Posted on

RUMAH KACA SIPUT

Oleh : Shintany R. Widyananda 

            Suatu hari ada seekor siput yang membawa beban rumahnya menuju kota. Ia berjalan dari sebuah hutan yang terbakar habis melewati sungai yang kering dan merayap lambat mendaki sebuah bukit kecil. Di atas bukit siput tersebut bertemu dengan sepasang kura-kura yang sedang beristirahat di bawah pohon beringin.
            “Hai, siput. Kemana arahmu merayap kali ini? Kulihat dari kejauhan kau seperti sedang berusaha menuju ke suatu tempat,” sambut kura-kura jantan ketika siput menghampiri mereka.
            “Aku sedang menuju ke kota di seberang bukit ini. Aku berasal dari hulu, aku dulunya tinggal di hutan yang kini sudah terbakar habis,” jawab si siput.
            “Buat apa kau ke kota, tidak ada tempat untukmu di sana,” kata kura-kura.
            “Kota yang aku tuju ini adalah kota yang maju dan makmur masyarakatnya. Mereka menanam pepohonan dalam rumah besar yang terbuat dari kaca. Disana siput-siput lain sepertiku pun juga akan diberi rumah dan makanan yang layak. Ikutlah bersamaku, kau juga akan bertemu dengan kawanan kura-kuramu,” siput berkata dengan bangganya.
            “Wah, benarkah? Itu indah sekali. Tapi untuk apa aku jauh-jauh ke sana kalau di sini aku sudah mendapatkan pohon sebagai rumahku dan sungai itu sebagai sumber airku.” Kura-kura menunjuk pada sebuah aliran sungai yang jernih dan deras di bawah bukit. Siput melihatnya dan berkata, “Hai, kura-kura. Sungai itu sangat jauh dari rumahmu ini. Kenapa kau tidak turun dan mencari rumah terdekat di sekitar sungai itu saja?”
            “Tidak, di sini pemandangannya lebih indah dan sejuk. Dan lagi aku bersama pasanganku sudah lama menantikan memiliki rumah dengan suasana seperti ini. Pergilah ke bawah sana dan lewati sungai itu, Siput. Kau akan bertemu dengan seekor buaya di sana, jadi berhati-hatilah. Ketika kau sudah melewatinya, maka kau akan sampai menuju hutan yang membawamu ke kota itu.”
            Siput pun melanjutkan perjalanannya. Dari atas bukit ia memandangi pemandangan kota yang berwarna-warni dan memiliki banyak rumah kaca. Ia membayangkan kelak manusia di sana akan memungutnya dan memberikan ia rumah di antara pepohonan di dalam rumah kaca itu. Ia juga membayangkan kelak ia akan diberikan makanan yang enak dan bertemu kawanan siput lainnya yang ramah.
            Sampai senja tiba, siput telah sampai di pinggir sungai. Ia memandangi sekitar dan melihat apakah ada dahan pohon yang rendah untuk ia bisa merayap dan menyeberangi sungai itu. Tiba-tiba ia terkejut dengan serangan seekor buaya di depannya.
            Happ!
            “Hei! Kau ingin memakanku?” teriak seekor siput. Buaya itu diam saja dengan mulut tertutup.
            “Heeiii!!” Siput berteriak lagi dan mencoba menggoncangkan tubuh buaya.
            Sang buaya ternyata sedang mengintai seekor kelinci yang bersembunyi di balik pepohonan. Siput yang melihat kejadian itu segera merayap di atas batu besar dan berteriak sekali lagi ke arah buaya.
            “Heeii… Kau dengar aku?”                                                      
            “Hah, kau makhluk kecil. Mau apa kau di sini? Gara-gara kau aku gagal menerkam kelinci itu.” Buaya sangat kaget dan gusar mendengar teriakan siput dan menyadari si kelinci telah kabur. “Kau, Siput. Lihat perbuatanmu, gara-gara kau aku kehilangan makan malamku.”
            “Kau ingin makan malam? Ikutlah denganku ke kota malam ini, manusia akan memberikan banyak makan di sana. Mereka memelihara hewan dan tumbuhan dalam sebuah kaca yang besar. Jadi kau tidak perlu berburu di sungai ini,” ajak Siput.
            “Hahahaha.. Tidak mungkin mereka ingin merawatmu. Kau kanhewan kecil dan kau selalu merusak tanaman. Mereka akan membunuhmu di sana,” ejek buaya.
            “Tidak, mereka akan memberikanku tempat tinggal khusus untuk kawanan para siput sepertiku. Kalau kau mau ikut, kau juga akan mendapatkan tempat tinggal dan bertemu dengan kawananmu di sana,” Siput meyakinkan.
            “Lalu seperti apa manusia di sana? Dahulu mereka memburuku, mereka melewati rumahku dan memasang perangkap di sana. Namun yang terjebak dalam perangkap itu adalah musuhku yang ingin menguasai daerahku ini. Aku dengar manusia itu berbicara, mereka akan mengambil kulit buaya untuk dijadikan pajangan di rumah mereka. Selain itu mereka juga akan menjualnya untuk menjadikan mereka lebih kaya. Lebih baik kau tinggal di sini saja bersamaku. Lihatlah air di sungai ini masih jernih dan kau akan mendapatkan lebih banyak makanan dari hutan itu.” Siput menengok ke hutan yang ditunjukkan oleh buaya. Hutan itu adalah tempat kelinci tadi kabur dan masuk di antara pepohonan.
            Siput berpikir tempat itu persis seperti tempat tinggalnya dahulu di hulu. Tinggal di hutan dan banyak makanan tersedia. Namun terlalu banyak aneka hewan di sana juga membuat ia jadi harus bersaing untuk memperebutkan makanan dan harus selalu waspada terhadap pemangsa. Belum lagi kalau suatu hari hutan itu akan kedatangan manusia dan membakarnya lagi. Lebih baik tinggal bersama manusia saja, mereka memiliki segalanya di kota. Mereka menjadikan area perumahan dan pepohonan serta taman yang tersusun rapi. Belum lagi mereka telah membuat alat-alat canggih sehingga kehidupan mereka pun serba mudah. Pasti mereka juga menyediakan tempat untuk hewan-hewan hidup berkelompok dan tidak harus bersaing untuk mendapatkan makanan.
            Setelah berpikir panjang, siput pun memutuskan untuk tetap meneruskan perjalanannya ke kota dan menolak ajakan buaya. Namun ia juga harus meminta bantuan buaya untuk menyeberangi sungai itu.
            “Aku akan tetap menuju kota. Aku sudah pernah tinggal di tempat seperti ini. Hutanku di hulu pun sudah habis terbakar dan aku tidak akan tinggal di hutan lagi. Tapi kau harus membantuku menyeberangi sungai ini,” kata siput.
            “Baiklah, kalau kau tidak mau tinggal disini. Aku akan mengantarmu ke seberang, Lagipula kalau kau tidak disini aku juga tidak akan kehilangan makan malamku lagi. Hahahaha..”
            Buaya pun mengantar siput ke seberang dan menjelang malam siput semakin berjalan lambat menuju masuk ke dalam hutan. Malam semakin gelap dan siput tak gentar untuk terus berjalan. Perlahan ia menemukan setitik cahaya di dalam kegelapan. Ia mengira itu adalah cahaya malam kota yang artinya ia akan sampai sebentar lagi. Ia berjalan terus dan cahaya itu pun semakin dekat. Tiba-tiba cahaya itu bergerak cepat dan semakin menyilaukan mata.
            “Hai, aku Emon. Aku kucing dari kota yang tersesat. Dan kau siapa?”
            Siput terkaget dengan kemunculan seekor kucing besar yang keluar dari balik semak-semak. Ternyata cahaya itu bukanlah dari kota, melainkan mata si kucing yang memang menyala di kegelapan.
            “Hai, Kucing Besar. Kau punya nama? Hebat! Kau tinggal di kota? Antarkan aku kesana,” kata siput.
            “Apa yang mau kau lakukan di kota? Aku tersesat. Pemilikku pergi meninggalkan rumah, makananku habis. Dan ketika aku keluar rumah aku melihat seekor tikus yang berlari menuju hutan ini. Jadi aku mengejarnya. Dan ya, aku punya nama. Manusia-manusia itu memberikan nama untuk setiap kucing yang mereka pelihara. Mereka juga memandikanku dan memberikan makan enak untukku setiap hari. Aku tinggal bersama mereka dan tempat tidurku sangat hangat.” Cerita Emon Si Kucing membuat siput semakin bersemangat untuk menuju kota.
            “Ceritakan lagi apa yang manusia yang lakukan di kota itu,” pinta siput penasaran,
            “Manusia tinggal di sebuah rumah, ada juga yang tinggal di gedung bertingkat. Setiap hari mereka pergi bekerja dengan ular raksasa. Ular itu memiliki jalurnya sendiri untuk menuju ke suatu tempat. Dan jalur itu tidak hanya di tanah, ada juga yang melayang melewati atap-atap gedung. Kadang-kadang manusia seperti bicara sendiri di depan sebuah lukisan. Gambar di lukisan itu bergerak-gerak dan berbicara. Mereka bilang orang di lukisan itu berada sangat jauh dari kota itu, sehingga mereka harus berbicara di depan lukisan kalau ingin berbicara dengan orang itu. Kadang-kadang ada burung besar yang terbang di atas kota. Burung itu terbuat dari kaca sehingga orang di bawahnya bisa melihat siapa yang ada di dalam burung itu. Temanku si Undul juga pernah berada di dalam burung ini. Katanya ia bisa melihat rumah kaca dari atas sana.”
            Mendengar kata rumah kaca, siput pun menjadi lebih bersemangat. “Antarkan aku kesana. Aku akan tinggal di rumah kaca itu!”
            “Benarkah? Rumah kaca itu hebat. Aku pernah kesana sekali. Mereka menanam pohon dan bunga-bunga yang indahnya di dalamnya. Mereka juga memelihara hewan-hewan kecil sepertimu di dalam suatu taman yang lebih kecil lagi dari rumah kaca itu.”
            “Ya! Merekalah teman-temanku. Aku tidak sabar untuk tinggal di sana. Mereka bilang mereka akan memberikan kami makanan yang enak-enak,” ujar siput dengan menggebu-gebu.
            “Baiklah, naiklah di atasku. Kau akan aku antar kesana.”
            Emon pun membawa siput menuju ke luar hutan. Di gerbang kota itu tampaklah sudah bangunan-bangunan megah yang diceritakan oleh Emon tadi. Pusat kota dari kejauhan tampak bercahaya merah yang bergerak-gerak seperti kembang api dan sangat indah. Tidak lagi gelap dan hening seperti di tengah hutan tadi. Siput merasa takjub dan semakin bersemangat untuk mendekati pusat kota itu.
            “Turunkan aku, biarkan aku berjalan sendiri menuju keramaian itu. Kau pergi dan pulanglah ke rumahmu.” Siput pun meninggalkan Emon sendiri di tepi kota itu.
            “Tunggu, Siput. Kau tidak akan bisa kesana. Tung….”
            Siput tidak memedulikan Emon dan terus berjalan menuju keramaian kota. Dengan cepat Emon pun diangkat oleh sepasang tangan dan dibawa lari menuju timun raksasa. Timun itu memuat banyak manusia yang panik dan segera naik terbang ke langit meninggalkan kota yang semakin lama memanas terbakar oleh api raksasa.
            Siput terus berjalan di antara manusia-manusia yang berlari menuju timun-timun raksasa lainnya. Siput tidak menyadari bahwa kota itu sebentar lagi akan dilahap habis oleh api raksasa. Gedung-gedung mulai runtuh berjatuhan dan menimpa beberapa manusia dan hewan. Rumah kaca raksasa yang diceritakan oleh Emon Si Kucing pun seketika menjadi gelap gulita dan prangg…
            Siput terkejut dengan suara kaca yang pecah. Ternyata itu adalah rumah kaca yang tertimpa potongan bangunan yang penuh api. Segera pohon-pohon di dalam rumah kaca itu ikut terbakar habis dan api semakin membesar. Siput merayap lebih cepat menuju rumah kaca itu, berharap ia bisa menyelamatkan rumah impiannya di dalam sana.
            “Hei, jangan bakar rumahku. Hei, Manusia! Angkat aku. Bawa aku ke sana. Cepatlah! Semakin panas di sini!”
            Siput berteriak menuju ke arah manusia yang berlari masuk ke timun raksasa. Namun tak satupun dari manusia-manusia itu yang mendengar bahkan menundukkan kepalanya untuk melihat siput itu. Mereka terus berlari dan berteriak. Suasana sangat riuh dan manusia hanya mendengar suara-suara teriakan panik mereka sendiri.
            “Cepat masuk ke dalam sana, kita akan selamat dan tinggalkan kota ini segera!” Teriakan-teriakan perintah dan minta tolong dari manusia-manusia itu membuat siput bingung. Siput pun segera menoleh ke arah timun-timun raksasa tempat tuju manusia berlari.
            “Hei, tunggu aku. Kau tidak bisa meninggalkan aku di sini sendiri. Kau harus menyelamatkanku,” teriak siput sambil mendorong tubuhnya untuk terus bergerak menuju timun itu. Beberapa timun di kejauhan sudah tertutup dan pergi menuju langit. Masih ada satu timun raksasa lagi yang akan menjadi timun terakhir untuk berangkat, yaitu timun yang sedang dituju oleh siput.
            Siput sekarang benar-benar kelelahan. Baginya, manusia berlari terlalu cepat dan timun-timun raksasa itu berangkat terlalu awal. Sedang siput semakin merasa kepanasan akibat semakin besarnya api yang melahap kota itu. Ia pun semakin lambat merayap.
            “Hei.. Hentikan apinya, aku kepanasan. Timun, tunggu aku,” siput memohon di tengah hancurnya kota itu. Pandangannya kini semakin kabur. Ia hanya melihat bahwa ia semakin dekat dengan pintu masuk timun itu namun pintu itu semakin sempit untuk ia masuk. Timun raksasa terakhir kini siap berangkat, sedang siput semakin tidak berdaya untuk terus menggapai timun raksasa itu. Siput hanya mampu menatap timun raksasa itu yang sudah tidak menyentuh tanah, timun raksasa terakhir sudah berangkat dan terbang menuju langit.

            Siput kini sendiri di kota canggih yang telah hancur itu. Kota itu kini habis dimakan api dan ditinggalkan oleh penghuninya. Siput menyadari rumah impiannya sudah tidak ada, dan rumahnya sendiri pun ternyata sudah hancur. Seperti rumah kaca raksasa itu, cangkangnya sendiri ternyata sudah pecah berkeping-keping. Siput menyesal, sekali lagi ia melihat sebuah pembakaran dan kehancuran dari sebuah kehidupan.

254 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

 

One thought on “RUMAH KACA SIPUT