Posted on

ISTANA PIKIRAN

                                              Oleh : Shintany R. Widyananda

                                              

           Sore itu aku memilih duduk santai di ruang kerjaku. Ruangan itu terbuat dari kaca tebal dimana aku bisa melihat istriku bersibuk di dapur namun ia tidak dapat melihat apa yang aku kerjakan di dalam. Ia hanya bisa melihat sebuah ruangan yang berdinding cermin tebal yang memantulkan bayangannya sendiri. Sesekali aku tersenyum melihatnya berbicara sendiri di depan pantulan cermin ruangan ini. Mungkin ia sedang menggerutui akan badannya yang semakin membuncit. Bagiku tidak masalah, memang untuk itulah wanita ada. Di dalam rahimnya sudah diciptakan untuk menanam sebongkah daging yang kemudian berkembang menjadi manusia baru. Aku teringat kembali saat-saat aku menikahinya di hari bahagia itu. Aku mengucapkan janji suci yang aku tekadkan hanya berlangsung sekali dalam seumur hidup. Ya, karena dialah cintaku yang terakhir. Betapapun banyaknya wanita di masa laluku, hanya dialah yang bisa memahami itu.
              Wati. Namamu terbesit dalam lamunanku. Siapa kau, Wati? Tiba-tiba aku maju selangkah dalam peristiwa. Segala pemandangan kaca tentang dapur dan istriku robek berganti dengan gambaran hitam putih. Aku menatap tangan dan pakaianku yang kotor. Wati, kau ada di ujung jalan itu. Kau menunggu kekasihmu. Dan pada momentum ini, akulah yang berperan sebagai kekasihmu. Wati, wajahmu cerah dan senyummu lengkap. Rambutmu terbelah berkuncir. Kau memakai seragam HIS*. Kuambil cermin kecil dari kantong belakang seragamku dan aku banggakan wajahku yang ternyata memuda. Wati, kaulah yang harusnya aku temui saat ini. Karena kau sedang menungguku di seberang sana.
              “Ayah pergilah, Wati akan susul Ayah ke Belanda.”
              Hatiku tiba-tiba terhenyak. Jalan ini masih bertanah, Wati. Mengapa kau menghujamnya dengan bongkahan getah. Langkahku memberat tapi hanya kaulah saat ini yang aku inginkan. Jelaskan maksudmu, Wati. Oh, Wati. Kau menuju kemari.
              “Siti sudah menungguku, Mas. Biarkan aku pergi,” kata Wati melewatiku.
              “Wati, Wati.”
              Aku memanggilnya namun ia seperti menjauh lebih cepat daripada hantaran suaraku sendiri. Wati, kau tega. Aku miskin, Wati. Aku pula bukan lelaki pandai yang bisa melanjutkan sekolah ke Belanda. Bahkan mungkin aku tidak pantas untuk masuk ke STOVIA** bersamamu. Kita sudah di perujung jalan, Wati. Masa kanak-kanak dan remaja kita di HIS yang indah. Kaulah cinta pertamaku, Wati. Kelak aku berharap denganmu pulalah aku berlabuh untuk yang terakhir kalinya.
              Dorr…
              Pecahan suara tembakan menghantam pendengaranku. Seketika aku hampir tak sadarkan diri. Tapi aku masih tetap berdiri dengan posisiku. Aku berlari menuju arah perginya Wati. Wati, Wati. Apa yang terjadi denganmu. Darimukah asal suara itu? Wati, kau semakin samar. Semua orang berlarian panik membawa barang dagangan. Mereka ingin menyelamatkan diri dari biadabnya prajurit Belanda yang sedang mabuk. Wati, Wati. Aku mencarimu, Wati. Kau datanglah. Aku ingin Wati tampak dalam pandanganku.
              “Wati, Wati. Kaukah itu?” tanyaku.
              Wati menangis. Wati, kau terluka. Jangan terluka, Wati. Kau tidak bisa membiarkanku melihatmu menderita. Tidak, kau bukan Wati. Kau Siti. Wati menangisimu, Siti. Siti bangunlah.
              “Mas, Siti tertembak. Tolong, Mas. Tolong,” rintih Wati memeluk Siti seraya memohon padaku. Aku hanya bisa diam. Aku bodoh dan tidak memiliki apa-apa. Ini semua ulah prajurit Belanda yang mabuk itu. Aku tahu merekalah yang bermain dengan senjata mereka sendiri dan tidak sengaja mengenai Wati. Aku tahu benar apa yang sedang terjadi. Orang-orang ketakutan. Para wanita berlarian menggendong anaknya di tangan kanan dan tangan kirinya mengangkat sewek yang mereka kenakan. Kami tidak punya kekuatan untuk melawan, kami hanyalah masyarakat lemah yang dihampiri Orang Putih. Mereka bebas menindas namun kami tidak bebas untuk melawan.
              Wati, kini kau menangis. Aku tidak tahan, Wati. Jangan tangisi ia. Siti sudah mati. Aku menggapai Wati namun tidak biasa rasanya. Aku memegang bahu Wati dan memintanya berbalik.Wati menoleh ke arahku dan astaga! Wati, wajahmu penuh darah. Kau terlalu banyak menangis, Wati. Wati, aku tidak kuat melihatmu. Seketika ketakutan menjejaki benakku. Aku tahu ini semua tidak benar adanya. Aku ingin berlari menjauh, namun kemana harusnya aku berlari? Dimana rumahku, aku hanya berada di sini sebagai peran dari sebuah momentum. Wati, aku ingin memegang tanganmu. Dan ketika aku memegang tanganmu, bawalah aku pergi dari sini.
              Bamm…
              Aku tersungkur jatuh di atas lantai kaca. Aku membuka mata perlahan dan melihat tanganku penuh darah. Wati, di mana kau? Ini darahmu, Wati. Kau harusnya ada di sampingku.
              “Kau tidak apa-apa?”
              Suara siapa itu? Itu bukan Wati. Cara bicaranya menjadi lebih kaku. Aku berusaha untuk bangkit dan aku melihat sekelilingku. Aku berada dalam sebuah ruangan besar yang berwarna putih. Aku tidak dapat mengenal bahan apa yang digunakan untuk membangun ruangan itu. Yang aku tahu lantainya terbuat dari kaca. Di hadapanku sudah berdiri seorang wanita yang bukan Wati. Ia menggunakan pakaian aneh yang juga bernuansa putih. Di atas kepalanya tersematkan pita sederhana dan di telinganya terdapat earphoneyang mungkin juga sebagai mikrofon.
              “Dimana aku? Siapa kau?” tanyaku.
              Belum sempat aku menyimak jawabannya, tiba-tiba aku tersadar pakaianku berubah. Aku juga memakai pakaian yang sama dengannya. Hanya saja di atas kepalaku bukan sebuah pita, melainkan sebuah antena yang tersambung dengan earphoneku. Dan tanganku..
              “Aku memakai sarung tangan ini?”
              “Benar, kemarilah. Banyak hal yang harus kita selesaikan. Bumi sudah tidak aman sekarang. Kita harus menyelamatkan manusia yang tertinggal di bawah sana. Aku harap kau harus bergegas karena kaulah yang akan menerbangkan pesawat ini menuju Bumi. Tapi ingatlah kita tidak bisa mendaratkan pesawat ini di permukaan Bumi. Kita hanya perlu menarik manusia-manusia itu dengan lifeguard light,” jelas wanita itu.
              Seketika aku memahami apa yang terjadi di sana. Aku segera menuju monitor kendali dan menyentuh beberapa layar untuk menerbangkan pesawat kami mendekati Bumi. Kami mendapati kemudahan melewati atmosfer. Artinya sebentar lagi Bumi akan kehabisan lapis pelindungnya. Kami harus berlomba dengan asteroid yang berjatuhan di permukaan Bumi. Pilihan untuk manusia yang tertinggal itu hanya ada tiga: kami datang dan membawa mereka ke Bumi Baru, mereka mati tertimpa asteroid, atau mereka mati karena gas di Bumi sudah tidak memungkinkan lagi untuk menghidupi paru-paru manusia. Semuanya tetap berujung pada hidup atau matinya manusia-manusia tertinggal itu.
              “300A-pilot, perintah lifeguard light,” wanita itu bersuara kaku sambil memegangi mikrofonnya. Aku melirik pada pin di bajuku yang memang bertuliskan 300A-pilot. Tidak ada nama di era ini. Manusia baru dilabeli dengan sebuah kode. 300 untuk tahun 2300, A untuk kelompok manusia yang pertama kali mendatangi Bumi Baru, dan pilot untuk nama pekerjaan.
              “Masuklah, Manusia!” perintahku melalui sebuah pengeras suara.
              Manusia tertinggal pun berdiri pada bayangan lifeguard light, dan mereka semua terangkat naik ke dalam pesawat. Kami segera pergi meninggalkan bumi menuju Bumi Baru. Dari bawah sana aku melihat bumi yang semakin tidak rata permukaannya. Asteroid-asteroid besar kini mulai berjatuhan di permukaan bumi. Kadang bumi terlihat goyang dan melayang. Mungkin sebentar lagi waktunya bumi lepas dari orbitnya, pikirku.
              Aku terlalu lama melamun, hingga aku sadar pesawatku akan menabrak sebuah Kaca Semesta. Aku berteriak tapi tak satupun aku mendengar suara manusia-manusia lain di dalam pesawat yang ikut berteriak. Mereka seperti hilang. Dan benarlah ketika aku melihat ke sekeliling, aku sendiri dalam pesawat itu. Kaca semesta itu semakin dekat dan aku tidak bisa mengendalikan pesawatku. Aku ingin menembus Kaca Semesta ini.
              Blamm..
              Kursiku jatuh. Aku tersungkur.
              Tok, tok, tok.
              “Mas, kau sedang apa?”
              Itu suara istriku. Istriku selamat. Tidak ada satupun yang membahayakanku di sini. Aku meyakinkan diri untuk membuka mata bahwa kini aku sudah berada di masaku sendiri. Aku sudah kembali dari Istana Pikiranku***.
              “Itu Istanamu sendiri, kau yang membangunnya. Kenapa kau keluar dari sana selalu terjatuh. Kau tidak membuat tangga di sana?” protes istriku saat makan malam.
              “Aku hanya perlu menata ulang ruangannya. Terlalu banyak buku sejarah dan dongeng tentang masa depan di sana,” jawabku singkat.
*HIS: (Hollandsch-Indlandsch School) Sekolah dasar pada zaman penjajahan Belanda yang diperuntukkan bagi penduduk Indonesia asli. Lama pendidikan pada sekolah ini yaitu tujuh tahun.
**STOVIA: (School tot Opleiding van Indische Artsen) Sekolah kedokteran pada zaman penjajahan Belanda. Saat ini sekolah ini telah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

***Istana Pikiran: Serangkaian tempat yang dipakai seseorang untuk meletakkan berbagai memori peristiwa maupun informasi sehingga lebih mudah diingat. Gambaran istana pikiran biasanya berupa sebuah ruangan, tumpukan laci, atau denah sebuah kota dimana informasi yang baru diterima dapat diletakkan di setiap objek dari tempat-tempat tersebut.

433 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini