Posted on

Nasib

Oleh : Astry Rizky


Jika kamu bisa meminta satu hal pada Allah SWT, apa yang akan kamu minta? Aku sudah belajar dari pengalaman hidup untuk meminta hal yang sangat sederhana.
            Berada di ruangan berukuran 2,5 x 3m yang ditempati oleh lima belas anak. Hanya ada beberapa kasur yang disatukan untuk tidur. Suasana “keakraban” sangat terasa di ruangan bercat putih ini. Di samping kiri dan kananku tanpa ada sela sama sekali, ada penghuni lain yang sedang tidur lelap.
            Menjadi anak tunggal dan tidak memiliki sanak saudara membuatku terjebak di tempat ini. Hingga suatu saat datanglah sepasang suami istri yang telah memiliki anak perempuan datang untuk mengadopsi anak laki-laki. Seperti biasa, para penghuni memakai baju terbaik mereka dan telah bersiap sejak pagi agar terlihat menawan. Aku yang dengan keyakinanku tidak akan terpilih, memilih melanjutkan tugas mencuci piring. Mana ada orangtua yang mau mengadopsi anak  seorang pencuri.
            “Semua penghuni sudah ada di sini?” tanya seorang pria.
            “Ada satu orang yang sedang mencuci, tapi biarkan saja dia melanjutkan tugasnya, Pak.” Kata Ibu pengasuh sambil mengumbar senyum terbaik yang dimiliki. Bagaimanapun dia ingin agar ada salah satu penghuninya yang terpilih.
            “Bisa tolong panggilkan?”
            “Baiklah jika itu yang Bapak inginkan.”
            Ibu pengasuh permisi menuju dapur dan memanggilku, “Sib, letakkan semua cucian itu. Bapak ini mau bertemu kamu.”
            “Tapi baju saya basah, Bu. Izinkanlah saya berganti baju sebentar. Tidak sopan bertemu dengan pakaian seperti ini.”
            “Ndak usah, nanti Bapak itu kelamaan menunggu.”
            Aku menurut dan jalan beriringan dengan Ibu pengasuh.
            “Ini satu orang yang tertinggal tadi, Pak.”
            “Kenapa kamu gak ikut berbaris seperti yang lain?”
            “Saya sudah tidak mau berharap akan ada keluarga yang mau mengadopsi saya, Pak. Saya yakin akan jadi penghuni abadi. “
            “Kenapa?”
            “Tidak akan ada yang mau mengadopsi anak seorang pencuri seperti saya.”
            “Orangtuamu pencuri?”
            “Yang saya tahu, mereka orang baik dan hanya selalau mengajarkan saya untuk berbuat baik terhadap sesama dan selalu mencintai Allah SWT.”
            “Siapa namamu?”
            “Nasib, Pak. “
            Pria ini tampak begitu terkejut saat mendengar namaku.
            “Kamu mau jadi anak saya?”
            “Saya rasa semua anak yang bernasib seperti saya hanya bisa berdoa agar Allah SWT mengabulkan doa kami yang satu itu.”
            Pria ini mengangguk dan meminta waktu untuk berdiskusi dengan keluarganya. Beberapa kali, dia menoleh ke belakang melihat aku dan teman-teman. Beberapa menit kemudian pria ini datang menghampiri ibu pengasuh. Dia tampak kaget dengan keputusan itu.
            “Sib, kamu ikut saya yah.” Pinta pria ini sambil merangkulku.
Sang istri yang ada di belakang terlihat tidak setuju dengan keputusan suaminya.
            Alhamdulillah wasyukurillah ‘ala ni’matillah dan tanpa berpikir panjang, aku melakukan sujud syukur.
*          *          *
            Esok harinya,  bapak mendaftarkanku sebuah pesantren ternama. Aku menjadi santri mukim di sana dan mulai menikmati hari-hariku menjadi santri. Setiap hari Jumat, aku dan para santri yang tergabung dalam kegiatan dzikir saman berlatih setelah salat isya. Semua pemain dzikir saman adalah lelaki yang membentuk lingkaran. Sambil berputar, kami melafalkan asma Allah dan shalawat Nabi Muhammad SAW tanpa ada alat musik. Kegiatan ini adalah salah kegiatan kesukaanku melestarikan budaya nenek moyang sambil terus mengingat Allah SWT. Aku sangat menikmati kehidupanku di sini.
*          *          *
            Setahun sudah aku menjadi bagian keluarga Nugraha, tapi kebahagiaan itu seolah lenyap saat bapak berpulang karena sakit yang dideritanya. Melalui pengacaranya, kami tahu kalau bapak sempat menulis surat wasiat.
“ … untuk nasib, dia tetap berhak tinggal di rumah ini, melanjutkan pendidikannya hingga jenjang S-1 dan mendapat semua koleksi buku yang saya miliki.”
Ibu Nugraha yang sejak saat pertama menunjukan ketidaksukaannya, hanya mengizinkanku untuk berkunjung seminggu sekali di hari  Minggu saat semua santri di pesantren mendapat jatah libur. Aku tidak keberatan, bagiku dengan masih diizinkan mencicipi lezatnya ilmu pengetahuan di sekolah dan menimati berbagai koleksi buku yang bapak miliki, itu sudah lebih dari cukup. Aku datang berkunjung ke rumah keluarga Nugraha lewat pintu dapur karena ibu memintaku begitu.
“Ayo mandi, ganti baju, dan makan,Nak.”kata Mak Imah yang sudah menyambutku di dapur.
            Ibu Nugraha ingin agar aku selalu berpenampilan baik setiap kali aku berkunjung walaupun dia hanya mengizinkanku untuk berada di ruang perpustakaan.
            Begitulah yang terjadi selama beberapa tahun. Saat ini aku duduk di bangku  dan masih tetap melakukan “ritual” yang sama. Buku adalah hartaku yang paling berharga. Aku teringat kisah salah satu penulis terkemuka yang menggambarkan kekayaannya dengan buku, “saat aku kaya, koleksi bukuku banyak. Saat aku miskin, bukuku sedikit karena aku menjualnya. Aku merasa miskin saat bukuku berkurang.” Aku pun merasa begitu kaya saat berada di tengah-tengah koleksi buku ini.
*          *          *
            Suatu hari, Mak Imah, sang asisten rumah tangga, datang berkunjung ke pesantren dengan matanya yang merah.
            “Kenapa, Mak?”
            “Nyonya, Mas…Nyonya” Mak Imah kembali mengusap air mata. Tanpa perlu bertanya,kami langsung pergi ke rumah Nugraha. Di sana terlihat sosok ibu yang begitu kurus, pucat, dengan napas yang terengah-engah.
            Dia menjulurkan tangannya saat melihatku membuka pintu kamar. Dia tidak mampu berkata-kata. Air mata menetes di pipinya.
            “Ibu, cepatlah sembuh. Nanti, gak ada yang ngomelin Nasib lagi.”Ibu hanya tersenyum, mengelus kepalaku, dan meneteskan air mata. Mak Imah kembali ke kamar dengan membawa semangkuk bubur. Aku berusaha menyuapi ibu.
            “Mak, Mbak Putri mana?”
            “Mbak Putri udah lama gak ke sini lagi, gak ngasih kabar sejak menikah.”
            “Mak udah kasih kabar soal ibu?”
            Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka, tapi aku yakin sebagai seorang anak, Mbak Putri peduli pada orangtuanya.
            “Dia gak mau ketemu ibu.”
            Aku kembali ke kamar. Saat aku duduk di sampingnya, ibu melepaskan alat bantu pernapasan dan berusaha mengucap beberapa kata, “Ma…ma..afin..i..bu, Sib.”
            “Ibu gak punya salah sama Nasib. Ibu gak usah pikirin. Ibu cepat sembuh ya. Nanti Nasib yang temenin ibu supaya gak kesepian.”
            Aku memasangkan kembali alat bantu pernapasan. Ibu mengangguk lemah. Kulantunkan dengan pelan ayat suci Al-Quran di telinganya. Aku melihatnya tersenyum saat mendengar ayat Al-Quran. Saat itu pula dia pergi meninggalkanku.Inalillahi wainailaihirojiun.
*          *          *
            Sama seperti bapak, ibu juga telah mempersiapkan surat wasiat kepada pengacara keluarga.
“…untuk Nasib Nugraha, kuwariskan rumah ini beserta isinya, perusahaan keluarga, dan memberikannya jaminan untuk bisa melanjutkan pendidikannya hingga jenjang S-3.”
            Aku hanya bisa memeluk Mak Imah. Dia yang paling mengerti betapa terpukulnya aku lagi-lagi kehilangan orangtua. “Selama ini yang siapin baju, peralatan mandi, dan makanan itu Nyonya. Dengan tangannya sendiri beliau siapkan itu semua. Sikapnya yang dingin, bukan karena dia jahat, tapi beliau ingin supaya Mas tetap rendah hati. Dia percaya Mas akan jadi orang besar, jadi harus ‘ditempa’ dengan keras supaya kuat. Beliau gak mau Mas jadi seperti Mbak Putri. Beliau juga yang meminta Bapak untuk mengizinkan Mas untuk terus belajar sampai S-3.”
            Aku terkejut dengan semua kalimat yang diucapkan Mak Imah.

 Ibu, dibalik semua sikap dinginmu, engkau adalah sosok yang lembut dan bijaksana. Kutitipkan kedua pasang orangtuaku padamu, ya Allah. Alhamdulillah wasyukurillah ‘ala ni’matillah, ya Allah. Engkau telah memberikan hamba dua pasang orangtua yang sangat luar biasa. Engkau telah memberikan hal yang selalu kuinginkan sejak dulu: keluarga.

272 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini