Posted on

Lelah Disiksa Rindu

Oleh : Nanda Ruli Maulidiyah

Rinduku padanya cukup menyiksa. Di sepanjang hari-hariku wajahnya terus saja membayangi. Empat tahun setengah bukan waktu yang sebentar. Selama itu pula aku tak bisa meruntuhkan kerasnya hati seseorang yang telah membuatku bertahan mencintainya selama itu. Ia tak pernah tahu siapa sebenarnya aku. Ingin sekali ku tunjukkan padanya siapa aku. Namun aku tak sanggup. Aku tak sanggup bila ia mengetahui siapa aku, pasti ia akan meninggalkanku. Aku tak sanggup bila harus jauh darinya. Pengorbananku selama ini akan sia-sia saja. Tapi dalam ketidakjelasan seperti ini juga akan menambah ketidakjelasan cerita ini. Sampai kapan ia harus dalam rasa penasaran yang telah lama membalut hatinya.
Aku tak tega melihat batinnya tersiksa seperti itu. Dari hatiku yang paling dalam aku ingin melihat canda tawanya secara langsung, melihat senyum manisnya dan mendengar segala keluh kesahnya disaat ia membutuhkan pendengar. Cerita ini berawal ketika ia duduk di bangku kelas XI sedangkan aku duduk di kelas XII. Pertemuan kami bermula di sebuah tempat les bahasa Inggris. Aku sudah jatuh hati padanya sejak pertama kali bertemu. Ia lebih dulu masuk di kursusan tersebut dan aku baru masuk setelah beberapa minggu kelas pendaftaran murid baru dibuka. Kami sama-sama ada di kelas regular sedangkan yang tingkat lanjut ada di kelas intensive. Tak tahu mengapa sejak pertama kali masuk mataku langsung tertuju pada gadis berbaju coklat itu. Ia memang pendiam tapi sebenarnya dia humoris kalau sudah kenal. Aku tak bisa mendekat padanya. Sulit sekali mendapat perhatiannya. Dia tak pernah menoleh kepadaku sedikitpun. Bahkan untuk sekedar bertanya saja aku malu dan sedikit takut. Takut dicuekin. Hanya sekali aku berhasil bertanya pada ia yang pendiam itu. Itu pun karena tutor kami mengacak tempat duduk kami dan kebetulan aku ditempatkan duduk disampingnya.
Rasanya senang sekali, tapi masalahnya apakah aku bisa berbicara dengannya. Dari tempat duduk inilah ada secercah harapan. Disaat tutor menjelaskan dan kami mencatatnya, aku ketinggalan dan aku bertanya padanya. Mau tidak mau ia harus menjawabnya karena teman duduk terdekat adalah ia. Rasanya seperti disiram es di tengah gurun pasir bisa mendengar ia berbicara langsung kepadaku. Berbagai cara telah aku lakukan untuk mendapat perhatiannya. Namun belum membuahkan hasil. Pernah suatu saat aku mengumpulkan tugas yang diberikan tutor kepada kami. Kebetulan aku selesai terlebih dahulu. Setelah mengumpulkan tugas kami harus oral test. Disaat aku akan oral test ia juga selesai mengerjakan dan tutor memanggilnya untuk mengumpulkan tugas yang telah selesai ia kerjakan.
“ Nana kumpulkan tugasnya, sudah selesai kan?”
“ Iya mister”.
Karena tempat dudukku yang berhadapan dengan mister menghalangi jalannya, ia pun memutar arah menjadi lebih jauh. Dari mulutku mengeluarkan kata-kata.
“Kasihan, jalannya jadi lebih jauh” dan apa reaksinya, ia hanya diam sembari berjalan. Entah dia tidak mendengarnya atau memang cuek. Menurutku dia mendengar namun hanya diam saja. Yah, aku sudah paham kalau dia memang cuek. Tapi usahaku tak berhenti sampai disitu saja. Beberapa waktu kemudian, ia maju untuk telling story. Audience pun diberi kesempatan untuk bertanya setelah ia selesai bercerita. Aku yang tak pernah bertanya saat itu bertanya padanya. Lagi-lagi ia tak memberikan respon padaku, tetap saja cuek. Malah ia menunjuk teman-teman yang lain.
“ Gak jadi Tanya wes, gak direspon” itulah celotehku saat ia tak mempedulikanku.
“Iya, silahkan”. Akhirnya ia menunjukku. Senang rasanya. Aku mempunyai pertanyaan kedua. Namun, ia sempat menolaknya.
            “ Mister, dia Tanya dua kali” katanya
            “ Gak apa-apa, ayo Fikri” setelah mister berkata seperti itu dengan terpaksa ia menjawab pertanyaanku. Kecuekannya terus berlanjut sampai kami lulus TC 39. Aku hanya bisa menatap wajahnya dari jarak beberapa meter. Dekat dengannya pun aku hanya bisa menatap sedikit tanpa bisa berbicara dengannya.
            Sejak awal-awal pertemuanku dengannya aku berusaha mencari tahu tentangnya. Ku minta nomor hp nya dari teman yang satu sekolah dan biasanya berangkat bersama. Mungkin hanya lewat cara itu aku bisa dekat dengannya. Aku tahu ia anak yang baik, sopan, lembut dan pandai. Ia menyambutku dengan baik sebagai teman barunya lewat sms setelah melalui perundingan alot dan butuh kekuatan ekstra untuk meyakinkannya. Pernah aku membuat sekali kesalahan hingga membuatnya marah dan tak percaya padaku lagi. Terus aku menghubunginya tapi tak ada jawaban sedikitpun. Hubungan pertemanan kami berhenti disitu. Dalam penyamaranku aku mengaku sebagai seseorang yang berumur satu tahun dibawahnya padahal aku satu tahun diatasnya. Beberapa bulan setelah itu aku menghubunginya kembali. Alhamdulillah ia masih mau membalas sms ku. Benar saja ia membalasnya karena aku ganti nomor agar ia tidak tahu kalau itu aku. Aku beruntung ia tetap mau berteman denganku. Aku menyatakan cinta padanya, dan ia pun langsung memberikan jawaban. Yah, ia menolakku. Ia beralasan ingin fokus sekolah dulu dan masih ingin sendiri. Dari situ aku bisa menyimpulkan bahwa ia memang tidak ingin pacaran dulu.
            Kami sempat bertengkar karena sesuatu. Kesalah pahaman antara aku dengannya membuat ia memutus hubungan denganku. Harus seperti ini lagikah? Gumamku dalam hati. Beberapa bulan kami lost contact lagi. Sekarang ia kelas XII dan akan segera menghadapi ujian nasional. Aku mulai menghubunginya kembali, ingin aku memberinya semangat untuk berjuang menghadapi UN. Bersyukur aku karena ia mau membalas sms ku lagi, tentu saja dengan nomor baruku. Aku merasa berat hati ketika tahu ia melanjutkan pendidikannya di luar kota. Yah, meskipun bukan kota yang jauh sekali dari kota kelahiran kami. Hilang kontak sudah menjadi kebiasaan kami berdua. Memang mungkin salahku yang tak pernah menunjukkan identitas. Aku memang mengaku dengan nama lain, namun feelingnya terlalu kuat. Ia tetap tak percaya dengan identitas palsuku. Ia tak pernah ganti nomor karena nomornya saat ini terlanjur menyebar. Semua teman-temannya tahu nomornya saat ini. Aku pun menghubunginya kembali. Disaat keadaan mulai membaik aku mengungkapkan perasaanku untuk kedua kalinya, namun jawabannya tetap sama. Ia ingin fokus kuliah dan ingin mendapat pasangan yang lebih tua darinya.
            Meski berkali-kali ku jelaskan rasa sayang tak memandang usia, ia tetap dengan pendiriannya. Lost contact terjadi lagi. Hampir sepuluh bulan ia tak pernah membalas sms ku sama sekali. Ingin menyerah saja aku. Namun aku harus terus memperjuangkannya. Sering ia memintaku untuk pergi ke kampusnya, tapi dengan beribu alasan aku menolaknya. Aku takut setelah ia tahu siapa aku sebenarnya ia akan menjauh dan tak mau mengenalku lagi. Aku memang sedang LDR namun bukan long distance relationship. LDR ku adalah lelah disiksa rindu. Yah, aku tersiksa rinduku padanya yang bertahun-tahun tak pernah bertemu dengannya. Ingin sekali aku selalu berada di sampingnya, namun hanya satu hal itu yang membuatku takut kehilangannya.
“Mohon mengertilah aku sayang kamu, aku gak mau kehilangan kamu” gumamku dalam hati”
            Tak jarang juga aku mendapat kata-kata kasar darinya. Tapi aku tak pernah marah, ku terima dengan ikhlas. Aku sadar itu memang salahku. Aku serba salah dengan apa yang mau ku lakukan saat ini. Meski begitu aku tahu ia anak yang baik dan kalem. Dia berkata kasar seperti itu karena dia kesal dan ingin membuatku membencinya. Namun yang namanya sayang diapain juga tetep aja sayang. Suatu ketika, mungkin ia mengujiku, ia minta ditelpon. Disitulah aku mengungkapkan perasaanku untuk yang ketiga kalinya. Namun tetap saja jawabannya. Aku bisa mengerti. Hal itulah yang membuatku bertahan untuk tidak menujukkan identitasku dengan segera. Ketika ia survey tempat magang aku sempat menghubunginya. Aku senang bisa sedikit bercanda tawa dengannya meski awalnya ia sempat marah-marah.
            Aku paham gadis manis imut-imut yang selama ini ku kejar tak ingin pacaran. Itulah yang membuatku lebih ingin menyimpan dulu identitasku. Ingin langsung ku lamar dia ke orang tuanya kelak. Aku hanya bisa stalking facebooknya untuk melihat wajah manisnya. Kadang aku merasa cemburu ketika ia ditandai teman-temannya entah foto bersama atau status. Apalagi kalau fotonya ada cowok. Tapi aku siapa cemburu padanya. Berapa tahun aku tak bisa meruntuhkan  kerasnya hatinya. Aku tahu banyak yang menyukainya namun ia masih menunggu belahan jiwa yang memang ia tunggu selama ini.
            Aku takut kalah dulu dengan orang lain dan akhirnya ku beranikan diri untuk menunjukkan identitasku padanya. Ia mepersilahkanku datang ke kampusnya dengan waktu yang telah kita sepakati. Dari jauh aku melihatnya sedang mencariku. Langsung saja ku telepon dia.
“ Halo, noleh ke kanan aku disitu”.
Ia mengampiriku dan betapa terkejutnya ia ketika melihatku. Sepertinya ia ingat dengan wajahku. Dia berusaha untuk tetap bersikap baik dan ramah. Aku bahagia sekali bisa memandangnya lagi. Ketika aku membicarakan hal yang menyngkut perasaan ia meminta maaf karena ia tak bisa menerimaku. Bahkan ia sempat kesal dan sedikit membentakku.
“Aku ini manusia biasa, punya hati, aku juga lelah dipermainkan seperti ini. Kamu jahat, egois kamu gak punya hati Fikri, berapa tahun kamu nyiksa aku kamu permainkan perasaanku”.
“Aku lakukan semua itu karena aku cinta dan sayang sama kamu, aku gak ingin kamu menjauh dariku, aku gak mau kehilangan kamu Nana. Aku nunggu kamu selam empat tahun setengah”.
“Tapi cara kamu salah , coba kamu ngaku dari dulu rasanya gak akan sesakit ini,aku minta maaf Fikri, sekarang ada urusan yang harus ku selesaikan, aku harap kamu tidak menggangguku lagi”
Ia pergi begitu saja. Saat itu hujan turun dengan derasnya. Air mata yang mengalir dari matanya tertutupi oleh derasnya hujan. Dalam hatiku, ingin sekali ku usap air mata itu agar tak ada lagi kesedihan. Kekhawatiran yang selama ini ku takutkan akhirnya terjadi. Mungkin ini adalah jalan terbaik untukku dan dia. Bukan salahnya juga karena aku juga yang salah. Aku menyesal kenapa harus seperti ini. Hati perempuan mana yang tak kesal dan terluka. Dibohongi selama itu dan didera rasa penasaran yang menyesakkan dada.
“Coba aku mengaku saja dari dulu pasti tak akan seperti ini”. Rindu ini semakin membuatku lelah karena mungkin aku tak akan bisa melihatnya lagi. Ingin sekali aku memeluknya menenangkan hatinya yang tengah kalut itu. Namun aku bukanlah siapa-siapa. Mungkin hanya do’a yang bisa ku panjatkan untuknya. Aku lelah disiksa ridu seperti ini.

360 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

 

2 thoughts on “Lelah Disiksa Rindu

  1. so sweet,,,,,
    hik'z…hik'z…=(
    Jadi inget mantan