ke wc buk,” kata melisa. Jeda sebentar kemudian melisa melanjutkan. “ya iyalah kekantin ibuk ibuk” kata Melisa sambil sedikit cekikikan.
Buk Yanti yang mendengar celotehan kasar melisa hendak menampar melisa tapi dengan cepat salsa menahan.
“ibu mau saya laporin ke ayah saya?” tanya Salsa berlagak.
“ Seorang Guru Memukul Muridnya Karena Pergi Ke Kantin” tambah Clara.
Bu yanti hanya diam menanggapi ocehan keempat anak didiknya itu. Walaupun sebenarnya sakit hati, akhirnya buk yanti melenggang pergi kembali ke ruang guru.
Salsa yang melihatnya hanya tersenyum miring kemudian mereka berempat melanjutkan perjalanan menuju kantin.
Saat sampai dikantin, kantin sangat sepi dan hanya ada lima cowok segerombol disana. mereka adalah rombongan cowok paling populer seantero SMA Nusantara.
“eh ada Salsa nih, gabung sini yuk” ajak Damas salah satu cowok disana.
Salsa membuang mukanya mengabaikan ajakan Damas. Mereka bertiga kemudian duduk di meja paling ujung dekat dinding sementara Melisa memesan makanan.
Setelah Melisa kembali, mereka mulai berbincang ringan. Dari sudut matanya, Salsa dapat melihat kalau salah satu cowok disana memperhatikannya sedari tadi.

“eh kalian tau nggak, katanya sekolah kita bakalan UNBK tahun ini!” ucap Marcell pada keempat temannya.
“beneran? Berarti angkatan kita dong yang pertama” ucap Abi menambahkan.
Sementar itu, Farrel hanya diam menanggapi pernyataan temannya.dia tidak urus dengan ujian nasionalnya berbasis apa, yang terpenting adalah dia bisa lulus dengan hasil yang baik.
Disaat mereka sedang asyik berbincang dikantin, segerombolan cewek datang ke kantin. Mereka adalah Salsa, Melisa, Sheryl dan Clara. Keempatnya cantik apalagi Salsa, hanya saja perilaku mereka buruk.
“eh ada Salsa nih, gabung sini yuk” ajak Damas yang duduk disebelah Farrel. Farrel memukul pelan paha Damas untuk mengisyaratkan jangan.
Salsa hanya membuang mukanya dan kemudian mereka duduk di meja paling ujung yang letaknya cukup jauh dari tempat Farrel dan temannya duduk sekarang. Farrel memperhatikan gerak gerik Salsa. Ia heran melihat Salsa. Wajahnya sangat cantik tapi perilakunya sangat buruk bahkan pada guru sendiri. Coba saja perilaku Salsa agak baik, pasti semua cowok di SMA Nusantara kepincet sama dia.
Ketika Farrel sedang memandang Salsa, tiba-tiba Salsa menoleh kerahnya. Farrel pun langsung melihat kearah lain agar tidak ketahuan.
“eh lo kenapa liatin gue?” tanya Salsa sambil melihat kearah Farrel.
Farrel yang merasa diperhatikan akhirnya menoleh juga kepada Salsa. Ia menunjuk dirinya untuk menanyakan ‘gue?’.
“iya elo” tukas Salsa tajam.
“geer lu” kata Farrel menyindir yang membuat Salsa kesal. Akhirnya Salsa berdiri dari kursinya dan berjalan kearah meja yang ditempati Farrel dan temannya. Ia memukul meja itu dengan keras sampai Ibu kantin yang sedang memasak pesanan mereka penasaran dan ikut melihat apa yang terjadi.
“lo jangan ngelak” kata Salsa sangat kesal. Farrel yang dituju malah membuang mukanya tidak ingin menatap Salsa. Tidak mungkin dia melawan cewek. Bisa jatuh harga dirinya.
“eh jawab! Kenapa lo liat gue tadi!” bentak Salsa sambil memukul meja itu lagi. Farrel yang tidak ingin terlibat lebih jauh lagi, berdiri dan pergi dari kantin. Salsa yang melihat itu semakin geram dan kesal.
“eh mau kemana lo? Takut ya sama gue?”tanya Salsa sambil tersenyum miring.
Farrel hanya diam tidak menjawab dan benar-benar pergi dari kantin. Damas, Abi, Marcell dan Tio yang melihat kejadian tadi pun tidak menyangka kalau Salsa bisa sekasar itu.
“cabut yuk” ucap Tio dan kemudian mereka berempat pergi dari kantin mengikuti Farrel yang sudah pergi duluan.
“Dasar cupu” ejek Salsa dengan suara keras dan kemudian kembali duduk di mejanya.

Farrel dan temannya sekarang sudah berada di rooftop gedung sekolah, tempat tongkrongan mereka selain kantin kalau kelas sedang kosong. Damas, Abi dan Farrel duduk di sofa sementara Marcell dan Tio berbaring diatas tikar plastik yang memang sudah ada disana.
“eh tu cewek kasar bener ya,” kata Marcell yang berbaring diatas tikar sambil melihat awan-awan.
“iya, gue juga heran. Cantik kok kasar” ucap Abi membenarkan.
Mereka diam sejenak, merasakan angin sejuk yang menerpa kulit mereka. Sudah cukup lama mereka tidak nongkrong ditempat ini, karena disibukkan dengan Ujian nasional yang tinggal enam bulan lagi. Farrel meresapi setiap tarikan dan hembusan napasnya.
Bel tanda pelajaran kedua dimulai berbunyi.
“kekelas yuk udah bunyi belnya” ajak Abi.
Mereka pun berdiri kecuali Farrel.
“eh lu nggak balik?” tanya Damas yang menyadari Farrel tidak beranjak dari sofa.
“nanti aja” ucap Farrel singkat. Damas mengangguk mengerti dan meninggalkan Farrel sendirian di rooftop itu.
Setelah temannya pergi, Farrel berdiri dari duduknya dan berjalan menuju balkon. Dari sana, dia dapat melihat seluruh halaman depan sekolah termasuk taman, lapangan bola dan fasilitas lainnya.
Pandangannya tertuju pada seorang cewek yang sedang duduk di ayunan taman. Cewek itu tampak sedang menangis. Dari bentuk tubuhnya, Farrel tahu kalau itu Salsa.
-TBC-

386 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini