Posted on

Perjuangan Gelar juara ROBOT INDONESIA di Kancah Internasional

Oleh : Agung Muhamad
Sekitar dua tahun yang lalu aku baru mulai memasuki bangku kuliah. Nama tepatnya adalah UNIKOM, itulah kampusku. Disinilah aku memulai perjuangan untuk menjadi seorang figure. Sebelum masuk UNIKOM aku sempat daptar kesana-kemari ke unveritas pavorite tentunya, namun apa saya didapatkan hasilnya adalah nol. Ketika memulai perkuliahan pun pasti pertanyaan yang terngiang di telinga adalah
Apa motivasi anda memasuki UNIKOM?
Apakah anda mencoba mendaftar perguruan tinggi lain sebelumnya?
Nah kira-kira seperti itulah ujian pertama saya memasuki bangku kuliah dan pertanyaan itu berlaku untuk semua manusia yang baru memasuki bangku kuliah namun dinyatakan GAGAL memasuki kampus yang dikatakan pavorite, meskipun yag barusan saya katakana baru sebatas kemungkinan.
Begitu memasuki perkuliahan banyak kekecewaan yang terjadi baik itu dari bangunan UNIKOM yang setengah HOTEL ataupn fasilitas internet yang katanya cyber. Terkadang emosi saya sering bergejolak karena dengan pemikiran tersebut tapi sisi lain saya berbicara “tidak ada yang lebih indah dan lebih baik dari kata bersyukur”. Begitulah kira-kira perasaaan saya terhadap UNIKOM saat memasuki perkuliahan.
Pada kenyataanya di kampus UNIKOM sendiri tidak dilakukan OSPEK (Orientasi Studi Pengenalan Kampus). Oleh karena itu saya tidak pernah tahu bagaimana serunya di OSPEK. Namun setiap tahun untuk menyambut mahasiswa barunya, UNIKOM selalalu mewajibkan kepada seluruh mahasiswa baru dan seluruh UKM yang ada di Unikom untuk datang dan turut berpartisipasi untuk datang ke sabuga ITB. Dimana ketika kami datang kesana serasa di OSPEK meskipun kami tidak tahu bagaimana rasanya di OSPEK. Seperti biasa kami disuruh untuk datang sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam.
Ketika di hari berikutnya tepatnya hari selasa kami mulai mengikuti kegiatan tahunan UNIKOM. Dalam acara tahunan tersebut yang bertanggung jawab untuk kegiatan tersebut adalah BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Dimana kami semua sebagai mahasiswa baru ditekan untuk datang tepat waktu, dipaksa untuk menuruti semua perintah program tersebut walaupun entah untuk apa sebenarya tujuan tersebut dilakukan. Itulah perasaan saya terhadap program tersebut. Tapi disisi lain kami diperkenalkan dengan semua UKM dan DIVISI yang ada dikampus UNIKOM mulai dari yang berbau olah raga sampai pada kerohanian. Yang menjadi daya tarik saya saat itu adalah DIVISI yang bergerak dalam bidang ROBOTIK dan ROKET. Keunggulan yang memikat tersebut dikarenakan prestasi UNIKOM dengan ROBOTIK-nya mampu membuktikan bahwa kampus swata juga mempunyai kualitas yaitu dengan cara menjuarai kejuaraan tersebut untuk tingkat dunia. Itu artinya semua kampus yang ada diindonesia telah kalah telak oleh kampus UNIKOM.
Perkuliahan pun berlanjutan hingga proses perekrutan calon anggota DIVISI ROBOT dan ROKET. Untuk kali ini saya sebagai mahasiswa yang telah merasakan gagal tidaklah patah semangat untuk mengikuti divisi tersebut dengan cara mencoba mendaftar menjadi anggota ROBOTIKA. Pada proses pendaftaran tersebut saya dikenalkan dengan para senior yang telah dahulu masuk untuk divisi tersebut kalo boleh saya sebut namanya adalah (Eko Prabowo, Zamaludin Abdulah, Muhamad Ikbal Wiguna, Februandi, Anita Fitrizia, Rizaldi Permana, IKsan Faturohman, dan beberapa orang yang telah tereliminasi di pertengahan jalan).
Pemateri pertama pada saat perekrutan adalah bapak Taufiq Nuzwir Nizar beliau adalah sosok orang yang berwibawa namun sedikit humoris. Sebenarnya bukan hanya beliau yang menjadi dosen pembimbing dalam divisi robotic ada dosen yang bernama Rodi Hartono yang katanya pemegang juara pertama di UNIKOM untuk kejuaraan ROBOTIK, kemudian satu lagi dosen kita yang berniat melanjutkan S3-nya beliau adalah bapak Didit.
Pada peroses perekrutan tersebut kami dipaksa dan di tekan untuk berfikir ulet dan kritis. Kami disuguhkan pada suatu maslah yang sebelumnya kami belum tahu sama sekali. Boro-boro untuk menyelasaikan masalah tersebut berharap saja kami sudah tidak yakin lubuk hati saya berbicara. Kalau lah boleh dikata kita itu baru juga masuk masa harus diberi materi dan disuguhkan masalah yang sebenarnya hal tersebut harus diselesaikan oleh seorang yang menempuh tugas akhir. Kira-kira seperti itu gambaran untuk tantangan yang ingin masuk Divisi tersebut. Belum lagi hampir seminggu tiga kali kita harus memberisihkan lab yang kondisinya seperti gudang atau lebih tepatnya pabrik industry, bukan hanya itu saja cucian piring pun numpuk di kamar Mandi, begitulah kira-kira sebuah tantangan untuk bisa masuk menjadi anggota ROBOTIKA UNIKOM. Mungkin kami atas nama peserta perekrutan tersebut harus bisa sabar dalam kondisi tersebut. Dikarenakan saat-saat itu kami semua dimanpaatkan untuk kepentingan maoritas.
Tidak hanya sampai disana kesabaran kita diuji, ketika telah masuk divisi tersebut pun kita disuruh untuk mengoprasikan mesin yang hanya bisa dijumpai ditempat-tempat tertentu. Kalo boleh disebutkan mesin tersebut adalah CNC, BUBUT, PRIS dan mesin-mesin pemotong lainnya yang saya tidak hapal namnya. Yang menjadi masalah saya saat itu bukan masalah kita dipaksa untuk mengerjakan kebutuhan pembuatan robot tetapi masalahnya adalah kenapa ketika kita melakukan pekerjaan tersebut kemudian kita melakukan kesalahan kecil misalnya salah untuk sebuah ukuran padahal sebelumnya kita tidak pernah diajari lalu kita habis kena marah para senior seperti yang dilakukan oleh kang ikbal kepada saya.
Pandangan buruk pun bermunculan dari teman-teman sekelas yang notabenenya adalah kontra terhadap divisi tersebut. Mungkin kali ini saya tidak sebut namanya katakana lah anonym dia berkata “kamu jangan mau masuk divisi robotic” ujarya “robotika itu mahasiswanya disuruh kerja pakasa seperti zaman penjajahan jepang” ujarnya. Namun saya tidak memperdulikan perkataannya karena saat itu saya sedang berambisi untuk bisa menjadi seorang juara dunia seperti yang dilakukan oleh pemegang jurara pertama yaitu Rodi Hartono dan juga hal tersbut sangatlah berlebihan untuk dikatakan. Mungkin memang benar rambut panjangnya seperti anak rege (ujar saya dalam hati) kurang baik di contoh sebagai dosen namun sebenarnya kalo anda sebagai pembaca ingin tahu kebenaran yang ada dia adalah dosen yang baik sekaligus pemegang juara pertama robotika UNIKOM untuk tingkat dunia.
Kalo berbicara soal robotika Unikom orang-orang yang lolos atau masuk kedalam divisi tersebut adalah saya, Ikhwan, Gyan, Imam, Michael, Firdanto, dan orang-orang yang telah terlupakan namnya. Dimana ketika sudah masuk divisi ini rasanya seperti sebuah pertempuran di medan perang. Bukan hanya kita di paksa untuk bisa memberikan waktu kita seluruhnya untuk divisi ini melainkan persaingan antar individupun terjadi. Aturannya adalah orang pertama yang berhasil dan dengan cepat dapat beradaptasi terhadap lingkungan robotic dia akan dinobatkankan menjadi seorang raja. Begitulah kira-kira gambaran sengit persaingan kami antar individu untuk mengejar kata juara saat itu.
Bahkan salah satu senior saya yang bernama februandi pernah berkata “kehidupan dilab seperti di neraka” ujarnya. Mengapa demikian……..???
Training selama dua bulan tidak cukup agar kita bisa tetap menjadi anggota robotika UNIKOM. Perlu training lagi satu tahun penuh agar kita bisa diberi kepercayaan oleh dosen-dosen pembimbing kita untuk membangun sebuah robot cerdas. Nah dimana saat-saat inilah para rekruitmen robotic mulai berguguran. Selama satu tahun kita masih tetap mempunyai tugas seperti mencuci piring, membersihkan wc, mengmpulkan baud diantara kumpulan sampah yang berserakan, membuang sampah yang letaknya diluar kampus dll. Dan pengalaman saya yang tersasa sedih saat itu adalah ketikaa saya sendirian disuruh membuat arena lapangan untuk menguji ke berhasilan robot fire figting milik pak rodi. Bayangkan dalam pembuatan lapangan tersebut harus beres dalam kurun waktu dari sore dan besoknya arena tersebut harus bisa dipakai. Dalam pengerjaan arena tersebut hingga jam 12 malam saya disana ketika semua orang sudah pada pulang dan pak rodi-pun begitu. Yang menjadi masalahnya adalah saya harus mengorbankan Ujian Tengah Semester untuk mata kuliah kalkulus pada saat itu terlebih lagi ketika saya baru datang dipagi hari saya abis dimarah-marahin sama pak rodi karena pengerjaan yang tidak, benar begini ucapnya “gimana kamu itu gung kok dupleknya masih terbuka kamu kurang mengelemnya ya…!!!” jawab saya “iya pak maaf pak” saat itu saya tidak bisa memberikan pembelaan kepada diri saya dikarenakan posisi ketika itu saya salah karena tidak mendengarkan apa yang diperintahkan sebelumnya.
Beberapa hari kemudian saya dipercayai untuk membuat seluruh cadangan yang dibutuhkan oleh setiap robot yang diikutsertakan dalam perlombaan di luar negri. Untungnya dengan mesin CNC semuanya dapat terselasikan sesuai dengan harapan. Beberapa robot yang akan di ikutsertakan dalam perlombaan di luar negri saat itu yaitu robowaiter entry level, robowaiter advanced level, robomagelan, firefighting, solarcell robot, dan table top. Hampir semua robot yang diikutsertakan dalam kejuaran tersebut memproleh kemenangan kecuali untuk robomagelan karena kita ditantang untuk mengalahkan mahasiswa s2 dari amerika serikat.
Setiap setahun sekali kita mengikuti perlombaan tersebut, untuk itu perlu ada mahasiswa yang ditunjuk sebagai wakil dari para anggota untuk mewakili perlombaan tersebut. Orang yang mendapatkan kesempatan untuk mewakili kejuaran tersebut pada tahun 2014 adalah Zamaludin Abdulah dan Eko Prabowo, dan keduanya adalah senior dari angkatan 2013, dan 2011. Tugas anggota lain yang tidak mewakili ke luar negri bertugas untuk membersihkan seluruh area laboratorium dan tentunya itu tugas yang berat karena persiapan lomba baru selelesai.
Ditahun berikutnya saya dipercayai untuk meriset ROBOT TABLE TOP untuk diikutsertakan dalam kejuaran ROBOGAMES. Banyak liku-liku dan tantangan saya saat itu bahkan setiap hari saya harus membuat sebuah program dan juga memikirkan bagaimana desain robot supaya tidak berakhir mengecewakan. Hampir setiap hari semua orang yang diberikan tanggung jawab untuk membuat robot yang akan di ikutsertakan dalam lomba harus melalui proses yang namanya begadang begitulah kira-kira keseharian saya. Hingga pada akhirnya sebuah robot sudah dibangun, namun dengan rasa ikhlas saya harus merelakan robot tersebut untuk dilanjutkan oleh partner saya yaitu Firdanto. Firdanto adalah mahasiswa IF angkatan 2013 itu berarti lebih tua satu tahun jika dibandingkan dengan saya yang  berangkatan 2014. Padahal kalo boleh dikata program saat itu sudah setengah jalan dan juga sebenarnya bukan hanya program yang dikerjakan tapi mulai dari hardwarenya juga saya kerjakan sendiri. Nah mulai dari sana kekecewaan saya muncul terhadap divisi ini . Secara subjektif ada tindakan diskriminasi terhadap orang seperti saya terlebih lagi orang-orang yang suka mengtakan agung karet kepada saya seperti yang dilakukan oleh kang ikbal. Saya sadar hal tersebut dilakukan dalam sikap bercanda namun semakin lama perkataan tersebut mulai menyebar dan membuat kurangnya rasa nyaman terhadap perlakuan tersebut.
Kita kembali lagi ke robot yang sedang dibangun. Dikarenakan terlalu seringnya di uji coba oleh orang yang sebelumnya bahkan tidak merasakan bagaimana lelahnya membangun dari nol, sebuah gearboxpun hancur. Dan saat itu saya sedang membangun sebuah robot Table Top yang kedua, tapi untungnya ada seorang recruitment baru yang cerdas saat itu dan akhirnya mereka bangun kembali robot tersebut, kemudian motor penggerak untuk robot tersebut diganti dengan yang lebih berkualitas. Entah kenapa saat saya sedang membangun robot Table Top dan kemudian saya tanyakan seperti ini :
“pak sensornya mau pakai tipe yang mana mau disamakan dengan sensor Table Top sekarang atau mau pakai sensor tahun lalu?
Jawab pak taupik “kamu cari dan pikirkan sensor apa yang sebaiknya dipakai untuk robot kamu asalakan tidak ada kesamaan dengan sensor robot yang sebelumnya dan juga yang sedang dibangun”
Terus saya kembali bertanya “katanya mau pakai sensor secara hardware ya pa memakai limit switch”
Jawab pak taupik “iya sekarang kamu cari dan cobkan pada robot mu limit switch yang baik dipakai untuk perlombaan”
Jawab saya”eeemmh… baiklah kalo itu mau bapak”
Kemudian saya pun mencari limit switch yang cocok untuk robot tersebut dan mencobakannya. Untuk sekali atau dua kali penggunaan hal tersbut bisa digunakan namun saya rasa sensor menggunakan limit switch tidak baik digunakan dan kemudian saya mennyakan hal serupa pada pak taupik.
“jadi pak gmana mau pakai sensor apa kalo pakai limit switc kayanya gak bisa ?”
“coba cari lagi limit switch yang cocok sama robot kamu”
“kenapa pak tidak pakai sensor yang tahun lalu digunakan sudah terbukti kehandalannya kan terus robot Table Top kemarin juga hasilnya adalah kemengan, atau kalo ada larangan untuk memakai sensor yang dipakai kemarin kita pakai saja sensor robot yang sekarang sedang digunakan..!!!”
“kamu cari sensor robot yang lain aja” ujarnya…
“ngapain buat robot yang sebelumnya sudah dibuat atau sedang dibangun bagusnya kamu pikirin lagi deh”
Jawab saya “iya pak kalo begitu”.
Untuk itu saya cari kembali sensor yang bagus dan baik digunakan untuk robot ini. Namun karena pengetahuna saya pun mungkin kurang akan robotika akhirnya robot yang sudah saya bangun molor untuk mencari sensor yang bagus. Bertepatan dengan robot Table Top saya yang sedang dibangun kemudian dibuat dan dibangun lagi sebuah robot namun kali ini dikerjakan oleh seorang anggota robotika baru. Ucap saya dalam hati “pantaslah dia diberikan tanggung jawab tersebut karena memang cukup cerdas untuk ukuran orang seperti dia”. Robot yang dibangun pun dibuat sama persis dengan robot tahun lalu dan chasisnya sendiri dia tidak bangun ulang melainkan memakai yang sudah jadi.
Namun karena waktu pun menuntut saya pun kemabli menanyakan mengenai robot yang dibangun oleh saya mengenai sensor yang akan dipakai
Tanya saya “jadi pak mau pakai sensor apa robot ini ?”
Jawab pak taupik “menurut kamu pakai apa ?”
Jawab saya “saya udah cari sensor yang bagus dan baik bagi robot saya, terus ini juga mungkin masalah pengetahuan saya yang kurang akan robotik kalo saya samakan saja dengan sensor yang sekarang sedang dibangun gamana ?”.
Jawa pak taupik “ iya sebaiknya memang seperti itu”.
Lega rasnya ketika sebuah ucapan persetujuan terlontar dari mulut beliau. Meskipun agak sedikit kesal karena pada akhirnya sensor yang sama digunakan. Beberapa waktu pun berselang hingga akhirnya pemasangan sensor dan pengujian pun telah dilakukan. “akhirnya beres juga, sekarang tinggal pemasangan sensor kompas” ujar saya dalam hati.
Untuk sensor kompas ini akan saya tanyakan kepada orang yang tepat yaitu kang firdanto, begitulah saya memanggil. Bukan hanya kang firdanto yang bertanggungjawab atas dana untuk robot ini namun dia juga yang dipercaya untuk memegang bahan-bahan untuk membangun robot table top.
“kang begini sensor sudah saya pasang sekarang tinggal kompasnya gmana ada ?” ujar saya.
“kalo untuk sensor kompas masih belum ada yang ini buat robot Table Top yang serok dan yang satunya lagi untuk robot yang capit jadi engga ada buat robot yang gung” jawab Firdanto.
“kalo begitu saya akan beli sendiri aja gmana” ujar saya.
“kalo untuk itu keuangan lab sekarang sedang kosong jadi mungkin menunggu sampai dananya keluar lagi gung” jawab Firdanto.
“oh gitu yaaa…” ujar saya.
Meskipun hal tersbut terjadi, namun sebagai mahasiswa yang mempunyai ambisi besar saya harus tetap sabar akan hal tersebut. Begitu percakpan selesai dengan kang firdanto pergi keluar ruangan sebentar untuk mencari angin segar agar emosi saya juga mereda. Dimana ketika dalam situasi itu akhirnya saya berpikir untuk keluar saja dari divisi tersebut. Namun sebelum keluar saya selalu menanyakan hal ini kepada teman-teman yang sering mengumpul di kosan Efran (begitulah panggilannya). Dimana dikosan tersebut semua mahasiswa sering kumpul untuk mengerjakan tugas. Namun bukan hanya tugas yang mereka kerjakan mereka juga sering bermain kartu sesekali mungkin untuk menghilangkan rasa penat mereka dalam proses perkuliahan di UNIKOM. Perbicangan pun berlasung antara saya, Fikri, Anjar, Efran, Budi.
Saya   :woy lagi pada ngapain…?
Fikri  :biasalah lagi main kartu.
Saya   :gua pusing sekali mau tidur disini boleh la ya…
Efran :lu jangan tidur disini atu dikosan lu aja sana..
Akhirnya sayapun langsung tiduran aja karena kalimat pengusiran tersebut dilakukan dalam keadaan bercanda (begitulah saya berfikir ketika itu).
Fikri  :Udah lu kalo disana pusing gabung aja sama kita-kita..
Saya   :iya kali ya
Fikri  :sekarang lagi riset apa gung disana…
Saya   :biasa buat robot yang akan akan dilombakan tahun depan fik……..
Kemudian saya pun tidur sebentar dan akhirnya sayapun langsung pergi kekosan saya untuk melanjutkan tidur saya.
Hari-hari pun berlanjut dimana dilaboratoriumpun saya hanya membuat desain untuk robotika UNIKOM dan menulis list apa saja kira-kira yang akan diperlukan di Amerika nanti. Terkadang perasaan saya pun merasa bosan ketika semua orang sedang sibuk mengerjakan sebuah robot namun saya hanya bisa membantu, terlebih lagi ada anggota yang baru masuk sedang sibuk mengerjakan robotnya. Hal tersebut membuat saya menjadi kurang percaya diri. Dan terkadang sering berfikir apakah saya ini tidak pantas menjadi anggota ROBOTIKA (begitulah celetukan didalam hati). Oh tidak……! (kata saya didalam hati). “mana mungkin saya tidak pantas termasuk anggota ROBOTIKA jika memang saya tdak pantas disana mana mungkin saya bisa membuat robot (begitulah isi hati saya berbicara saat itu). Ketika dalam lamunan tersebut ada orang yang memanggil dari luar “gung gimana udah beres belum desain buat robot kita” (kata kang ikbal). “Udah kang ini desainnya” (kata saya). “Kok gini sih coba diperbanyak terus kamu perbesar ukuran gambarnya” (kata kang ikbal).
Keesokan harinya saya tidak datang (masuk) ke laboratorium. Kira-kira sehari setelah saat itu, gelas yang biasa saya pakai minum tidak ada seketika di tempat piring. “yan gelas saya kemana” (saya bertanya pada gyan teman seangkatan saya). “mana gua tau” (kata gyan). Kemudian seketika itu saya menghampiri kang ikbal yang sedang mengerjakan robotnya. “kang liat gelas saya kagak” (kata saya). “Oh gelas yang warna merahya tadi ditendang sama si feb gara-gara nyimpannya sembarangan” (kata kang ikbal). “kok ditendang sih kang” (kata saya). “iya sekarang ada peraturan baru gung, setiap kali ada orang yang menyimpan gelas dideket galon air peraturannya akan ditendang” (kang ikbal berbicara). Namun hal tersebut tidak saya hiraukan karena terbilang sering peraturan baru dibuat tanpa sepengetahuan yang lain terlebih lagi mungkin karena kesalahan saya juga sering menyimpan gelas dideket galon.
Beberapa hari terakhir kondisi tubuh mulai kurang bugar, batuk berdahak sering terjadi dan beberpa hari terakhirpun saya tidak masuk lab, padahal saat itu sedang ada pemberian piagam penghargaan kepada mahasiswa yang berprestasi dan saya ada dilamnya.
Di saat kondisi badan yang kurang baik tersebut saya teringat dengan pengumuman nilai dari hasil setiap semester. Data statistic yang ditunjukan oleh nilai tersebut adalah menurun untuk tiap semester. Saya pun berfikir untuk keluar dan memikirkan bagaimana alasan yang baik agar keputusan saya benar pada saat itu yaitu dengan cara melihat respon seorang dosen pembimbing dengan melakukan pembicaraan dengannya secara dua arah.
Agung          :begini sebenarnya pak ada beberapa hal yang harus saya bicarakan..
Pak Rodi       :mengenai apa gung?
Agung          :sebenarnya kemarin nilai kalkulus saya kecil ada kemungkinan saya
                   Akan keluar dari Divisi ini..
Pak Rodi       :kalo untuk hal itu semua juga pada jelek lah. Meningan sekarang kamu
                    Kamu pikirkan lagi soal keputusan mu sekarang..
Agung          :iya pak baik pak.. terimakasih atas waktunya…
Seketika itu saya pun langsung meninggalkan ruangan laboratorium dengan raut muka yang penuh beban pikiran saat itu langsung saja saya kembali tidur untuk mengistirahatkan jasmani saya dari lelahnya kegiatan di UNIKOM. Waktu terus berlalu kemudian saya teringat kembali dengan beberapa impian lama yang belum saya capai salah satunya ini menjadi seorang juara ROBOTIKA seperti Pak Rodi. Seketika itu pula saya  langusng melakukan konfirmasi dan menyatakan bahwa akan terus mealakukan riset di lab Robotik tersebut.
Namun hal yang sama terulang kembali pengucilanpun terjadi dan beberapa hal yang bersifat buli pula dilontarkan terhadap saya seperti yang dikatakan oleh kang ikbal yaitu agung karet yang disingkat (akar). Disaat itu saya merasa terhina sekali dan kenyaman sangat terganggu. Terkadang saya merasa ada tindakan pembunuhan karakter kepada diri saya sendiri dan tentu kalo sudah keluar kata-kata yang dirasa kurang menyenangkan tentu terjadi pencemaran nama baik. Karena hal tersebut saya pun meminta kepada dosen sebagai rujukan agar saya dikeluarkan dari laboratorium tersebut. Permintaan saya seperti ini:
Agung          :Kang atau teh boleh nanya?
Anita           :boleh nanya apa gung?
Agung          :kalo saya ikut LDK UMMI gimana teh?
Anita           :boleh asal kamu bisa mengaturnya aja gung. Bukannya kamu keberatan yah dilab Robotik juga
Agung          :emm…..h
Keesokan harinya bergegaslah langsung saya masuk ke lab Robotika. Kemudian pak Rodi memanggil saya sepeti ini:
Pak Rodi       :gung-gung sini gung…!
Agung          : iya pak ada perlu apa ya.?
Pak Rodi       :apa sih maksud kamu tuh. Kamu tuh gak kuat atau gimana atau pengen keluar dari Divisi ini.
Agung          :saya ingin aktif di dua UKM pak
Pak Rodi       :kalo mau aktif di dua UKM gak bisa, begitulah aturannya. Menigan kamu keluar aja lah dari sini gak ada gunanya juga disini juga.

Mendengar perkataan tersebut sayapun langsung memilih keluar, dengan ucapan “terima kasih”  saya katakana saya akhiri divisi ini.

385 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

 

One thought on “Perjuangan Gelar juara ROBOT INDONESIA di Kancah Internasional