Posted on

MARSHMALLOW

By: Endah Nofiyanti
Marshmallow itu…bagaimana ya?
***
Hoon terpaksa pulang ke negara asalnya. Belanda. Sebelumnya ia –demi apapun- tak ingin kembali ke sana. Ia sudah betah berada di kota bernama Seoul.
Hoon telah membuat beribu alasan untuk tidak kembali. Mulai dari alasan murahan seperti…
“Oh, aku sedang sakit.”
“Baiklah. Datanglah saat kau sudah benar-benar sembuh!”
Manjur.
Kemudian…
“Bagaimana ini? Tugasku banyak sekali, Dad!”
“Selesaikan tugasmu lalu segeralah kemari!”
Itu mempan.
Alasan ketiga.
“Dad, aku ada ujian besok! Sungguh!”
“Belajarlah dengan baik! Setelah ujian usai, terbanglah kemari!”
Empat.
“Temanku akan tunangan besok! Dia akan membunuhku jika aku sampai tidak datang!”
“Sampaikan salamku untuk temanmu lalu cepatlah kemari!”
Ini untuk yang kelima.
“Dad, Jonghyun hampir tenggelam! Dia tak bisa berenang tapi nekat menolong Monggu. Aku harus membawanya ke rumah sakit sekarang.”
Terdengar helaan nafas dari seberang, “Baiklah. Segeralah pulang kemari Hoon!”
Enam.
“Oh bagaimana ini? Ada pencuri berkeliaran di sekitar gang. Aku tak bisa meninggalkan rumah, Dad! Bibi Hwang sedang pergi ke Busan.”
“Ya sudahlah.”
Alasan ketujuh.
“Kali ini apa lagi?”
“Bukan aku ingin membantahmu, Dad! Bibi Hwang sudah kembali. Aku juga sedang libur kuliah. Tapi Min, anak Bibi Hwang juga di sini. Aku harus menjaganya saat Bibi Hwang pergi ke pasar.”
“Ini terakhir kalinya, Hoon!”
Hoon mencoba untuk membuat alasan ke delapan.
Apa lagi ya?
“Dad, aku ada ujian be-“
Oh tidak!
Hoon sudah pernah menggunakan alasan ini. Ayahnya bahkan sudah tahu kalau Hoon sedang libur semester.
“Aku akan menerbangkan bom atom jika kau tak segera pulang kemari!”
Hoon punya 7 alasan untuk membantah. Tapi ayahnya memiliki 8 kesempatan untuk menghentikan Hoon. Jadi, begitulah. Ia telah kembali ke negaranya.
“Hoon! Ibu merindukanmu!”
Ibunya memeluk Hoon tepat setelah ia mendarat di negeri kincir angin itu.
Jangan heran! Ibunya memang terlalu dramatis. Hoon ingat saat ia memutuskan untuk kuliah di Kyunghee University. Waktu itu ibunya melepaskannya dengan air mata yang mengaliri pipi putihnya. Lalu ia memberikan kecupan di seluruh wajah Hoon. Kala itu Hoon malu bukan main. Hampir seluruh makhluk di bandara mengarahkan pandangan pada drama lakon ibunya itu. Bahkan ada satu dua orang mengabadikannya mengunggahnya ke media sosial.
“Sudahlah, Mom!”
Dan, drama kepulangan Hoon berakhir.
“Kenapa kau tak pulang sejak awal, Hoon?” Ayahnya meletakkan sebuah tas besar Hoon ke bagasi.
Hoon diam.
Ibu tahu betul apa yang menjadi penyebabnya.
Ibu berdeham untuk memecah keheningan, “Sudahlah, ayo kita pulang! Ibu akan membuatkan masakan kesukaanmu nanti,” ujarnya sembari menepuk bahu Hoon, “Oh, apakah kau bertambah tinggi, Hoon? Ibu hampir tidak bisa meraihmu!”
Hoon tertawa ringan mendengan lelucon ibunya.
***
“Jane belum pulang?” tanya Hoon tepat setelah ia menginjakkan kaki di rumah.
“Sudahlah ibuku tersayang biar aku yang membawa tas ku sendiri!” katanya setelah ia melihat ibunya ikut menyeret tas bawaannya, “Aku ini sudah dewasa!”
Ibunya tertawa, “Astaga kau ini! Aku ingin membawanya karena aku ingin menyimpan tasmu ini ke lemari. Jadi, kau tak perlu kembali lagi ke Seoul.”
“Itu tak kan berhasil!” canda Hoon.
Ibu berjalan menuju sofa, “Adikmu akan pulang sebentar lagi. Kau sudah merindukannya ya?”
“Sangat! Aku sangat merindukan adikku yang cantik itu!” ujarnya sambil menekankan kata ‘cantik’. Setelahnya tawa ibunya kembali mengisi ruangan.
Hoon membenarkan letak tas gendongnya, kemudian tangan kanannya menyeret koper hitam yang tadi sempat dibawa ibunya, “Aku ke atas dulu.”
“Oh baiklah.”
Hoon membuka pintu kamar berwarna hijau lumut yang bertuliskan ‘Jane’. Pintu itu membunyikan decitan nyaring saat Hoon mendorongnya. Hoon segera melangkah masuk. Bau mint bercampur kayu manis langsung menghampiri indera penciumannya.
Kamar itu sedikit gelap. Ia menarik tirai berwarna putih susu dan setelahnya cahaya segera masuk menyinari ruangan.
“Begini lebih baik,” gumamnya.
Mata Hoon menangkap 2 buah bingkai kecil yang berada di atas meja yang berada di samping kasur berwarna merah muda.
Hoon meraih sebuah bingkai. Ia tersenyum tanpa sadar. Ia melihat jelas dua sosok anak berusia belasan tahun. Dua anak itu tersenyum menghadap kamera. Yang perempuan menatap kamera dengan lidah dijulurkan sedangkan yang laki-laki membuat tanda V di tangan kanan sedang tangan kirinya merangkul bahu si perempuan. Gambaran Hoon dan adiknya sewaktu mereka kecil.
Hoon ingat betul kapan potret itu diambil. Waktu itu pulang sekolah, Jane menangis dengan lutut yang sedikit tergores. Ia mengadu pada kakak laki-lakinya yang 3 tahun lebih tua darinya itu bahwa salah satu teman sekelasnya telah membuatnya terjatuh. Hanya karena ia dan temannya sama-sama menyukai anak lelaki yang sama.
Cinta monyet.
Hoon tertawa ringan mengingatnya.
Oleh karenanya, mereka berfoto bersama di depan rumah. Hoon menyuruh Jane untuk menunjukkan pada teman sekelasnya itu kalau dirinya memiliki kakak yang jauh lebih tampan daripada lelaki yang mereka perebutkan.
Hoon meletakkan kembali bingkai itu ke tempatnya. Kemudian ia mengambil satu bingkai yang lain. Sebuah potret yang menampakan adik perempuannya dengan sesosok lelaki. Jane menghadap kamera dengan tersenyum bahagia sedangkan lelaki di sampingnya merangkulnya sembari menatap Jane dengan pandangan yang…
…euhhhhh Hoon malas untuk mengatakannya.
“Bocah tengil ini punya pacar rupanya!” ujarnya sambil meletakkan benda itu kembali ke tempatnya.
Hoon berjalan ke pintu. Bukan pintu yang tadi ia lewati, tapi pintu menuju balkon. Ia memutar kunci lalu segera membukanya. Angin lembut langsung bertiup ke arahnya. Ia merangkulkan kedua tangannya ke pagar pembatas.
3 tahun lalu, balkon di sini lebih indah daripada balkon di kamarnya.
Hoon masuk ke kamar Jane. Ia mengambil penggaris panjang dari meja belajar Jane.
“Ah kau ini! Ketuklah pintu sebelum masuk!” ujar Jane sedikit kesal tanpa melirik ke arah Hoon.
“Pintunya terbuka,” jawab Hoon asal.
Sekilas Hoon melihat apa yang sedang dikerjakaan adik perempuannya itu hingga membuatnya begitu serius. Hoon mengagguk malas saat melihat gambar perspektif rumah yang sedang dibuat Jane.
“Membosankan,” gumamnya.
Hoon mengambil salah satu toples camilan yang ada di samping tangan Jane.
“Ambillah sendiri di dapur!” gerutu Jane tanpa merebut toples itu dari tangan Hoon.
Hoon hendak berjalan keluar. Namun saat ia berjalan melewati jendela, matanya menatap sesuatu yang membuat kakinya berhenti.
“Ada mobil berhenti di depan.”
Setahu Hoon, rumah tetangganya itu tak berpenghuni selama beberapa bulan terakhir. Tapi sekarang ada mobil hitam terparkir di terasnya. Ada mobil berarti ada pemiliknya. Jadi, apakah itu tetangga baru?
“Iya, mungkin tetangga baru,” sahut Jane asal.
Hari berikutnya Hoon kembali mampir ke kamar Jane. Kali ini Jane sedang merebahkan dirinya di kasur sedangkan telinganya ia sumbat dengan headphoneyang tersambung ke tablet. Tangannya sibuk menggambar di benda persegi panjang itu.
Hoon berdecak.
Jane segera melepas paksa headphone-nya tatkala matanya melihat kakaknya masuk, “Sudah kubilang ketuk pintunya dulu sebelum masuk!” katanya sedikit berteriak.
Kali ini Hoon meraih beberapa buah komik di rak. Ia menghadap ke arah Jane. Kini Jane telah kembali ke aktivitasnya lagi.
“Kau tau tetangga baru itu? Maksudnya…apa kau sudah menyapanya?”
“Tau,” jawab Jane singkat.
Hoon berjalan mendekat, “Kau tau?”
“Mereka sama seperti kita. Ada ayah, ibu, anak laki-laki yang seusiamu…ah setahun lebih muda darimu,” kata Jane mengoreksi, “…lalu anak perempuan yang seusiaku.”
Hoon memancing Jane untuk bercerita lebih, “Anak perempuan itu…”
“Hari ini ada murid baru, dan anak itu satu kelas denganku. Kebetulan sekali dia adalah tetangga baru itu.”
“Sungguh?” tanya Hoon antusias.
Hoon tersenyum lebar. Kemudian segera berlari keluar dari kamar Jane.
Jane hanya mengeleng-gelengkan kepalanya. Kakaknya adalah orang yang unik. Terkadang tersenyum lebar tanpa sebab, pasti ada sebabnya tapi Jane belum tahu. Suatu saat ia akan menjadi orang yang sangat menyebalkan ketika sesuatu yang buruk terjadi. Berteriak tanpa sebab. Diam yang benar-benar diam, ya diam. Tak mengatakan sepatah katapun pada orang rumah.
Hingga hari berikutnya, Jane menemukan kakaknya yang lebih dulu pulang, berdiri menyambutnya di depan pintu kamarnya.
Ia menyondorkan benda tabung berwarna coklat tua pada Jane. Jemari Jane bergerak untuk memutar tutup tabung itu. Lalu mengambil gulungan kertas putih dari sana. Ia membuka gulungan itu dan segera setelahnya ia melebarkan matanya.
Sebuah sketsa wajah perempuan tercetak di sana.
Jane dan kakaknya memang mewarisi bakat ayah mereka yang seorang pelukis.
Namun bukan itu masalahnya. Bukan karena ia terkagum dengan coretan Hoon. Namun lebih tepatnya karena paras cantik yang terpampang di atas kertas itu.
Dan Jane sangat kenal dengan wajah itu.
“Tidak mungkin kan kalau kau…”
Hoon masih memamerkan deretan gigi putihnya, “Berikan itu pada Lyn!”
Jane menggulung kertas itu kembali lalu memasukkannya ke dalam tempat semula. Ia tertawa. Awalnya lirih lalu ia tertawa lebih keras dan lebih keras lagi.
Kakaknya jatuh cinta dengan sang tetangga baru.
“Kenapa?” tanya Hoon heran.
Jane tertawa terpingkal-pingkal.
“Apa dia sudah punya pacar?”
Jane sedikit demi sedikit menghentikan tawanya. Jane tertawa karena dirinya mensyukuri bahwa kakaknya juga bisa jatuh cinta. Artinya, kakaknya orang normal.
“Tidak. Dia mengatakan dia belum punya pacar.”
“Yes!!!” ujar Hoon.
Dan begitulah, hal yang paling Hoon sukai sejak itu adalah berada di balkon Jane saat hari sudah menjelang sore. Ia akan membawa kanvas dan peralatan lainnya dan memulai pekerjaan barunya.
Melukis paras pemilik nama Lyn itu.
Hingga 2 bulan kemudian ia berniat mengungkapkan perasaannya. Maka, sepulang sekolah ia mampir ke toko bunga untuk membeli beberapa tangkai bunga mawar berwarna pastel. Warna kesukaan gadis itu.
Ia mengayuh sepedanya lebih kuat. Agar cepat sampai.
Namun ketika hampir sampai, ia malah menurunkan laju sepedanya.
Matanya menangkap gadis itu turun dari mobil dan setelahnya seorang laki-laki berseragam sama mengikutinya dan menggenggam tangannya.
Mereka terlihat sangat bahagia.
“Oh hai Hoon, kau baru pulang?” sapa Lyn ketika matanya menangkap sesosok Hoon.
Oh shit!
“I…iya,” jawabnya kikuk, “…membeli bunga untuk ulang tahun ibuku,” katanya sambil menunjukkan bunga yang tadi dibelinya.
“Sungguh? Ah aku tidak tau kalau hari ini ulang tahun ibumu. Titip salamku padanya ya?”
Hoon mengangguk dan tersenyum, “Ya, terima kasih!”
Awalnya Hoon pikir jatuh cinta itu hanya selembut dan semanis marshmallow.
Hoon pulang ke rumah dengan wajah kusut sekali. Ia meletakkan ikatan bunga itu ke meja ruang tengah. Lalu ia berjalan lemas menuju kamarnya.
Namun adik perempuannya menghalangi jalannya.
“Kak, ada seseorang yang menyukai Lyn dan menyatakan cintanya hari ini. Dan kabar buruknya, Lyn menerima laki-laki ini,” ceritanya heboh.
Hoon menghela nafas, “Harusnya kau memberitahuku lebih awal,” lanjutnya sambil melewati Jane begitu saja. Tentu saja lawan bicaranya bingung dibuatnya.
Malamnya, seseorang mengetuk pintu rumah mereka. Ayah tak mungkin mengetuk pintu saat pulang ke rumah. Jadi Jane yang saat itu berada di ruang tengah berlari menuju pintu, setelah melihat kakak laki-lakinya sama sekali tak tertarik untuk berjalan ke sana.
Seorang perempuan muncul di balik pintu dengan kue tarcis di tangannya. Sedangkan mulutnya tak berhenti menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Jane hanya terdiam di tempat sedangkan pikirannya mencari-cari siapakah gerangan orang di rumah ini yang bertambah umur hari ini. Ibu berjalan mendekat ke pintu.
Hoon yang baru sadar dari alamnya segera berbaur ke tempat 3 perempuan itu berdiri.
“Kau membuat kejutan untuk ibuku?” Hoon tertawa canggung.
Hoon merangkul bahu ibunya, “Mom, lihatlah! Lyn membawakan kue untukmu!”
Ibu awalnya bingung bukan main. Ia sungguh ingat bahwa hari ini bukan ulang tahunnya. Namun Hoon mengedipkan matanya dan membisikan ‘nanti kuceritakan’ ke telinganya.
Hari itu mereka berakhir membuat acara ulang tahun dadakan untuk ibunya. Ibu dan Jane hanya mengikut alur naskah yang dibuat kakaknya.
Beberapa waktu setelah Lyn pergi, ayah pulang. Pria paruh baya itu menemukan istri dan anak perempuannya tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan anak laki-lakinya membenamkan wajahnya ke bantal.
Ia bergabung dengan mereka.
“Apa yang ayah lewatkan?”
Hoon memperlihatkan wajahnya yang kini memerah.
“Oh sungguh, jangan ceritakan itu pada Dad!”
Hoon malu bukan main.
Setelah hari itu Hoon memutuskan untuk cepat lulus dari sekolahnya dan melanjutkan kuliahnya di luar negeri.
Tanpa sadar Hoon tersenyum mengingat kenangan itu.
Hoon mendengar derap langkah yang cepat. Ia memutar tubuhnya dan menemukan adik perempuannya telah berdiri di belakangnya.
Jane segera memeluk kakaknya itu.
Hoon tertawa.
“Kau merindukanku?”
Hoon dapat merasakan anggukan Jane di bahunya.
“Aku merindukan kakakku yang sableng ini!”
Hoon berdecak, “Kau ini!”
Jane melepaskan pelukannya.
“Kenapa kau di sini?” Jane melihat sekitar. Lalu ia tertawa keras.
“Jangan mengejekku lagi!” kata Hoon memperingatkan.
Hoon menuruni anak tangga. Ia hendak ke dapur, untuk melihat apa yang sedang disiapkan ibunya untuk makan malam karena hari sudah menunjuk pukul 6 sore. Ia melihat Jane juga berada di sana.
Hoon mendekat ke arah mereka.
“Ibuku yang cantik sedang memasak makanan kesukaanku!” pujinya kemudian disahut dengan tawa ringan ibunya.
Hoon beralih mendekati adiknya yang sedang memotong sesuatu.
“Kau bisa memasak?” ejek Hoon.
“Tentu saja!” jawab Jane percaya diri.
Hoon teringat sesuatu saat siang tadi masuk ke kamar adiknya.
“Kau punya pacar?” tanya Hoon sambil meraih sebotol air mineral dari dalam lemari pendingin.
Jane berdecak, “Kau mengobrak-abrik kamarku, ya?”
“Fotonya terpampang jelas! Bagaimana aku tidak tau?”
Hoon meneguk minumannya, “Siapa namanya?”
“Kenapa ingin tau sekali?”
Jane memasang muka terkejut, “Atau jangan-jangan setelah hari itu kau jadi…penyuka sesama jenis ya?”
Ibu tertawa mendengar percakapan kedua anaknya.
“Ishh kau ini! Aku ini kakakmu! Aku bisa melindungimu dari pria yang kurang ajar!”
Jane mencibir, “Dia baik. Sangat.”
“Siapa namanya?”
Jane melirik sebentar ke arah kakaknya, “Luke.”
Namun ia tak melihat ekspresi apapun dari kakaknya.
“Siapa dia?”
“Kau sungguh tidak tau?”
Hoon menggeleng, “Siapa?”
“Kalau begitu lebih baik tidak tau.”
Ibu mengangguk, menyetujui perkataan anak perempuannya. Namun hal itu malah membuat Hoon semakin tertarik.
“Siapa?” desaknya.
“Kau akan menyesal!”
Hoon berdecak, tidak sabar, “Siapa?”
“Kau sungguh ingin tau?”
Hoon mengangguk sekali lagi.
“Dia tetangga kita. Kakak laki-laki Lyn.”
Hoon menekuk wajahnya.
Ia menyesal telah bertanya.

461 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini