Posted on

KEKASIH-KU TERCINTA

Oleh : Moses Pangihutan Marpaung

Malam itu ngga sengaja gue mengomentari apa isi status junior gue. Tanpa sengaja pula gue melihat lebih detail foto yang lagi dipakai oleh junior gue di salah satu akun sosial medianya. Gue melihat sebuah senyum manis didalam foto tersebut, di mana tanpa sadar gue mengeluarkan senyum kecil dari mulut ini setelah melihat foto tersebut. Tanpa basa-basi, gue langsung menanyakan ke junior gue siapa nama wanita yang lagi disamping dia.
Gue     : ”Itu siapa yang disebelah elu?”
Junior  : “Itu temen gue, kenapa emangnya?”
Gue     : “Gpp. Emang gak boleh nanya yah?”
Junior  : “Boleh aja.”
Gue     : “Boleh minta kontaknya?”
Junior  : “Boleh, tapi jangan bilang dari gue yah!!”
Gue     : “OK.”
Setelah mendapatkan kontak si wanita yang mempunyai senyum manis itu, gue dengan memberanikan diri untuk mencoba menghubunginya. Yahh, awalnya gue juga bingung sih harus mulai dari mana obralan kita nanti. Yang gue tau sih kalau mau memulai percakapan dengan wanita yang baru kita kenal kuncinya yah cuma satu yaitu SKSD aja, wkwk.  Gue masih inget awal percakapan kami.
Gue     : “Ini Juwita yah?”
Juwi     : “Iya, ini siapa yah?”
Gue     : “Boleh kenal gak?”
Juwi     : “Kenalan mah boleh aja.”
Ngga usah panjang lebar juga kali yah gue tulis awal percakapan gue dengan dia. Nanti aja kalau emang gue bener jodoh sama dia, baru gue bikin buku tentang gue sama dia. Yah itu pun kalau dikehendaki sama Tuhan yah, soalnya jodoh manusia kan udah diatur sama Tuhan. Setelah panjang lebar gue mencoba bercakap ria dengan dia, mulailah gue mengajak dia untuk ketemuan.
Awalnya sih ribet banget nih cewek untuk diajak ketemuannya, tapi dengan seribu satu cara yang gue punya akhirnya dia mau juga. Biasa lah kalau mau ketemuan sama cewek baru pasti diajak nonton. Itu sih udah gak asing lagi bagi kaum pria di dunia ini yah melakukan cara seperti itu. Ada rasa canggung, malu, takut, keringet dingin dan bingung campur aduk dalam benak gue buat ketemu sama dia.
Okk guys, Siang itu gue memutuskan menjemput dia di sebuah tempat makan untuk diajak nonton bareng gue. Bingung juga sih saat liat dia, apa gue harus mengendarai si kuda besi (motor) gue dengan pelan atau kencang. Asik juga sih menurut gue nih anak dengan pertama kalinya gue tatap muka dengan dia. Banyak juga yang gue obrolin dengan dia selama perjalanan. Ada kejadian unik saat gue mau ngajak nonton dia, gue gak tau tempat parkiran mallnya. Di situ gue bingung mampus harus ngapain, gengsi itu udah pasti banget kalau sampai harus tanya ke dia di mana tempat parkirnya. Tapi dengan cermat dan kepedean yang gue punya akhirnya itu tempat parkir ketemu juga.
Setelah memarkirkan motor gue, langsung aja tanpa ragu untuk masuk ke dalam mall. Ada rasa sengaja juga sih gue menyuruh si doi untuk ngga usah pakai jaket dengan alesan pasti bakal panas nantinya. Itu cuma strategi gue ajj biar lebih nyaman saat nonton nanti. Biasa otak pria ada aja keisengannya, wkwk.
Udah beli tiket, yuk mari nonton guys. Setiap menit saat gue sedang bersama dia, gue manfaatin baik-baik untuk bisa mengenal dia lebih dalam lagi. Di situ pun gue mencoba mencuri pandang dan mencoba memgang tangannya. Yah, banyak alasan sih yang gue pikirin bagaimana caranya bisa memegang tangan dia? Tapi tiba-tiba muncul lah alasan yang ngga masuk akal ini ke otak gue.
Gue     : “Ehh, coba liat deh tangan gue keringetan yah?”
Juwi     : “Iya yah, padahal kan di sini dingin yah.”
Gue     : “Coba deh elu pegang tangan gue!! Keringetan kan?”
Akhirnya gue bisa memegang erat tangan dia, dia mau memegang tangan gue. Ada rasa aneh juga sih kenapa gue bisa berpikir bagaimana caranya untuk memegang tangan dia. Tapi tak apa lah, nasi sudah jadi bubur lebih baik gue nikmatin momen ini. Filmnya pun akhirnya selesai, gue memutuskan untuk membeli air dan langsung pulang.
Oh iya, saat gue pulang sama dia di tengah kemacetan lampu merah ada polisi yang menegur gue karena gak pakai helm. Sebenernya bukan gue ngga mau memakai helm juga sih tapi keadaan yang memaksa gue ngga mau pakai helm. Helmnya tuh sebenernya basah karena kehujanan. Tapi yasudah lah abaikan aja lebih baik gue fokus ke si doi.
Hari berganti hari, gue lebih intens berhubungan dengan dia. Hari-hari gue lebih berwarna dengan adanya kehadiran dia. Hari-hari gue lebih berarti dengan kehadiran dia. Mungkin ini semua bisa terjadi karena udah lama juga kali yah gue jomblo.
Hampir seminggu gue berhubungan baik dengan dia. Malam itu di saat gue sedang di rumah sakit. Malam menjelang pagi, gue mencoba memberanikan diri menanyakan apa arti hubungan gue berdua. Mungkin menurut banyak orang waktu pendekatan yang bisa dibilang rasional itu adalah 3 bulan masa PDKT sebelum berpacaran. Tapi bagi gue sebuah hubungan yang di mana antara pria dan wanita sudah merasakan kenyamanan yang sama itu udah bisa dipastikan pertanda kecil yang menyebutkan mereka berdua adalah jodoh.
Dan gue menanyakan ke dia tentang hubungan gue berdua. Dengan banyak pertanyaan yang gue dan dia tanyakan akhirnya kita berdua resmi untuk berpacaran. Itu tepat JAM 00.00 WIB TANGGAL 03 BULAN 05 TAHUN 2016. Rasa senang campur aduk pada malam itu, gue merasa menjadi pria beruntung yang bisa mendapatkan hati wanita cantik seperti dia. Banyak pria di luar sana yang ingin mendapatkan rasa kenyamanan dan kasih sayang dari dia. Tapi Tuhan berkehendak lain terhadap diri gue, Tuhan memberikan rasa tanggung jawab ke gue untuk menjaga hatinya dengan rasa kasih sayang dan kenyamanan yang gue miliki.
Waktu sangat cepat berlalu, banyak momen yang sudah kami lakukan berdua. Ada rasa senang, duka dan amarah yang sudah kita alami. Ngga kerasa hubungan kami sudah berjalan lebih dari 3 bulan. Suatu hari gue bertengkar dengan orang tua gue karena dia. Orang tua gue ngga menyetujui dengan hubungan kami. Dan gue memutuskan untuk pergi dari rumah untuk bisa menunjukan ke mereka kalau wanita yang sekarang menjadi pacar gue pantas untuk gue pertahanin.
Banyak perselisihan yang gue alami dengan dia, perbedaan, sifat, adat dan waktu ketemu yang kami pertengkarkan. Sebenernya masih terlalu dini untuk berpikiran jauh sampai ke pernikahan. Tapi gue diajarkan sama keluarga gue harus selalu mengasihi dan menyayangi satu sama lain. Gue percaya apa yang sedang gue perjuangin adalah benar. Keadaan memaksa gue harus berjuang lebih keras untuk hidup gue yang lebih baik lagi.
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, hubungan kami berdua sudah mau menginjak 5 bulan. Malam itu kami bertengkar hebat, gue berpikir kalau keluar dari rumah bisa membuat gue dan dia lebih bisa sering ketemu. Tapi semua itu salah banyak masalah yang gue alami. Gue sedih dan pikiran gue bercabang tak ada arah, gue sangat bingung sama semua ini.
Di satu sisi, gue pernah berpikir menikahi wanita batak itu mahal. Karena sinamot lah yang membuat mahal itu semua. Gue percaya dia adalah jawaban dari semua ini, dia penyemangat gue untuk tidak selalu pantang menyerah sampai kapanpun. Gue harus mencari pundi-pundi uang dan menabung untuk membeli rumah, mobil, membahagiakan orang tua gue dan sinamotin dia.
Gue percaya rencana Tuhan itu sangat indah, dan gue percaya kalau kita berserah dan mempercayai apa pergumulan ke Tuhan dengan tidak mungkin apa yang sedang kita jalani itu akan terwujud.
Gue sangat sayang dan mencintai dia. Gue sudah berjanji akan selalu membuat dia tersenyum dan membuat dia selalu bahagia bersama gue. Gue juga udah berjanji bakal membeli rumah yang ada kolam renangnya untuk dia. Gue juga pernah berjanji akan mengajak dia untuk merasakan negara cinta yaitu prancis.
Mungkin banyak orang mengatakan cinta itu buta, menurut gue cinta itu tidak buta. Cinta dapat melihat mana yang baik dan mana yang tidak baik. Mana yang pantas diperjuangkan dan mana yang tidak pantas untuk tidak diperjuangkan. Banyak orang mengatakan cinta tidak mengenal waktu dan tempat, tapi menurut gue cinta tau waktu dan tempat. Cinta tau kapan dia akan pergi dan kapan dia akan datang ke hati setiap manusia. Dan cinta tau di mana lah dia akan pulang ke hatinya masing-masing. Dan dia akan berlabuh ke hati manusia yang tepat untuk merasakan cintanya tersebut.

Mungkin sampai di sini dulu gue bercerita tenta hubungan cinta gue sama dia. Gue percaya dia selalu ada dan selalu menjadi penyemangat gue sampai kapan pun. Gue tidak akan menyerah untuk dia, gue berjanji suatu hari nanti gue akan pulang ke rumah dengan kesuksesan dan siap untuk menikahi wanita batak satu ini. Gue akan selalu sayang dan mencintai dia sampai kapan pun. Sekian.

407 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini

 

5 thoughts on “KEKASIH-KU TERCINTA

  1. sweet banget alig