Posted on

Lluvia y Estrella (About 1)

Ketika hujan turun, bintang akan bersembunyi di balik punggung awan. Dan ketika bintang menyebar di samudera langit malam, hujan takkan tega menganggunya. Hujan dan bintang memang tidak pernah bersama. Bukan karena mereka saling membenci, tapi karena takdir yang membuat mereka tidak bisa dipertemukan.

Apa yang akan kau lakukan jika satu-satunya harapanmu adalah hal yang paling mustahil untuk kau harapkan?

Langkah orang-orang yang lalu lalang keluar masuk Rumah Sakit sudah mulai berkurang. Frekuensinya sudah menurun dibandingkan tadi sore. Mungkin karena jam bezuk sudah berakhir beberapa jam yang lalu. Nara Barner  sedang berjalan ke arah taman rumah sakit yang terletak di bagian belakang. Tangannya merapatkan jaket bewarna coklat yang membalut tubuh jangkungnya. Sesekali tatapannya menerawang menatap langit yang saat ini terlihat semarak oleh formasi bintang-bintang. Inilah yang paling di sukainya. Bintang.

Nara menghirup napas panjang kemudian menghembuskannya kembali. Dia memilih duduk di sebuah bangku taman yang kosong. Dia ingat, bagaimana dia menghabiskan waktunya untuk bolak-balik ke Rumah Sakit ini. Mungkin separuh dari usianya terlewatkan di sini. Itulah mengapa lelaki 18 tahun ini sudah terbiasa dengan aroma obat-obatan. Tatapannya lurus ke arah jalan raya yang ada di seberang taman. Memperhatikan aktivitas orang-orang, mobil-mobil yang saling berpacu, para pejalan kaki yang berusaha melangkah secepat mungkin. Pemandangan inilah yang setiap hari disaksikannya. Pemandangan yang selalu sama. Potret malam di seberang taman Rumah Sakit. Terkadang dia merasa jenuh, merasa bosan dengan siklus kehidupannya yang monoton dan jarang sekali mencoba hal-hal baru.

Tapi sepertinya malam ini berbeda. Bingkai wajah mungil di trotoar jalan itu membuat tatapannya terhenti sejenak. Manis, pikirnya. Nara terus saja memperhatikan sosok itu. Gadis berambut panjang, bermata sayu, dan mengenakan baju terusan hingga lutut. Sederhana, tapi menarik. Nara jadi teringat pada dirinya, kapan terakhir kali dia tertarik pada orang lain. Sebulan yang lalu, setahun yang lalu, dua tahun, ah ya.. mungkin sepuluh tahun yang lalu. Mungkin hanya sekali itu, dan kali ini dia memulainya lagi. Rasa tertarik itu, muncul begitu saja. Padahal dia sangat tau, bahwa tertarik pada seseorang adalah daftar hal-hal yang harus dia hindari.

“Ternyata di sini rupanya. Ayo pulang.” Seorang wanita paruh baya mengagetkan Nara. Wanita itu tersenyum dengan manis. Potongan wajahnya lumayan mirip dengan Nara. Dia tampak lebih muda beberapa tahun dari usianya yang kira-kira memasuki angka empat puluh-an..

“Eh, Madre. Baiklah. Ayo pulang. Aku terlalu serius memperhatikan jalan,” Nara bangkit dari duduknya dan menoleh sekali lagi ke trotoar seberang jalan raya itu sebelum pergi. Gadis itu masih berdiri kaku dengan tatapan sayunya.

“Bukankah itu yang selalu kamu lakukan? Hahaha.” Wanita yang dipanggil Nara dengan sebutan Madre itu tertawa kecil seraya menyenggol lengan Nara dengan sikutnya.

Madre adalah panggilan untuk Ibu dalam bahasa Spanyol. Ibu Nara adalah wanita blasteran Meksiko-Indonesia. Karena itulah wajah Nara sedikit berbeda dari wajah orang Indonesia yang lain, walaupun Ayahnya orang Indonesia asli.

“Oh Madre aku lapar, tiba-tiba aku membayangkan enaknya fajitas.” Nara menepuk-nepuk kecil perutnya kemudian menggadeng tangan ibunya.

Begitulah kedekatan Nara dan Ibunya. Momen seperti inilah yang membuatnya selalu ketakutan, kalau saja tak lagi bisa melihat ibunya dan menyaksikan  wajah-wajah bintang keesokan malamnya.

**

“Hallo..? Papa nggak pulang lagi malam ini?” Falisha Tatum berbicara dengan suara bergetar. Matanya terlihat merah karena dia baru saja menangis.

“Nggak,” jawab suara di seberang sana. Singkat dan datar. Mata Falish kembali berkaca-kaca.

“Oh.” hanya itu yang dikatakannya sebagai perwakilan rasa kecewanya. Dia mematikan ponsel kemudian membantingnya ke atas kasur.

Mata Falish terlihat lelah. Mata yang indah itu selalu menangis setiap hari. Tidak ada tempat berbagi dari semua penderitaannya. Satu-satunya orang yang Falish punya di dunia ini hanya ayahnya. Namun ayahnya selalu saja membuat jarak dengannya. Dia memang tidak bicara apapun, tapi Falish sangat mengerti bahwa ayahnya itu belum bisa menerima takdir masa lalu mereka, dan menyalahkan Falish atas semuanya. Padahal ayahnya tidak tahu, kalau Falish sama menyesalnya. Setiap hari dalam hidupnya selalu saja dikejar rasa bersalah. Siapun di dunia ini pasti juga tidak rela kehilangan ibu dan kakak yang mereka cintai.

Falish benci dengan suasana ini. Dengan cepat dia berlari dari kamarnya yang terletak di lantai atas dan membawa kakinya melangkah kemana saja. Kemana saja. Asal perasaannya tidak lagi sesesak ini.

Falish berjalan pelan di atas trotoar. Malam masih awal, jadi mobil-mobil dan para pejalan kaki masih banyak terlihat. Dia menatap lampu-lampu jalan yang menyala. Bahkan lampu-lampu itu saja yang tidak bernyawa masih punya teman, pikirnya. Diperhatikannya lampu-lampu yang terlihat berjejer di sepanjang jalan. Sendirian. Kata itu yang selama ini dipikul Falish. Tidak ada lagi yang mempedulikannya. Dulu, ketika dia kecil banyak sekali teman-teman yang bisa bermain dengannya. Bahkan ada satu orang yang begitu berkesan. Dan entah sejak kapan, Falish memutuskan untuk menutup diri dari orang-orang. Sudahlah, untuk apa mengingat-ingat masa lalu kalau nyatanya hari ini tak seorang pun yang berstatus menjadi temannya. Tak seorang pun.

Falish menengadahkan kepalanya. Bintang. Saat ini langit terlihat sesak dipenuhi bintang sana-sini. Falisha melengos dan membuang pandang. Inilah yang paling di bencinya. Bintang.

Falish hanya berdiri kaku di tempat. Kakinya serasa membeku. Tiba-tiba saja matanya menangkap punggung dua orang yang berjalan beriringan. ibu dan anak lelakinya. Pemandangan itu mengingatkanya pada sosok ibunya yang penyayang. Coba ibunya masih ada, pasti dia juga bisa seperti kedua orang itu. Falishpun kembali menyalahkan dirinya. Entah sampai kapan dia akan terus dibelenggu oleh rasa bersalah dan berandai-andai setiap waktu.

**

Masih dengan balutan seragam putih abu-abunya Falish melangkah masuk ke dalam toko buku yang terletak tidak jauh di sekolahnya. Falish senang membaca. Setidaknya dengan membaca waktu akan terasa berjalan lebih cepat dan dunia akan terasa berputar lebih kencang. Itulah teori Falish. Mungkin kebiasaan inilah yang membuatnya teralihkan dari rasa sepi dan kesendiriannya. Menenggelamkannya sejenak dari realita yang penuh dengan rasa sakit.

Tangan Falish dengan gesit memilih-milih buku yang tersusun rapi di rak. Tangan cantik miliknya itu berhenti sejenak, mengelus sebuah buku dengan cover sederhana. Bewarna putih polos. Bukan, bukan karena covernya. Tapi judul yang tertera di buku itulah yang membuatnya tertarik. Dengan cepat buku itu berpindah ke dalam genggamannya.

Sorry.” ucap seorang pria yang tanpa sengaja menabrak Falish. Pria itu memungut bukunya yang terjatuh kemudian pergi begitu saja.

Falish melengos sambil menatap pria itu berlalu. Pantas saja dia tidak melihat jalan, ternyata dia sedang menelpon seseorang. Falish meraih bukunya kemudian menuju kasir dan berjalan meninggalkan toko buku.

**

Nara duduk di taman rumah sakit seperti biasa. Hari ini sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kali ini Nara menunggu gadis mungil di atas trotoar waktu itu. Entahlah, gadis itu membuatnya penasaran seharian. Matanya, ya matanya itu menyimpan banyak rahasia. Nara juga tak punya alasan yang kuat kenapa dia begitu penasaran dengan gadis itu. Kenapa dia begitu tertarik pada gadis yang bahkan belum dilihatnya secara jelas. Belum pernah bertemu, belum pernah bicara.

Malam semakin bergerak, namun gadis itu tak muncul. Langit juga terlihat gelap. Gemuruh mulai terdengar, pertanda hujan akan segera turun. Nara menghela napas panjang. Kecewa. Nara akan menunggu gadis itu datang kalau saja gemuruh itu tidak terdengar. Hujan. Nara tidak suka hujan, karena hujan menghalau bintang. Hujan akan membuat langit terlihat suram dan menutupi keindahanyna.

Nara teringat buku yang saat ini sedang dipegangnya. Buku yang sengaja dibawanya untuk menemaninya menunggu gadis itu. Karena takut basah, buku itu di sembunyikan dibalik jaket coklatnya. Baru satu langkah berjalan, kaki Nara berhenti. Bunyi klakson panjang mobil membuatnya menoleh lagi ke belakang. Gadis itu datang. Gadis itu, gadis itu tidak berdiri di trotoar jalan seperti yang seharusnya dia lakukan. Gadis itu……

698 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini