Posted on

Lluvia y Estrella










Oleh : SAHILA DANIARA

Ketika hujan turun, bintang akan bersembunyi di balik punggung awan. Dan ketika bintang menyebar di samudera langit malam, hujan takkan tega menganggunya. Hujan dan bintang memang tidak pernah bersama. Bukan karena mereka saling membenci, tapi karna takdir yang membuat mereka tidak bisa dipertemukan.
Apa yang akan kau lakukan jika satu-satunya harapanmu adalah hal yang paling mustahil untuk kau harapkan?
            Langkah orang-orang yang lalu lalang keluar masuk Rumah Sakit sudah mulai berkurang. Frekuensinya sudah menurun di bandingkan tadi sore. Mungkin karena jam bezuk sudah berakhir beberapa jam yang lalu. Nara Barner  sedang berjalan ke arah taman rumah sakit yang terletak di bagian belakang. Tangannya merapatkan jaket bewarna coklat yang membalut tubuh jangkungnya. Sesekali tatapannya menerawang menatap langit yang saat ini terlihat semarak oleh formasi bintang-bintang. Inilah yang paling di sukainya. Bintang.
            Nara menghirup napas panjang kemudian menghembuskannya kembali. Dia memilih duduk di sebuah bangku taman yang kosong. Dia ingat, bagaimana dia menghabiskan waktunya untuk bolak-balik ke Rumah Sakit ini. Mungkin separuh dari usianya terlewatkan di sini. Itulah mengapa lelaki 18 tahun ini sudah terbiasa dengan aroma obat-obatan. Tatapannya lurus ke arah jalan raya yang ada di seberang taman. Memperhatikan aktivitas orang-orang, mobil-mobil yang saling berpacu, para pejalan kaki yang berusaha melangkah secepat mungkin. Pemandangan inilah yang setiap hari disaksikannya. Pemandangan yang selalu sama. Potret malam di seberang taman Rumah Sakit.
            Tapi sepertinya malam ini berbeda. Bingkai wajah mungil di trotoar jalan itu membuat tatapannya terhenti sejenak. Manis, pikirnya. Nara terus saja memperhatikan sosok itu. Gadis berambut panjang, bermata sayu, dan mengenakan baju terusan hingga lutut. Sederhana, tapi menarik. Nara jadi teringat pada dirinya, kapan terakhir kali dia tertarik pada orang lain. Sebulan yang lalu, setahun yang lalu, dua tahun, ah ya.. mungkin sepuluh tahun yang lalu. Mungkin hanya sekali itu, dan kali ini dia memulainya lagi. Rasa tertarik itu, muncul begitu saja.
            “Ternyata di sini rupanya. Ayo pulang.” Seorang wanita paruh baya mengagetkan Nara. Wanita itu tersenyum dengan manis. Potongan wajahnya lumayan mirip dengan Nara. Dia tampak lebih muda beberapa tahun dari usianya yang kira-kira memasuki angka empat puluh.
            “Eh, Madre. Baiklah. Ayo pulang.” Nara bangkit dari duduknya dan menoleh sekali lagi ke trotoar seberang jalan raya itu sebelum pergi. Gadis itu masih berdiri kaku dengan tatapan sayunya.
Madre adalah panggilan untuk Ibu dalam bahasa Spanyol. Ibu Nara adalah wanita blasteran Meksiko-Indonesia. Karena itulah wajah Nara sedikit berbeda dari wajah orang Indonesia yang lain, walaupun Ayahnya orang Indonesia asli.
**
            “Hallo..? Papa nggak pulang lagi malam ini?” Falisha Tatum berbicara dengan suara bergetar. Matanya terlihat merah karena dia baru saja menangis.
            “Nggak,” jawab suara di seberang sana. Singkat dan datar. Mata Falish kembali berkaca-kaca.
            “Oh.” hanya itu yang di katakannya sebagai perwakilan rasa kecewanya. Dia mematikan ponsel kemudian membantingnya ke atas kasur.
            Mata cantik milik Falish terlihat lelah. Mata yang indah itu slalu menangis setiap hari. Tak ada tempat berbagi dari semua penderitaannya. Satu-satunya orang yang Falish punya di dunia ini hanya Ayahnya. Namun Ayahnya selalu saja membuat jarak dengannya. Dia memang tidak bicara apapun, tapi Falish sangat mengerti bahwa Ayahnya itu belum bisa menerima takdir masa lalu mereka, dan menyalahkan Falish atas semuanya. Padahal Ayahnya tidak tau, kalau Falish sama menyesalnya. Setiap hari dalam hidupnya selalu saja di kejar rasa bersalah. Siapun di dunia ini pasti juga tidak rela kehilangan Ibu dan Kakak yang mereka cintai.
            Falish benci dengan suasana ini. Dengan cepat dia berlari dari kamarnya yang terletak di lantai atas dan membawa kakinya melangkah kemana saja. Kemana saja. Asal perasaannya tidak lagi sesesak ini.
            Falish berjalan pelan di atas trotoar. Malam masih awal, jadi mobil-mobil dan para pejalan kaki masih banyak terlihat. Dia menatap lampu-lampu jalan yang menyala. Bahkan lampu-lampu itu saja yang tidak bernyawa masih punya teman, pikirnya. Di perhatikannya lampu-lampu yang terlihat berjejer di sepanjang jalan. Sendirian. Kata itu yang slama ini di pikul Falish. Tak ada lagi yang mempedulikannya. Dulu, ketika dia kecil banyak sekali teman-teman yang bisa bermain dengannya. Bahkan ada satu orang yang begitu berkesan. Dan entah sejak kapan, Falish memutuskan untuk menutup diri dari orang-orang. Sudahlah, untuk apa mengingat-ingat masa lalu kalau nyatanya hari ini tak seorang pun yang berstatus menjadi temannya. Tak seorang pun.
            Falish menengadahkan kepalanya. Bintang. Saat ini langit terlihat sesak di penuhi bintang sana-sini. Falisha melengos dan membuang pandang. Inilah yang paling di bencinya. Bintang.
            Falish hanya berdiri kaku di tempat. Kakinya serasa membeku. Tiba-tiba saja matanya menangkap punggung dua orang yang berjalan beriringan. Ibu dan Anak lelakinya. Pemandangan itu mengingatkanya pada sosok Ibunya yang penyayang. Coba Ibunya masih ada, pasti dia juga bisa seperti kedua orang itu. Falish pun kembali menyalahkan dirinya.
**
            Masih dengan balutan seragam putih abu-abunya Falish melangkah masuk ke dalam toko buku yang terletak tidak jauh di sekolahnya. Falish senang membaca. Setidaknya dengan membaca waktu akan terasa berjalan lebih cepat dan dunia akan terasa berputar lebih kencang. Itulah teori Falish.
            Tangan Falish dengan gesit memilih-milih buku yang tersusun rapi di rak. Tangan cantik miliknya itu berhenti sejenak, mengelus sebuah buku dengan cover sederhana. Bewarna putih polos. Bukan, bukan karena covernya. Tapi judul yang tertera di buku itulah yang membuatnya tertarik. Dengan cepat buku itu berpindah ke dalam genggamannya.
            “Sorry.”ucap seorang pria yang tanpa sengaja menabrak Falish. Pria itu memungut bukunya yang terjatuh kemudian pergi begitu saja.
            Falish melengos sambil menatap pria itu berlalu. Pantas saja dia tidak melihat jalan, ternyata dia sedang menelpon seseorang. Falish meraih bukunya kemudian menuju kasir dan berjalan meninggalkan toko buku.
**
            Nara duduk di taman rumah sakit seperti biasa. Hari ini sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kali ini Nara menunggu gadis mungil di atas trotoar waktu itu. Entahlah, gadis itu membuatnya penasaran seharian. Matanya, ya matanya itu menyimpan banyak rahasia.
            Malam semakin bergerak, namun gadis itu tak muncul. Langit juga terlihat gelap. Gemuruh mulai terdengar, pertanda hujan akan segera turun. Nara menghela napas panjang. Kecewa. Nara akan menunggu gadis itu datang kalau saja gemuruh itu tidak terdengar. Hujan. Nara tidak suka hujan, karena hujan menghalau bintang.
            Nara teringat buku yang saat ini sedang di pegangnya. Buku yang sengaja dibawanya untuk menemaninya menunggu gadis itu. Karena takut basah, buku itu di sembunyikan di balik jaket coklatnya. Baru satu langkah berjalan, kaki Nara berhenti. Bunyi klakson panjang mobil membuatnya menoleh lagi ke belakang. Gadis itu datang. Gadis itu, gadis itu tidak berdiri di trotoar jalan seperti yang seharusnya dia lakukan. Gadis itu……
**
            Falish memang suka hujan. Sangat suka malah. Tapi walaupun begitu, dia tidak suka bunyi gemuruh. Bunyi itu membuat traumanya kambuh. Di saat-saat seperti inilah dia benci untuk hidup. Dia butuh keberanian seseorang untuk berlindung dari ketakutannya. Papa, dimana papanya saat ini? Falish butuh papanya, Falish takut. Dia pucat, dia menggigil.
            Air matanya merebak. Tangan kanannya yang memegang sebuah buku dengan cepat di tutupkannya ke telinga, tak lama tangan kirinya juga melakukan hal yang sama. Dia berlari keluar rumahnya. Berlari sekencang yang dia bisa. Tanpa dia sadari, ketika dia menjauh dari rumahnya, seorang pria dewasa justru berlari menuju rumahnya.
            “Falish, ini papa nak.” Pria dewasa yang ternyata adalah Ayah Falish, pergi menuju kamarnya. Sayangnya tidak ada siapapun di sana. Kosong. Hampa. Sama seperti perasaan si pemilik kamar selama ini. Andai pria itu menyadari perselisihan waktu mereka.
            “Falish mau tinggal sama mama, sama kak Tasya.” Falish terisak pelan. Entah setan apa yang berbisik padanya hingga langkahnya terarah ke jalan raya. Perlahan dia turun dari trotoar. Matanya terpejam. Dia tak beringsut dari tempat, walaupun bunyi panjang klakson mobil terdengar jelas di telinganya yang tertutup oleh kedua tangan. Dia siap menerima hantaman mobil itu, kalau saja..
            “Bodoh..” bisik seseorang yang menarik tangannya hingga bukunya jatuh terpelanting. Setelah itu Falish jatuh pingsan.
**
            “Selamat pagi..” Nara menyapa seorang gadis yang berjalan-jalan di belakang rumah sakit. Gadis itu mengenakan baju terusan bewarna biru dengan motif polkadot. Masih baju yang sama seperti baju tadi malam yang di kenakannya.
            “Kamu kemaren pingsan.” Nara menjelaskan. Gadis itu hanya tersenyum tipis.
            Nara memberi isyarat agar mereka duduk. Gadis itu mengangguk dan mereka pun duduk bersebelahan di bangku taman tempat Nara biasa duduk di malam hari.
            “Kenapa kamu nolong aku?” tanya gadis itu pelan. Nara menoleh ke samping mendapati gadis itu telah menoleh ke arahnya lebih dulu. Mata itu, Nara suka mata itu.
            “Aku Nara Barner,” Nara memperkenalkan diri. Gadis itu hanya diam. Itu bukan jawaban pertanyaannya.
            “Namaku Nara, nama kamu siapa?” Nara mengulang pertanyaannya.
            “Falish, Falisha Tatum.” jawabnya lemah.
            “Nih, buku kamu.” Nara menyerahkan sebuah buku bewarna putih ke hadapan Falish. “Kehidupan itu…..” itulah judul yang tertera di sana.
            “Itu bukan buku aku. Kemaren siang aku nggak sengaja nabrak orang, dan buku kami ketukar. Tapi makasih yah?” Falish mengambil buku itu dari tangan Nara.
            “Jadi buku yang ini dong punya kamu?” Nara memperlihatkan buku yang di bawanya satu lagi. “Kematian itu…..”, itu judul bukunya.
            “Berarti kita pernah ketemu? di toko buku?”
            “Mungkin, soalnya kemaren siang aku juga tabrakan sama orang. Di toko buku. Dan buku yang kamu pegang itu buku yang kemaren aku beli, tapi malah berubah jadi ini.” Nara tersenyum. Falish pun ikut tersenyum. Tuhan pasti telah merencanakan semuanya.
            “Kamu bener-bener pengen mati ya? sampai-sampai juga beli buku yang judulnya kematian?”
            “Hmm, aku bosan hidup.” Falish mengangkat bahu dengan cuek.
            Nara diam. Senyumnya tampak memudar. Jawaban apa itu? Santai sekali gadis itu mengatakannya. Bosan? Seperti apa hidupnya sampai dia bosan dan memilih untuk mati? Andai nyawa dapat di perjual belikan, Nara pasti akan membeli nyawa Falish. Berapapun. Pasti dia akan membelinya, asal dia tidak mati. Nara sangat takut dengan kematian. Nara selalu berjuang setiap hari agar tetap hidup, namun gadis di sebelahnya justru dengan mudah mengatakan kalau dia bosan untuk hidup.
            “Kenapa di rumah sakit?” tanya Nara.
            “Apanya?” Falish tampak bingung.
            “Kenapa kamu memilih rumah sakit untuk mati? kemaren malam kamu pengen mati di sana kan?” Nara menunjuk jalan raya.
            “Karna satu-satunya tempat yang nggak mungkin sepi walaupun malam hari adalah rumah sakit. Aku nggak mau jasad aku kesepian kalau nanti aku udah mati. Seenggaknya rumah sakit masih mau menampung jasad aku.” Nara terkesiap mendengar jawaban itu. Apakah gadis ini kesepian? Keluarganya?
**
            Falish dan Nara sama-sama terdiam. Berkelebat dengan kehidupan dan kematian dipikiran masing-masing.
            “Di rumah sakit ini, banyak orang-orang yang berjuang untuk hidup. Dan kamu dengan mudah mengakhiri hidup kamu begitu saja. Kalau aja nyawa kamu bisa di beli, orang-orang itu pasti berebut untuk membeli nyawa kamu,” Kata-kata Nara mampu membuat Falish merasa bagai manusia paling berdosa di dunia ini.
            “Maaf.” Falish menunduk.
            “Lain kali jangan lagi ya?” Falish mengangguk pelan. Ya, Dia berjanji tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi. Janji.
            “Keluarga kamu sudah tau?”
            “Keluarga?” Falish menggeleng.
            “Nggak? mereka nggak mencari?” Nara terus mengusik Falish dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dan Falish sangat tidak suka dengan pertanyaan Nara. Andai Nara tau, hidup ini terlalu kejam untuk Falish.
            “Aku pengen mati karna hidup ini terlalu rumit. Mungkin kematian nggak sesakit hidup saat ini. Aku nggak pernah tau kan kalau aku nggak mencobanya?”
            “Gimana kalau mati ternyata lebih sakit?”
            “Nggak apa. Yang penting aku bisa ketemu mama sama kak Tasya.” mata Falish berkaca-kaca. Kenapa pula Falish harus menceritakannya pada orang baru ini. Kenapa orang ini harus tau?
            “Besok kamu mau ikut nggak? aku mau ke taman rekreasi?” tawar Nara. Memusingkan membahas kematian dan kehidupan. Toh, keduanya hanya rahasia Tuhan. Nara juga tidak mau bertanya lagi tentang keluarga Falish. Itu hanya akan membuatnya sedih.
            “Eh? Memang boleh?” Falish terdengar bersemangat. Padahal selama ini Falish lupa bagaimana untuk bersemangat.
            “Siapa yang larang?” Nara tertawa.
            “Asyik.. Tapi pulang sekolah ya? Sekarang kan udah bolos.” Falish juga tertawa kecil. Senyum cantik yang telah lama muram itu, terlihat lagi untuk yang pertama kalinya. Hari ini.
            “Aku tunggu di sana aja ya? Memangnya kamu kelas berapa?”
            Falisha mengangguk dan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
            “Dua SMA.”
**
            “Nara,” seorang wanita berwajah Eropa menghampiri Nara. Falish menatap wajah wanita itu dalam-dalam.
            “Madre,” Nara tersenyum senang.
            “Dokter Carlo sudah menunggu sayang.” wanita itu tersenyum manis. Cantik, lembut pula. Wanita itu sepertinya juga dokter di rumah sakit ini, karena dia mengenakan baju dan celana bewarna putih sama dengan dokter-dokter yang lain.
            “Madre duluan saja, nanti Nara menyusul.”
            Wanita itu mengangguk dan mengarahkan pandangannya pada Falish. Falish gugup dan membalas pandangan itu dengan tersenyum. Mama. Falish ingat mamanya.
            “Hola,” sapanya ramah kemudian berlalu.
            “Siapa?” tanya Falish.
            “Itu Ibuku. Dokter di rumah sakit ini.” terang Nara.
            “Orang Spanyol ya?”
            “Meksiko lebih tepatnya. Kok tau sih?”
            “Tau dong.” Falish ber-hihi ria.
            “Huff. Aku ke sana ya? Udah ditungguin. Besok jangan lupa. Pulang sana, di cariin nanti. Atau kamu mau nginap di sini lagi?” canda Nara.
            Falish meleletkan lidah. Mereka pun berpisah setelah buku yang ada di tangan mereka saling di tukar. Namun wajah Ibu Nara masih berusaha di ingat Falish. Wajah itu sepertinya tidak asing. Rasanya dulu dia pernah menjumpai wajah itu. “Hola,” kata itu, ya Falish ingat sekarang.
**
            “ Falish, mana mama? mana kak Tasya?” Dengan panik Ayah Falish menguncang tubuh mungil putrinya. Falish terisak pelan, dia benar-benar ketakukan.
            “Maafin Falish Pa,” gadis berusia 6 tahun itu berkata bergetar. Tangannya menggigil.
            Ayahnya tak peduli, terus berlari mencari suster untuk bertanya dimana Isteri dan anak Sulungnya berada. Tak dihiraukan gadis bungsunya yang meringkuk ketakutan di sudut rumah sakit.
            “Hola gadis manis? kenapa menangis? kalau menangis cantiknya luntur.” seorang Dokter perempuan yang cantik menghampiri Falish. Dibelainya tubuh mungil itu.
            “Mama Falish, kak Tasya, Falish yang bikin mereka masuk Rumah sakit.” Falish menumpahkan air matanya.
            “Sudah ya, jangan menangis. Lebih baik kamu berdo’a untuk mereka. Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik.” Dokter itu memeluk Falish dengan erat.
**
            “Falish, kamu dari mana saja? Semalam tidur dimana?” Falish benar-benar kaget dengan pertanyaan Ayahnya. Apa? Ini mimpi bukan? Kenapa tiba-tiba Ayahnya bertanya begitu? Apa pedulinya sekarang?
            “Papa kenapa? bukan urusan papa Falish tidur dimana. Urus aja hidup papa. Falish udah nggak butuh papa lagi kok. Selagi Papa ngasih biaya makan dan sekolah Falish seperti biasa, Falish masih bisa hidup.” Falish berjalan santai menaiki tangga rumahnya.
            Ayahnya hanya diam mendengar jawaban Falish. Jawaban itu pantas untuknya. Bahkan Falish sudah cukup baik masih mau memanggilnya Papa. Papa mana yang tega membiarkan putrinya tinggal sendirian di rumah berhari-hari? tidak pernah mengajaknya bicara? bahkan tidak pernah tau dengan perkembangan anaknya sendiri. Dia masih ingat jelas, bagaimana dia membesarkan Falish sampai usia 14 tahun tanpa cinta dan kasih sayang sedikitpun. Dan sejak usia itulah dia memutuskan untuk benar-benar membangun tembok pemisah dengan Falish. Dia hanya pulang ke rumah seperlunya. Dan setiap kali dia pulang, meninggalkan uang yang sangat banyak untuk Falish. Untuk apa? Untuk menyogok agar Falish tidak membencinya?
**
            “Nara..” Falish berlari senang menghampiri Nara. Seragam abu-abu masih menempel di tubuhnya.
            “Hei,” Nara melambai ke arah Falish.
            “Udah dari tadi ya?” tanya Falish.
            “Hmm, lumayan.”
            “Memangnya kamu sering kesini?
            “Kalau lagi pengen aja. “
            “Kok kamu nggak sekolah?” tanya Falish lagi.
            “Eh, udah di sini kok malah ngobrol aja sih? Mau naik apa dulu nih?”
            Falish mengangkat bahu. Nara tidak menjawab pertanyaannya dan Falish juga tidak mau memaksa.
            Mereka pun mencoba semua wahana permainan yang ada di sana. Mereka tertawa dengan lepas. Mereka sendiri tidak ingat, kapan terakhir kali mereka berekspresi seperti ini. Mereka berfoto-foto ria dengan semua badut yang ada disana. Ada yang kostumnya seperti dinosaurus, babi, dan beruang.
            “Terakhir, naik komidi putar yuk?” Nara terlihat sangat bersemangat.
            Falish tertegun. Komidi putar? Naik? Kak Tasya? Mama? Bintang? Malam? Ledakan?! Semua kata itu berputar-putar dikepala Falish. Kejadian itu kembali terulang di pikirannya. Bayangannya begitu nyata, bagai sebuah kaset film yang di putar ulang. Falish menggigil, dia terduduk lemas dan mulai menangis.
**
            Nara yang awalnya tampak bersemangat, kini mengerutkan kening. Kenapa Falish tampak ketakutan setelah dia mengajaknya naik komidi putar. Nara semakin heran, ketika Falish mulai memucat dan terduduk. Falish menangis.
            “Falish,” Nara menyentuh bahunya.
            “Hei, kamu kenapa? Ada yang salah?” tanya Nara lagi.
            Falish menggeleng pelan. Kedua tangannya ditutupkan ke telinga.
            Nara berusaha menenangkan teman barunya itu. Nara tidak bertanya lagi sampai Falish sudah merasa sedikit tenang. Mereka membeli dua buah minuman kotak dan duduk di sebuah bangku panjang yang kebetulan kosong.
            “Maaf ya, aku nggak tau kamu itu trauma naik komidi putar.”
            “Nggak apa kok. Harusnya dari dulu aku belajar melupakan semuanya. Belajar untuk tetap tenang dan terus melangkah tanpa menoleh lagi ke belakang. Mulai sekarang aku harus bisa.” Falish berkata bergetar. Dia tau, Nara tidak mengerti dengan pembicaraannya. Tapi setidaknya, ada orang yang masih mau mendengar penjelasannya. Masih ada orang yang tidak menyalahkannya.
            “Komidi putar? Masa lalu? Apa hubungannya? Kenapa kamu ketakukan?” Nara mengerutkan kening.
            “Karena komidi putar, aku membunuh Ibu dan kakak perempuanku. Setelah itu Papa menyalahkanku dan memilih untuk membenciku.” tatapan Falish terlihat kosong.
            “Mau menceritakannya padaku? Seenggaknya, kamu bisa berbagi masalahmu denganku.” Nara meyakinkan gadis bermata sayu yang duduk di sebelahnya. Tidak tega rasanya membiarkan gadis itu tenggelam dengan rasa tertekannya sendirian.
            “Semuanya terjadi sepuluh tahun yang lalu, ketika usiaku masih enam tahun…” Falish mulai bercerita, dan Nara dengan tenang mendengarkannya.
**
            “Mama, Falish pengen naik komidi putar. Kak Tasya bohong melulu. Nggak jadi-jadi sampai sekarang.” Falish terus merengek pada Ibunya yang sibuk memasak untuk makan malam mereka.
            “Sayang, mama lagi masak nih. Kamu nggak lapar? Jadi, jangan ganggu mama dulu. Besok malam ya kita ke sana? Mama janji? Oke?” Ibunya mengecup pipi kirinya dengan lembut.
            “Besok pasti nggak jadi lagi. Semuanya bohongin Falish terus.” Falish berteriak dengan suara serak. Dia berusaha membungkam tangisannya. Kemudian gadis kecil itu melangkah menuju kamarnya.
            “Eh, si cantik kak Tasya kenapa jelek gitu sih mukanya?” Kakaknya menjawil rambut belakang Falish. Menggoda Falish yang sedang memanyunkan bibirnya.
            “Kak Tasya tukang Bohong, katanya mau ngajak Falish naik komidi putar.”
            “Falish, kak Tasya kan lagi sibuk buat olimpiade. Tiap hari kak Tasya pulang sore sehabis pelatihan. Kan kak Tasya capek. Nanti kalau olimpiadenya udah kelar, Falish bisa naik komidi putar sepuasnya sama kak Tasya. Kak Tasya janji? oke?” Sebuah kecupan hangat, mendarat dipipi kanan Falish.
            “Janji terus.” Falish berdiri dari duduknya dan berjalan keluar kamar. Tasya hanya geleng-geleng dan masuk ke kamar mandi.
            Baru beberapa langkah Falish berjalan, tiba-tiba terdengar ledakan besar dari arah dapur. Tiba-tiba saja, hawa rumah terasa panas. Entah sejak kapan, tiba-tiba saja api berkibar dimana-mana. Falish panik dan berlari menghampiri Ibunya di dapur.
            “Jangan ke sini sayang, keluar. Falish harus keluar dari rumah.” Falish dengan jelas mendengar perintah ibunya dengan napas sesak.
            “Mama, Kalau Falish keluar mama juga. Kenapa Falish nggak boleh masuk ke dapur?” Falish menangis. Takut, melihat api yang sudah mulai membesar.
            “Mama nggak apa sayang. Mama baik-baik aja kok di sini, cepat keluar Falish. Janji mama, mama minta maaf.”
            “Mama?”
            “Lari sayang, lari.” Falish menyeret kakinya untuk keluar dari rumah. Dia teringat Tasya, dan berlari mencari Kakaknya itu.
            “Kak Tasya, Ayo kita keluar sama-sama.”Falish berteriak sambil terbatuk-batuk. Asap sudah mengepul dan menyebar di seluruh ruangan.
            “Falish, lari. Kak Tasya nggak apa kok di sini. Kalau kamu nggak lari, api ini bisa makan kamu. Nanti, adik cantik kak Tasya nggak ada lagi.” Falish dengan jelas mendengar teriakan Kakaknya. Dengan jelas juga, dilihatnya kakaknya itu menangis, namun juga tersenyum ke arahnya. Api layaknya jeruji yang memenjarakan kakaknya di ruang kamar mandi mereka.
            Falish berlari dengan cepat keluar rumah. Dilihatnya, api sudah melalap rumahnya dengan lahap. Para tetangga tampak berdiri di luar rumah mereka tanpa melakukan apapun. Meraka hanya sedikit panik, kalau kalau api itu juga ikut membakar rumah mereka. Falish benci dengan ketidakpedulian itu.
            Dalam diam, Falish menengadah menatap langit. Falish suka hujan, baginya hujan adalah teman. Dia pun berdo’a agar hujan turun saat ini juga. Satu detik saja. Agar api-api yang jahat itu bisa padam dengan cepat. Ditatapnya langit sekali lagi. Bintang tersebar di setiap permukaannya. Kerlip bintang terlihat di setiap sisi langit. Mustahil. Di malam secerah ini, hujan takkan mungkin turun. Falish membenci bintang dengan cepat. Dalam kesedihan dan ketakutannya, bintang berdiri angkuh dan tersenyum ke arahnya. Bahkan mengahalangi hujan, temannya. Falish tak tau bukan, bahwa bintang dan hujan memang tak bisa muncul secara bersamaan.
**
            “….Sejak itulah, aku menutup diri dari pergaulan. Dan sejak itu juga, Papa membuat jarak denganku. Sejak itu juga aku benci ngeliat bintang.” Falish membiarkan air matanya bergulir.
            Dan aku suka bintang, Falisha.
            “Maaf ya,” Nara mengusap kepala Falish yang saat ini sedang menunduk. Dia tidak ingin Nara melihatnya menangis. Cengeng.
            “Kamu tau nggak, mungkin Papa kamu nggak sejahat yang kamu kira. Ada orang yang pernah cerita ke aku, kalau dia pengen minta maaf sama anaknya, tapi dia takut. Soalnya, selama ini dia menjauh dari anaknya. Dia mencoba lari dari kenyataan bertahun-tahun, tapi ternyata nggak bisa. Dia pun memilih untuk berdamai dengan takdir. Tapi dia nggak tau gimana caranya berdamai dengan anaknya yang terlanjur dia lupakan.” Nara menarik napas panjang. Falish mengangkat kepalanya, matanya sedikit merah.
            “Kamu yakin papaku juga sama kayak orang itu?”
            “Mungkin, kamu nggak akan pernah tau, jika nggak mencoba kan? Coba ajak Papamu bicara. Kalau salah satu dari kalian nggak ada yang mau memulai, semuanya nggak akan pernah selesai.” Nara tersenyum, Falish pun membalas senyum yang tulus itu.
**
            “Falish, sini.” Nara melambaikan tangannya.
            “Maaf ya, aku telat,” Falish terlihat lebih ceria. Matanya yang sayu sekarang tampak bercahaya dan semangat.
            Nara hanya bisa tersenyum. Sebenarnya banyak sekali yang ingin dia bicarakan dengan gadis yang telah menjabat sebagai temannya selama tiga bulan ini. Namun karena kondisinya yang akhir-akhir ini semakin menurun, Nara tidak bisa bicara banyak hal. Tubuhnya melemah.
            “Oh ya Nar, sampai sekarang aku belum ketemu Papa. Aku yakin, tiap hari papa pasti ke rumah buat letakin uang di meja belajar aku. Tapi aku nggak tau kapan. Aku ngerasa bersalah udah bilang kata-kata kasar sama papa malam itu. Itu malam terakhir aku ketemu sama papa.” raut muka Falish kembali terlihat sedih.
            “Jangan putus asa dulu.” Nara berkata dengan suara serak.
**
            “Jangan putus asa dulu.” Nara berkata dengan suara serak. Falish merasa ada yang tidak beres dengan Nara.
            Falish memperhatikan Nara dengan seksama. Benar, pria itu tampak lebih kurus dan wajahnya terlihat pucat. Walaupun dia tersenyum, namun itu belum bisa menutupi rasa lelahnya.
            “Kamu sakit?” Falish menyentuh dahi Nara. Nara menggeleng dengan cepat.
            “Aku hampir lupa. Nih, makan.” Nara mengambil sebuah kotak dan menawarkannya pada Falish.
            “Apa nih? Itu daging ayam ya?” Falish menunjuk makanan yang ditawarkan  padanya.
            “Iya. Ini Fajitas, makanan khas Meksiko. Enak lo. Ada beberapa bahannya yang susah nyarinya di sini.” promosi Nara.
            “Hmm, enak sih. Besok kalau aku ke Meksiko aku harus nyoba makanan ini.”
            “Emang mau ke Meksiko?” tanya Nara. Suaranya terdengar pelan.
            “Iya. Aku pengen banget ke kota Guadalajara. Ngeliat tapatios, penduduk asli di sana. Kayak apa sih kalau mereka lagi memperagakan el jarabe tapatio mereka alias tari topi. Pasti keren. Itu kan tarian andalan mereka. Gedung-gedung bersejarahnya, tamannya.” Falish terdengar antusias.
            “Kalau aku sih pengen ke Kota Puebla aja. Di sana pemandangannya juga indah. Banyak gunung-gunungnya.”
            “Kita ke sananya sama-sama aja.”
            Nara menanggapinya dengan tersenyum. Entah apa makna senyum itu.
            “Kamu mau ikut nggak?” Nara berdiri dari duduknya.
            “Kemana?” Falish membesarkan matanya.
            “Ke makam Ayahku.”
**
            “Nara, makam kak Tasya sama Mamaku juga di sini. Nanti aku mau ngajak kamu ke sana juga. Aku juga udah lama nggak ke sana,” Nara yang berjalan di sebelah Falish hanya mengangguk pelan.
            “Ayah kamu meninggalnya kenapa?”
            “Kata Ibuku sih, ada masalah sama jantungnya.” jawaban yang di lontarkan Nara, terasa aneh di telinga Falish. Ada nada gelisah yang tersirat dalam kata-katanya.
            Falish tak lagi bertanya. Mereka hanya berjalan dalam diam meninggalkan seonggok tanah merah tempat Ayah Nara beristirahat.
            “Kamu tau nggak, aku takut kematian,” tiba-tiba saja Nara berkata seperti itu. Falish tak berkomentar, melainkan terus melanjutkan langkahnya.
            “Aku takut sendirian. Aku takut gelap.”
            “Kamu nggak sendirian. Banyak banget, jiwa-jiwa lain yang beristirahat di sini.” Falish tak tau harus memberikan komentar yang bagaimana. Sama sepertinya yang takut akan kehidupan, Nara justru takut dengan kematian. Falish tak tau, kalau malaikat kematian selalu mengawasi gerak-gerik Nara. Kapan saja, Malaikat itu bisa membawanya. Itulah mengapa Nara tampak lelah, lelah bersembunyi dari kejaran maut yang sewaktu-waktu mampu merenggut nyawanya.
            Falish menghentikan langkahnya. Pria dewasa yang berjongkok mengelus batu nisan mama dan kakak perempuannya membuat matanya serasa berair. Falish berdiri mematung dan tak mau melanjutkan langkahnya.
            “Kenapa?” pertanyaan Nara membuat Falish sadar, bahwa pemandangan di depan matanya bukan ilusi. Ini nyata.
**
            “Kenapa?” Nara bertanya pada Falish yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Gadis itu berdiri mematung. Tatapannya tertuju ke depan.
            Mata Nara mengekori arah mata Falish. Dia menyipitkan mata. Dua buah makam yang di buat bersebelahan. Nara yakin, itulah makam Mama dan Kakaknya Falish. Tapi, siapa pria yang duduk berjongkok di sana? Ah ya, Nara ingat. Dia sudah beberapa kali bertegur sapa dengan orang itu. Bahkan Nara juga sudah beberapa kali menjadi pendengar yang baik dari setiap cerita yang di lontarkannya. Dia ingat, terakhir kali dia bertemu dengan pria paruh baya itu. Pria itu menelponnya sebelum mereka sepakat untuk bertemu. Setelah itu, pria itu tak pernah lagi Nara lihat. Biasanya, ketika Nara mengunjungi makam Ayahnya, Pria itu berpapasan dengan Nara. Mungkin dia baru saja selesai mengunjungi makam salah satu anggota keluarganya. Tapi, apa yang dilakukannya di makam Mama dan Kakak Falish?
**
            “Hallo? memangnya sekarang Om dimana?” Nara menempelkan ponselnya di telinga. Tangannya yang lain masih asyik memilih buku-buku yang terpampang di rak. Ketika sebuah buku yang di carinya telah di temukan, dengan tergesa dia berjalan menuju kasir.
            “Oke, Saya ke sana sekarang. Saya memang ada rencana untuk ke makam Ayah Saya hari ini.”
            Bukk!!
            Nara menabrak seseorang dan buku yang ada di tangannya terjatuh.
            “Sorry.” ucapnya singkat sambil memungut bukunya yang terjatuh. Kemudian dia melanjutkan pembicaraannya di ponsel. Dia tidak melihat, orang yang ditabraknya melengos dan jengkel setengah mati.
**
            “Nara, itu papaku.” Falish menunjuk pria dewasa yang berjongkok di makam mama dan kakaknya.
            Nara tersenyum penuh arti, kemudian membiarkan Falish berlari ke sana.
            Tuhan, rencana-Mu memang selalu mengejutkan. Bravo. Nara terkagum-kagum sendiri dalam hati.
            Falish menghampiri Papanya. Mereka berpelukan. Berbicara tentang hal-hal yang tidak bisa di tangkap oleh telinga Nara. Nara sengaja berdiri agak jauh. Pemandangan yang sedang di saksikannya membuatnya lega. Ketika Falish melambaikan tangan barulah Nara berjalan ke sana.
            “Nara?” Papa Falish terkejut ketika Nara telah mendekat ke tempat mereka.
            “Iya Om. Apakabar?” Nara menundukan kepala dengan sopan.
            “Sudah saling kenal?” Falish mengerutkan kening. Tangan kananya menghapus sisa-sisa air mata yang tadi sempat mengalir di pipinya.
            Kedua pria itu tersenyum menjawab pertanyaan Falish.
Falish merasa senang. Bertahun-tahun dia menunggu hari ini. Hari dimana Ayahnya tidak lagi menjelma sebagai manusia dingin yang sangat kaku. Bahkan selama ini Falish benar-benar merasa Ayahnya adalah orang lain.
**
            “Pernah ketemu papaku dimana?” tanya Falish ketika dia dan Nara duduk di taman Rumah Sakit. Sepertinya tempat sudah menjadi monopoli mereka. Dua hari yang lalu, Falish tidak bertanya apapun. Dia dan Nara berpisah di pemakaman hari itu.
            “Di pemakaman,” jawab Nara. Falish hanya mengangguk-angguk.
            “Falish, kira-kira bintang itu kalau di lihat dari belahan dunia lain sama nggak ya?”  Nara menengadah menatap langit. Bintang sedang mengadakan pertunjukan di sana.
            “Hmm. Mungkin sama, bumi kan bulat,” jawab Falish diiringi dengan hembusan napas panjang.
            “Sampai sekarang aku masih nggak terlalu suka sama bintang.”
            “Sayangnya, aku suka banget sama bintang. Suka banget.” Nara tersenyum.
            “Apa yang nggak kamu suka?” tanya Falish
            “Hujan. Aku nggak suka hujan. Hujan menghalau bintang.”
            “Sayangnya, aku suka banget sama hujan. Suka banget.”
            Falish dan Nara saling bertatapan. Falish menyukai apa yang Nara tidak suka. Sedangkan Nara, menyukai apa yang Falish tidak suka.
            “Perbedaan itu biasa kan?” Nara memecah keheningan mereka.
            “Kamu bawa bukunya kan?”
            “Nih, kenapa? mau pinjam ya?” Falish menyerahkan buku yang waktu itu di belinya di toko buku tempat dia dan Nara bertabrakan.
            Nara mengambil buku itu dan menyerahkan buku yang ada ditangannya yang lain.
            “Eh?” Falish tampak bingung.
            “Takdir Tuhan waktu itu udah pas. Buku kita memang seharusnya ketukar. Buku itu, berisi tentang kehidupan. Kamu bisa belajar tentang seluk beluk kehidupan di sana. Dan buku ini, aku lebih tepat menjadi pemiliknya. Supaya aku bisa belajar tentang kematian.” Napas Nara terdengar kencang.
            Falish benar-benar bingung dan tidak mengerti sama sekali dengan arah pembicaraan Nara. Jadi, satu-satunya hal yang paling tepat dilakukannya adalah diam.
            “Aku pengen liat bintang dari Meksiko.” nada suara Nara yang tadi terdengar sendu terdengar ceria kembali.
            “Ke Meksiko cuma mau ngeliat bintang aja?”
            Nara mengangguk.
            “Aku juga ah. Kalau ke Meksiko mau liat hujan. Warnanya bening juga bukan?” Falish tertawa kecil, Nara pun ikut tertawa.
            Malam semakin merangkak naik. Pendar bulan terlihat damai menemani langkah beberapa orang yang masih terlihat. Bintang terus berdansa hingga fajar menjelang. Hari ini langit benar-benar berpesta besar.
            Nara dan Falish berdiri dari duduk mereka. Mereka saling mengucapkan kalimat Selamat malam dan sampai jumpa. Tiba-tiba Nara mendekat ke arah Falish dan memeluk gadis itu dalam diam. Gadis itu menjalarkan kedamaian. Menetralkan rasa takut yang sejak tadi di rasakan Nara. Gadis mungil yang pertama kali dilihat di atas trotoar jalan raya. Gadis yang pernah mengatakan kalau dia bosan untuk hidup. Gadis yang selama beberapa bulan ini mengisi hari-harinya. Si pemilik mata penuh rahasia. Falisha Tatum.
            “Gracias, Untuk semuanya. Walaupun Cuma beberapa bulan, tapi kenangan itu berarti.  Pertanyaanku terjawab. Kini aku mengerti kenapa aku hidup.”
**
            Falish tak bereaksi apapun ketika Nara memeluknya. Damai. Itulah yang dirasakannya dalam pelukan pria itu. Pria tampan berwajah Eropa. Pria yang menyelamatkannya dari maut yang sia-sia. Pria yang mengatakan kalau dia takut akan kematian. Pria yang selama beberapa bulan ini mengisi hari-harinya. Si jelmaan malaikat kebaikan. Nara Barner.
            “Gracias, Untuk semuanya. Walaupun Cuma beberapa bulan, tapi kenangan itu berarti.  Pertanyaanku terjawab. Kini aku mengerti kenapa aku hidup,” Nara mengatakannya dengan lembut. Pelan. Falish mengangguk.
            “Te Amo.” bisik Nara pelan. Falish hanya mampu menahan napas. Tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
            Setelah itu mereka pun berpisah.
**
            Sepulang Sekolah, Falish langsung menuju Rumah Sakit. Nara. Entah kenapa dari kemarin malam sejak berpisah dengan Nara, pikirannya selalu saja tertuju pada sosok itu.
            Falish memutuskan menunggu Nara di tempat biasa. Di bangku taman Rumah Sakit. Sejam, Dua jam, Nara tidak juga kelihatan. Falish mulai gelisah. Tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya dari belakang.
            “Nara..” pekik Falish senang. Seulas senyum mengembang dibibirnya. Ketika dia berbalik, senyum itu memudar. Kecewa.
            “Ini tante sayang,” ternyata Ibu Nara. Wanita itu tersenyum dengan manis.
            “Nara sedang menunggumu di suatu tempat.” Ibu Nara sekaligus Dokter di Rumah Sakit ini memberi isyarat pada Falish agar mengikuti langkahnya. Falish pun menurut.
**
            Sebuah ruangan beraroma obat-obatan. Ini adalah kali kedua Falish memasuki kamar Rumah sakit. Yang pertama adalah ketika Mama dan Kakaknya masuk rumah sakit beberapa tahun yang lalu. Falish mengamati sekitar. Nara terbaring di sebuah ranjang. Dia tidak sadar. Pertanyaan kenapa menari-nari dalam benak Falish. Apa yang terjadi? Kenapa Nara di sini?
            Falish terpaku pada sebuah meja mungil di sebelah kiri ranjang Nara. Sebuah Foto terbingkai indah di meja itu. Falish ingat betul, Foto itu adalah fotonya dan Nara ketika mereka bermain ke taman rekreasi. Badut berkostum dinosaurus berada di tengah-tengah mereka. Sebuah buku bewarna putih juga tergeletak rapi di sana. Buku yang kemarin malam di tukarnya dengan Nara. Nara mengatakan padanya agar dia bisa belajar tentang kematian dari buku itu. Dan buku Nara yang ada pada Falish, agar Falish bisa lebih mengerti tentang segala liku kehidupan. Kenapa? Apa Nara tau dia akan mati? tapi? !
            “Sejak kecil, Nara sudah terbiasa dengan Rumah Sakit. Dia menderita kelainan jantung bawaan. Katup jantungnya tidak berfungsi dengan baik. Ketika kecil dia sering mengeluh nyeri di dada. Kadang-kadang dia sesak napas dan sering pingsan. Ketika Nara akan di operasi untuk mengganti katup jantung, ventrikel kirinya mengalami kerusakan tetap. Sehingga resiko operasi agak berbahaya. Namun operasi pertamanya waktu itu berhasil. Tapi, belakangan ini Nara menolak untuk mengonsumsi obat-obatan dan melakukan operasi ulang. Sehingga kondisinya jadi semakin lemah dan sekarang beginilah. Kemaren malam dia pingsan begitu saja. Aneh ya, seorang dokter justru gagal menyelamatkan nyawa anaknya sendiri” Falish melihat wanita itu telah siap dengan kemungkinan terburuk. Wanita itu melangkah keluar kamar meninggalkan Falish.
            Falish memperhatikan tubuh Nara yang tidak berdaya. Tubuh kurus dan pucat yang terbaring lemah. Selang infuse menempel di tangannya, selang lain yang di gunakan untuk membantu pernapasan memenuhi rongga hidunganya, sebuah monitor sebagai pendeteksi detak jantung tergeletak di samping kanananya. Hanya monitor itu yang masih menunjukan bahwa tubuh yang terbaring itu masih bernyawa.
            Falish mendekat, tangan kanannya menyentuh permukaan tangan Nara. Tangan itu dingin. Perlahan di sentuhnya pipi Nara. Tak tahan. Falish menumpahkan air matanya. Padahal kemaren malam Pria yang tergeletak lemah ini masih bicara dengannya. Matanya masih mampu menatap. Bibirnya masih tersenyum.
            “Aku janji, aku akan belajar menyukai bintang. Dengan begitu aku nggak lagi merasa di kejar masa lalu. Malam itu bintang nggak salah. Itu takdir keluargaku. Nara, bangun. Waktu itu kita nggak jadi naik komidi putar kan? Kalau kamu nggak bangun, kita naik komidi putarnya kapan? Kita juga udah janji, mau pergi ke Meksiko. Katanya kamu mau liat bintang dari sana. Makanya bangun, nanti kalau kamu bangun kita ke sana. Kita pergi ke Puebla liat gunung-gunungnya,” Falish berkata bergetar. Air mata terus mengalir di kedua ruas pipinya.
            “Nara bangun dong, sepi nih nggak ada kamu,”
            Tubuh itu tetap tak bereaksi, namun Falish bisa melihat bahwa kedua mata Nara yang tertutup itu tampak basah. Nara menangis. Air mata mengalir hangat di sana. Nara mendengarnya. Nara bisa mendengar percakapan monolognya.
            Falish mendekatkan wajahnya ke telinga Nara.
            “Te Amo” bisik Falish lembut.
            Tiiiiiiiiittttttttt……………..
            Tak lama, monitor itu berbunyi panjang. Garis lurus memenuhi layarnya.
            Benar, bintang dan hujan takkan bisa bersama. Sampai kapanpun. Bukan, bukan karena mereka saling membenci. Tapi karena takdir yang membuat mereka tak bisa di pertemukan. Mungkin karena itulah, kita tak bisa bersama. Tapi, pernahkah orang-orang berpikir, bahwa bintang dan hujan bisa saling merindukan? Kenyataannya, aku merindukanmu, bintangku.
            Dulu kau pernah bilang padaku, bahwa kau tidak suka hujan. Tapi sepertinya, kau harus belajar menyukainya karena ketika hujan turun, airnya akan meresap kedalam tanah, tempat dimana jiwamu sedang terlelap. Bukankah kau bilang kau takut kesepian? Sekarang tidak lagi, karena setiap tetes air hujan yang turun sebanyak itulah yang bersedia menemanimu. Aku akan menemanimu dalam jelmaan hujan yang deras.
            Aku pun begitu, harus belajar menyukai bintang, itulah janjiku padamu. Aku takkan pernah lagi menemui potret wajahmu yang damai itu. Ketika aku rindu akan semuanya, ketika aku ingin menatap matamu itu, aku cukup menanti malam tiba. Berlari ke sudut kamar dan membuka jendela. Yang paling terang itu adalah dirimu. Bintang itu adalah jelmaanmu.
            Terima Kasih untuk semuanya. Untuk semua kenangan yang dengan senang hati kau ciptakan bersamaku. Untuk semua hari-hari yang pernah kita lewati, bahkan satu detikpun berharga bagiku. Terima Kasih untuk pemahaman tentang kehidupan yang telah kau tunjukan padaku. Terima Kasih.
**
2 tahun kemudian..
Guadalajara, Meksiko.
            Falish duduk menyender di jendela apartemennya. Dia baru saja menginjakan kakinya di tanah Meksiko. Tanah kelahiran Nara. Tempat impian mereka dulu. Tadi pagi Hujan turun dengan deras, sisa-sisa airnya masih menempel di permukaan jalan. Tadi Falish berkeliling dengan menggunakan payung. Falish terkagum dengan kota yang penuh dengan sejarah ini. Bangunan-bangunan bersejarah masih banyak di temukan. Bangunan tua bewarna abu-abu dan coklat, ditunjang pilar-pilar kokoh dan besar, serta patung-patung yang menghiasi kepala gedung. Namun malam ini langit kembali cerah. Bintang sedang mengadakan pesta dansa untuk menghibur sang bulan. Istana langit tampak meriah dan semarak. Sepertinya di atas sana sedang mengadakan pesta besar-besaran.
            “Bintang di lihat dari sini bentuknya sama aja kok Nar,” Falish bergumam pelan.
            “Coba kamu liat langsung, pasti tambah cantik. Dua hari lagi aku ke Puebla, kita bakal liat pemandangan hijau di sana.” mata Falish terlihat sedih.
            “Falish liat bintang?” Ayahnya mengagetkan Falish.
            “Iya pa, coba Nara juga liat.”
            “Jangan sedih gitu, Nara pasti nggak suka liat kamu sedih,” Ayahnya mengecup keningnya. Lengkap ! Kening untuk Papa, Pipi Kanan untuk Kak Tasya, Pipi kiri untuk Mama!
            “Sana tidur, besok mau keliling lagi kan?” Ayahnya mendorong Falish, Falish mengangguk cepat.
            Selamat Malam Nara, bintangku.
**
            “Hei, cengeng. Nangis kok di sana.” Nara berseru pada gadis kecil yang duduk meringkuk di sudut rumah sakit.
            “Ishh..” Gadis itu melempar tatapan menyeramkan pada Nara. Matanya terlihat sembab.
            Nara minta maaf dan mengulurkan tangannya. Gadis kecil itu menyambut tanpa bersuara. Ketakutan yang sedari tadi di rasakannya memudar perlahan. Bocah lelaki ini membuatnya merasa lebih tenang walaupun tadi seorang dokter perempuan telah menenangkannya lebih dulu.
            Mereka berdua menjadi sepasang teman tanpa mengenal satu sama lain. Beberapa hari kemudian, Nara tak lagi menemukan gadis kecil yang mungil itu.
            Gadis kecil itu tak pernah kembali lagi ke Rumah sakit karena Mama dan Kakak Perempuannya tidak lagi di rawat di sini. Kedua orang itu di kembalikan kerumahnya karena luka bakar serius yang mereka alami tidak bisa di selamatkan.
            Tanpa ada yang menyadari dari mereka bahwa takdir akan selalu bekerja dengan benar. Gadis kecil itu telah tumbuh menjadi seorang Falisha yang tak pernah di sadari Nara. Begitupun sebaliknya.**           

398 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

 

One thought on “Lluvia y Estrella

  1. I like it…
    Selalu suka sama cerita sahila