Posted on

Levi & Aljabar George Boole

Oleh : Leonart Maruli

“Matematika sama seperti sebuah bahasa,” ucap Pak Kris, dosen matematika yang  saat ini sedang mengajar di kelas. Levi, yang merupakan salah satu mahasiswanya tercengang dengan ucapan Pak Kris itu, pupil matanya melebar, detak jantungnya melambat, sebuah tanda bahwa Levi sedang dalam konsentrasi penuh. Pak Kris sedang menjelaskan teorema aljabar George Boole[1] di kelas. Levi membatin, apakah ia mampu menciptakan sebuah teorem aljabar yang bisa diekstrak ke dalam bahasa Algoritma? Dalam benak Levi saat ini, bahasa Algoritma tidaklah jauh berbeda dengan lambang-lambang matematika lainnya. Misalnya, di dalam matematika, tanda c adalah lambang konstanta untuk kecepatan cahaya, tanda π adalah lambang konstanta untuk rasio lingkaran yang sudah pasti bernilai 3,14 dan seterusnya. Dalam benak Levi, konstanta merupakan lambang ketetapan ukuran, sama halnya manusia yang sudah memiliki ketetapan ukuran berhidung satu, bermata dua dan seterusnya. Jika terdapat pengeculian seperti adanya manusia yang cacat, misalnya, seseorang hanya memiliki sebelah mata, maka tugas Levi ialah menciptakan lambang aljabar yang baru untuk menegasikan lambang konstanta.

Levi kemudian membayangkan bahwa teorinya nanti akan diaplikasikan ke dalam bentuk aplikasi yang memiliki manfaat praktis. Ia ingin membuat sebuah video game yang didasarkan pada sistem algoritma. Ya, dalam bayangannya ia butuh tenaga seorang programmer untuk membantunya. Levi merencanakan bahwa program yang dibuatnya nanti bersama satu orang atau lebih programmer bisa memberikan hasil yang nyata. Bagi Levi pendidikannya di bidang matematika setidaknya bisa memberikan bukti kepada orang tuanya bahwa ilmu matematika memiliki manfaat praktis jika ia sudah lulus. Selama ini, Levi sudah kadung banyak mendengar berita simpang siur tentang lulusan Fakultas Matematika yang malah bekerja sebagai seorang pegawai administrasi, menjadi teller di bank-bank swasta, dan ada juga yang menjadi editor situs & majalah sains. Dengan tercetusnya ide menciptakan sebuah sistem aplikasi yang dibuat berdasarkan teori aljabar ini, Levi berkehendak untuk merubah dan menentukan nasibnya sendiri.

Saat Levi memikirkan apa yang akan dikerjakannya nanti, pupil matanya masih melebar, detak jantungnya pun masih melambat, di dalam otaknya Levi melakukan perhitungan aljabarnya sendiri dengan cukup rumit, untuk mengandai-ngandai bahwa impiannya tidaklah sia-sia, ia begitu terobsesi – kemudian Pak Kris mengakhiri pertemuan kelas pada hari ini. Detak jantung Levi kembali normal, ia bergegas keluar ruang kelas untuk mencari temannya yang berkuliah Fakultas Teknik Informatika.

Levi berlari menuju Fakultas Teknik Informatika, semangatnya begitu membumbung. Ia akhirnya mendapatkan Gito yang sedang membakar rokoknya dan dengan nikmat menghembuskan asapnya ke udara bebas.

“To, perumusan aljabar dan algoritma kan enggak jauh beda, gue punya ide bikin aplikasi, bantuin gue ya,” kata Levi.

Emangnya lo pengen bikin aplikasi apaan?”

“Aplikasi game yang dibuat dari sistem algoritma yang gue buat nanti,” sahut Levi.

“Dasar Yahudi lo! Persis kaya nama[2] lo?!” jawab Gito enteng.

“Namanya juga usaha To, gue pengen buktiin ke orang tua gue. Please, bantuin gue ya.”

Bantuinnya gimana nih? Harus jelas.”

“Setelah gue bikin teorema dan aksiom algoritmanya, tugas lo masukin teorema dan aksiom itu ke dalam sistem aplikasinya, dan kemudian aplikasinya running deh…”

“Ini tujuannya komersil atau iseng-isengan aja gue tanya?”

“Komersil.”

Gile lo, lo harus cari investor dulu. Peralatan yang mesti kita pakai untuk hal ini udah pasti mahal bukan kaya yang kita pake pas tugas akhir nanti. Modalnya ini mah harus kenceng, enggak sanggup gue.”

“Kalau gue cari orang lain untuk pekerjaan ini gimana? Lo nyesel enggak?”

“Susah dapetin orang yang mau kerjain hal kaya gini dari nol, susah, gue jamin deh.”

Levi beranjak dari hadapan Gito, kemudian ia masuk ke dalam salah satu ruangan kelas di Fakultas Teknik Informatika. Levi memberikan pengumuman disana saat beberapa mahasiswa tampak saling berbincang di jam istirahatnya. Sebuah pengumuman mengenai kerja sama untuk menciptakan aplikasi, Levi memohon bantuan kepada siapa saja yang bersedia untuk membantunya. Ternyata, tak ada yang bersedia. Ia malah dianggap seorang mahasiswa yang aneh karena tiba-tiba salah masuk kelas.

Levi tak kehilangan akal, gagal di dalam kelas maka ia kali ini mencoba membuat pengumuman di halaman kelas Fakultas Teknik Informatika. Ia berbicara dengan nada yang lantang agar terdengar oleh mahasiswa yang banyak berkumpul disana. Hasilnya sama, Levi tidak mendapatkan orang yang ia cari, semuanya menolak dengan berbagai alasan.

Tak bisa bersabar dengan idenya yang ingin diwujudkan, Levi, si mahasiswa yang naif itu masuk ke dalam perpustakaan. Ia ingin meminjam salah satu buku George Boole. Dengan harapan ia bisa mempelajari sistem algoritma yang dibuat para ahli komputer modern dari akarnya langsung. Levi menemukannya, judulnya An Investigation of the Laws of Thought. Buku itu pertama kali diterbitkan tahun 1853 dan yang sekarang ada di tangan Levi adalah cetakan ulangnya yang kesekian kali. Jauh sekali dalam bayangan Levi, pada masa itu, seseorang telah berusaha menciptakan inovasi yang luar biasa. Levi, sebenarnya, hanya tinggal memodifikasinya, sebagaimana George Boole hanya memodifikasi sistem aljabar milik Muhammad bin Musa al-Khawarizmi.

Di rumah, di bawah lampu belajar berwarna kuning keemasan yang redup, Levi membaca karya George Boole itu dari awal. Meja belajar Levi berantakan, banyak memiliki catatan yang ditempelkan di beberapa bagian dinding kamarnya, persis seperti kebanyakan meja para ilmuwan, penulis, seniman yang jarang sekali memiliki meja yang rapih. Levi memperhatikan setiap detail yang tertera dalam buku An Investigation of the Laws of the Thought, ia kemudian menempelkan catatan-catatannya di dinding terhadap bagian mana saja yang ingin ia modifikasi. Levi persis seperti lelaki Bohemian lainnya yang lebih mudah bereaksi terhadap hal-hal yang bersifat delusional. Pikiran Levi membentuk imaji bahwa dirinya suatu saat akan menyejajarkan diri dengan para pencipta dan ilmuwan legendaris. Sebut saja Albert Einstein yang dulunya sering bolos kuliah persis seperti yang dilakukan Levi jika menganggap dosen yang menjelaskan satu materi kuliah membuatnya betul-betul bosan. Empat bulan setelahnya, analisis, kombinasi, repetisi dan modifikasi yang dibuat oleh Levi tercipta. Ia berhasil memahami setidaknya sekelumit pemikiran George Boole dari salah satu bukunya. Tugas kembali menghampirinya, setelah tahapan ini selesai, maka masuklah tahap perumusan. Disinilah letak masalahnya, Levi belum juga menemukan seseorang yang bisa membantunya untuk memasukkan teorem dan aksiom yang dibuatnya ke dalam sebuah sistem aplikasi. Sampai akhirnya tercetus ide, Levi akan memberitahukan teorema dan aksiom yang diperbaharuinya kepada Pak Kris, dosennya. Levi mempersiapkan apa yang telah dibuatnya dalam bentuk kertas-kertas yang sudah dicetak. Berbarengan dengan ujian yang rampung esok hari, Levi berniat untuk mempersembahkan karyanya itu kepada Pak Kris.

Setelah Pak Kris selesai menjaga ujian yang berlangsung di kelas, Levi dengan terburu-buru menghampirinya. Ia mengatakan kepada Pak Kris bahwa ia telah memperbaharui teorema dan aksiom aljabar George Boole, maka dari itu ia ingin memasukkannya ke dalam sebuah aplikasi yang bernilai praktis. Levi membutuhkan bantuan Pak Kris. Pak Kris sekonyong-konyong mementahkannya.

“Lev, kamu masih mahasiswa semester empat. Untuk memperbaharui sebuah teori, kamu harus sekolah di tingkat Magister,” jawab Pak Kris.

“Coba dilihat dulu Pak, siapa tau hasil yang saya buat ini tidak percuma.”

Pak Kris memandang lembaran-lembaran kertas milik Levi yang telah dipegangnya. Tentunya, dengan pengalaman Pak Kris sebagai seorang dosen tidaklah sulit baginya untuk melihat mana teorem dan aksiom matematika yang diverifikasi secara ketat dan tidak.

Pak Kris menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian tertawa dengan cukup keras. Pak Kris tiba-tiba berubah menjadi Kotsuke no Suke seorang guru yang memiliki nada bicara angkuh dan kurang ajar.

“Jelek Lev, jelek,” katanya sambil tertawa.

Pak Kris mengembalikan lembaran-lembaran kertas itu kepada Levi dan pergi meninggalkannya. Levi yang kecewa memonyongkan bibirnya ke depan dan memandang lembaran-lembaran kertas kerjanya itu dengan pandangan mata yang nanar.

 

 

[1] Seorang Matematikawan asal Inggris di abad ke 19 yang merenovasi sistem aljabar yang disebut Boolean Algebra yang mempengaruhi para ilmuwan komputer modern.

[2] Levi adalah salah satu nama suku Yahudi dalam Kitab Perjanjian Lama.

410 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini