Posted on

Kisah Seorang Pria Tangguh

Dua orang remaja yang telah bersahabat sejak SMP. Namanya Dika dan Isma yang keduanya berusia 20 tahun, yang sekarang sedang kuliah di salah satu universitas di Jakarta. 6 tahun lamanya mereka menjalani aktivitas bersama seperti layaknya seorang kekasih, tetapi mereka hanya sebatas sahabat saja. Saat hari libur, Dika diajak ke suatu tempat untuk bertemu dengan Isma. Lalu, Dika datang sendiri menunggu kedatangan Isma. Sampai Isma tiba, Dika melihat Isma bersama seorang pria. Diperkenalkanlah pria tersebut kepada Dika. “Hai Dika, sudah lama menunggu? Kenalin ini Roy, dia pacar aku”. Berbincang-bincang sampai hari menjelang malam.

Setelah pertemuan itu, Dika tidak pernah bertemu lagi dengan Isma dimana dia kuliah bersama, tetapi tidak tampak sosok Isma hadir disana. Dika bertanya-tanya dalam pikirnya, “Dimana Isma sekarang?”. Esok hari, Dika menunggu di depan pintu gerbang kampus sampai jam mata kuliah dimulai. Dan tidak ada kehadiran dari Isma. Seminggu kemudian, Dika mencoba mencari tahu tentang keberadaan Isma. Mencari dimana tempat tinggal Isma sekarang, bertanya-tanya kepada Orang tua Isma, segala usaha untuk bertemu dengan Isma. Sebulan kemudian, Dika mulai terbiasa tanpa kehadiran Isma dalam tiap aktivitasnya.

Satu tahun berlalu, Isma tiba-tiba datang ke Kontrakan Dika pada malam hari. Lalu, Isma menitipkan sebuah keranjang indah yang dilapisi kain hangat, dan Isma berpesan kepada Dika, “Tolong, aku titip ini (keranjang). Sayangilah dia seperti rasa sayang kamu sama aku”. Kemudian, Dika terkejut dan terdiam sesaat. Isma pun menghilang begitu saja. Dika berpikir, “Ini rasanya seperti mimpi, aku bertemu dengan Isma, tapi apa yang ada di keranjang ini?”

Dika melihat isi keranjang tersebut, dan ternyata ada seorang bayi mungil yang sepertinya baru sebulan dilahirkan Isma. Dika panik saat itu juga, langsung mencari keberadaan Isma. Setelah Dika sampai di kediaman orang tua Isma, tidak tampak seorang pun hadir di rumah itu. Dan Dika berpikir, “Apa mereka sudah tidak ada disini”. Lelah mencari, Dika menyusuri jejaring sosial Isma, mencari tahu keberadaan tentang Isma yang sebenarnya.Setelah kejadian semalam itu, Dika memutuskan untuk pulang ke rumah dan pergi dari kontrakannya itu. Setibanya di rumah, Dika menceritakan semua yang telah terjadi semalam kepada orang tua Dika. Meminta nasihat, apa yang harus Dika lakukan? Dan Ibu Dika berkata, “Itu sebuah amanat untuk kamu, sebaiknya kamu rawat bayi mungil itu”. Bayi mungil itu seorang perempuan, yang diberi nama Putri oleh Dika. Setelah mendapat nasihat dari orang tua Dika di rumah, Dika langsung mencari pekerjaan untuk menghidupi Putri seorang diri. Dan orang tua Dika berniat membatu mengasuh Putri saat Dika bekerja.

Satu tahun kemudian, Dika mendapat sebuah kabar berita dari layar kaca. Bahwa, Dika mengetahui keberadaan Isma. Setelah itu, Dika pergi ke tempat dimana Isma berada, dan Isma pun telah tiada. Isma, telah meninggal dunia karena kecelakaan maut yang menimpanya. Dika bercerita kepada orang tua Isma tentang Putri. Tetapi, orang tua Isma tidak percaya dengan cerita Dika itu. Lelah mencoba meyakinkan cerita itu, Dika pergi ke pemakaman Isma berada. Dika berlutut sambil menangis berkata, “Isma, kenapa kamu meninggalkanku dengan pesan yang memberatkan kehidupanku? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu tidak bisa jujur?” Lalu, Dika beranjak pergi dan melupakan semua yang dialami hari itu. Isma yang pernah berada dipikirannya, sudah tergantikan oleh Putri seorang putri dari Isma. Mendidik dan membesarkan Putri seorang diri.

6 tahun setelah kejadian itu, Putri sekarang berusia 7 tahun. Dika tak pernah lelah untuk mendidik Putri menjadi seorang Putri. Mulai dari membiayai kebutuhan Putri, sekolah Putri, semua Dika lakukan untuk Putri seorang. Putri yang sekarang duduk di Kelas 2 SD (Sekolah Dasar), bertanya kepada Dika, “Papa, dimana mama? Kenapa mama enggak pernah pulang?”. Lalu Dika menjawab, “Mama lagi pergi ke luar negeri, nanti kita nyusul mama kalo kamu udah besar nanti”. Putri pun tersenyum mendengar hal itu.

Suka duka yang dialami Dika, membuahkan hasil yang indah yaitu seorang Putri. Putri cantik seperti sang ibu, Isma. 10 tahun berlalu, Putri sekarang berusia 17 tahun dan sedang duduk di kelas 3 SMA (Sekolah Menengah Atas). Menjalani hidupnya tanpa beban dipikirannya. Dika yang sekarang berusia 37 tahun, sangat bergembira melihat Putri yang dia besarkan sendiri, saat ini sedang mengikuti Ujian Akhir Nasional.

Saat Putri sudah lulus, Putri bertanya kembali, “Papa, aku lulus.. aku lulus.. Papa, mama dimana? Mama pasti seneng ngeliat aku lulus”. Dika menjawab, “Betapa bahagianya papa ngeliat kamu sebahagia ini, besok kita akan menemui mama kamu..”. Putri berkata, “Beneran pa? kita ketemu mama nanti?” Dika menjawab, “Iya, besok kita ketemu mama..”

Keesokkan harinya, Dika mengajak Putri ke pemakaman dimana Isma berada. Putri bertanya, “Papa, kok kita ke tempat ini? Memangnya mama ada disini?” Setelah sampai di depan makan Isma, Dika menjawab, “Disinilah, tempat dimana mama kamu tertidur.. (berkaca-kaca)” Kemudian, Putri pun menangis melihat makam Isma sang ibu. Dan Dika berbicara kepada makam Isma, “Is, semua pesan kamu sudah aku lakukan. Aku sudah membesarkan Putri seorang diri, mendidiknya, merawatnya hingga saat ini. Dan, inilah saatnya kupertemukan Putri kepadamu.”

Setelah dari pemakaman itu, Dika dan Putri pergi ke sebuah Mall untuk merayakan kelulusan Putri. Sesampainya di Mall tersebut, Dika bertemu dengan sang mantan kekasih Dika waktu SMA dulu, Nia namanya. Nia, menghampiri Dika dan Putri yang tengah merayakan kelulusan Putri dan menyapa mereka, “Hai Dika, apa kabar? Lama kita enggak ketemu yah.” Dika yang terkejut membalas, “Hai Nia, senang bisa ketemu sama kamu disini.” Nia memperkenalkan seorang pria yang bersama dirinya, “Kenalin ini suami aku, namanya Roy”. Dika langsung teringat tentang Isma, dengan sabarnya Dika menjawab “Salam kenal yah, kenalin ini anakku, Putri” Nia dan Roy terkejut, mereka yang sudah berkeluarga tetapi belum mempunyai momongan. Lalu, Nia bertanya, “Loh, ini anak kamu? Istri kamu dimana?” Dengan sabar Dika menjawab, “Tanyakan semua hal itu pada suamimu!”

Setelah kejadian itu, terbongkarlah Roy seorang pria hidung belang yang memanfaatkan kasih sayang tulus seorang wanita di masa lalu. Dengan malu, Roy dan Nia pergi begitu saja. Dan Putri, tidak memperdulikan mereka. Putri hanya ingin bahagia saat ini, merayakan kelulusannya.

=================== S E K I A N ===================

485 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini