Posted on

SEMILIR ANGIN YANG TAK AKAN PERNAH KEMBALI

Oleh : Pamula

 Seandainya Aku Bisa Kembali,
Aku Tak Akan Mengecewakan Mu
Seandainya Aku Bisa Kembali,
Kita Akan Menari Bersama Melukis Angkasa
Seandainya Aku Bisa Kembali,
Kita Pasti
Bahagia…
 Note : Cerita ini terdiri dari enam bagian yang di setiap bagiannya berisi cerita yang tidak terlalu panjang.
  •  Bagian I

  
            Udara siang ini begitu terik, terlihat seorang wanita paruh baya, tak ada yang sedang dia lakukan, kecuali berjalan. Begitu banyak orang yang mengamati nya, sebab dia hanya berjalan, berjalan dan terus berjalan. Sepertinya ia tidak pernah berfikir untuk berhenti, walau hanya sejenak saja. Ia lebih memilih untuk mundur beberapa langkah, di bandingkan untuk berhenti.
            Dia adalah wanita gila! anggapan setiap orang yang dilalui oleh wanita ini. Tapi ia bukan wanita gila. pandangan nya memang kosong, pakaiannya kotor dan tampilannya juga berantakan, sesekali dia tersengal karena terantuk batu jalanan. Tapi dia bukan wanita gila. Dia hanya kembali mengenang masa lalunya, dan mencoba untuk kembali ke masa itu. mencoba untuk menghentikan waktu ketika itu.
            Dulu ia beranggapan bahwa ia adalah wanita yang hancur, teraniaya, dan terbuang. Tapi sekarang tidak lagi, ia mengganggap dirinya sendiri tak ubahnya monster yang begitu kejam.
            Sesekali ia menangis. ia mulai terguncang logika nya selalu berperang dengan nurani, yang selalu memaksanya untuk kembali ke masa itu. masa lalu.

♥♥♥

14 Februari 1994
            Hari ini adalah hari kelahiran ku. aku tidak menyangka bahwa hari ini aku akan memiliki tempat tinggal baru. dahulu di surga aku hanya memilik Tuhan dan para malaikatnya. tetapi, mulai hari ini, aku akan memiliki lebih dari itu. Memiliki kehidupan yang sebenarnya dan juga merasakan cinta.
            Aku sering sekali mendengar cerita tentang “dunia” dulu. Ada banyak kekurangan dan kelebihan yang ada di sana. tetapi menurut ku.. meskipun begitu, Dunia adalah tempat yang unik. Sebab, ketika kita berada di sana, kita memiliki banyak pilihan, apa saja yang kita kehendaki semuanya ada. Tentu saja, tak terkecuali, pilihan untuk menjadi lebih bahagia.
            Seharusnya tidak sekarang. ini terlalu cepat, seharusnya April sebagai bulan kebesaran ku, tetapi tak apa. aku tetap bersyukur, karena pada akhirnya Tuhan memberi ku kesempatan untuk terlahir ke tempat ini.
            Aku menangis sejadi-jadinya ketika pertama kali aku menghirup udara dunia, ini lucu sekali menurutku. mungkin, aku masih takut, atau mungkin juga aku belum siap dengan apa yang mereka biasa sebut “Dosa”, yang pasti akan ku lakukan suatu saat nanti. Aku belum membuka mata, tapi aku bisa merasakan jika yang menenagkan ku adalah bukan wanita yang melahirkan ku. Aku bisa membedakannya, karena aku terlahir dari rahimnya.”
29 Juni 2000
            Kini aku di panggil Lisa. Ya… itu nama ku. Hadiah pemberian nenek untuk ku 5 tahun yang lalu. seharusnya ibu yang memberikan nama panggilan untuk ku, tapi ya sudah lah.. toh itu sama aja, ibu dan nenek juga sama-sama wanita.
            Kata mereka, aku adalah seorang gadis kecil yang sangat bahagia. Memiliki wajah yang begitu lucu, memiliki seorang ibu yang cantik, juga nenek yang sangat lembut. Tak sedikit juga yang menganggap bahwa aku adalah seorang gadis kecil yang pintar. mungkin karena ini lah penyebab rambut ku menjadi begitu keriting. karena aku suka sekali untuk berpikir kritis.
            Berpikir ? Iya…satu pertanyaan yang hingga kini belum ku temukan jawabannya, mengapa sampai saat ini ibu belum menyentuh kulit ku, belum tersenyum untuk ku, dan bahkan belum menoleh ke arah ku. mengapa ibu selalu memanggil ku “anak setan”. mengapa ibu begitu membenci ku ?”
  •  Bagian 2

15 Maret 2009
            kapan aku bisa merasakan yang namanya bersekolah ? memiliki banyak teman, mengikuti berbagai kegiatan ekstrakulikuler, terlibat dalam berbagai event, dan lain-lain. yah… aku telah menjadi remaja, kini aku hampir berumur 15 tahun, untuk anak seusia ku, seharusnya aku duduk di kelas 1 SMA. tapi, tidak dengan aku, sejak aku berumur 6 tahun, nenek memutuskan untuk mengikuti ku dalam “Home Schooling”. kegiatan belajar dan mengajar seperti bersekolah namun di lakukan di rumah sendiri. Lebih tepatnya dengan memanggil guru secara private.
            Semunya dilakukan di rumah, dan aku mulai bosan. nenek melarang ku habis-habisan sekedar jika aku hanya ingin berjalan-jalan keluar rumah. hanya untuk merasakan angin yang berhembus di bukit di ujung kota.
            Mungkin hingga detik ini, angin adalah satu-satunya teman bagiku. Ia tahu semua tentang ceritaku.
            Pernah suatu ketika aku berumur 8 tahun, aku mengendap-endap keluar rumah di siang yang terik tanpa sepengetahuan nenek. Aku berlari-lari dengan anak-anak yang seusia dengan ku, kami bermain di bukit. Memutar kincir angin yang kami buat dari karton. Tapi, tak di kira nenek menemukan ku,segera saja ia menarik ku untuk pulang, ia memarahiku.
            Dan benar saja, setelah hari itu aku bermain, malam harinya lagi-lagi aku demam tinggi. Dan lagi lagi pula nenek yang merawat, bukan ibu.
            Satu hal yang sangat aku ingat malam itu,
            “anak itu benar-benar anak pembawa sial, dia benar-benar mimpi buruk ku ! sudah         menghabiskan banyak biaya hanya untuk Home Schooling nya, dan juga untuk mengurusi            dirinya yang penyakitan itu ! mungkin lebih baik jika dulu dirimu itu tidak ada Lisa ! percuma     kau hidup, kau hidup juga kesakitan kan ??!!!”
            Kalimat yang keluar dari mulut ibu kandungku. nenek memeluk ku dengan erat. Aku menangis. aku hanya membatin, karena aku tahu ibu tak kan mau mendengarkan kalimat ku.
            Maafkan aku ibu, jika aku merepotkan mu dengan sakit ku. jika aku bisa memilih, aku juga tak kan mau menerima sakit ini,sakit yang suatu saat bisa merenggut nyawa ku. aku akan lebih memilih untuk lebih kuat, agar aku bisa membalas segala budi pada mu”
            Ya sudahlah… itu masa lalu. setiap hari yang aku lakukan setelah home schooling selesai, aku hanya duduk di bingkai jendela kamar ku. seandainya aku bisa melihat Angin, pasti aku akan merasa terhibur, karena kini aku hampir tidak bisa untuk merasakannya.
            Setiap hari aku bagaikan gadis kecil yang sedang menanti kematian. sampai saat ini aku juga belum tahu kenapa ibu begitu membenciku. kenapa ibu selalu mengganggap ku anak pembawa sial. sebenarnya aku salah apa. setiap kali aku bertanya pada nenek, nenek selalu mengatakan “suatu saat angin akan menceritakannya padamu”. hah…. jawaban yang benar-benar mengandung misteri. karena itu aku begitu percaya, bahwa hanya angin lah lentera untuk hidup ku juga untuk sakit ku.”

♥♥♥



  • Bagian 3

24 Juli 2011
            Aku meminta izin pada nenek untuk menemui ibu di kamar nya hari ini. awalnya nenek melarang ku, tapi pada akhirnya aku di perbolehkan masuk. Ibu masuk rumah sakit karena tipus. nenek melarangku karena biasanya ibu tidak mau aku temui, ibu selalu mengusirku, ketika aku hendak berbicara padanya. Tapi, aku tidak pernah berputus asa, aku ingin sekali agar ibu menjawab pertanyaan ku. Pertanyaan yang sekedar menanyakan kabar nya. tidak lagi membuang muka pada ku.
            Perlahan aku masuk keruangannya, kulihat dia terbaring di atas ranjangnya, infus melekat di sisi pergelangan tangan kanannya. Ia menoleh ke arah ku, dan aku masih memperhatikannya.
            Ku sentuh pinggiran ranjang itu, aku menahan air mata ku agar tidak menetes di hadapannya. tetapi ibu belum juga mengatakan apa-apa padaku.
            Aku baru saja ingin bertanya, bagaimana tentang kabarnya hari ini, tetapi ia sudah memotong pembicaraan ku, dan mengusir ku. Aku tidak langsung pergi dari sana, karena demi Tuhan aku ingin menemaninya. Sampai pada akhirnya ia mendorong ku, dan aku tersungkur.
            Aku menangis. menangis batin, juga menangis sesungguhnya. aku hampir 17 tahun, tapi sedikit pun aku belum pernah melihat ibu ku tersenyum ramah untuk ku. Tidak pernah.
            Ibu seandainya ibu tahu, aku tidak ingin melihat dirimu sakit… karena sakit itu tidak menyenangkan. sirosis ini begitu menyita banyak kebahagiaan yang seharusnya bisa aku dapatkan lebih banyak lagi. ya… sirosis.. Sejak umur 6 tahun aku terkena sirosis, pengerasan hati. Dan sampai detik ini, aku masih menunggu pendonor, yang tak pernah aku tau, kapan ia tiba. Inilah alasan mengapa aku seperti terkurung di dalam rumah, hingga nenek melarang ku untuk bermain di luar rumah. Iya.. menemui angin, di bukit di ujung kota.
aku ingin ibu sehat dan baik-baik saja, biar aku saja yang sakit.. biar aku saja…

♥♥♥

25 Juli 2011
            Matahari bersinar dengan baik hari ini. Hari ini ibu masih di rumah sakit, dan aku berniat menjenguknya kembali. Kasihan nenek pasti dia lelah merawat ibu ku sejak 2 hari kemarin.
            Aku akan membawakan ibu, makan siang hari ini. aku sudah berbelanja, dan aku siap untuk memasak. aku berusaha keras untuk menyajikan masakan terenak yang pernah aku buat untuk ibu, hingga aku tak menyadari sirosis itu benar-benar ingin menghalangi niat baik ku.
            “bahkan nenek belum pernah mencoba masakan ku ini.. hihiihi” aku bergumam sendirian           sambil mengaduk bubur yang ku buat. “aku harap ibu tidak bisa menolak pemberian ku kali       ini, karena aroma nya enak….” kalimat ku terhenti, ada sesuatu yang menetes, mengotori apron            yang ku pakai.
           
            “tidak… jangan kali ini, ku mohon” aku mulai terisak.
            “bubur ku.. aku belum menyelesaikannya”
segera ku bersihkan darah yang menetes di hidung ku, dengankain seadanya.. dalam hati ku berkata aku tidak boleh sakit kali ini. Aku harus menemui ibu siang ini !!
            “sebentar lagi selesai, aku pasti bisa…”
20 menit kemudian..
            Akhirnya aku menyelesaikan semuanya, tak lupa aku membubuhkan doa dalam masakan yang ku buat ini. Semoga ibu cepat sembuh, dan segera memberikan senyumannya untuk ku. Aku hanya ingin menjadi seperti angin yang selalu memberikan kesejukan di saat udara sedang terik. Dan hanya seperti itu lah yang ingin aku lakukan untuk ibu.
♥♥♥




  • Bagian 4

            Aku membuka pintu ruang rawat ibu, nenek dan ibu ada di sana, nenek tersenyum pada ku dan aku membalas senyum ramahnya. namun tidak dengan ibu, ia bertambah sinis ketika melihat kotak makanan yang ku bawa.
            Aku mengutarakan niat ku pada nenek, dan nenek menyambutnya dengan hangat, dia mengelus rambut ku, aku rasa dia sangat terharu. Aku meletak kan kotak makan itu di meja yang terletak disisi ranjang ibu.
            “Lisa… kamu baik baik saja nak hari ini ?” tanya nenek ramah
            “baik nek..” jawab ku singkat seraya tersenyum
            “benarkah ? Kau agak pucat, bibir mu kering” nenek mulai curiga
Aku yakin nenek sudah mengira jika aku memang tidak enak badan. Tapi aku tidak boleh terlalu lemah,  kamu pasti kuat.. Lisa!! gumam ku dalam hati.
            “aaih nenek… aku lupa memakai lipgloss ku..” jawab ku kikuk.
Pandangan ku beralih pada wanita yang sedang berada diatas ranjang itu, seperti biasa ia membuang muka dari ku,
            “bu… aku membuat bubur, untuk makan siang ibu. Ku harap ibui menyukainya, cob…”
            Kalimat ku terhenti, seketika ibu memandang ku dengan penuh rasa ketidaksukaannya pada ku. Dengan cepat ibu merampas kotak makan yang ku letakkan di sisi mejanya, lalu membuangnya ke arah tembok di sebrang ruangan.
            “aku tidak akan pernah menyukai, APA PUN DARIMU !! melihat mu setiap hari, aku bahkan         tidak sanggup !! apakah kau bodoh ? Aku sangat membenci  mu? Aku bukan ibu mu !!!!            
            aku tersentak begitu juga dengan nenek, ku lihat air mata nenek mulai mengalir di sudut pipi keriputnya.
            Kaki ku terasa terpaku, bergerak pun aku tidak bisa, ibu masih melihat ku nanar, ada air mata yang tertahan disana.  Sama seperti ku, rasanya aku terlalu takut untuk menjatuhkan air mata ku ini. Nenek sama heningnya dengan ku, ia menangis.
            “bagaimana mungkin aku bisa percaya, bahwa makanan itu layak untuk ku ? Hah ? Aku   memaki mu lebih dari 10 tahun, dan kau masih menyukai ku ? Aku tak yakin jika di dalam kotak       nasi mu itu, kau berniat membunuh ku!! dasar kau sialan.. pergii…pergiii”
Aku terperanjat kaget dengan ucapan yang ibu lontarkan, begitu pula dengan nenek,
            “rosita sudah cukup… dia putrimu ros..sadarlah” nenek berucap di sela tangisannya
            “kenapa bu ? Kenapa tidak ibu ceritakan saja alasannya mengapa aku membencinya, supaya      dia bisa sadar dan pergi dari kehidupan ku SELAMANYA !!!
            “rosita.. ibu mohon sudah cukup…”
            Aku masih terpaku disana, pandangan ku menatap ibu namun sejatinya kosong… kaki ku tergerak sedikit, perlahan air mata ku jatuh, aku tak sanggup lagi membendungnya. Ku arahkan kaki ku medekati ranjang ibu. Perlahan ku genggam tangan nya. Gemetar dan dingin yang terasa.
            “bu… aaakkku….”
ibu mengibaskan tangan ku, aku mulai menangis…
            “pergi, aku muak melihat muka sial mu itu. jangan pernah datang lagi, aku bukan ibu mu”
kalimat nya hari itu, kalimat kebencian yang selalu aku terima sama seperti beberapa tahun yang lalu.
Ibu aku ingin meminta maaf padanya jika aku memiliki salah, sehingga ia begitu membenci ku.
            “ibu.. aku tidak tahu mengapa kau sangat membenci ku, apa pun itu, aku mohon maafkan aku.. aku hanya ingin melihat mu sehat, itu saja..” aku menangis..
            “kau tuli hah..? pergii ku bilang pergii !!!” ibu mendorong ku, menjauh dari nya. Aku tersungkur ke lantai. Aku terduduk di lantai. Aku rasa aku mulai kesakitan. Seandainya ibu memberitahu alasan mengapa ia begitu membenci ku tentu aku tak kan sesakit ini.
nenek membantu ku untuk berdiri, tapi aku terlalu sakit. sakit sekali. aku kembali berdarah, dan aku tak tau apa yang terjadi lagi….

♥♥♥

  •  Bagian 5

            “KETERLALUAN KAU ROS !! apa yang kau lakukan pada Lisa ? mengapa kau begitu jahat   padanya ?”
            “aku tidak jahat, itu adalah perlakuan setimpal bagi orang yang telah merampas masa depan    dan cita-cita ku. bu.. jika dia tidak ada,aku pasti telah menjadi wanita karier yang sukses, dan hidup kita tak kan seperti ini !”
            “itu bukan salah Lisa Rosita !!!! itu salah mu, kau hamil di luar nikah !”
            “jadi ibu, menyalahkan aku ! Bagitu ?”
            “baik, jika kau merasa kau tidak salah. maka laki-laki itu yang seharusnya mendapat perlakuan             sebagaimana yang kau lakukan pada Lisa. laki-laki itu yang seharusnya kau salahkan. karena       memang dia yang salah bukan Lisa !”
            seketika hening, hanya suara detik jam dinding yang terdengar
            “bukan Lisa… yang seharusnya kau hukum ros…bukan dia !!”
            “…..”
            “Ros…dia adalah putrimu. Lisa tidak bersalah atas masa lalu mu, ia bersih suci. seberapa            besar usaha mu untuk menentang itu, kau tak kan bisa mengingkari nya. dia adalah anak yang lahir dari rahim mu. anak kadung mu rosita ! sadarlah!” suara wanita tua itu bergetar.
            “Bu… aku tidak perduli dia anak kandung ku atau bukan, yang pasti dia telah merenggut semua cita-cita ku dulu. dan sekarang dia lahir juga membawa masalah baru untuk hidup ku. ibu yang         sadar !”
           
            “kau benar-benar sudah gila ros… buka pikiran mu lebar-lebar. asal kau tahu saja, bukan lisa       yang merenggut cita-cita mu dulu. melainkan, mantan pacar mu yang tak bertanggung jawab             itu, aku rasa itu juga salah mu. bagaimana bisa kau seorang yang berpendidikan bisa termakan    juga oleh rayuan gombal, pria jalanan macam dia hah ? lalu sekarang kau limpahkan        kesalahan pada anak mu ?? begitu ? dimana letak pemikiran mu ?”
            “cukup bu..cukup..!!!”
            “tidak berpikir kah kau… mungkin kau menganggap dirimu adalah wanita yang teraniya dan       terbuang. akibat peristiwa pemerkosaan 17 tahun lalu. lalu pernah kah terbesit sedikit di otak         mu, ini juga tidak adil bagi Lisa. tidak adil bahkan tidak pernah adil ! sejak Lisa berada di             dalam rahim mu, kau sudah menghukumnya. kau mencoba membunuhnya bahkan. kau             meminum obat-obatan berdosis tinggi, dimana nuranimu ros ??”
           
            “sudah bu..cukup!!! “ rosita mulai melemah, ia menaggis.
            “dengar kan aku rosita” si wanita tua mencengkram bahu anaknya dan menguncangkannya.
            “Lisa adalah anugerah untuk mu, dia itu titipan Tuhan untuk mu. kau mencoba membunuhnya,   tapi kau gagal ! hingga Lisa harus terlahir sebelum waktunya. apa alasan mu membenci Lisa ?     apa ???!!! seharusnya Lisa yang membenci mu ros ! sejak ia kecil, sejak ia divonis sakit. kau    tak pernah menoleh kearahnya. ibu macam apa kau ?” suara nya mulai serak. ia berhenti      sejenak. pandangannya menerawang.
            “hampiri dia ros, dia membutuhkan mu. dia begitu merindukanmu. jangan abaikan dia lagi, dia terbaring di rumah sakit yang sama dengan mu, dia terbaring juga karena perlakuan mu. dia         itu sakit ros !! dia menunggu seorang pendonor yang tak pernah tiba, kau sungguh tega        menambah beban penderitaannya. kau itu ibu kandungnya, bukan malaikat pencabut nyawa !”        suaranya melemah.
            “aku tahu bu, selama ini yang aku lakaukan adalah sebuah kesalahan besar. Lisa seperti ini          karena kesalahan ku. aku begitu menyadarinya. dia tumbuh menjadi seorang gadis yang             ringkih, mungkin karena kesalahan ku ketika aku mengandungnya dulu.” ia terisak. “tapi setiap       kali aku melihat wajah Lisa, aku selalu ingat, akan peristiwa itu, dan membuat ku jijik         sepenuhnya. jijik atas diriku. maafkan aku bu…”
            “jangan meminta maaf pada ku rosita, minta maaf lah pada Tuhan, dan juga Lisa. karena dia     lah yang kau hianati. karena dia lah yang kau ingkari selama ini”
rosita terisak…
  • Bagian 6

28 Juli 2011
            Aku merasa Tuhan merengkuh ku begitu dalam. aku tidak tahu ini sama atau berbeda dengan rengkuhan ibu. karena sampai detik ini aku belum pernah merasakan itu. aku berharap kali ini, ibu memberikannya untuk ku, karena aku begitu menyayangi ibu.
            Sakit yang aku rasakan kemarin masih begitu terasa, kata demi kata yang ibu ucapkan untuk ku juga masih begitu aku ingat. Aku tak kan melupakannya. meskipun begitu, aku tak pernah membenci ibu. Aku percaya aku pasti bisa walau hanya sekedar melihat senyuman ramah ibu untuk ku.
            Aku ingin kali ini ibu menoleh ke arah ku, aku sedang sakit bu, aku mohon tenggok lah aku. Tuhan… aku ingin Angin menceritakan kepada ku, mengapa orang yang aku cintai ini begitu membenciku.
            Tiba-tiba seperti ada seseorang yang mengajak ku mengobrol dengan ramah, aku tidak tahu siapa dia, aku tak kenal dengannya. dia mengatakan, bahwa aku adalah seorang anak yang cantik juga baik. Dia juga mengatakan, bahwa sebenarnya ibu tidak membenci ku, ibu bahkan juga menyayangi ku. Dia berpesan pada ku agar aku tidak membalas semua perbuatan ibu pada ku. perbuatannya di 17 tahun yang lalu, ketika ia mencoba membunuh ku, menggugurkan ku. Bahkan ia mengikari ku sebagai putri kandungnya.
            Aku mulai kesulitan bernapas, aku seperti tersedak. kali ini Angin benar-benar menceritakannya untuk ku. Aku mendengar di sekitar ku begitu riuh, aku mendengar suara nenek, sepertinya dia menangis. aku hanya ingin mengatakan “aku baik-baik saja, nek..hanya saja aku mulai kesulitan untuk bernapas”
            Aku juga mendengar suara laki-laki, itu pasti pak dokter. aku hanya ingin mengatakan “terimakasih pak dokter, telah merawat selama koma ku” iya.. aku koma, setelah siang itu, aku pingsan setelah ibu mendorong ku, aku tak tahu jika aku memang selemah itu, seperti kapas yang berhamburan di lantai. Tak berarti apa-apa.
            Tidak apa, aku masih bisa menunggu senyuman ibu. ada yang menyentuh tangan ku kali ini, aku bisa merasakan ini bukan nenek, kulit tanggannya yang menyentuh tangan ku belum keriput. iya… ini pasti ibu. Subhanallah, aku begitu bahagia, ibu mencium kening ku untuk pertama kalinya. dalam koma ku, aku masih bisa meneteskan air mata.
            Ibu meminta maaf pada ku dia mengatakan ” Lisa enggkau anak ku satu-satunya, cepatlah sembuh. maafkan ibu, maafkan ibu nak..” air mata ibu begitu hangat ketika menetes di kening ku.
            Aku ingin sekali berkata “ibu aku sudah memaafkan mu, sejak dulu, aku begitu menyayangi mu” Tuhan aku mohon berikan aku kesempatan untuk mengatakannya.
            Aku membalas genggaman tangan ibu, aku tidak bisa berkata-kata lagi, aku hanya ingin memberikan  isyarat bahwa aku sudah memaafkannya. tangisan ibu semakin menjadi. ibu merengkuh ku… dadaku semakin sesak, aku tak mampu membendung rasa bahagia ku. setelah sekian lama, akhirnya aku mendapatkannya, kini dalam hidup ku aku tak ada yang perlu aku cari lagi.
            Aku sudah mendapatkan semuanya, dan aku begitu bahagia akan itu. terimakasih

♥♥♥

            “tahukah kau ros ? Lisa begitu menyukai angin, dulu baginya angin adalah layaknya pengganti    dirimu. kau tahu alasannya ?”
rosita menggeleng
            “karena angin adalah satu2 nya hal yang selalu setia membelainya,”
            “dan sekarang aku tahu bu.. Lisa memang anugerah bagi ku yang aku abaikan, dia adalah           Layaknya Semilir angin yang tak kan pernah kembali lagi, untuk ku…”
            “sering-sering lah datang ketempat ini ros, Lisa sangat ingin bermain disini, namun kondisinya   tidak memungkinkan bagi nya untuk berada di luar. Ia selalu berkhayal kau menjemputnya      bermain di tempat ini…”
            “…..”
            “ibu yakin… Lisa pasti akan selalu menunggu mu disini”

♥♥♥

Wanita itu semakin lemah untuk berjalan, tapi ia tidak memutuskan untuk berhenti. sampai pada akhirnya, angin lembut membelainya. dan menyadarkannya ia tak kan bisa kembali ke masa itu.
Selesai

490 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini