Posted on

Menukar Waktu

Oleh : Agung Pangestu

Adakah cinta yang tidak menyakitkan? Mungkin pertanyaan itu hampir sama dengan “Adakah garam yang tidak asin?” cinta dan sakit adalah sejoli yang tidak bisa dipisahkan.
   
    Jika ada satu permintaan yang bisa dikabulkan oleh semesta maka aku hanya minta satu. Yaitu menukar waktuku dengan dia, Indri. Seorang perempuan yang biasa saja. Dia memang tidak punya segalanya namun dia punya sesuatu yang rela kutukar dengan segalanya yaitu kamu. Seluruh waktu Indri ada kamu didalamnya. Jika bisa maka ingin sekali esok pagi aku terbangun dengan mata milik Indri yang katamu seindah mentari senja, tersenyum dengan bibirnya yang katamu semenawan pelangi usai luruhnya hujan atau mengibaskan rambut milik Indri yang menurutmu bagai ombak yang telah lama membawamu terhanyut. Indri punya semuanya untuk menambatkan hatimu dan aku punya semuanya untuk setengah mati iri padanya.
   
      Satu hari milik Indri yang ingin kutukar dengan milikku. Indri yang seorang karyawan keuangan di salah satu perusahaan akan bangun pukul lima pagi, menyirami bunga di halaman miliknya adalah kegiatan pertamanya kemudian dilanjutkan menyiapkan sarapan yang akan ia bawa ke kantor dan baru setelah itu ia bergegas mandi. Namun aku tahu dalam runtutan kegiatan itu pasti Indri masih menyempatkan diri untuk melihat telepon selulernya. Mengecek adakah pesan masuk atau telepon darimu yang lupa tidak ia angkat. Kemudian senyumnya merekah indah ketika mengetahui ada satu pesan masuk darimu. Ia pasti menekan tombol dengan dada berdegup merdu. “Selamat pagi, sayang. Apakah semalam kamu memimpikan aku?”
   
     Aku suka dengan cara Indri mencintaimu. Aku suka cara Indri menuliskan sesuatu di dinding  facebookmu “Kesatriaku, tak lelahkah kamu menyesakki pikiran dan imajiku?” kemudian kalian saling berbalas komentar di dinding tersebut. Kalimat-kalimat manis sekaligus romantis yang mungkin membuat sebagian orang yang membacanya jengah namun bukan aku. Aku membaca semua komentar kalian di dinding facebookmu dengan hati bahagia meskipun tidak pernah ikut berkomentar karena aku sangat tahu diri. Secara sembunyi-sembunyi aku juga sering melihat semua foto kalian berdua disana. Foto saat liburan, saat di pasar, saat di dalam mobil, saat jalan-jalan, saat menghabiskan waktu bersama. Dari semua gambar itu, aku paling suka dengan cara Indri melampirkan tangannya di pundakmu. Kemudian pundakmu terlihat goyah menerima rangkulan tangan Indri seperti ada berton cinta yang ia transfer disana. Dalam dinding  facebook itu aku juga sering membaca status-statusmu yang selalu kau sempatkan mentag  facebook milik Indri. Mulai dari status kangen, status sayang yang melimpah ruah, status yang kau sadur dari pujangga ternama atau segala moment yang tidak ingin kau lewati tanpa ada Indri disana. Bagi orang yang sedang dimabuk cinta maka orang lain tak ubahnya hanya penonton dan aku sudah lama jadi penonton yang setia untuk kalian.
    
      Aku suka dengan cara Indri mencintaimu. Aku suka dengan cara Indri meretweet semua statusmu di twitter yang kemudian akan ia balas dengan kalimat singkat atau hanya sekedar emoticon. Dan betapa banyak status kalian satu sama lain yang kalian jadikan favorit. Aku membaca semuanya dengan tersenyum sambil menahan getir yang entah kenapa menyusup di dada. Sama seperti yang lain, aku tidak pernah ikut berkomentar hanya sekedar melihat betapa kalian bergelimpangan bahagia dan cinta. Sesuatu yang sepertinya tidak pernah bisa kumiliki.
    
     Aku ingat tanggal berapa kalian bertemu, aku ingat tanggal berapa kalian mulai berhubungan, aku ingat tanggal  berapa kalian merayakan ulang tahun satu sama lain, aku ingat tanggal berapa kalian pergi bersama tapi aku selalu ingat kalau aku tidak pernah ikut serta dalam moment itu. Aku selalu menjadi penonton yang setia.
   
      Aku hapal jam berapa kamu akan menjemputnya di depan rumah. Aku hapal senyuman Indri yang ia berikan seutuhnya padamu ketika tahu kamu  tepat waktu menjemputnya. Aku hapal rengutan Indri yang ia berikan padamu ketika tahu kamu terlambat menjemputnya. Aku hapal gerakanmu membukakan pintu mobil untuk Indri seorang bagai menyilahkan seorang putri memasuki kuda kencana.
   
     Di dalam mobil kalian mungkin bisa bercerita tentang apa saja. Mulai dari harga solar yang terus naik, acara televisi yang makin tidak jelas, film Holywood yang akhir bulan rilis, atau kembali menceritakan tentang cinta kalian yang makin membludak. Aku tahu, disana pasti tangan kalian berdua tak pernah terlepas. Sambil sesekali Indri menepuk dadamu perlahan ketika kamu terlalu ngebut atau Indri yang meremas tanganmu ketika tahu kamu terlalu lamban menggerakan mobil. Semuanya terpatri indah di dalam sana.
      Adakah cinta yang tidak menyakitkan? Sepertinya tidak ada.
     Aku tetap suka cara Indri mencintaimu. Cara Indri memanggilmu manja “Ndut”, cara Indri mencuri perhatianmu, cara Indri marah dengamu, cara Indri kangen denganmu, cara Indri memalingkan wajah ketika tahu kamu tidak memanggilnya dengan benar, cara Indri menggengam tanganmu, cara Indri mencium mesra pipimu. Aku suka bagaimana Indri menghargai sesuatu yang tidak pernah bisa kumiliki yaitu kamu. Seharusnya aku membenci Indri setengah mati karena ia sanggup memiliki sesuatu yang paling kuinginkan namun entah kenapa aku tidak bisa. Aku tetap suka bagaimana Indri memilikimu dengan berbagai cara miliknya.
    Jika saja bisa maka aku ingin menukar waktuku dengan waktu milik Indri. Satu hari saja. Maka aku akan menyerahkan segala yang kupunya. Aku akan menjelma menjadi sesuatu yang selama ini selalu kau rindu dan kau tunggu. Aku bisa marah, merengut, kangen, benci, menampar, mencium, memeluk kamu setiap waktu. Tanpa perlu lagi berlindung dalam bayang-bayang. Aku bisa menghabiskan jutaan detik tanpa perlu merasa penat asalkan disamping kamu. Menjadi sesuatu yang selalu berada dalam radius jangkauanmu. Maka aku hanya minta satu hari yang dimiliki Indri. Entah itu Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu atau Minggu. Tidak ada bedanya. Karena setiap hari kalian selalu menghabiskan waktu bersama.
    Adakah cinta yang melepaskan demi dia bahagia? Barangkali ada.
    Mungkin terdengar naif namun aku mengalaminya. Aku merasakannya ketika melihat kamu begitu bahagia berada di samping Indri. Kamu terlihat begitu kepayang ketika menyediakan bahumu untuk Indri bersandar. Kamu terlihat begitu hidup ketika Indri menompang langkahmu. Kalian begitu sempurna. Saling mengutuhkan satu sama lain. Dan mengetahui kalian bahagia maka deraku perlahan merayap pergi. Meski belum sepenuhnya kuyakini namun aku sanggup menerimanya. Menerima kalau Indrilah yang kau pilih untuk berada di sampingmu, menerima kalau egoku tak pernah sebesar cinta milik kalian, menerima kalau kalian tak pernah terpisah, menerima kalau kalian adalah belahan jiwa, soulmate.
    Aku masih ingin terus disini. Menjadi penonton setia dari kalian. Mengagumi sesuatu yang tak pernah bisa dimiliki. Menjadi Retno yang selalu bermimpi bisa menjadi Indri.
    
     Hakikatnya waktu memang terus berputar bukan tertukar.

489 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini