Posted on

KANDAS

Oleh : Suci Purnamayanti

Apa sih landasan dalam suatu hubungan???cinta…..ya mungkin saja bagi sebagian orang itu penting dan bagi sebagian lagi itu tidak. Karena apa ya??mungkin karena persepsi orang berbeda-beda. Tapi apakah cinta itu menjamin sepasang pria dan wanita akan menikah nantinya??maybe yes …or maybe no… bila nantinya menikah mungkin nantinya happy ending tapi kalau tidak…..?hanya masing-masing orang yang dapat menjawabnya.

Ini semua terjadi padaku… ya aku mengalaminya sendiri yang namanya maybe no…. tidak pernah terbayang bahwa aku sendiri yang mengalaminya. Suatu jalinan cinta yang tulus harus diakhiri dengan peristiwa yang membuat hatiku sedih, kecewa, sakit hati, kejadian yang miris sekali menurutku, yang membuatku depresi. Tapi semuanya harus diikhlaskan karena cinta itu tidak harus memiliki.

Oya perkenalkan nama saya Banyu Biru Wiradisastra. Dari fisikku juga bisa dibilang aku gak jelek-jelek banget si…….hanya kulitku tidak putih alias hitam manis. Yah ibarat kata seperti lokomotif kereta jaman dulu yang warnanya hitam itu loh….walaupun hitam tapi banyak yang menunggu yaitu penumpangnya……hehehe…. Dan aku tipe orang yang setia.

Aku berpacaran dengan seorang wanita yang bernama Dinda. Orangnya manis, humoris dan setia. Setidaknya itu yang dulu aku pikirkan. Dulu dia adik kelasku sekaligus tetanggaku yang hanya berbeda beberapa rumah dariku. Kami berpacaran mulai dari kelas 3 SMP. Banyak orang bilang kalau pacaran kita itu cinta monyet, masih abal-abal. Tapi kami tidak perduli, masih aja terus berpacaran. Kami berpacaran tanpa ada masalah, mulus-mulus aja, kedua orang tua kami pun tidak melarang kami. Jadi hubungan kami pun tetap harmonis.  Tak terasa sekarang sudah 8 tahun  kami jalani. Kami mencari kerja bersama, kemanapun selalu bersama. Akhirnya kami bekerja, walaupun beda perusahaan. Pergi kerja bareng, pulang pun bareng. Tak ada yang berbeda dengan hubungan kami, tetap sama tetap harmonis. Walaupun kami bertemu dengan banyak orang, pria ganteng wanita cantik tapi cinta kami tetap tak tergoyahkan.

Hingga pada suatu saat kami memutuskan untuk menikah. Aku bekerja jadi mempunyai satu tujuan. Beli rumah…..ya akhirnya setelah uang terkumpul aku membeli sebuah rumah. Aku berpikir setelah menikah kami bisa tinggal di rumah itu, jadi kami tidak merepotkan orang tua kami. Tapi akan kukatakan pada Dinda setelah kita menikah nanti. Buat kejutan nantinya.

Aku akhirnya melamar dinda, dan kedua keluarga kami pun merestui hubungan kami, keluarga kami pun menentukan tanggal lamaran, tanggal pernikahan dan segalanya. Kami pun telah menyebarkan kabar gembira ini melalui undangan ke kerabat, teman dan sanak saudara. Sedangkan acara pernikahan semua telah diatur oleh keluargaku dan keluarga dinda. Hatiku sangat bahagia karena sebentar lagi dinda akan menjadi istriku yang selalu menemaniku dikala aku susah dan senang, istri yang akan menerima keluh kesahku, dan menjadi istri untuk anak-anakku.

Namun seketika harapanku pupus, menjelang 2 minggu sebelum hari pernikahan kami, tiba-tiba dinda membatalkan acara pernikahan kami, aku sangat tidak menduga kejadian ini, rasanya seperti tersambar petir di siang bolong, hatiku hancur berkeping-keping, aku bertanya di dalam hati kenapa??akhirnya aku bergegas ke rumah dinda, tanpa berjalan lagi aku terus saja berlari dan menghiraukan orang yang bertanya di sekelilingku. Dinda ternyata sedaang di teras, tanpa basa-basi aku langsung memberondong dinda dengan pertanyaanku.

“Dinda….kenapa kamu membatalkan pernikahan kita?ada apa sebenarnya?”tanyaku. namun dinda hanya diam seribu bahasa. “Kenapa kamu diam dinda, jawab aku… aku berteriak.dinda tetap diam. Akupun bertambah kalut. Lalu aku berlari kedalam rumah dinda dan menemui keluarga dinda, namun apa tanggapan dari merreka? Mereka menyerahkan semua keputusan tersebut di tangan dinda. Aku menangis sejadi-jadinya tak perduli dilihat banyak orang dan tak peduli aku ini seorang lelaki…lelaki dewasa yang menangis karena cinta…yang gagal menikah. Ayah dinda berusaha untuk menenangkan aku, dia memelukku dan aku pun menangis dipundaknya seperti seorang anak kecil.

Tetapi aku tidak mudah menyerah, aku selalu mencoba untuk menemui dinda, tetapi dinda selalu menghindar dari diriku, seakan sosokku ini bagaikan hama, hama yang merusak tanaman padi.

Akhirnya aku mengutarakan keresahanku melalui pesan singkat kepada dinda. Dinda jika memang ini keputusanmu aku akan terima, mungkin ini yang erbaik bagimu taapi tidak untukku, tapi tolong jelaskan satu alas an saja kenapa kamu membatalkan acara pernikahan kita?tolonglah agar terjawab semua keresahan yang ada di hatiku. Namun dinda tetap tidak memberikan jawabannya, aku pun tetap bersikukuh untuk mencari tahu apa alasan dinda membatalkan acara pernikahan kami.

DUA BULAN KEMUDIAN

Aku tetap menjalani aktifitas keseharianku, namun aku selaalu mencari tahu kabar tentang dinda, akan tetapi dinda seolah bagaikan debu yang tersapu oleh angin, hilang begitu saja. Pada saat itu waktu menunjukkan pukul 18.00, sebelum bergegas meninggalkan tempat kerja, aku menyempatkan untuk melakukan kewajiban umat islam lalu aku pun berdoa “Ya Allah aku bersujud kepadamu, memohon petunjuk darimu, seandainya telah kau catatkan dia milikku, tercipta untukku, satukanlah kami dalam ikatan sebuah pernikahan. Tetapi ya Allah….andai dia bukan untukku dan idak pernah tertulis untukku di luh mahfuz, izinkan aku untuk mengikhlaskannya, dan bilamana aku harus mengingat dia yang bukan milikku, maka bantulah aku jauh dari rasa rindu yang teramat padanya…..tanpa kusadari air mataku terjatuh di dalam setiap doa yang kuucap.

Selepas aku berdoa akupun beranjak untuk pulang, entah mengapa di dalam perjalanan, hatiku merasa gelisah, namun aku mencoba untuk menghiraukan perasaan itu. Beberapa jam kemudian aku pun tiba dengan keadaan yang sangat lelah, dan aku dikejutkan oleh sepucuk surat undangan yang sudah terhampar diatas meja….”Ya Allah kuatkanlah hambamu ini ya Allah berikanlah dinda kebahagiaan walaupun bukan aku yang membahagiakannya…. hamba ikhlas ya Allah”.

 

 

*****

424 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini