Posted on

Roman Luka










Oleh : SAHILA DANIARA 

Melukiskanmu dalam khayalan senja
Seketika kelam memintaku untuk berhenti
Berderik,
Tatkala batas imaji tlah terlampaui
Membingkai tentangmu dalam potret jingga,
kala itu
Seketika tangan-tangan angin
Menghentikan asa berkelana
Nelangsa, memang
Tatkala bibir cakrawala berbisik lembut
Pengecut, berhenti
Maju, belum tentu menang
Pilu kurasa,
Ombak berderu bagai nyanyian lara
Berdendang miris,
Tertuju untukmu wahai gadis
Yang merangkai kisah dalam lembar kertas tertulis.
            Hai, izinkan aku bercerita tentangmu wahai seseorang. Menceritakan kisahmu yang tentu saja ada aku di dalamnya. Aku yang mencuri-curi waktu agar terlibat dalam keping demi keping kisah-kisahmu. Itu semua kulakukan agar aku punya bukti untuk kuagungkan, bahwasanya aku memang pernah terselip dalam ceritamu. Agar aku meninggalkan kesan dalam waktu kita yang terlalu singkat.
            Ini hanya sebuah kisah monolog. Entahlah, tiba-tiba saja aku ingin membaginya. Tiba-tiba saja aku ingin mengabadikannya. Ya, kisah luka yang biasa ini. Tentangmu, tentang aku, tentang kita, dan tentang kata yang tak pernah ada. Mungkin waktu ingin bermain-main hingga sekotak cerita kita terlupakan, atau terjatuh, atau mungkin saja tertinggal. Ah, aku selalu menghibur diri. Mungkin kotak itu tak pernah ada. Benar kan?
            September pertama ketika mata kita bersirobok. Pagi itu ketika cahaya keemasan milik mentari menawarkan berjuta rona kehangatan pada insan-insan sebagai salam penyemangat. Di lapangan basket itu, kali pertama kutemukan dirimu. Matahari belum terbit seutuhnya, tapi peluhmu sudah banyak terbuang. Kuambil kesimpulan, kau penyuka olahraga basket. Pagi masih awal, langkah-langkah kaki anak manusia masih sedikit. Aih aku kepagian. Tapi andai aku terlambat sedikit saja, mungkin sudah lain lagi ceritanya. Atau mungkin hatiku takkan pernah mencondongkan rasanya padamu.
            Aku terlalu asyik memperhatikan kegesitanmu dengan bola berwarna orangeitu, sampai-sampai aku tidak sadar kau tak lagi berlari, tak lagi berusaha memasukkan bola ke ring. Ya, kau sudah berhenti dan berdiri diam. Tentu saja sambil memperhatikan seorang gadis aneh yang sedari tadi menyaksikan pemainanmu. Ya Tuhan, aku salah tingkah. Ini memalukan. Aku menunduk, mataku terasa panas. Namun matamu yang teduh itu berusaha mencari-cari kegugupan gadis bodoh ini. Ya, kau berhasil dan akhirnya aku memberanikan diri menatapmu dalam diam. Hei, matamu terlalu teduh dan menenangkan. Diam-diam kusimpan potret mata teduh itu. Agar suatu hari ketika aku merindukannya lagi, cukup kupejamkan mata dan kuhampiri lagi tempat dimana potret itu dulunya kuletakkan. Kau tertawa lepas setelahnya. Hei, apa yang kau tertawakan? Apakah tampangku seperti badut dalam situasi itu? Atau aku seperti anak idiot yang kehilangan arah pulang? Entahlah, mana kutau apa yang ada di pikiranmu. Kau hanya tertawa, kemudian dengan santai meletakkan bola yang tadi kau mainkan ke tanganku. Tanpa memprotes bola itu sudah berpindah, dan sebelum kau berlari meninggalkan lapangan kau seenaknya mengacak-acak rambutku. Menyebalkan, tapi itu semakin membuatku penasaran.
            Ah, ini hanya sebuah kisah monoton. Kisah yang sebenarnya terlalu berlebihan untuk ditulis-tulis. Tapi sekali lagi, aku hanya ingin membuatnya terasa nyata, hanya ingin membiarkan kisah cinta pertamaku tidak terlupakan.
            Kau tau, aku begitu menyukai langit sore. Entahlah, aku sangat mengagumi serat jingga milik senja. Dan aku menjumpaimu lagi di antara jeda waktu yang selalu kufavoritkan. Sore itu lagi-lagi aku menemukanmu. Tapi tidak dengan bola basketmu. Kau sedang duduk di sebuah kursi panjang di taman sekolah. Hari ini aku keasyikan mengerjakan tugas di perpustakaan hingga tak sadar waktu terus berjalan dan hari semakin sore. Aku terlambat pulang. Tapi, andai aku pulang sedikit lebih cepat saja mungkin ceritanya akan lain lagi.
 Aku sedang merangkai khayal seraya menyaksikan pertunjukkan langit saat tiba-tiba mataku dengan cepat menangkap sosokmu. Kau sedang asyik melukis. Alamak, ternyata kau tak hanya jago bermain basket. Melukispun kau juga bisa. Pipiku merona merah. Oh, kenapa dengan hatiku? Sejak peristiwa pagi itu aku tak pernah bisa melepaskan ingatanku dari sosok yang kini ada di seberangku. Hei, kau selalu berhasil membuatku penasaran.
Sepertinya aku harus berterima kasih pada Tuan waktu. Karena dia selalu berhasil membuatku terkejut dengan rancangannya. Seperti bertemu denganmu pada saat-saat tak terduga. Waktu terus melaju dan tanpa kusadari kita semakin dekat. Seperti ketika aku ikut berpartisipasi dalam keanggotaan osis, atau ketika kita terlibat dalam kepanitian. Agaknya kau selalu melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sekolah. Dan kupikir kau adalah pria serba bisa. Lihat apa yang tidak kau bisa, kutanya? Olahraga bisa, seni kau pun bisa, akademik apalagi. Tak jarang kau diikutsertakan dalam olimpiade-olimpiade. Terutama fisika, yah kau pengagum Albert Enstein. Hei, kau semakin membuatku tak bisa melepaskan diri dari pesonamu.
Waktu terus berjalan dengan semestinya. Kini adalah September ketiga sejak kita bertemu saat itu. Lalu kau pun lulus dan aku baru menduduki tingkat akhir masa sekolah. Hei, kita berpisah dan kisah cintaku terlalu menyedihkan ternyata. Kau sama sekali tak pernah tau tentang rahasia hati yang selalu kusembunyikan rapat-rapat. Hei, Selamat tinggal dan selamat berpisah. Aku memang terlalu pengecut untuk mengaku. Ya, begitulah aku. Hari terakhir kita bertemu kala itu, dengan keberanian yang sangat kuhadiahkan sebuah senyum bermakna untukmu. Syukurlah kau membalasnya. Dan dibawah langit sore nan indah, di hamparan magenta yang berbahagia kusaksikan langkahmu meninggalkan sekolah kita. Tempat yang menyimpan banyak cerita tentangmu. Tak kulepas pandanganku hingga kau menghilang di ujung jalan itu. Sekali lagi selamat berpisah.
Kisah klasik ini akan berakhir sebentar lagi. Entahlah, entah kisah ini berakhir bahagia atau malah menyedihkan. Ketika jam istirahat aku melewati ruang kesenian. Aku tau kau juga sering melukis di sana. Aku memasukinya dan aku menemukan sebuah kotak kayu yang terukir namamu di atasnya. Hei, bolehkah aku membukanya?? Kotak ini membuatku penasaran, sama seperti pemiliknya. Hingga kuputuskan untuk membukanya saja. Tak apakan? Aku hanya ingin melihat barang apa yang kau simpan di dalamnya dan kau biarkan tertinggal di ruangan yang sepi ini. Aku terdiam, begitu banyak sketsa wajah dan lukisan seorang gadis di dalamnya. Seorang gadis yang kau panggil “Lana”. Ya, itulah yang tertulis di sana. Hei, itu aku. Itu aku. Aku menahan tangis dan berlari pulang. Kita sama-sama ingin melupakan, sama-sama ingin meninggalkan sebuket kisah cinta tanpa suara di sini, di sekolah ini. Dan yang terpenting, kita sama-sama tak menyuarakan rasa yang bersemayam di hati ini. Sama-sama mencinta tapi lebih memilih mematikan cinta itu sendiri. Hei, apa yang harus kulakukan??
Ini paragraf terakhir, aku berjanji. Sedikit lagi akan usai. Aku memang belum merencakan apa-apa untuk memperjuangkan cinta dalam diamku. Cinta pertama yang selalu kusimpan rapi hingga hari ini. Namun tampaknya, Tuhan memang tak mengizinkanku berjumpa lagi denganmu. Sore itu, pada potret waktu yang kusukai alam membawamu pergi. Gempa besar 30 September kala itu meluluhlantakkan hotel dimana kau sedang mengadakan pelatihan. Hei, aku hanya terdiam untuk waktu yang lama. Mungkin aku takkan semenyesal ini, jika nama itu tak pernah kutemukan. “Lana”. Ya nama itu hanya menambah goresan luka di dalam beribu penyesalan. Aku bisa menyebut kisahku berakhir bahagia karena cinta yang tak pernah kusuarakan tidak bertepuk sebelah tangan. Namun tetap saja, akhir pastinya adalah kisah yang menyedihkan. Karena hanya memulai dengan sebuah kepengecutan semuanya berakhir penuh kesia-siaan. Andaikan.. Ah aku tak mau berandai-andai. Hei seseorang, Selamat jalan. Aku tau kau takkan pernah membaca tulisan ini. Tapi, biarlah orang-orang itu membacanya dan memperjuangkan cinta mereka. Semoga saja kitalah yang menjadi penutup kisah luka ini.~
Solok, Desember 2012

372 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

 

3 thoughts on “Roman Luka

  1. "Tapi, biarlah orang-orang itu membacanya dan memperjuangkan cinta mereka."

    Sesuatu nih kata-katanya

     
  2. aduhh sohib gw nih jago banget puisinya 🙂

     
  3. Ketika cinta yang hanya bisa dirasakan dalam hati tanpa mampu untuk mengungkapkannya berakhir dengan sebuah gempa yang meluluhlantahkan kisah mereka. Like this sha…