Posted on

WATERSIDE

Oleh : Shintany R. Widyananda

            “Ma, hari ini anak-anak pulang sekolah jam berapa?”
            “Jam setengah dua siang, Pa.”
            “Baiklah, biar Papa saja yang jemput mereka.”
            “Tidak usah, Pa. Biar Pak Mario, supir kita saja yang menjemput mereka. Apa gunanya punya supir tapi tidak dimanfaatkan.”
            “Baiklah, kita lanjutkan saja berjemurnya, Ma.”
            Mirna menurunkan kembali kacamata hitamnya dan kembali berbaring di kursi santai.
            “Dengan begini, kita tidak perlu repot-repot turun ke pantai, Ma. Di teras atas rumah sendiri juga sudah bisa berjemur,” ujar Bharata.
            “Santiiii…..,” teriak Mirna.
            Perempuan menggunakan seragam putih putih bernama Santi itu pun muncul.
            “Ya, Nyonya. Nyonya memanggil saya?”
            “Tolong bawakan ice lemon tea dua gelas, ya,” perintah Mirna.
            “Baik, Nyonya.”
            Santi segera ke dapur dan membuatkan Mirna dan Bharata minuman yang diminta. Dengan sigap ia kembali ke teras atas rumah itu dan menyajikan dua gelas ice lemon tea.
            “Terima kasih. Kau boleh pergi. Dan jangan lupa siapkan makan siang untuk Tommy dan Barbara. Setelah ini mereka akan pulang dari sekolah dan jika semua telah siap, beritahu kami segera.”
            “Baik, Nyonya.”
            Setengah jam kemudian semua telah siap di meja makan. Tommy dan Barbara yang telah berganti pakaian siap menyantap makanan pembuka berupa chicken salad buatan Santi si pembantu.
            “Bagaimana kalian di sekolah tadi?” tanya Bharata.
            “Lumayan, Pa. Ada anak nakal yang menggangguku, tapi kemudian temanku Zidan mengatakan pada mereka kalau aku tinggal di watersidedan mereka tidak boleh menggangguku.”
            “Lalu bagaimana sikapmu setelah itu?” tanya Mirna.
            “Aku tidak mengatakan apa-apa lagi karena mereka buru-buru pergi dan aku pun pergi bersama Zidan. Zidan bilang kapan-kapan ia ingin main kemari. Dan aku bilang rumah kita akan selalu terbuka untuknya kapanpun dia akan datang. Iya kan, Pa?” cerita Tommy.
            “Tentu saja. Tapi kau harus ingat, Nak. Semua kekayaan di dunia ini hanya sementara. Jadi dengan segala yang kita miliki sekarang tidak boleh sombong,” jawab Bharata. Sementara Mirna hanya menggangguk setuju dengan Mirna dan melahap habis makanan utama mereka, yaitu bebek bakar bumbu lemon.
            “Pa, teman-temanku tidak perlu aku ajak ke rumah ini. Karena besok kami akan pergi ke pantai saja. Pemandangan waterside sudah biasa bagi mereka, kami hanya bisa duduk diam dan menikmati udaranya. Sedangkan di pantai kami bisa bermain air sepuasnya.” Barbara membayangkan betapa senangnya hari esok ia dan teman-temannya akan bermain ke pantai yang terletak tak jauh 500 meter dari tempat tinggal mereka sekarang.
            “Baiklah. Apapun rencana kalian esok hari, kalian harus ingat kalian tidak boleh pulang terlalu sore. Angin sore akan berhembus lebih kencang dan air akan semakin pasang.” Bharata memberikan nasihat dan setelah ia menghabiskan makan siangnya. Mirna yang baru saja meneguk habis minumannya mengajak mereka untuk menonton film di teather room rumah itu.
            “Santi, tolong bawakan popcorn dan jus jeruk ya. Mungkin kami akan nonton film sampai sore. Setelah itu tolong minta Pak Mario untuk menjemput Madam Una. Saya ingin pijat refleksi dan spa malam ini. Sekalian kamu siapkan ruangan perawatan dan makan malam untuk anak-anak,” perintah Mirna.
            “Baik, Nyonya.”                                                                                              
            Keluarga bahagia itu kemudian menuju teather roomdan mencari film luar negeri. Setelah melihat-lihat banyak daftar film, mereka pun memilih Insurgent.
            “Ma, film ini tidak ada subtitle-nya,” Barbara memperingatkan setelah membaca pesan pembuka pada DVD player.
            “Kapan lagi, Sayang, Mama bisa nonton film bareng kalian. Mama sih yang penting momennya, bukan filmnya,” Mirna beralasan.
            “Kalau begitu kenapa kita harus bermomen nonton film sih, Ma. Kan malam minggu gini mendingan jalan-jalan aja,” Tommy menggerutu.
            “Sudahlah, kita di rumah saja. Papa tidak percaya kalau pembantu ditinggal sendirian di rumah, nanti mereka bisa kabur, dan barang-barang kita akan diambil,” ujar Bharata.
            Di tengah film, terdengar suara ketukan pintu. Bharata membuka pintu dan Santi muncul dengan membawa popcorn dan empat gelas jus jeruk untuk penonton Insurgentdi ruangan itu. Bharata mengambil cemilan itu dan menutup pintu kembali. Baru saja mereka ingin mencicipi jus jeruk buatan Santi, terdengar kembali suara ketukan pintu dari luar.
            “Maaf, Tuan. Tuan dan Nyonya Hammington berada di sini,” kata Santi pelan.
            “Baiklah, katakan kami akan segera menemui mereka,” jawab Bharata.
            Setengah jam kemudian, Bharata dan keluarganya sudah bersiap untuk keluar dari rumah waterside itu. Santi dengan cepat membersihkan teather room dan menemui Tuan dan Nyonya Hammington. Ia merasa lega karena belum menelepon Madam Una untuk datang. Kini Santi harus melayani Tuan dan Nyonya Hammington, pemilik rumah itu yang sebenarnya.
            “Well, how’s the fam?” tanya Tuan Hammington.
            “Mereka baik, Tuan. Sesuai dengan perintah Tuan, mereka ikut berkebun dan membersihkan beberapa tanaman liar di halaman rumah,” jawab Santi menunduk.
            “Alright, mereka tidak akan kemari lagi. Aku bilang jangan gunakan teather room tapi aku bisa melihat dari CCTV di smartphone-ku mereka bersenang-senang, Hun,” gerutu Nyonya Hammington.
            “Siti, what’s wrong? Ingat kau juga pernah miskin sebelum kujadikan kau istriku. Biarkan mereka menikmati rumah kita. Semua kekayaan dari Tuhan ini hanya sementara, Sayang,” Tuan Hammington yang merupakan orang Inggris itu memberi nasihat pada Siti.
            Sementara itu di dalam taksi menuju perkampungan, keluarga Bharata hanya bisa mnegheningkan momentum menjiwai perjalanan pulang.
            “Betapa beruntungnya Siti dipersunting bule kaya dan tinggal di waterside. Dan semenjak itu dia berubah. Sedangkan aku masih tinggal di desa dan tidak ada perubahan di hidupku. Persahabatan macam apa antara aku dan Siti berujung pada perbedaan nasib,” gumam Mirna.

            Bharata yang berusaha mengabaikan gerutuan istrinya itu, hanya bisa bernasihat pada anak-anaknya, “Sudah kubilang semua kekayaan itu hanya sementara.”

365 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini