Posted on

UNTITLED YET

By: Endah Nofiyanti

***
Stevan Lee sangat bosan dengan hidupnya. Bukan karena ia tak bisa bersyukur, tetapi lebih tepatnya karena ia sudah lelah bersyukur. Banyak hal yang terjadi di hidupnya. Saking banyaknya, Stevan tak bisa menghitung berapa jumlahnya.
Ia adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang melakukan kerja magang di sebuah perusahaan furniture di pusat kota Paris. Jika orang lain mungkin kuliah dengan uang orang tua mereka, lain hal nya dengan Stevan. Nilainya tak cukup tinggi untuk mendapatkan beasiswa dan orang tuanya juga tak cukup kaya untuk membiayai uang kuliahnya.
Stevan membiayai uang kuliahnya sendiri.
Entah itu harus dengan babak belur karena ia harus menjadi stuntmanatau ia harus mengangkat batubara ke rumah-rumah hanya dengan kedua bahunya yang sudah memar, atau dengan pekerjaan berat lainnya.
Yang penting menghasilkan uang, sehingga ia bisa lulus kuliah.
Dan mungkin, nanti ia bisa kerja di perusahaan yang menjanjikan atau bisa juga mendapat ikatan kerja dari perusahaan tempat ia magang sekarang.
Ya, kata orang jurusan teknik bisa menghasilkan banyak uang.
Prinsipnya, bersusah-susah dahulu bersenang-senang nanti.
Stevan menghentikan langkah kalinya. Ia merapatkan mantelnya walaupun sebenarnya kota Paris tak terlalu dingin saat musim dingin seperti ini. Tetapi tetap saja Stevan merasa kedinginan, kulitnya terlalu tipis untuk menutupi tulangnya.
Ia melirik sebentar jam yang melingkar di tangan kirinya.
“11 malam,” gumamnya.
Ia menghela nafas berat. Ia memutar kakinya ke kiri, menyadari bahwa dirinya berada di atas jembatan.
Stevan melepas tas ranselnya lalu menyandarkannya ke pembatas jembatan. Mungkin, ia akan berdiam di sini sejenak. Ia tak ingin pulang. Pulang adalah hal yang paling ia benci. Jadi tak jarang Stevan tak pulang ke rumah atau paling tidak ia pulang ketika hari sudah menjelang pagi.
Stevan menaikkan kakinya ke pagar jembatan.
Angin malam meniup-niup rambut hitam kecoklatannya. Sedangkan dari belakang tubuhnya ia merasakan hembusan angin yang dihasilkan oleh mobil-mobil yang berlalu lalang.
Manik mata coklatnya menatap ke bawah, memandang aliran air Sungai Seine yang begitu tenang.
Katakan darimana ia mendapat manik mata kecoklatan itu?
Ayahnya seorang penduduk lokal sedangkan ibunya adalah warga negara Korea Selatan yang sedang melanjutkan kuliah di Perancis. Begitu awalnya.
Stevan mengambil nafas dalam-dalam. Ingatannya memaksa untuk melihat masa lalu yang sangat ingin dilupakannya.
Sungguh.
Stevan ingin melupakan itu.
Setiap ia membuka mata dari tidurnya, ia selalu berharap untuk dapat memiliki penyakit amnesia atau hilang ingatan lainnya.
Stevan memandang langit yang hitam.
Sehitam hatinya.
Awalnya semua baik-baik saja. Ia hidup normal, memiliki ayah, ibu, dan bahkan saudara kembar yang sangat mirip dengannya. Ia bahagia. Sampai saat ia berusia 10 tahun, satu per satu bagian yang ia sebut sebagai bahagia itu hilang.
Perusahaan ayahnya bangkrut. Ibunya yang awalnya hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga, harus membuka usaha dengan tangannya sendiri. Siapa berpikir bahwa perusahaan besar bisa bangkrut, begitulah awalnya mengapa ayah menyuruh ibu untuk berada di rumah saja.
Ayahnya lama-kelamaan kehilangan akal karena ia tak bisa menyelamatkan perusahaannya. Setiap malam ia meneguk berbotol-botol alkohol hingga tak sadarkan diri. Begitulah. Hingga suatu malam, Stevan tak tahu persis apa yang terjadi, tapi ia mendengar teriakan kedua orang tuanya.
Adiknya, Shawn, terbangun dari tidurnya. Stevan segera menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
Stevan merangkak ke kasur dan mendekati adiknya itu, “Kenapa kau bangun? Tidurlah lagi!” Stevan memasang headphone-nya ke telinga Shawn, “Aku punya lagu bagus untuk membuatmu tertidur,” katanya sambil tersenyum. Shawn ikut menimpali senyum itu dan tertidur kembali.
Stevan merapatkan selimutnya. Hingga mereka berdua tertidur.
Paginya, ia terbangun dengan Shawn yang tidak ada di sampingnya.
Ia berlari ke dapurpun tak menemui jejak ibunya.
Yang ia tangkap di matanya hanyalah ayahnya yang menangis di muka pintu.
Hidupnya terasa berat setelah itu.
Stevan mengangkat kakinya, memijak pembatas jembatan lebih tinggi. Kemudian ia mengamati air di bawahnya lebih dalam.
Apa di bawah sana dingin?
“Pertanyaan bodoh!” jawabnya sendiri sambil tertawa ringan.
Stevan berpikir.
Ayah mungkin sedang mabuk di rumah.
Ayahnya adalah orang yang normal di waktu siang. Maksudnya, ia hidup layaknya orang normal. Ia merawat Stevan dengan baik, makan masakan yang disiapkan Stevan dan juga pergi bekerja. Ya, seperti itulah. Ia bekerja di sebuah toko bangunan yang ia kerjakan sendiri dengan modal menjual rumah yang dulu. Kini rumah yang Stevan dan ayahnya tempati hanyalah rumah sederhana namun nyaman. Stevan setidaknya bersyukur karena semua itu.
Stevan kembali berpikir.
Hei, kalau aku tiba-tiba menghilang tak ada yang tau kan?
Benar! Siapa yang akan mencariku?
Stevan tertawa mengejek dirinya sendiri.
“Bodoh!” umpatnya.
Entah apa yang merasuki pikirannya. Kaki Stevan merangkak lebih tinggi dan lebih tinggi lagi hingga ia merasakan hempusan angin yang lebih keras.
Ia kini sampai di sisi lain pembatas jembatan. Kakinya menapak erat dan tangannya terarah ke belakang, menggenggam pembatas.
Kau hanya perlu melepaskan genggamanmu!
Dan begitulah ia menuruti pikirannya.
“Hei, pria jangkung!”
Stevan terlonjak. Ia merasadirinya  terlempar jauh ke belakang.
“Apa yang terjadi?” gumamnya.
Stevan meraba tubuhnya, “Aku masih hidup?”
Stevan melihat sekelilingnya berhenti. Maksudnya semua aktivitas di sekitarnya berhenti. Bahkan detikan waktu di jamnya berhenti bergerak.
“Apa ini?”
Stevan sekali lagi melihat sekelilingnya. Ia melihat tubuhnya mengapung di udara.
Seseorang menepuk bahunya, “Hei!”
Stevan sontak menoleh ke belakang, “Oh, kau bisa bergerak?” Stevan melihat ke depan, kemudian ia menunjuk sekelilingnya dengan takjub, “Mereka semua berhenti! Bahkan tubuhku juga, tapi aku masih bernafas dan jantungku masih berdetak. Tapi…”
“Bodoh!” potongnya, “Ah kau merepotkanku saja!” Ia menghela nafas, “Aku membahayakan diriku sendiri dan menolong manusia, ck!” gerutunya.
Stevan mengamati setiap inchi dari pria di depannya. Pria itu sedikit lebih pendek darinya, menggunakan setelan jas hitam tanpa dasi, lengkap dengan sepatu hitam-formalnya yang mengkilap, potongan rambut ikal coklat tua yang dibiarkan jatuh, dan wajah yang cukup tampan untuk ukuran pria.
“Aku cukup sibuk, kau tau? Ah, kenapa setiap manusia merepotkanku!” keluhnya. Ia melihat Stevan sebentar, “Aku Nathan. Panggil saja aku begitu!”
“Siapa kau?”
Nathan merogoh saku jasnya bagian dalam. Ia mengeluarkan sebuah tablet.
“Lihatlah mobil di depanmu! Yang berwarna merah itu!”
Stevan segera mengikuti gerak telunjuk pria di sampingnya. Nathan mendekat ke mobil itu. Stevan mengikut di belakangnya. Ia masih takjub dengan seluruh bumi yang berhenti bergerak.
Seperti menjeda sebuah adegan film!
“Pria berkaca mata hitam yang mengemudi, kau liat kan?”
Stevan mengangguk.
“Kau pikir dari mana dia mendapat semua kekayaannya?”
Stevan mengangkat bahunya. Segera setelah itu terdengar decakan kesal dari Nathan.
“Lihatlah!” Nathan memperlihatkan tabletnya. Dalam tablet itu terekam semua riwayat hidup dari pria berkaca mata hitam itu. Semuanya dibuat seperti film yang dipercepat.
“Dia sangat kaya. Dia bersikap sombong sekali dengan bawahannya. Awalnya usaha sepatunya hanya kecil-kecilan. Dia hidup sendiri dan dia anak panti asuhan. Tak ada yang mendukungnya setelah dia lepas dari kehidupan panti. Dia hanya hidup menyewa sebuah tempat untuk tinggal, hanya kecil. Kau mungkin juga belum pernah tau kalau ada tempat sekecil itu kan?”
Stevan mengangguk mengiyakan, matanya masih melihat setiap adegan di tablet Nathan.
“Dia berjualan sepatu di dekat sebuah kafe. Tak jarang ada yang meremehkan dan merendahkannya. Bahkan ada yang lebih buruk, seperti meludahi sepatunya. Dia marah. Tentu saja. Tapi dia akhirnya berprinsip bahwa tak apa direndahkan! Belajarlah merendahkan diri sampai tak ada seorangpun yang merendahkanmu! Begitulah!”
Nathan melirik Stevan, “Apa yang kau lakukan dengan dirimu?”
Stevan diam.
Nathan berdecak, “Ah kau ini merepotkan saja! Ayo ikut aku!”
Stevan menurut dan mengikut dengan diam. Mereka berjalan menepi, menyusuri trotoar. Lalu berhenti di sebuah toko kue yang hampir tutup.
Pandangan Stevan menangkap sepasang suami istri, ya mungkin, sedang memberesi warung mereka. Toko kue yang tidak terlalu besar namun juga tidak kecil. Sedang.
Nathan kembali memperlihatkan benda bawaannya, “Mereka pernah masuk acara TV. Dulunya. Tidak terlalu kaya juga. Mereka berdua mengikuti sejenis lomba masak. Mereka tidak menjadi pemenang pertama, tapi ketiga. Publik penasaran dengan keluarga itu. Menurut merreka, keluarga itu harmonis. Walau hanya seorang ayah, ibu, dan satu orang anak. Semua hal tentang kehidupan mereka ditayangkan di TV. Kau tau?”
“Apa?” Stevan menyaut malas. Mata masih melihat setiap agedan yang diperlihatkan Nathan.
“Anak perempuan mereka satu-satunya tewas karena paparazi yang keterlaluan. Gadis itu sangat cantik, kan? Mereka mengikutinya kemanapun. Hingga akhirnya ganis itu tewas karena kecelakaan mobil akibat menghindari awak media,” Nathan menghela nafas, “Menyedihkan!”
“Akhirnya kedua suami istri itu hengkang dari dunia pertelevisian dan berakhir di sini,” lanjutnya.
Nathan memasukkan tabletnya kembali ke tempat semula. Kemudian ia duduk di sebuah bangku di samping pohon yang dekat dari toko kue yang baru saja mereka singgahi.
“Kalau kau pikir bahwa dirimu adalah orang paling malang di bumi, kau salah! Semua orang melalui setiap tahap yang sudah disiapkan. Yang bisa bertahan pasti menang! Mungkin hasil dari setiap tahap yang dilalui itu tak sebaik yang kau kira, tapi hasilnya jauh lebih baik daripada kau tidak melaluinya.”
Stevan duduk di samping pria itu.
“Jangan hanya pikirkan dengan sisimu! Pikirkan jika kau ada di posisi mereka!” Nathan mengangkat kakinya ke atas kaki yang lain, “Ayahmu misalnya. Atau ibumu. Atau saudara kembarmu. Atau orang-orang disekitarmu. Mereka semua punya alasan atas sikap dan perbuatan mereka.”
“Ayahmu meminum alkohol setiap malam karena itulah jalan agar dia tak kembali mengingat masa lalu. Dia selalu menyibukkan diri di siang hari. Waktu dimana dia tidak sibuk adalah malam hari. Itulah dimana semua kenangan buruknya berkumpul. Tentang perusahaannya di masa lalu, tentang ibumu, tentang saudara kembarmu…juga tentangmu,” lanjutnya.
“Dan saudara kembarmu…”
Stevan mengarahkan pandangannya ke pria di sampingnya.
“Dia selalu menatap ke cermin. Mengira-ngira bagaimana wajah kembarannya sekarang. Apakah sama seperti dirinya atau tidak,” Nathan tertawa, “Kalian manusia memang menyedihkan!” ejeknya.
Stevan hanya mendengus mendengar ejekan itu. Tapi memang begitu kenyataannya.
Nathan sedikit memiringkan kepalanya, “Atasanmu siapa namanya?”
“Siapa?” Stevan sibuk berpikir.
“Atasan di tempat magangmu.”
“Ah, itu! Aku tidak tau nama lengkapnya. Orang-orang hanya memanggilnya ‘orang berduit banyak’ begitu.”
“Hara! Itu namanya! Ah, kau ini benar-benar antisosial ya! Tak peduli dengan sekitarmu!” runtuknya kesal.
Stevan hanya mendengus.
“Kau pikir dia benar-benar pembuang uang? Suka menghamburkan uang?”
Stevan mengangkat bahunya, “Begitulah kelihatannya!”
Nathan melirik kesal, “Dasar manusia!”
Nathan membenarkan letak duduknya, kedua tangannya ia gunakan untuk menyangga tubuhnya, “Dia tak tau bagaimana membuat dirinya senang. Dia hanya ingin membuat orang sekitarnya senang. Mungkin dengan begitu dia pikir dirinya akan ikut senang. Membelikan mereka baju. Mentraktir makan di restoran mewah. Tapi pada akhirnya mereka malah memanfaatkan dirinya. Dia tau dengan baik bahwa dirinya dimanfaatkan. Tapi, yah seperti itulah.”
Stevan tertarik untuk bertanya, “Mengapa dia tetap melakukan itu?”
Nathan menghela nafas, “Ada alasan untuk setiap tindakan.”
Stevan sedikit menyesal karena tak pernah mengangap atasannya itu ada. Mungkin itu karena atasannya hanyalah seorang gadis yang suka menghamburkan uang, sementara diriya sendiri harus bekerja keras untuk menghasilkan banyak uang. Bahkan gadis itu memberi upah yang cukup besar untuknya. Stevan benar-benar tak tahu bagaimana caranya berterimakasih.
“Ah, kau tak pernah mengunjungi ibumu?”
Stevan terhenyak.
“Karena kau diam berarti iya. Ck, kau benar-benar anak durhaka!”
Stevan tahu benar dimana ibu dan kembarannya tinggal. Mereka tinggal di sebuh rumah yang depannya mereka manfaatkan untuk membuka usaha kue beras pedas, makanan negara ibunya. Tapi, Stevan tak pernah benar-benar ingin untuk datang ke tampat itu.
Ia tak tahu alasan mengapa ibunya pergi meninggalkannya.
Bagaimana jika ibunya membencinya?
Bagaimana jika ibunya mengusirnya dan mengatakan cacian yang tak ingin didengarnya?
Bagaimana jika kembarannya bersikap buruk padanya?
Stevan mendengus.
“Ibumu adalah orang yang paling merindukanmu!”
Stevan terhenyak.
“Sungguh?”
Nathan berdiri.
“Baiklah,” ujarnya tanpa menjawab pertanyaan lawan bicaranya, “Aku mungkin dihukum karena telah menolongmu. Jadi, buatlah apa yang telah kulakukan untukmu itu berguna sehingga aku tak merasa menyesal karena telah menolongmu.”
Stevan mengerutkan keningnya, ia cukup bingung dengan perkataan Nathan.
“Bagaimana denganku?”
Nathan tersenyum.
Stevan tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Semua berlalu cepat. Mungkin sepersekian microsecond. Dan yang ia tahu, ia kembali di tempatnya semula. Bukan melayang di udara, tetapi di atas jembatan dengan tas ransel yang ada di sampingnya.
Semua benda telah kembali bergerak. Begitu pun dengan detikan jam tangannya.
Ia memutar tubuhnya, mencari sesosok lelaki yang tadi bersamanya.
Namun yang ia temukan hanyalah mobil-mobil yang berlalu lalang.
“Terima kasih,” gumamnya sambil mengadah ke atas.
***
Jam makan siang telah tiba. Stevan meraih mantel coklatnya yang sedikit kusut. Tak apa asalkan masih bisa dipakai dan bisa melindungi dirinya dari dinginnya Paris. Begitu pikirnya.
Mata Stevan menangkap sesosok perempuan bermantel maroon berjalan menjauh darinya, menuju pintu putar.
Stevan mempercepat langkahnya, “Hei!” teriaknya.
Perempuan berambut sebahu itu menoleh ke belakang.
Stevan bergerak mendekat, hingga dirinya berada di depan perempuan itu.
Perempuan itu hanya menatap Stevan bingung. Pasalnya lelaki yang berdiri di hadapannya itu tak pernah menyapanya. Melirik ke arahnya pun tidak.
“Aku?” tunjuk perempuan itu pada dirinya sendiri.
Stevan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Perempuan itu hanya menatapnya bingung.
“Nona Hara…”
Perempuan yang dipanggil Hara itu tertawa, “Kau memanggilku apa? Nona?”
Stevan berdeham, “Kau terlalu muda untuk kupanggil ‘nyonya’,” jawabnya.
Hara mengibaskan tangannya, “Panggil saja aku Hara!”
“Oke, baiklah,” sahut Stevan.
“Baiklah,” Hara merapatkan mantelnya, “Ada apa?”
“Kau akan makan?”
Hara mengangguk. Matanya beralih menatap Stevan, “Kau akan mengajakku makan bersama?” katanya menggoda.
Stevan tertawa, “Aku tau tempat penjual kue beras pedas.”
“Oh, jajanan korea?” tanya Hara antusias.
Stevan mengangguk, “Kau tau makanan itu?”
“Adik sepupuku terlalu fanatik drama korea. Jadi, dari situlah aku tau.”
“Ayo, hanya 5 menit jika kita berjalan kaki!” ajak Stevan.
Mereka berdua berjalan ditemani dengan cerita-cerita kecil. Entah mengapa Stevan merasa bersyukur. Begitulah seharusnya sejak awal.
Ia langsung pulang dari pertemuannya dengan Nathan malam tadi. Sesampai di rumah ia menemukan ayahnya tertidur di sofa dengan beberapa botol alkohol di meja. Stevan hanya menghela nafas.
Paginya ia membuatkan masakan untuk ayahnya.
Stevan mengamati ayahnya yang makan dengan lahap, “Aku akan pulang cepat hari ini. Dan aku akan membeli papan catur nanti. Mainlah denganku nanti, ayah!” ujarnya sembari mencuci piring yang kotor.
Ayah berhenti mengunyak. Ia memaksa makanan yang tersisa di mulutnya untuk masuk ke kerongkongannya.
Ia kemudian terdiam, mengamati gerak anak lelakinya itu.
“Maaf,” ujarnya singkat.
Stevan meletakkan piring yang telah ia cuci ke rak. Dirinya sedang berusaha untuk tidak sedikitpun menoleh ke arah ayahnya.
“Jangan membuat dirimu terluka!” kata ayah sembari memasukkan sesendok suapan ke mulutnya.
Stevan tersenyum mengingat itu.
“Nah kita sudah sampai,” tangan Stevan mendorong pintu, “Aku akan traktir.”
Hara tertawa ringan. Stevan menahan pintu dan mempersilahkan Hara untuk masuk.
Ada dua tempat yang terpakai di sisi kiri. Mereka memilih tempat di tengah ruangan. Hara segera duduk ketika Stevan menawarkan diri untuk memesan.
Stevan menuju ke meja hidang. Di sana ia melihat seorang ibu yang sedang sibuk mengambil piring dan menatanya ke nampan.
“Aku pesan dua porsi,” ujar Stevan.
Ibu itu melirik sebentar, kemudian ia tertawa riang, “Kau sudah pulang?” Ia melihat ke meja tengah ruangan, “Siapa yang kau bawa itu? Kau pintar! Dia cantik!” godanya.
Stevan tak berhenti menatap ibu itu. Sedangkan perempuan paruh baya itu masih sibuk dengan pekerjaannya.
Pintu berdecit. Tanda seorang datang.
“Ibu, aku pulang!” serunya.
Ibu itu menghentikan aktivitasnya. Seluruh badannya bergetar. Ia meletakkan piring ke bangku. Lalu dilihatnya lekat-lekat lelaki muda yang berdiri di depannya.
Kini seseorang lagi datang mendekat.
Mereka berdua memiliki wajah yang serupa.
“Ada apa ibu?” tanya orang yang baru datang itu saat melihat orang yang dipanggilnya ibu itu menatap nanar seorang laki-laki di depannya.
Ia pun segera melihat lebih dekat.
“Kakak?”
“Hai,” Stevan berujar sembari tersenyum.
Ibu mendekat ke arah Stevan dan merengkuhnya erat. Sedangkan saudara kembarnya, Shawn, masih mematung di tempat. Tidak tahu yang harus dilakukannya.
Ibu melepas pelukannya. Ia menatap Stevan dengan penuh kasih. Berbeda dengan apa yang selama ini ada di pikiran Stevan.
“Hei, kau tak merindukanku?” tanya Stevan sambil mengacak rambut adiknya itu.
Mereka bercengkerama sebentar sebelum Stevan menuju tempat duduknya.
“Siapa mereka?” Hara tertarik untuk bertanya, “Ehm biar ku tebak, saudara kembarmu dan…ibumu?”
Stevan melepas mantelnya dan membenarkan letak duduknya, “Kau sudah bisa menjawabnya tanpa bertanya kepadaku.”
Hara tertawa ringan, “Saudara kembarmu tampan juga!”
Stevan mengedipkan matanya beberapa kali, “Tunggu!” Ia menunjuk dirinya sendiri, “Bagaimana denganku? Wajahku sama dengannya! Bukankah itu berarti kau juga menganggapku tampan?”
Mereka larut dengan tawa setelahnya.
Ya, memang seharusnya seperti itu.
Stevan seharusnya memulai hidupnya seperti ini lebih awal.
Stevan bernafas lega.
Stevan menghentikan tawanya ketika melihat seorang lelaki berjalan masuk. Pria itu mengenakan kemeja biru tua yang lengannya sengaja dilipat. Ia membuka pintu dan langsung menatap Stevan dengan sebal. Namun kakinya tetap melangkah kedepan, mungkin ia hendak memesan.
Stevan merasa familiar dengan wajah itu.
Ia berpikir sejenak. Apa yang telah diperbuatnya hingga membuat lelaki tadi melempar tatapan mengerikan seperti itu.
Tunggu…
.
.
.
.
.
“Nathan?”

396 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini