Posted on

Masa Lalu dalam Kotak Kayu

Oleh: Riyana Rizki
Ini pertemuan pertama setelah hampir tujuh tahun lalu menjadi pertemuan terakhir kami. Dapat melihat kembali wajah-wajah yang mulai asing dengan segala bentuk perubahannya selama hampir tujuh tahun tak pernah terlihat lagi menjadi hal yang menyenangkan. Masing-masing sudah memiliki gayanya tersediri, tidak ada lagi kesamaan kami dengan pakaian putih abu-abu, tidak ada lagi yang mengenakan sepatu hitam polos, tidak ada lagi memasukkan baju ke dalam celana ataupun rok, tidak ada lagi sabuk hitam polos dengan timang beratasnamakan sekolah. Masing-masing membawa gayanya dalam perjumpaan ini. Tak ada yang sama, tapi yang mungkin sama adalah kami terjebak di kota rantau yang sama, Yogyakarta.
Kaki masing-masing telah menemukan tapakan yang pas untuk ditapaki hingga dalam cerita yang terlontar dari mulut masing-masing tak ada kisah yang sama, tak ada pola hidup yang sama. Masing-masing adalah masing-masing. Setelah melihat mereka dengan mata masa kini, mungkin sudah saatnya kembali ke masa yang disebut lalu. Aku mengikuti alur perbincangan mereka mengenai masa putih-abu itu dan ini sudah hampir lebih tiga puluh menit kami membicarakan masa belakang itu. Tiba-tiba satu-satunya wanita di antara kami mengangkat tangannya dengan diikuti senyum yang terkembang di wajahnya. Ia seperti memanggil seseorang yang memang mencari keberadaan kami.
Siapa yang datang? Bukankan hanya mereka berdua yang sudah mengonfirmasi akan datang? Aku menunggu siapa orang itu. Menunggu dan masih menunggu. Rasanya aku bisa mendengar tulang detik jam ketika melakukan pergerakan. Kurasa tulang jam itu tengah mengalami osteoporosis atau memang aku yang terlalu fokus menunggu siapa itu. Aku, aku tak sabar hingga akhirnya otakku memerintahkan saraf di leher untuk melakukan putaran hampir 180 derajat.
Rasanya jantungku menggedor tulang rusukku, berontak ingin keluar dan bisa saja keluar jika saja rusukku tak sekokoh yang dibuat Tuhan saat ini. Diakah itu? Diakah itu yang berjalan ke arahku. Aku tidak begitu jelas apakah ini hanya perasaanku atau memang tulang detik jam yang tadinya kurasa menderita oeteoporosis tiba-tiba mendapat kesembuhannya, seketika. Sepi. Dalam pandanganku hanya ada dia yang tengah berjalan. Ke mana yang lain? Ia semakin mendekat ke tempatku, oh baiklah ke tempat kami. Aku masih ingat aku tidak sendiri di tempat ini, tapi mengapa aku hanya melihat ia dalam pandanganku? Aku mulai mengutuki diriku, ketidaksabaranku. Mengapa aku begitu tidak sabaran untuk tidak menoleh. Tetapi setidaknya dengan menoleh dan mengetahui dialah yang datang hingga aku bisa menyiapkan diriku untuk kembali bertemu dengannya. Ia semakin mendekat, mendekat, dan mendekat. Apa ini? Apa ini? Ada apa dengan jantungku? Seperti ada penabuh drum di dalamnya. Rasanya sungguh tidak nyaman. Jantungku mengalami kerusuhan, mungkin ada demonstrasi di dalamnya. Ingin sekali rasanya mengeluarkan jantung ini dari tempatnya. Tidak, aku tidak siap bertemu lagi dengannya.
Aku menemukan diriku menempelkan pandanganku padanya. Seperti menemukan pasangan kutub magnet yang berbeda. Matanya tak berubah sedikit pun, masih bulat. Hanya kini ia menambahkan eyeliner tipis. Ia memang selalu tahu bagaimana cara memperindah dirinya. Cara memandangnya pun masih sama, tajam dan beku. Aku hanya bisa menjabarkan tatapan itu cukup membuat hatiku tertusuk dan tubuhku membeku seketika. Aku bak es dibuatnya. Jangan tanyakan yang lebih mengenai bagaimana bentuk tatapan tajam dan beku itu, lihatlah sendiri maka kau akan mengerti. Tapi mata itu tetaplah indah, dan itu yang selalu membuatku tak bisa melupakannya. Seandainya pun ia mengenakan burka, aku akan dengan cepat mengenalinya.
Sebuah tangan mendarat di pundakku. Aku menoleh ke arah pemilik tangan yang kutahu pemiliknya duduk di samping kiriku.
“Kau tak mau menyapa kawan lamamu, Bung?” Kata temanku yang membuatku ingin mengatakan: Bukan, ia bukan teman lama. Ia kenangan lama yang manis. Tapi kutelan kalimatku dan hanya mengatakan:
“Halo.” Kurasa terlalu kaku. Aku harap teman-temanku yang lain, terutama ia, tidak menangkap betapa kakunya sapaanku tadi. Kalaupun mereka bisa menangkapnya, aku harap mereka berpikir karena kami terlalu lama tak bertemu lagi.
 Ia tersenyum tipis padaku. Padaku? Caranya tersenyum bahkan masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Tipis dan singkat, tak pernah berlebihan ketika tersenyum. Bahkan meski ia memulas bibirnya dengan lipstik merah, ia tak terlihat berlebihan. Mungkin karena aku terbiasa melihat bibirnya yang merah alami dengan bingkai cokelat meski tanpa pulasan lipstik. Ia masih sama dengan senyum tipis dan singkat yang begitu hangat, tapi sedikit dipaksakannya itu. Bila tatapannya membuatku membeku, di sinilah aku meleleh. Bila Tuhan memintaku pulang saat ini, rasanya aku akan pulang dengan tenang.
“Hai.” Balasnya atas sapaanku tadi. Aku mengutuki diriku atas kekakuanku. Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan halo sementara kata hai dirasa lebih cair untuk menyapa. Aku harus belajar untuk lebih tenang, jangan sampai teman-temanku berpikir kalau aku mengalami neurosis karena aku tak bisa mengontrol kecemasan dan keteganganku. Oh…rasanya iri pada siput yang memiliki tempat persembunyian yang bisa dibawa ke mana-mana untuk menyembunyikan tubuhnya yang rapuh kapanpun ia mau.
Aku mulai merasakan ada yang menggerayangi tubuhku. Aku merasa tubuhku basah, tapi bagaimana mungkin aku bisa berkeringat di ruang ber-AC seperti ini. Rasanya sangat tidak nyaman. Rasanya seperti saat pertama kali aku minum kopi dulu, tidak karuan. Rasanya seperti aku yang setelah makan harus membakar rokokku tapi aku tak memiliki sebatang pun. Aku terus mengumpat diriku sendiri. Mengapa bisa seperti ini padahal sudah hampir tujuh tahun tak lagi melihatnya?
Ingin mengutuki bahkan mengumpatinya yang tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan dengan membawa masa lalu dalam kotak kayu. Dan kotak kayu sialan itu terbuka begitu saja ketika pandanganku menangkap tubuhnya bahkan sebelum ia ingin membukanya. Aku tak habis mengumpati diriku sendiri, sebab aku tak mungkin mencaci ia yang membawa kotak kayu sialan itu. Bukan keinginannya untuk membawanya, apalagi keinginanku. Wanita yang sama yang selalu membuatku seperti merasa terserang malaria.
“Sekarang sudah konsisten berkerudung?” tanya temanku yang tadi mengangkat tangan untuk memberitahunya tentang keberadaan kami. Sekarang aku mengumpati diriku dengan masalah baru. Bagaimana mungkin kulihat ia sebagai sosok yang sama sementara ia sudah berubah jauh lebih anggun dengan baju terusan dan sehelai kain yang menutupi rambutnya yang dulu tak pernah lebih dari bahu. Aku mungkin terlalu fokus dengan mata dan senyum itu, aku berhak membela diriku sendiri, kan?
Ia menjawab pertanyaan tadi dengan senyuman yang kali ini sedikit lebih lebar, tentunya masih dengan keterpaksaan. Ia masih tak banyak bicara. Mungkin ia masih tak bisa berbasa-basi pula. Aku ingat saat itu aku berdiri di pintu, jangan tanya mengapa aku berdiri di pintu sebab aku lupa. Yang kuingat hanya aku berdiri di pintu dan tiba-tiba seorang wanita yang tidak lebih tinggi dari bahuku menamparku dengan kalimat ketus, “Tubuh besarmu menghalangi jalan.”
Saat itu aku ingat tiba-tiba saja aku menggeser tubuhku dari pintu dan membiarkan kurcaci itu lewat setelah ia mengatakan kalimat itu tanpa rasa bersalah sedikitpun. Aku tak tahu mengapa saat itu aku tak menganggap kalimatnya sebagai hinaan meski banyak orang yang mengejekku dengan mengatakan tubuhku terlalu berlebihan untuk mengenakan seragam abu. Aku bahkan masih ingat saat itu aku hanya melihat punggungnya ketika ia berjalan menjauh dariku. Aku tak marah sedikitpun padanya, bukan karena ia perempuan, aku tak marah sebab aku tak menemukan alasan untuk marah padanya. Aku ingat pula saat itu aku memikirkan untuk mengapa marah pada orang yang tidak kutahu siapa. Ia tak pernah terlihat, setidaknya olehku. Baru setelah ia dengan kalimat bernada ketusnya itu mulai kulihat ia ada. Ia ada dan duduk di sudut ruang bersama temanku yang tadi mengangkatkan tangan untuknya. Ia selalu duduk dengan tenang tak bersuara. Sedikit aneh ketika seseorang di usia remaja ingin menampilkan dirinya ia justru membenamkan dirinya. Tapi aku mungkin lebih aneh menyukai wanita yang kuanggap aneh. Ah, kotak kayu yang dibawanya itu kembali membuka ingatanku. Kotak kayu sialan.
Mungkin dengan ke toilet aku bisa mengajari pemain drum di jantungku untuk mengurangi tempo pukulannya. Begitu kembali kuliah singkat untuk jantungku sia-sia. Jantungku kembali bergejolak dan penabuh drum di jantungku kembali berulah ketika mendapati ia duduk sendiri dan sibuk dengan telpon genggamnya. Ini berkah atau ujian? Aku menguatkan langkah dan kembali ke bangkuku.
“Ke mana yang lain?” tanyaku setelah berhasil mengumpulkan keberanian.
Ia mengangkat pandangan, “Sholat maghrib.” Jawabnya singkat dan kembali sibuk dengan layar telpon genggamnya. Mengapa aku tak tersinggung dengan caranya menjawab? Ia melemparkan ujung kerudung ke bahunya dan ketika itu kurasa ada angin yang bertiup dari arahnya dan membelok ke arah ke arahku yang duduk bersilangan dengan tempat duduknya. Aku tahu apalagi yang berubah darinya. Aromanya, ia sudah berganti parfum. Dengan gaya busananya yang anggun ia memilih aroma maskulin. Dulu, aku hapal betul aroma parfumnya, aroma  strawberry yang manis dan kekanakan. Aku bahkan memiliki radar untuk aromanya itu. Lagi-lagi kotak kayu sialan itu membuka ingatanku. Aku memutar otak untuk memulai perbincangan dengannya. Kapan lagi ada kesempatan duduk berdua dengannya? Aku memaksa otakku untuk berpikir, setidaknya sebuah pertanyaan yang bisa memantik api perbincangan. Aku terus menimbang kalimat demi kalimat hingga aku kaget sendiri dengan pertanyaanku
“Apa kabar keluargamu?”. Bodoh! Pertanyaan macam apa itu? Kenapa tidak sekalian saja menanyakan bagaimana keadaan pohon mangga dengan lima varietas di satu pohon yang sama di dekat gerbang rumahnya, bagaimana keadaan mawar-mawar di sudut halaman rumahnya, bagaimana keadaan ikan koi di kolam kecil di bawah jendela kamarnya? Bodoh!
“Mereka baik.” Aku tak menyangka ia menjawabnya. Tapi tak ada reaksi lagi darinya. Aku kembali mencari pertanyaan yang pas. Mencari, mencari, oke, haruskah membicarakan masa lalu? Oh tunggu, ia bahkan tak memiliki masa lalu denganku, apa begitu pula dengan masa depan? Mungkin aku bisa memulai perbicangan dengan mengatakan, “Dulu aku pernah menyukaimu.” dan itu akan menjadi pernyataan konyol yang kembali kutelan. Lagi pula tak hanya dulu, mungkin saat ini tumbuh kembali. Kembali mencari, mencari lagi dan baiklah aku kehabisan ide, bukan, lebih tepatnya aku tak ada ide. Otakku sedang tak bekerja saat ini. Ya sudahlah aku menyerah, biarkan saja suasana ini sunyi seperti ini. Biarkan saja jangkrik-jangkir kurang kerjaan itu bernyanyi ria menertawakan.
Akhirnya aku terselamatkan ketika dua orang itu kembali ke tempatnya lagi. Kehadiran mereka bisa menghangatkan kembali kebekuan yang tadi tersaji di meja kami. Ia tak banyak terlibat dalam percakapan, hanya diam, menjawab bila ditanya, lebih banyak dengan kata ‘ya’ atau ‘tidak’, tersenyum selucu apapun lelucon yang dilontarkan, tentu saja masih dengan senyum singkat yang dipaksakannya.
Ternyata kerinduanku muncul bahkan sebelum perpisahan itu terjadi dan perpisahan itu sudah mengetuk pintu, menunggu untuk dibukakan. Kenapa aku tiba-tiba merasa merindukannya? Bagaimana bisa aku merindukan orang masih berjalan tepat di depanku? Ingin melingkarkan lengan ini pada tubuhnya dari belakang agar langkahnya tertahan menuju pintu itu. Tapi, aku masih cukup kuat untuk menahan diri. Begitu sampai di pintu perpisahan itu, mataku menangkap tangannya terangkat dan melambai lunglai pada seseorang di sebrang jalan. Ia tersenyum pada orang di seberang jalan itu, lebar dan panjang. Sepanjang aku bertemu dengannya, dulu ataupun sekarang, aku selalu bertanya kapan ia tersenyum benar-benar karena ingin tersenyum. Dan sekarang aku tak perlu lagi memendam tanya itu.
“Sampai jumpa lagi.” Katanya dengan senyum yang menggantung di wajahnya. Sekarang aku kembali ragu, senyum yang dilemparkan padaku adalah senyum yang benar-benar senyum atau sekedar garis bibir yang terbentuk dari sisa senyumnya pada seseorang di seberang jalan tadi? Ia menjabat tanganku. Ini pertama kalinya tangan kami bertemu dan bisa jadi yang terakhir. Kuulur waktu perpisahan dengan memegang tangannya lama, ia tak berontak. Ia menyiksaku dengan cara yang sangat manis. Kau mungkin akan marah pada orang yang menyiksamu dan bisa saja menghantam wajahnya ketika ada kesempatan, tapi ketika aku memiliki kesempatan itu aku justru lemah dan tak bisa apa-apa, jadi bisa apa? Emosi ini justru menyerap energiku. Aku mengutuki diriku yang tak memiliki nyali untuk mengatakan, “Masih ada kesempatankah untukku masuk?”, bahkan untuk membalas kalimat perpisahannya pun aku tak tahu dengan kalimat apa. Ia membodohkanku.
I love you but it’s not so easy to make you here with me
I used to hide and watch you from a distance and I know you realize
I was looking for a time to get closer at least to say hallo
I stuck on you and wait so long
When you love someone just be brave to say that you want him to be with you
When you hold your love don’t ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true[1]
Entah darimana, tapi lirik dari musik itu menempel begitu saja di otakku. Begitu musik itu usai aku merasa ia meninggalkan sesuatu di tanganku. Ada kotak kayu yang berisikan masa lalu di tanganku, ia meninggalkannya untukku? Aku tertegun sejenak, ketika aku mengangkat pandanganku, ia sudah berjalan mendekat ke arah seseorang di seberang jalan itu. Wanita yang membawa masa lalu dalam kotak kayu itu berlalu dan menghadiahiku kotak kayunya. Mungkin lebih tepatnya itu adalah kotak kayuku, sebab itu adalah masa laluku. Ia mengembalikannya? Mungkinkah ada hal sama yang dulu dirasakannya dan melepaskannya dengan jabat tangan tadi? Atau ini caranya mengatakan bahwa ia tahu apa yang terjadi di masa lalu? Mungkinkah ia tahu isi kotak kayu ini jauh sebelum pertemuan ini terjadi? Ia misteri dan masih menjadi misteri.



[1] Lirik dari lagu Endah N Rhesa berjudul When You Love Someon

378 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini