Posted on

Sepotong Senja yang Hilang (About 1)

Tahun 2011

Senja memudar. Gerombolan pekat hitam menyembunyikan tirai-tirai jingga di pelukannya. Dikelilingi aroma kesunyian yang mengendap di celah-celah udara. Cakrawala telah berganti samudera gelap tak berujung. Malam bertahta.

Mata wanita itu juga tampak memudar. Senjanya baru saja berkemas dan pergi. Senja telah membaurkan diri bersama pasukan malam yang sengaja menjemputnya. Pertunjukan yang setiap sore di saksikannya itu telah berakhir dengan sangat cepat.

Wanita itu kemudian berdiri dan menutup jendela. Raut wajahnya berubah cemas. Berkali-kali dia melirik jam kuno yang menggantung di dinding rumahnya, lelah berdetak tak henti. Dia khawatir, anak-anak tumpuan harapannya belum juga pulang. Kemana mereka?.

“Bilqis pulang,” sebuah suara dengan intonasi datar membuat perasaan cemas wanita itu sedikit berkurang. Gadis berseragam putih biru itu tampak lelah.

Bibir wanita itu mengukir senyum, namun tidak dengan matanya. Matanya berkaca-kaca. Dia berusaha membungkam tangisannya dan terus berdiri di tempat memperhatikan gadis bungsunya yang kemudian menghilang di balik pintu kamar. Tidak membalas senyumnya, bahkan menoleh kearahnya pun tidak. Wanita itu mengelus dada dan membiarkan air matanya tumpah. Dia pun menangis dalam diam.

“Ma, Hikko ke rumah teman,” belum sempat menjawab, sosok anak lelakinya itu telah berlari dengan cepat menuju pintu. Wanita itu kembali mengelus dadanya. Dia merenung. Anak lelakinya itu sudah dewasa rupanya. Tubuhnya yang telah tumbuh menjadi tinggi, serta bingkai wajahnya yang tampan. Semuanya telah berlalu dengan cepat, curahnya dalam hati.

“Nisa dari mana sayang?” tanya wanita itu kemudian ketika menyadari seorang anak perempuan manis memasuki rumah.

“Dari kampuslah ma, darimana lagi,” jawab Nisa ketus kemudian berlalu begitu saja.

Untuk kesekian kalinya wanita itu mengelus dada. Dia terduduk dan menangis sesegukan. Ketiga anak kebanggaannya tak lagi menghiraukannya. Mungkin masa lalu masih mengikuti mereka. Masa lalu masih menyelimuti setiap hari yang terlewati. Kisah lampau yang di setiap episodenya terselip duka, kecewa, dan amarah. Cerita lalu yang mampu memisahkan satu dunia menjadi bagian-bagian dengan kejamnya. Membelokkan jalan orang-orang yang seharusnya melaju di jalur yang sama.

“Maafkan mama sayang,” ujarnya pelan.

**

Fachrunisa Viroland Note’s

Seperti biasa, aku selalu menghabiskan waktuku di Café Diamond yang terletak di seberang kampus. Tempat yang menyimpan kisah-kisahku dengan seseorang, memotret dan mengabadikannya, serta menyuarakan lagu rindu setiap kali aku memasukinya. Ah, orang itu. Di café itu jugalah aku mengembangkan imajinasi menulisku. Aku bercita-cita menjadi penulis, tapi Ibuku mematikan keinginan itu dan memaksaku untuk kuliah di Jurusan Kedokteran. Ya, suka tidak suka. Lagipula penulis itu relatif kok. Dokter mau menerbitkan buku siapa yang melarang? Itulah mengapa aku mau menuruti pemaksaannya.

Aku tidak suka Ibuku dan tidak pernah bermimpi untuk menjadi orang seperti dia. Apalagi hampir seratus persen aku mewarisi bentuk fisiknya. Sungguh, aku tidak suka. Tubuh yang lumayan tinggi dengan kulit kuning langsat, rambut hitam panjang, serta lesung pipi yang tertanam di kedua ruas pipiku. Teman-teman bilang, aku cantik. Secara tidak langsung mereka juga memuji ibuku, karena wajah kami benar-benar mirip. Mungkin akulah sketsa wajah masa mudanya. Menjengkelkan.

Aku tidak terlalu suka dengan suasana rumah yang lebih tepat di sebut ruang hampa. Di sana benar-benar sunyi, dan aku benci kesunyian. Aku akan pulang kerumah ketika senja telah menari-nari di permukaan langit. Barangkali, rumah itu seperti hotel bagiku. Pulang, makan, tidur, lalu pergi lagi. Begitulah setiap hari.

Ibuku itu, ah. Dulu dia membuat hidupku terasa kurang lengkap karena sering meninggalkan kami anak-anaknya. Lalu melakukan pemaksaan dengan jalan hidup yang kami pilih. Dia suka, tapi kami tidak. Kemudian menjadi malaikat maut dari sosok yang aku dan adik-adikku banggakan. Memisahkan kami dari Ayah dan dengan kejam mengambil alih hak asuh kami. Ibu jugalah yang membuat kami bertiga menjadi tidak akrab lagi. Ibu itu seperti bencana. Bukan, aku bukannya tidak menghormati Ibuku. Sebelum semuanya kacau balau seperti hari ini, aku selalu menaruh hormat padanya walaupun dia tidak pernah mau menghargai prinsip dan pendapat kami semua. Tapi sejak hari itu, aku benar-benar menjauh dan membuat tembok pemisah dengannya. Semua orang akan menganggapku anak durhaka dan tidak tau terima kasih. Terserah saja. Itu karena mereka semua tidak pernah tau apa yang terjadi dalam cerita masa lalu hidupku. Andai mereka tau, mungkin mereka akan mengerti. Termasuk kau kan? Tapi aku tidak pernah bisa menolak pengakuan hatiku. Meskipun aku mengatakan aku tidak suka Ibuku, tapi tetap saja diriku yang lain masih menyayanginya. Sampai hari ini, diriku yang lain itu masih mencintainya.

 

Hikko Viroland Note’s

Sudah lama aku menyibukkan diri di luar rumah untuk melupakan semuanya. I can run, but I can’t hide. Ya, begitulah. Aku terus berlari dari semua masalahku. Berlari sejauh yang aku bisa. Tapi sayangnya, aku takkan bisa bersembunyi. Masa lalu selalu mengikuti, bahkan sampai hari ini. Selalu menemukan keberadaanku. Aku dihantui kisahku sendiri.

Tujuan. Aku bingung dengan tujuanku. Apa yang akan aku lakukan esok tak pernah aku rancang hari ini. Ku biarkan semuanya berlalu begitu saja. Siapa yang harus aku salahkan? Diriku sendiri? Ya, akulah penjahat besar dalam kekacauan hidupku. Tetapi ada satu orang lagi yang ikut campur tangan dengan semua ini. Karena orang itulah aku begini. Aku kehilangan sosok berharga dalam hidupku. Motivator terbaik dan idola yang selalu menjadi panutanku. Aku tak terbiasa tanpa kehadirannya. Lalu tiba-tiba saja aku menyaksikan kepergiannya. Dan Ibuku, dia tiba-tiba menjelma malaikat maut dalam pandanganku. Dengan cepat arus kebencian mengalir di seluruh tubuhku. Virus amarah menyerangku dengan ganas. Aku berubah. Membangun dunia sendiri dan tembok-tembok besar dengan anggota keluargaku, terutama Ibu. Dia dalang kekacauan ini. Tokoh diktaktor dan ahli ultimaltum sepanjang sejarah hidup kami -aku dan saudara-saudaraku-.

Tapi kau jangan meremehkanku. Aku tidak akan merusak diriku sendiri dengan pergaulan bebas remaja masa kini. Aku memang paling rajin keluyuran. Tapi tidak untuk ngabsen ke diskotik atau sekedar kumpul-kumpul untuk menghisap rokok dan pesta miras. Aku masih terlalu waras untuk melakukan semua itu. Aku pergi kerumah teman-temanku yang pintar dan teladan, lalu di sanalah aku belajar dan menghabiskan waktuku. Aku juga sering mengikuti lomba dan olimpiade, dan tidak jarang juga aku menang. Tak seorangpun teman-temanku yang tau bahwa aku adalah seorang remaja laki-laki yang dilema. Berasal dari keluarga yang menurutku “aneh”, ya tentu saja sejak sosok panutanku pergi begitu saja.

Teman-teman hanya tau kalau orang tuaku sudah berpisah, hanya itu. Selebihnya menjadi rahasia keluarga saja. Bagiku, cukup dalam hati saja aku menemukan kehancuran. Biarlah di dunia luarku, aku menjadi pribadi yang biasa-biasa saja. Ibu, mungkin dia tidak akan pernah mengerti. Karena baginya, kami hanyalah robot yang diprogram untuk terus menerus mengikuti segala perintahnya. Aku boleh saja membencinya, tapi sampai kapanpun orang yang aku benci itu tetaplah ibuku yang dalam kodratnya untuk kucintai.

 

Bilqis Viroland Note’s

Aku berbeda. Setidaknya itulah kata-kata yang sering di lontarkan kakak-kakakku. Dari bentuk tubuh saja sudah menggambarkan perbedaan. Mbak Nisa mewarisi gen fisik Ibuku dan Kak Hikko mewarisi gen fisik ayah. Aku? Campuran, mungkin. Entahlah. Mataku sipit sendiri, rambut ikal sendiri. Dengan kulit putih dan bertubuh kecil mungil. Berbeda dengan Mbak Nisa yang berkulit kuning langsat, rambut lurus, tinggi dan berlesung pipi. Atau Kak Hikko yang bertubuh tinggi atletis, tampan dan berkulit sawo matang. Pokoknya aku berbedalah. Teman-teman bilang aku imut, lucu dan menggemaskan. Mirip cewek Japannes.

Diantara saudara-saudaraku yang lain, akulah yang paling ceria dan cerewet. Akulah si bungsu kerewil yang bikin heboh suasana. Mereka semua memanjakanku dan selalu memperhatikanku. Itu dulu, dan kini tidak lagi. Semuanya berevolusi dengan cepat, dan aku belum siap menerima semua perubahan yang terjadi. Aku terlalu bingung, karena tidak terbiasa dengan suasana seperti ini. Tidak ada tempat berbagi. Semua orang dirumah ini saling menjauh dan membuat kotak-kotak  sendiri. Kotak penghalang komunikasi. Akhirnya aku menyerah dan mengikuti permainan mereka. Sibuk sendiri dan tak saling bicara. Karena itu aku tidak betah dirumah. Aku lebih memilih  berbaur dengan dunia luar dari pada kecewa karena setiap pertanyaan kenapa yang aku lontarkan tak seorangpun yang mau menjelaskannya padaku. Bahkan menjawab pun tidak. Semuanya terabaikan.

Ah, andai orang itu masih ada. Mungkin aku takkan merasa bingung seperti saat ini. Dulu aku tidak terlalu mempermasalahkan kehadiran Ibuku yang sangat jarang. Aku hampir tidak pernah bicara dengan Ibu, tapi aku tetap bahagia karena aku masih punya kakak-kakak yang sayang dan perhatian padaku. Aku tidak pernah menangis ketika teman-temanku saling bercerita tentang orang tua mereka, bahkan ketika mereka dengan cerewetnya bertanya padaku kenapa aku tidak pernah membahas tentang orang tuaku. Sedikitpun aku tidak pernah merasa iri. Bagiku, tiap keluarga punya ceritanya sendiri. Dan inilah keluargaku.

Aku merasa semuanya normal-normal saja, sampai suatu hari aku terpaku menyaksikan kejadian itu. Aku pikir aku bermimpi, tapi sayangnya ini nyata. Tepat didepan mataku, aku menyaksikan kepergiannya. Dia tampak damai, tapi aku tau tubuh itu menyiratkan banyak luka dan penderitaan. Dia, sosok yang selama ini menjaga kami semua. Tiba-tiba saja semuanya menyalahkan Ibu. Waktu itu aku belum terlalu mengerti kenapa kakak-kakakku meyalahkan Ibu. Tapi kini aku sangat mengerti, kenapa Ibuku lah yang dipersalahkan. Kenapa semuanya saling diam. Dan surat itu, kini aku memahami isinya.

535 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini