Posted on

KONSPIRASI GARAM

Oleh : Shintany Rochmatil Widyananda, S.KH            

Kata orang kalau masak garamnya kebanyakan artinya orang tersebut minta kawin. Mungkin kedengarannya tidak ada hubungannya, tapi kalau lama-lama peribahasa ini dipikirkan berlarut-larut—apalagi didukung dengan status individu yang masih jomblo—peribahasa ini akan disangkutpautkan dengan kebenaran. Lama-lama si jomblo akan berpikir kalau dia hendak minta kawin garamnya dikasih lebih banyak saja sehingga orang-orang tahu kalau dia mau minta kawin. Atau kalau ada jomblo yang masih belum ingin kawin, dia akan mengurangi kadar garam dalam masakannya supaya tidak dikatakan mau minta kawin.
            Markasih memang masih jomblo. Dia tinggal sama neneknya yang bernama Muskinah di tepi lembah Gunung Arjuna. Markasih dikenal sebagai perawan sugih karena mendapat warisan dua belas hektar sawah dari orang tuanya yang meninggal dunia lima tahun lalu. Setiap hari ia pergi ke sawah bersama Muskinah. Muskinah merawat sawah sedang Markasih menanam tanaman lain di tepian sawah. Maksudnya agar sawah mereka terlihat lebih indah juga ada manfaatnya, jadi mereka tak perlu lagi pergi ke pasar untuk membeli sayuran atau buah-buahan.
            “Sih, pangananmu ora penak blas. Gak enek rasane,” komentar Muskinah suatu hari.
            “Opo’o toh, Mbah. Wong wes dikek’i garam ambek mrico,” timpal Markasih.
            “Garam opone, iki gak enek rasane. Garame mek sitik,” timpal Muskinah tidak mau kalah.
            Markasih yang penasaran langsung mencoba masakan buatannya untuk Muskinah dan menyadari bahwa ia memang lupa menambahkan garam dalam masakan tersebut.
            “Oh iyo lali, Mbah. Sesuk wes tak kek’i maneh sing akeh. Lagian Mbah wes banyak makan asam garam. Nek keakeahan engkukdiabetes, Mbah.”
            “Ancene arek saiki gak isok dikandani.”
            “Yowes, Mbah. Sepurane yo. Khilaf, Mbah, khilaf.”
            Rupa-rupanya Markasih mengambil banyak pelajaran dari garam setelah kejadian itu. Mungkin dia ngelantur mengatakan kalau kebanyakan garam bisa bikin diabetes, tapi satu hal yang dia tahu tentang garam dari internet di komputer warnet sore itu adalah: banyak makan asam garam artinya telah banyak melawati berbagai hal atau pengalaman. Mungkin Mbah sudah bosan dengan pengalaman yang dilaluinya selama ini, pikir Markasih.
            Sekembalinya dari warnet, ia melihat sebuah mobil ambulan dan dua minibus di depan rumahnya. Markasih mendadak panik. Ia memikirkan neneknya mungkin sedang dalam masalah. Jangan-jangan Mbah beneran diabetes, pikirnya. Markasih langsung berlari ke dalam rumah dan berteriak memanggil sang nenek.
            “Mbaahh…”
            Betapa terkejutnya Muskinah mendengar teriakan Markasih. Ia segera menarik Markasih ke kamar tidur sebelum sempat mengenalkan cucunya pada tamu yang telah lama diundangnya namun baru sekaranglah datangnya.
            “Lapo kon teriak-teriak. Ora isin ambek tamu,” Muskinah memarahi Markasih.
            “Tamu sopo toh, Mbah? Enek ambulan depan rumah aku kira Mbah kenapa-kenapa,” Markasih masih belum tenang.
            “Wes ojok ngelantur maneh. Ndang ganti baju ada yang mau ketemu sama kamu.” Muskinah segera keluar menuju ruang tamu meninggalkan Markasih yang bergegas mencari baju ganti.
            “Nah, ini Markasih. Markasih cucu kesayangan Mbah. Markasih, ini Mas Bowo dan keluarganya. Mas Bowo kerjanya sebagai supir ambulan di rumah sakit daerah, makanya baru sempat kesini. Mas Bowo sama keluarganya kesini mau minta kamu untuk jadi istrinya Mas Bowo.” Bagai petir di siang bolong Markasih tidak pernah menyangka bahwa Muskinah berniat menjodohkan dirinya, padahal Markasih baru saja berusia 19 tahun.
            “Jadi Mas Bowo yang markir ambulan di depan rumah?” tanya Markasih.
            “Iya. Saya harap kamu tidak keberatan, terlebih niat saya baik,” jawab Mas Bowo.
            “Tapi usia saya masih 19 tahun, saya juga tidak melanjutkan SMA semenjak orang tua saya meninggal.” Markasih merendah, ia sebenarnya tidak tahu harus senang atau sedih menghadapi lamaran orang. Sama sekali di benaknya tidak pernah terpikir untuk sebuah perkawinan yang begitu dini.
            “Tidak apa-apa. Saya siap akan menjaga dan merawat Markasih. Umur saya sekarang 27 tahun dan sebelum bekerja sebagai supir ambulan dulunya saya pernah bekerja sebagai tukang masak di warung masakan padang. Saya dulu hidup miskin bersama orang tua dan keempat adik saya. Saya tidak punya sawah atau kebun seperti Markasih, rumah kami juga tidak sebagus Markasih. Namun sekarang Alhamdulillah saya sudah bisa menyekolahkan adik-adik saya sampai bangku kuliah dan membelikan mobil untuk orang tua saya, sedang adik saya yang kedua sekarang adalah seorang pengusaha dan memiliki rumah sendiri,” jelas Mas Bowo dengan suara rendah dan lembut.
            “Mas Bowo ini anak pertama dan masih tinggal bersama kami. Sedangkan adik-adiknya yang lain sudah merantau dan ingin pula segera menikah. Namun kami menginginkan Mas Bowolah yang menikah terlebih dahulu. Kata orang kalau anak pertama dilangkahi nanti jodohnya malah semakin sulit. Jadi dengan penuh harap Markasih menerima lamaran kami,” pinta seorang wanita tua yang merupakan ibu dari Mas Bowo.
            “Jadi Mas Bowo ini sudah banyak makan asam garam, yah?” tukas Markasih. Muskinah yang tidak memahami maksudnya ingin saja menjitak kepala si cucu. Namun pertanyaan ini segera dijawab oleh Mas Bowo dengan sopan seraya tersenyum.
            “Alhamdulillah memang banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari kehidupan saya selama ini. Insya Allah semua itu bisa menjadi bekal untuk saya berumah tangga kelak.”
            Malam yang semakin mendekat tidaklah menghantarnya tetamu mereka untuk segera pulang. Malah Muskinah mengajak mereka untuk makan malam dengan masakan si cucu, Markasih. Alih-alih untuk menunjukkan keterampilan cucunya dalam memasak, agar dikatakan sudah siap menjadi istri.
            Masakan sederhana sayur bayam dan nila goreng pun dihadangkan beserta sambal terasinya. Muskinah mempersilakan tamunya untuk makan terlebih dahulu. Seketika momen kaku terjadi setelah mereka mencicipi sedikit sayur buatan Markasih itu.
            “Wah, Markasih ternyata memang samalah berniat ingin menikah juga,” ujar ibu Mas Bowo memecah keheningan.
            “Ora..”
            Semua pandangan tertuju pada Markasih yang nyeletuk tinggi menggunakan bahasa Jawa.
            “Emm.. Maaf, Markasih ini kalau di rumah terbiasa bahasa Jawa dengan saya. Maklum anak jaman sekarang sudah susah diajari kromo. Silakan dilanjutkan lagi makannya,” Muskinah menahan geramnya sambil mencubit paha Markasih. Markasih hanya bisa tersenyum masam paksa sambil menaruh dua sendok nasi di piring Muskinah.
            Alhasil upaya lamaran malam ini adalah menahan asinnya sayur bayam buatan Markasih. Setelah berbincang menetapkan tanggal, Mas Bowo dan keluarganya pulang dengan mendapati satu hal yang meyenangkan: Markasih selama ini memang ingin menikah dirasa dari masakannya yang kelebihan garam. Di rumah, Muskinah lebih banyak lagi mendapati hikmah. Bahwa banyak makan asam garam hanyalah sebuah ungkapan yang mengartikan banyaknya pengalaman yang telah dilalui. Bahwa masakan Markasih yang terlalu asin bukanlah berarti karena ia ingin menikah, tapi karena sebelumnya Muskinah memarahi Markasih yang masak dengan garam terlalu sedikit.
            Lain halnya dengan apa yang didapatkan oleh Markasih. Alhamdulillah Mbah tidak jadi diabetes.

314 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini