Posted on

Namanya Jatayu

Oleh : Leonart Maruli

 

Untuk Herman Pratikto.

 

Namanya Jatayu. Dia tewas ketika membawa sebuah surat yang dititipkan oleh Ayahnya untuk disampaikan kepada Kumbakarna. Jatayu ditemukan telanjang dengan beberapa bekas hantaman benda tumpul di kelamin dan kepalanya. Jasad Kumbakarna juga ada di sana dengan luka gorok di bagian leher. Sidik jari di tempat kejadian perkara sudah dikumpulkan untuk dibawa ke laboratorium forensik. Ayah Jatayu sudah diberitahu polisi soal kabar jasad putrinya yang ditemukan tanpa mengenakan sehelai pakaian pun di sebuah sawah dekat rumahnya. Air mata Ayah Jatayu bercucuran deras ketika mengetahui putri tunggalnya sudah menjadi mayat. Kebingungan di benak Ayah Jatayu bertambah ketika ia mengetahui Kumbakarna turut tewas di tempat yang sama.

Tiga hari sebelum mayat Jatayu ditemukan, Jatayu sedang mencuci piring di rumah ketika Ayahnya memanggil dari ruang tengah. Jatayu meninggalkan piring-piring kotor sejenak di dapur untuk menghampiri Ayahnya.

“Yu, tolong bawa surat ini kepada pamanmu Kumbakarna.” Ayahnya memberikan surat yang sudah direkatkan itu kepada Jatayu. “Di dalamnya ada sejumlah uang yang harus kita bayar kepadanya.”

“Baik Ayah.”

“Ayah akan memberikan ongkos dan uang makan untukmu,” tambah Ayahnya sambil memandang wajah Jatayu yang tampak kosong.

Jatayu kembali ke dapur untuk menyelesaikan piring-piring yang masih belum tercuci. Sehari-hari di rumah, Jatayu menjadi pendamping Ayahnya yang sudah menduda. Sejak dulu Ayahnya tidak ingin menikah lagi dengan beberapa alasan. Katanya, ia tidak bisa melupakan Istrinya. Katanya, ia tidak memiliki harta. Katanya, ia sudah tidak kuat lagi berhubungan intim. Katanya,…

Jatayu merupakan putri tunggal yang penurut. Ketika Ayahnya menyuruhnya untuk berkuliah di jurusan Akuntansi, Jatayu patuh. Walaupun dalam hatinya, Jatayu lebih suka untuk berkuliah di bidang Matematika. Sejak kecil, Jatayu bercita-cita untuk menjadi guru matematika. Dalam pikiran Jatayu, jika ia menjadi seorang guru, ia masih bisa merawat Ayahnya yang sudah tua selepas pulang mengajar. Pernah Ayahnya bercerita di suatu malam ketika keduanya sedang duduk di teras rumah.

“Ayah ingin kamu menjadi seorang pekerja kantoran. Jangan seperti Ayah yang bekerja serabutan.”

“Aku sebenarnya ingin menjadi guru kalau Bapak mengijinkan.”

“Ayah kurang setuju kalau kamu jadi guru. Kamu harus hidup lebih makmur daripada Ayah dan Ibumu,” kata Ayahnya.

Jatayu tidak mau memberontak. Ia tau bahwa tidak mungkin untuk menyia-nyiakan impian seorang Ayah yang sudah kesepian hidupnya. Ayahnya masih bekerja serabutan sampai saat ini. Jika ada tetangga yang membangun atau memperbaiki rumah, Ayah Jatayu pasti berada di sana. Jika tidak ada pekerjaan borongan dari tetangga, Ayah Jatayu menjual sayur keliling di komplek perumahan yang berada tidak jauh dari rumah tinggal mereka.

***

Kumbakarna adalah paman Jatayu dari keluarga Ayahnya. Ayah Jatayu terpaksa meminjam uang dari Kumbakarna untuk keperluan ongkos kuliah Jatayu. Kumbakarna meminta bunga lima persen dari peminjaman uang itu. Di dalam sebuah keluarga memang selalu ada yang di bawah dan di atas. Tak terkecuali dengan keluarga Jatayu. Kumbakarna adalah seorang calo tanah yang berbakat. Entah sudah berapa lahan yang berhasil dijualnya berkat kelihaiannya berbicara di depan orang lain. Kumbakarna banyak bergaul dengan orang jalanan termasuk preman pasar. Malah, jika malam tiba, Kumbakarna masih menyempatkan diri menjadi tukang ojek. Istrinya sering memarahi Kumbakarna karena penghasilannya tidak menentu. Kumbakarna tidak tahan dengan kebawelan istrinya. Kumbakarna jarang berada di rumah. Kumbakarna memang tidak berminat untuk bekerja di kantor. Katanya, lebih baik mencari penghasilan sendirian. Katanya, lebih hebat menjadi pengusaha. Katanya, lebih santai menjadi pekerja serabutan. Katanya,…

***

Jatayu pernah mendapatkan tawaran untuk bekerja sambilan di sebuah komunitas tuna netra dari Sinta. Jatayu keranjingan mendapatkan tawaran pekerjaan itu. Sinta adalah kakak kelas Jatayu. Perkenalan mereka berdua terjadi di kelas laboratorium mata kuliah Akuntansi Keuangan, ketika itu Sinta menjadi pembimbing bagi adik-adik kelasnya. Sinta sering memperhatikan Jatayu karena ia hanya kalah oleh Laksmana soal kecepatan kerja. Detail pekerjaan Jatayu juga rapih menurut pengamatannya. Baginya, tidak ada salahnya untuk membantu adik kelas yang dianggapnya berbakat itu. Terlebih dia tau Jatayu termasuk mahasiswi yang memiliki kekurangan soal masalah keuangan. Selekas pulang dari kampus, Jatayu memberitahukan Ayahnya tentang tawaran pekerjaan itu. Katanya, jika kamu menjadi pekerja serabutan, kamu akan seperti Ayah. Katanya, jika kamu menjadi seorang pekerja di komunitas tuna netra penghasilanmu tidak seberapa. Katanya, jika kamu menjalankan kegiatan sebagai mahasiswi sambil bekerja tidak akan fokus. Katanya,…

***

Untuk ukuran tinggi badan Jatayu yang mencapai seratus enam puluh lima sentimenter, badannya terbilang kurus seperti orang yang tidak terurus. Ia memiliki pinggul yang sangat kecil begitu juga dengan dadanya. Sangat tidak menarik untuk dilihat para lelaki buaya darat. Namun, bagi Laksmana, Jatayu tetap memiliki daya tarik. Bagi Laksmana, wajah Jatayu persis seperti tiga huruf paling belakang ejaan namanya. Jatayu memiliki alis yang tebal, sepasang bola mata yang belo dan hidung yang mancung seperti perempuan Uzbekistan. Laksmana telah meniduri beberapa perempuan teman kampusnya begitu juga harapannya terhadap Jatayu suatu saat nanti. Laksmana sendiri adalah pengecualian. Ia memiliki IQ 165, ia mudah sekali memecahkan soal-soal ujian, ia mudah memahami permasalahan kompleks yang teoritis, ia menguasai lima bahasa asing (Inggris, Prancis, Latin, Aramaik, dan Yunani), ia mencoba menyelesaikan P versus NP problem di usia 10 tahun (walaupun gagal), ia suka novel Ulysses – James Joyce tapi baginya Giacomo Casanova adalah panutan dalam hidup. Laksmana tidak seperti para jenius lain yang berapi-api ketika berbicara. Ia menarik perhatian perempuan dengan kelembutannya, ia memberikan sontekan saat ujian, ia membantu mereka saat pengerjaan makalah, sesekali Laksmana membayari mereka makan tapi ia tidak lupa meminta imbalan. Sebagian terjerat, sebagian lagi tidak. Sifat Laksmana yang asli terlihat jika perempuan yang ditaksirnya tidak mau tidur dengannya. Ia pernah mengancam seorang perempuan yang ditaksirnya menggunakan pisau lipat. Pengalaman bercinta terhebat Laksmana tidak terjadi dengan teman kampusnya tapi dengan dua perempuan kembar berkewarganegaraan Senegal yang ia temui di sebuah kafe. Laksmana sesekali masih bercinta dengan mereka berdua jika ada kesempatan untuk bertemu. Bagi Laksmana, untuk mengetahui seorang lelaki rasis atau tidak itu sederhana, tanyakan dia pertanyaan : “Apakah kamu mau berhubungan seksual dengan perempuan keturunan Negro?” Bagi Laksmana petualangan adalah segalanya. Baginya, petualangan yang membuatnya (sedikit) berbeda dengan para jenius lain. Baginya, petualangan yang membuat kecerdasannya terlihat berguna, tidak teoritis. Baginya,…

***

Kumbakarna berada di rumah bersama istrinya setelah dua hari tidak pulang karena mencari tanah yang mau dijual. Keduanya berada di ruang tengah sambil menonton televisi. Istri Kumbakarna duduk dengan mengangkat kedua kakinya di kursi yang ada di depannya seperti nyonya besar. Istri Kumbakarna menonton sinetron anak-anak muda yang membuatnya merasa seperti perawan yang diidolakan banyak lelaki. Kumbakarna mencecap makan malam yang telah dibuat istrinya. Kumbakarna ingin memastikan makanan dipersiapkan dengan baik. Satu minggu yang lalu, Kumbakarna kelaparan dan meminum kuah sop ayam buatan istrinya yang keasinan. Kumbakarna memuntahkan kuah sop ayam itu yang tak kuat dirasa lidahnya. Kumbakarna sempat menggerutu di dalam hati. “Perempuan cantik memang agak susah disuruh membuat makanan enak,” gerutunya dalam hati waktu itu.

“Mas, tolong minta bunga pinjaman dari Wibisana! Dia lupa tanggung jawabnya selama empat bulan ini.”

“Iya nanti aku tagih ke Wibisana atau Jatayu.”

“Kenapa sih Wibisana memaksakan Jatayu berkuliah? Kenapa tidak disuruh bekerja saja?”

“Katanya, dia mau Jatayu jadi pekerja kantoran.”

“Ah, impiannya muluk-muluk. Mau sampai kapan macet terus bayarnya? Tahun lalu juga seperti ini!” keluh istri Kumbakarna yang sudah tidak tertahan lagi.

“Iya, nanti aku minta dengan tegas,” kata Kumbarkana dengan nada yang keras untuk meyakinkan istrinya.

“Kamu kan bergaul dengan beberapa preman. Suruh saja mereka untuk membantumu menagih,” tutup istrinya.

Kumbakarna tidak tahan dengan ocehan istrinya. Ia menaruh kembali piringnya di meja karena tidak selera makan. Kumbakarna menghubungi Parjo dan Tomo untuk membantu pekerjaannya kali ini.

***

Laksmana mengetahui rumah Jatayu ketika ia berhasil membuntutinya sepulang kampus dengan motor Ducati Street Fighter miliknya. Jatayu melangkah keluar dari gang rumah untuk pergi ke jalan raya mencari angkutan umum. Laksmana mengikuti Jatayu untuk kedua kalinya. Laksmana ingin segalanya berjalan dengan lancar sesuai dengan harapannya.

Jatayu yang malang berjalan di trotoar yang lompong. Ia berjalan sambil menunggu mobil angkot yang tidak kunjung lewat. Ia mengantongi surat titipan Ayahnya di kantong bajunya. Di samping trotoar, Jatayu melihat hamparan sawah kuning berhektar-hektar menyempurnakan indah senyuman terakhir di bibirnya. Tiga orang lelaki mencegat jalan Jatayu. Jatayu mengenal salah satu di antara mereka, Kumbakarna pamannya. Laksmana datang seketika.

Cibinong, 28 Juni 2016

 

Catatan : cerita pendek ini dibuat penulis berdasarkan inspirasi dari buku Hamba Sebut Paduka Ramadewa karangan Herman Pratikto (Penerbit Kompas tahun 2011).

 

 

452 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini