Posted on

Si Kuman dan Si Obat

Oleh : Astry Rizky
Si Kuman dan Si Obat adalah dua sahabat yang sering kali bertengkar.
Sahabat, tapi sering bertengkar?!
Ya, agak aneh memang, tetapi itulah uniknya persahabatan mereka.
Karena terlalu sering bertengkar, siapapun tidak akan percaya kalau mereka bersahabat.
Sampai pada suatu hari, Si Kuman duduk di taman sambil menangis. Si Obat yang saat itu sedang berjalan santai pun melihat sahabatnya dan datang menghampiri.
“Hei, kenapa kamu menangis seperti itu, Ku?’
Tiada kata terucap mulut dari Si Kuman. Mungkin rasa sedihnya sudah begitu dalam. Si Obat yang sudah mengenal tabiat sahabatnya hanya bisa bersabar dan menunggu beberapa saat untuk kembali bertanya.
“Apa yang terjadi? Ceritakanlah padaku,” katanya sambil memeluk erat sahabatnya itu.
Pelukan itu itu meluluhkan hati Si Kuman untuk akhirnya bercerita.
” Mengapa semua orang membenciku? Apa salahku? Aku kan tidak melakukan hal-hal yang buruk. Mengapa mereka seperti itu?”
Bahkan isak tangis pun tak hilang ketika ia bercerita.
“Semua orang selalu senang bertemu denganmu, O. Tak bisakah mereka memperlakukanku dengan cara yang sama?”
Si Obat berusaha menenangkannya dan menjelaskan dengan penuh kelembutan,
“Mereka tidak bermaksud jahat. Mereka hanya berbuat sesuai dengan apa yang mereka lihat dan apa yang rasakan walaupun terkadang tidak semua yang mereka lakukan itu benar.
 Mereka tidak membencimu, mereka hanya belum menyadari betapa pentingnya dirimu bagi kehidupan ini. Mereka memang selalu senang jika bertemu denganku: menyapaku bahkan memelukku. Tapi mereka melupakan satu hal penting,”
Kata Si Obat sambil tersenyum.
“Apa itu?” Tanya Si Obat dengan nada penasaran.
“Aku tidak akan berarti tanpa kehadiranmu, Ku”
          “Hah?! Aku gak ngerti maksudmu, O”
Si Obat masih terus tersenyum melayani pertanyaan itu,
           “Aku tidak akan berguna jika mereka tidak sakit. Aku tidak akan bermanfaat jika tidak ada kuman. Dan kau pun juga begitu, tidak akan berguna jika tidak ada aku. Kita saling melengkapi kehidupan manusia dengan cara kita masing-masing. Dan aku sangat berterima kasih padamu karena telah memberikanku kesempatan untuk menemanimu. Orang-orang belum menyadarinya. Tapi aku yakin suatu saat mereka akan sadar.”
Si Kuman merasa terharu dengan kata-kata sahabatnya itu.
Ia tidak menyangka kalau kehadirannya ternyata sangat berarti.
Ia segera memeluk Si Obat dan berjanji bahwa ia tidak akan menangis lagi.

Ia sadar kalau setiap hal melengkapi dunia ini dengan caranya masing-masing.

307 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini