Posted on

KITA

Oleh : Suci Purnamayanti

Lima tahun silam, ya….. sudah cukup lama janji itu di ucapkan olehnya. Namun tak ada satu tindakan pun yang dilakukan olehnya, dan akupun hanya bisa pasrah……

Hari ini seperti memulai hidup baru untuk diriku. Dengan lingkungan baru, teman baru, pekerjaan baru dan segala yang belum aku tahu kedepannya. Aku sudah lupakan dirimu si lima tahun silam, tapi tiba-tiba dirimu hadir dalam hidup baruku. Aku baru saja memulai, mengapa ada kamu dalam hidupku lagi, benakku berbicara.

Dirimu hadir kembali dalam dunia kerjaku. Dunia terasa sempit jika yang kulihat hanya kamu selalu. Sesak dada ini rasanya. Lima tahun kucoba lupakan, lima tahun aku belajar untuk bahagia tanpamu dan lima tahun aku belum bisa melupakanmu.

Andreas….namamu selalu teringat dihati dan pikiranku. Dirimu seperti tak mengenalku lagi, dirimu memperkenalkan diri sebagai manager design. Aku mencoba untuk biasa saja tanpa ragu kujabat tangan yang lima tahun lalu yang memakaikan emas indah dijemari ini. Masih terasa seperti dulu. Kutampikkan rasa ini agar dirimu tak pernah ada didalam diriku lagi. Mulai kusederhanakan dirimu dalam hatiku, yaitu sebagai atasan baruku. Aku hanyalah seorang asisten. Tak ada yang ingin kumulai lagi denganmu, walaupun seribu bahkan milyaran pertanyaan ingin kutanyakan paada dirimu.

Setiap hari sepertinya harus lebih bisa tersenyum lebar dihadapmu agar kau tak perah mengira aku sedih kehilanganmu. Sampai di hari ke-7 dirimu memanggilku ke ruanganmu, bukan bertanya soal pekerjaan yang menumpuk melainkan perasaanku. Berdesir hati ini ini kau buat. Gugup aku menjawab, tak ingin aku terlihat lemah, biarlah aku terlihat kejam toh dirimu bukan siapa-siapa lagi untukku, diriku mulai menguatkan diri.

“masih adakah aku dihatimu?’’pertanyaan dirimu yang membuatku bingung harus menjawab apa. Kukatakan iya, tapi hatiku sakit karena dirimu, kukatakan tidak namun aku masih sangat menyayangimu.

Aku hanya terdiam dan mencoba menguasai diriku sendiri agar tak salah berbicara. ‘”Maaf pak, ada yang salah dengan pekerjaan saya?’’ aku mencoba berusaha mengalihkan pembicaraannya.

‘’Ini bukan masalah pekerjaan lia, ini soal kita dulu, maaf jika dahulu aku meninggalkanmu, dan aku punya alasan untuk itu, mungkin saat ini aku belum bisa memberitahu dirimu lia, tapi tak bisakah kamu berkata jujur kepadaku….apakah masih ada diriku dihatimu?’’tanya andreas.

“Tidak’’, jawabku singkat.

‘’Jujurlah lia’’, kata andreas seakan dirinya tahu akan isi hatiku.

‘’Tapi sepertinya ada yang kamu tutupi dariku?’’Apakah kamu masih mengharapkan diriku kembali padamu?’’tanya andreas.

Seperti tak mau kalah darinya mengatakan hal itu. Aku hanya diam beberapa detik untuk memastikan kepadanya, bahwa aku sudah tak ada rasa dengannya.

‘’Maaf pak andreas, mungkin bapak mengira saya masih memiliki perasaaan terhadap bapak??bapak salah. Saya sudah tak ada perasaan lagi terhadap bapak, menurut saya bapak hanya bagian dari masa lalu saya dan saya akan menjadikannya pelajaran. Soal pertunangan kita yang bapak batalkan sepihak dan bapak tinggalkan saya tanpa ada alasan…., sudahlah saya tak ingin mendengarkan alasan bapak, sekalipun bapak ingin menjelaskannya. Saya disini ingin bekerja dengan tenang tanpa ada masalah lalu, pribadi ataupun lainnya. Jika memang bapak tak suka dengan kehadiran saya disini, sekarang juga saya akan mengundurkan diri sesuai dengan keinginan bapak agar masalah ini tak mengganggu pekerjaan bapak. Ada lagi yang ingin bapak sampaikan selain masalah ini?’’tanyaku.

Andreas hanya mematung, mungkin dirinya tak percaya aku akan berbicara seperti ini.

‘’Baiklah lia, kembalilah keruanganmu, mungkin saat ini sampai sini dulu pembicaraan kita. Dan aku sudah tahu jawabannya apa saat ini. Terimakasih lia, ‘’silahkan’’. Suaranya mengecil dan tak terdengar angkuh.

‘’Baiklah pak, terima kasih. Jika bapak menyuruh saya mengundurkan diri, saya siap!’’ agak tegas namun terdengar gemetar.

Aku keluar dari ruangannya dengan tatapan kosong. Kududuk di kursi dengan hanya memandangi layar komputer yang menyala dengan dikanan kiri laporan yang harus kupersiapkan untuk meeting dirinya.

Kutengok jam ditanganku, sudah pukul lima sore. Kumatikan komputernya, kuberkata dalam hati…sudahlah beesok saja kuselesaikan laporan untuk meetingnya, sudah tak konsentraasi lagi diriku.

Hari ini aku bertemu dengannya kembali, dia menyapaku seakan-akan kemarin tak ada yang terjadi diantara kami. Aku mencoba seperti dirinya. Kuberikan laporan beserta slide untuk meeting dirinya. Dirinya bersikap dingin. Dalam hatiku berkata, baguslah agar kudapat melupakannya waalaupun dirinya dihadapanku sekalipun.

Mataku lelah, mungkin karena aku harus mengerjakan semuanya dari pagi. Siang menjelang bahkan akupun malas unuk menyantap makan siangku, pada sore harinya aku tertidur lelah dimejaku, sampai saat jam pulang dirinya membangunkanku. Caranya masih sama seperti dahulu yang dirinya lakukan kepadaku. Lembut kudengar suaranya. Kucoba bangun dengan kesadaran belum cukup penuh. Aku kaget dirinya berdiri disampingku, dengan gelas yang mengepul. “minum dulu sebelum pulang ya”, katanya. Aku hanya mengangguk saja..

Semenjak kejadian itu, aku dan dirinya hanya berbicara soal pekerjaan saja. Sampai pada suatu saat dirinya mengundang kami semua untuk acara pernikahan dirinnya. Aku terkesima melihat undangan indah dihadapanku. Disitu tertulis jelas nama dirinya dengan seorang wanita yang tak pernah kukenal namanya.. apa hanya seminggu jarak membagikan undangan ini dengan hari H-nya. Aku seperti memprotes sendiri. Bingung ini perasaan apa. “Come on lia, you don’t need andreas” mencoba diri ini tak dikuasai hal aneh. Aku mencoba bahagia dengan dirinya yang akan menikah dengan siapalah itu, semoga perempuan itu tak bernasib sama denganku. Semua divisi di kantor kami membicarakan dirinya. Andreas memang dikenal tampan, baik hati, cerdas dan mapan. Tapi tidak untuk diriku. Aku hanya tersenyum indah jika namanya sedang dielu-elukan, ingin kukatakan hal ini,”kalian tidak pernah merasakan yang aku rasakan” dengan muka yang tak enak pastinya.

Kuhitung hari H andreas. H-4 jelang perrnikahannya, aku penasaran dengan siapa dirinya akan menikah. Kucoba bertanya dengan teman sekantor yang tahu tentang semua hal dikantor, miss rempong sebutannyaa, namanya alin. Alin menceritakan siapa calon andreas. Ternyata wanita itu dijodohkan keluarganya, dan andreas pun hanya sekali bertemu dengan perempuan itu, ketika saat mereka berdua melangsungkan p/ertunangan. Kaget aku dibuatnya. Apa….?dirinya baru sekali bertemu tapi sudah mau menikah? sedangkan aku dengan andreas…seperti tak adil untuk diriku, tapi ya sudahlah ini yang namanya jodoh mungkin.

H-2 perrnikahan andreas. Aku memang sudah memiliki kekasih, walaupun tak perrnah ada yang tahu. Aku menceritakan semua perasaanku yang tak menentu kepada yudha, kekasihku. Datar, begitulah yudha dihadapanku atau bahkan dihadapan semua orang. Ada perasaan atau tidak dia terhadapku, biarkanlah. Setidaknya yudha orang yang baik dan cocok untuk dijadikan pendamping hidup. Suaranya lembut namun terdengar tegas,”kamu masih mencintainya?”inilah pertama kalinya yudha berkata seperti itu terhadapku dengan ekspresi datar yang tak pernah kutahu bagaimana perasaannya. Aku seperti mengkhianati yudha yang baiknya sungguh luar biasa. Aku hanya tertunduk tak berani aku tatap wajahnya. “Mungkin ini jawaban kamu lia”. Kamu ingin kembai ke andreas?Jika ingin aku akan membantumu sebisaku. Tapi sayangku lia sadarlah inilah takdir untuk kalian, ikhlaskanlah andreas untuk perempuan itu. Inilah yang terbaik lia sayang.”

Wajahku tertegun mendengar yang yudha katakan kepadaku. Yudha begitu sabar, aku tak rela melepasny, namun masih ada perasaan yang mengganjal dihati untuk andreas. Ahirnya yudha mengijinkanku untuk menemui andreas, hanya berdua saja dan menyuruhku untuk jujur dengan rasa yang kupendam dihati. Yudha  pasrah jika memang nantinya aku akan kembali kepada andreas. Bahkan yudha sendiri yang mengirim pesan singkat dari handphoneku ke andreas. Aku seperti jatuh cinta kepada yudha. Tapi bagaimana pun pesan singkat itupun sudah terkirim, dan andreas setuju menemuiku di café dahulu kami sering bertemu.

Masih dihari yang sama namun hari sudah gelap. Aku canggung melihat andreas ada dihadapanku, padahal setiap hari kami bertemu. tapi tak ada perasaan lagi untuk andreas. Tapi benar kata yudha aku harus jujur dulu bagaimanapun nanti keadaannya. Kuceritakan semua tentang perasaanku terhadap dirinya, andreas. Andreas menyimak dan meminta maaf atas apa yang dirinya lakukan kepadaku. Dirinya juga belum memiliki perasaan cinta kepada calon isterinya. Dirinya hanya menuruti apa kata orangtuanya saja, dan andreas menceritakan mengapa dia meninggalkanku, bahwa dirinya mengalami kecelakaan yang mengharuskan dia hanya berbaring di rumah, karena patah kaki dan handphonenya hilang ketika kecelakaan itu terjadi. Sekalipun dirinya ingat nomer handphoneku, namun orangtua andreas melarangnya untuk menghubungiku karena tak mau aku dengan dirinnya yang cacat. Tapi bagaaimana dirinya bisa berjalan?aku bertanya dalam hati, seperti berbicara dari hati ke hati dirinya menjelaskan bahwa dia mengamputasi kakinya dan menggantinya dengan kaki palsu. Sontak aku kaget mendengarnya, berrderai air mataku. Dirinya berkata bahwa perempuan yang dijodohkan itu sudah tahu dengann kondisi dirinya. Aku hanya minta maaf karena berpikir buruk terhadap dirinya. Dan aku berkata,”mungkin aku tak sanggupp jika kamu menjadi suamiku”. Andreas tersenyum. Aku tahu lia kenapa kamu mengatakan itu, kamu tidak ingin menghancurkan pernikahanku kan lia?Mungkin inilah takdir tuhan untukku, kata andreas. Aku hanya menunduk sambil tersenyum. Aku dan andreas berjanji menjadi teman baik mulai saat ini, dan tak memberitahu siapapun kondisi dirinya.

H-1 hari pernikahan andreas.. bahagia diriku kini, seeperti tak ada beban lagi. Aku telah melepaskan andreas, jika dibilang jahat tapi inilah takdir. Mungkin Tuhan tak ingin aku sedih memiliki suami yang tak sempurna, maka tuhan mengirim yudha dengan segala kesabaran yang tiada batas. Walaupun dirinya tak sesempurna andreas namun dia memiliki hati seperti mutiara yang bersinar. Aku meminta yudha menjemputku di kantor. Kuberikan hadiah kecil untuknya. Sebuah jam tangan couple, tapi yudha malah memberikanku sebuah cincin dan memintaku untuk menemani didalam hidupnya untuk selamanya. Dia berkata, aku akan melamarmu resmi malam ini dihadapan kedua orangtua kita. Tuhan memberikan hadiah terindah…. Yudha…. Dan aku baru merasakan jatuh cinta lagi saat ini. Malam ini aku dan dia mengikat diri menjadi kita. Setelah aku dan yudha datang kepernikahan andreas, aku pun memberikan kabar gembira kepada andreas, bahwa 2 minggu setelah dirinya menikah, yudha akan menemaniku sebagai pasangan hidupku.

Aku baru menyadari….ketika jatuh cinta, ketika aku dan kamu menjadi kita, maka tak ada lagi alasan memberikan ketulusan hati

 

 

 

END

401 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini