Posted on

Fallen Snow

Oleh : Rizki Wahyu Dianti

From : [16:20] Nadine Syafira
Hey, aku sudah ada di Bucherest. Mungkin aku belum bisa bebas kesana kemari karena harus mengurusi administrasi dan segala sesuatunya untuk kuliahku. Tapi karena aku sudah ada disini, jadi kita bisa sering bertemu sekarang. Yey!
From : [16:22] David Serkoff
Wah selamat datang! Santai saja aku selalu punya banyak waktu kosong untuk diajak bertemu.
From : [16:24] Nadine Syafira
Ah, dasar kau pengangguran. Pokoknya kau harus selekasnya mendapat pekerjaan, aku tidak mau tau! Karena dipertemuan pertama kita nanti kau harus mentraktirku, titik.
From : [16:41] David Serkoff
Hahahaha, siap tuan putri. By the way, bagaimana? Kau sudah mulai membeku belum? Hahaha dinginnya diluar dugaanmu kan?
From : [16:44] Nadine Syafira
Hahahaha ya, aku rasa aku sudah terlalu sombong sebelumnya. Brrr…Aku rasa aku akan berubah menjadi Elsa. Let it go…Let it go…. *sing.
From : [16:45] David Serkoff
Bodoh! Hentikan! Akan ada badai salju kalau kau terus bernyanyi. Oh aku pamit duluan, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. See ya.
Aku tersenyum melihat pesan terakhir David, teman dunia mayaku yang sudah aku kenal sejak 2 tahun yang lalu. Hubungan pertemanan kami termasuk lama untuk orang yang hanya saling kenal dan berhubungan lewat sebuah aplikasi chatting. Aku pun sempat heran dan tak menyangka bahwa kami akan terus dekat selama itu karena yang kutau ,hubungan pertemanan lewat dunia maya hanyalah seperti angin, mereka datang dan berlalu begitu saja. Namun David berbeda, ia lucu juga sangat peduli pada setiap hal yang aku ceritakan padanya meskipun terkadang ceritaku itu sangatlah tidak penting. Dan satu hal lagi yang membuat aku tak percaya bahwa kami bisa bertahan selama ini, aku dan dia berbeda kewarganegaraan dan tempat tinggal kami pun sangat berjauhan, aku berkewarganegaraan Indonesia dan ia berkewarganegaraan Romania.
Syukurnya, aku baru saja mendapatkan beberapa beasiswa yang diajukan oleh universitas lama ku untuk melanjutkan kuliah ke luar negri yang salah satunya adalah Romania. Aku langsung memutuskan untuk mengambil negara tersebut karena selain universitas disini lumayan bagus untuk fakultas Geodesy yang aku minati , aku juga sangat ingin bertemu dengan David. Setidaknya aku tidak sendirian disini, pikirku.
Dan disinilah aku, mengepak pakaian dan barang-barangku di apartemenku yang baru. Aku lebih memilih tinggal di sebuah apartemen kecil daripada harus berada di asrama untuk orang luar sepertiku. Lagipula uang beasiswa ku sudah termasuk uang jajan yang sangat cukup untuk kebutuhan sehari-hariku dan uang sewa apartemen yang murah ini.
****
Aku berjalan di lorong kampus, sedikit canggung rasanya tapi ku abaikan semua rasa itu. Aku terlalu bersemangat untuk mengawali hari ini, hari baruku di kampus yang baru. Aku baru saja selesai mengurus semua administrasi dan sekarang aku sedang menuju ke kelas pertamaku. Aku harus mempersiapkan diriku matang-matang, memang aku sudah mempelajari Bahasa Romania tapi tetap saja aku masih canggung jika harus menggunakannya sebagai bahasa utama, apalagi saat belajar. Oh ayolah, memahami pelajaran yang menggunakan bahasa ibuku saja kadang aku masih merasa sulit, apalagi menggunakan bahasa yang baru saja aku pelajari. “Kamu pasti bisa Nadine! Kamu sudah sampai sejauh ini masa harus gugup cuma karena masalah sepele,” hatiku berusaha menyemangatiku.
Akhirnya aku sampai di depan sebuah kelas yang kuyakini adalah kelas pertamaku, dan kuharap aku tidak salah kelas. “Hey, kau murid baru dari luar ya?” kata seorang cewek berambut pirang menghampiriku. “Uhm yeah, kalau boleh aku tanya, apakah ini kelas Cartography?” balasku sambil sedikit tersenyum. “Ya, untungnya kau tidak salah kelas seperti aku di hari pertamaku hahaha. Oh iya, aku juga murid baru yang berasal dari German, aku baru pindah selama sebulan disini. Namaku Rachel Dougglass dan kau bisa memanggilku Rachel, senang berkenalan denganmu,” ia menjulurkan tangannya. “Aku Nadine Syafira, biasa dipanggil Nadine dari Indonesia, dan senang berkenalan denganmu Rachel. Kuharap kita bisa berteman baik karena kalau boleh jujur aku masih merasa canggung disini,” aku menjabat tangannya yang berkulit putih itu sambil memberikan senyum terbaikku. Rachel, gadis berambut pirang dan bermata biru yang indah ini sangat ramah. Aksen Germannya masih terasa sangat kental. Aku pikir dia akan menjadi teman baikku selama disini.
Kelaspun dimulai dan semua berjalan tak seburuk yang aku perkirakan sebelumnya. Kelas sudah berjalan selama 3 bulan sebelum aku pindah kemari, jadi aku akan sedikit melakukan sistem kebut dalam belajarku. Memang berat pada awalnya, tapi aku yakin aku bisa melakukannya.
Jam istirahat aku lalui bersama Rachel, dia memberiku sedikit bekal yang ia bawa,”Aku harus melakukan sedikit penghematan, jadi aku membawa bekalku sendiri,” katanya sembari menyodorkanku sepotong sandwich yang, uhm…lumayan enak.
“By the way, kau benar-benar tinggal disini sendirian? Maksudku, tidak adakah teman, kenalan, atau saudaramu yang tinggal disini?”
“Sebenarnya aku punya seorang teman disini. Tapi aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung karena kami hanya berhubungan lewat sebuah aplikasi messenger selama ini. Aku memang punya rencana untuk bertemu dengannya, tapi tidak untuk sekarang-sekarang ini. Kau pasti tau betapa sibuknya aku karena aku harus mengejar ketertinggalanku selama 3 bulan”.
Ping! Handphoneku bergetar.
From : [14:23] David Serkoff
Nadine, bagaimana hari pertamamu kuliah? Pulangnya mau aku jemput tidak?
From : [14:25] Nadine Syafira
Aku sedang sangat sibuk. Aku tau kau sudah tidak sabar bertemu denganku, tapi bersabarlah sedikit lagi hehe.
From : [14:26] David Serkoff
Hah? Apa? Kau pikir aku sangat ingin bertemu denganmu? Tidak terbalik?
From : [14:28] Nadine Syafira
Ah apa susahnya berkata ‘iya’?
From : [14:29] David Serkoff
Ahahahaha iyaiya tuan putri. Jadi tidak mau dijemput? Yasudah.
Ah, baru saja kami membicarakannya, David sudah muncul dengan pesannya yang mebuatku tersenyum kecil.
“Apa kau baik-baik saja Nadine? Sepertinya kau terlihat sangat bahagia,” Rachel yang melihat perubahan raut wajahku terlihat heran.
“Tidak apa-apa, hanya sedang membaca pesan dari temanku yang baru saja kuceritakan padamu tadi,”
Dan begitulah hari pertamaku berkuliah disini. Awal yang cukup baik dan kuharap semuanya akan berjalan baik-baik saja untuk kedepannya.
***
From : [16:02] Nadine Syafira
David, mau bertemu sekarang?
From :[16:04] David Serkoff
Ah, malas. Aku sudah mengajakmu dari seminggu yang lalu tapi selalu ditolak..
From : [16:05] Nadine Syafira
Ahahaha, kau marah? Maaf, aku baru bisa santai sekarang. So, how? Mau atau tidak? Aku tidak akan memberimu kesempatan kedua jika kau menolaknya.
From : [16:06] David Serkoff
Dimana?
From : [16:07] Nadine Syafira
Wah wah si Tuan Pemarah ini ternyata akhirnya setuju juga hahaha. Tempatnya terserah kau saja. Don’t be mad, i really sorry.
From : [16:09] David Serkoff
No, I’m not. Aku hanya bercanda,, bagaimana kalau di depan Cafe M60? Tunggu aku disana jam 8 malam.
From : [16:11] Nadine Syafira
Okay
Kubaca lagi pesan itu berulang-ulang, sudah hampir jam 8 malam seperti yang David janjikan tapi aku belum melihatnya sama sekali. Udara semakin dingin, butiran salju pun mulai turun mendukung hawa dingin yang semakin menusuk ini. Kupasang headset yang menggantung di leherku ke telingaku, kuputar sebuah lagu dengan volume yang paling kencang, kunikmati setiap alunan nadanya sambil berjalan ke arah Cafe M60.
“Kalau cuacanya terlalu dingin, masuk saja ke dalam, tunggu aku disana ya”.
Begitulah kata-kata David sebelum meangakhiri percakapan kami.
Lagu ini membawaku larut dalam setiap nadanya sampai-sampai aku tidak menyadari keadaan sekelilingku, bahkan aku tidak peduli pada orang-orang yang mulai berlarian berlawanan arah denganku. Mungkin, mereka ingin cepat-cepat berteduh dari salju dingin ini ke tempat yang lebih hangat, sama sepertiku sekarang ini.
Kubuka pintu cafe, seorang pelayan menunjukkanku jalan menuju sebuah bangku yang masih kosong. Kupesan segelas cappucino hangat, setidaknya untuk menemaniku melawan hawa dingin ini.
30 menit…
1 jam…
2 jam…
Sudah jam 10 malam dan David tidak juga datang. Kenapa dia? Apa dia lupa? Atau dia sedang sibuk? Kucoba mengiriminya pesan tapi tidak terkirim, kucoba menghubungi lewat panggilan telepon  juga tersambung ke kotak mail box nya. David, apa kau terlalu sibuknya sampai-sampai mengabaikan janji bertemu kita, bahkan mematikan handphonemu yang merupakan satu-satunya alat yang bisa membantuku menghubungimu?
Ah, aku sudah sampai pada batasku. Kubayar segelas cappucino yang kupesan pada kasir yang menatapku heran karena mungkin, saat ini wajahku sudah terlihat sangat masam.
Aku benci padamu David…
 Hanya itu yang terlintas dipikiranku sepanjang perjalanan pulang. Alunan lagu masih mengalun di telingaku, tak sedikit pun ku kurangi volume dari suaranya karena saat ini aku benar-benar tidak peduli pada semua yang terjadi disekitarku. Aku cukup kecewa pada David malam ini. Sangat kecewa!
***
Seminggu berlalu dan aku masih berusaha menghubungi David. Rasa marahku telah berubah menjadi gelisah, David sama sekali tidak bisa dihubungi sejak malam itu.
“Halo ini David! Saat ini mungkin aku sedang sibuk atau hal-hal lainnya, silakan tinggalkan pesanmu untukku. Salam.”
Lagi-lagi masuk ke mailboxnya dan aku sudah cukup banyak meninggalkan pesan, tapi kurasa bahkan belum satupun yang terbaca olehnya. David kau dimana? Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tak berusaha menghubungiku? Apa kau benar-benar tak ingin bertemu denganku? Atau kau hanya seorang pria penipu? Banyak sekali pertanyaan dalam benakku.
TING TONG!
Bel apartemenku berbunyi. Ini sudah jam 8 malam, siapa yang berkunjung malam-malam begini?
“Ya, sebentar!”
Aku membuka pintu dan terperanjat kaget.
“David!”
Ia hanya tersenyum dengan napas yang tersengal-sengal.
”Hey!”
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipinya, namun sedetik kemudian aku memeluknya,”Kau kemana saja bodoh! Kalau ini sebuah lelucon, ini sungguh tidak lucu! Aku benar-benar khawatir, apa kau tau itu?!” tak terasa air mataku menetes. Apa ini? Kenapa aku menangis? Ia hanyalah orang asing yang baru kali ini bertemu langsung denganku, jadi kenapa aku sekhawair ini?
“Ma…Maaf Nadine, aku tidak bermaksud ingkar janji atau tidak menghubungimu sama sekali. Aku benar-benar minta maaf,” ujarnya sembari membalas pelukanku.”Lalu kemana kau saat seminggu lalu? Aku menunggumu 2 jam di cafe dan kau tidak ada kabar sama sekali, bahkan tidak bisa dihubungi,” ia terdiam, aku tak tau apa arti diamnya itu.
”Dan kenapa sampai tadi kau masih belum bisa dihubungi?”
Aku melepas pelukanku dan menatapnya, berharap ada kejujuran terpancar dari matanya,”Handphoneku hilang, entah kemana,” ia jujur, dari matanya aku bisa tau bahwa ia jujur, namun ada sebuah kebingungan dari sorot matanya, sangat jelas terlihat tapi aku tak berani untuk menanyakannya, aku sudah merasa cukup dengan kejujurannya
”Baiklah, aku lega sekarang. Dasar kau bodoh!” aku menyeka air  mataku dan aku tau kalau ia menahan tawa, “Anyway, bagaimana kau tau alamat apartemenku?” aku baru sadar akan suatu hal ganjil yang baru saja terjadi. “Kau kan pernah memberitauku saat pertama kali kau tiba disini. Dasar bodoh!” aku menepuk dahiku, merasa sangat bodoh karena telah lupa bahwa aku telah memberitau semua hal kepada David, termasuk alamat kampusku serta alamat apartemenku. “Ayo masuk!” kataku mempersilakan ia masuk.”Tidak usah, sudah terlalu malam,” ujarnya tersenyum, entah mengapa aku sangat suka dengan bagaimana caranya tersenyum.
”Karena sekarang kau tidak mempunyai handphone, lalu bagaimana aku bisa menghubungimu?”
”Telepon saja ke nomorku yang ini, ini nomor telepon di apartemenku,”jawabnya sambil memberikan sebuah nomor, ”Besok aku jemput di kampusmu ya, aku traktir sebagai permintaan maafku,” ujarnya sambil melambaikan tangannya dan pergi menjauh.
Aku menutup pintu dan tersenyum, aku terlalu senang sekarang. Akhirnya aku bisa bertemu dengan sosok David yang  selama ini hanya bisa kulihat lewat videocall. Darah Russia dari ayahnya membuatnya tampak gagah dengan tubuh yang tinggi dan atletis. Dan senyumnya yang manis dan jahil, membuatku mungkin tanpa sadar menaruh hati padanya sejak sebelum pertemuan kami tadi. Jauh sebelumnya.
***
Tring…Tring…Tring…
“Halo, Nadine? Ini aku David, aku berangkat menjemputmu di kampus ya. Aku akan menunggu di halte bus depan kampusmu.”
“Iya, aku akan segera kesana.”
Kututup telepon dan beranjak bangun. Aku pamit untuk pulang lebih cepat pada Rachel yang masih punya satu mata kuliah setelah ini.
Letak halte itu tidak terlalu jauh dari tempatku sekarang, aku bisa sampai disana kira-kira 10 menit dengan berjalan kaki. Kulangkahkan kakiku dengan hati-hati, butiran salju yang turun sedari pagi membuat jalanan terasa licin, bahkan aku melihat beberapa orang terpeleset jatuh.
“Aduh!” terdengar suara yang familiar di belakangku,”David? Sedang apa kau duduk-duduk disitu?” ujarku menahan tawa. David sedang meringis kesakitan, menatap kesal ke arahku yang sekarang sedang menertawainya.
“Kau senang hah? Bantu aku berdiri!”
Aku mengulurkan tanganku dan  membantunya untuk berdiri.
“Jadi mau kemana kita?”
Ia segera merogoh kantung mantelnya dan menunjukkan sebuah poster film ke hadapanku, “Maukah kau menonton ini bersamaku? Aku sangat ingin menonton film ini meski ini sudah minggu kedua sejak film ini diputar. Kuharap bioskop disini masih memutarnya” ujarnya terlihat bersemangat.
“Kau sudah memesan tiketnya?”
Ia menggeleng, aku menepuk dahiku sembari berdecak heran. Aku pikir ia sudah memesan tiket sebelumnya, ternyata ia sama sekali belum mempersiapkan apa-apa. “Uhm, okay. Ayo kita berangkat!”
Ia menggenggam tanganku dan terus bercerita sepanjang dalam perjalanan, tentang hidupnya, keluarganya, dan berbagai hal yang selama ini tak pernah kusangka. Selama aku mengenalnya melalui chat dan videocall, ia jarang sekali bercerita banyak seperti sekarang ini, ia lebih banyak mendengarkanku bercerita. Di sepanjang perjalanan ia juga melakukan hal yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
David memberikan uang sebesar 50 RON kepada seorang anak jalanan yang sedang terduduk di pinggir jalan, meringis memegangi perutnya yang kurasa sedang kelaparan. Seketika mata anak itu terbelalak terkejut, tak percaya bahwa ada seseorang yang memberinya uang sebanyak itu.
“Apa kau yakin Tuan? Ini terlalu banyak, aku bahkan hanya memerlukan sedikit uang recehmu untuk membeli sedikit makanan untukku”.
“Tidak. Simpanlah uang itu, kau memerlukannya untuk beberapa hari kedepan,” sambil tersenyum, David mengelus rambut kucal anak itu.
“Terima kasih banyak Tuan,” anak itu balas tersenyum dan lari meninggalkan kami. Senyumnya terlihat sangat bahagia.
“Nadine,” David memanggilku secara tiba-tiba, membuatku seketika menoleh kearahnya yang masih terus memandangi kepergian anak itu,”Aku ingin berbuat lebih banyak kebaikan, sekecil apapun itu. Aku tau, mungkin sebagian orang akan menganggapku aneh tapi, aku benar-benar ingin memanfaatkan waktuku. Aku benar-benar merasa menyesal sekarang karena aku tidak bisa berbuat lebih banyak kebaikan,” ia menoleh kearahku, terseyum tipis. Tatapannya kali ini benar-benar membuat hatiku bergetar, terdapat sebuah ketulusan dan kesedihan yang dalam pada tatapan itu. Aku tidak tau kenapa tapi kurasa, ia menyembunyikan suatu kesedihan yang sangat mendalam dibalik senyumnya.
“David, apa kau baik-baik saja?” Nadine bodoh! Kenapa aku melontarkan pertanyaan aneh seperti itu? David terlihat sedikit bingung mendengar pertanyaan anehku itu lalu sekejap kemudian ia tertawa jahil. “Hahaha tentu saja bodoh! Maaf, aku memang sedikit berbicara aneh,” ia mengacak-acak rambutku dengan tangan dinginnya sembari tersenyum jahil. “Hey! Hentikan! Kau pikir aku anak kecil?”  aku menahan tangannya agar ia berhenti melakukan hal memalukan itu.
“Tapi sungguh, aku merasa ada yang aneh. Entah apa. Mungkin jika kau punya masalah, kau bisa menceritakannya sedikit padaku David”
“Tidak ada, satu-satunya masalahku sekarang adalah bagaimana cara membuatmu merasa bahagia saat sedang bersamaku,” David menoleh lagi untuk yang kesekian kalinya padaku, kali ini ia tersenyum manis, tidak seperti senyum-senyum sebelumnya yang…ugh…sangat menyebalkan.
***
Seusai menonton film, kami menyempatkan diri untuk makan di sebuah restoran, mengisi perut kami yang kelaparan. Alunan musik classic Canon in D karya Pachelbel mengalun dengan lembut diantara riuhnya restoran yang sedang aku singgahi bersama David ini. Ia sedang melahap Potato Meal la Proquer nya dengan sangat bersemangat, sedangkan aku lebih menikmati alunan nada-nada indah yang terus mengalir disekitarku. “Hey, kau suka festival?” tanya David tiba-tiba, membuyarkan semua lamunanku, “Depends… Festival apa?” aku mulai mengunyah Cream Extra Cheese Soup ku yang mulai mendingin, “Festival musim dingin, aku baru saja melihat pamfletnya dipinggir jalan kemarin dan aku pikir itu sangat menarik. Sebenarnya disini sangat jarang diadakan acara-acara semacam itu, jadi aku mencarinya lebih jauh di internet. Acaranya akan diadakan enam hari lagi di lapangan Herastrau Public Park pada pukul 8 malam sampai jam 4 dini hari. Aku sangat ingin kesana tapi kurasa tidak akan asik jika pergi sendiri,” David menjelaskan panjang lebar, kurasa kini ia memiliki banyak tenaga lagi untuk bercerita. “Apa aku boleh mengajak teman?” tiba-tiba aku teringat akan sosok Rachel, kupikir ini adalah kesempatan yang bagus untuk memperkenalkan mereka berdua dan membuat pertemananku dengan Rachel semakin erat, “Siapa?” tanya David memicingkan sebelah matanya, “Temanku di kampus, ia sama sepertiku, murid rantauan. Jadi kupikir, ia akan senang bila aku mengajaknya. Lagipula, akan semakin asik bila kita datang dengan lebih banyak orang kan?”. David menatapku sejenak dengan mata yang sedikit ia sipitkan, seolah-olah sedang menyelidiki tentang apa yang baru saja aku ucapkan, “Okay, tapi hanya dia. Tidak boleh membawa lebih banyak orang lagi.”
Kami melanjutkan acara makan kami dan pulang ketika perut kami sudah terisi penuh. David mengantarku sampai di depan pintu kamar apartemenku dan berpamitan. Ucapan selamat malam darinya masih terngiang di telingaku, mengantarkanku ke dalam kebahagiaan sesaat sebelum aku memejamkan kedua mataku, mengakhiri hari yang penuh kenangan ini.
***
“Jadi, kau mengajakku bersamamu juga? Yey!” Rachel memelukku erat ketika aku menyampaikan bahwa aku mengajaknya pergi ke Festival Musim Dingin bersama David di depan gerbang kampus kami.
“Tunggu, tapi apa tidak mengganggu kencanmu?”
Sial! Sekarang dia menatapku sambil memainkan alisnya, seolah-olah meledekku yang sudah berbaik hati mengajaknya. “Kalau kau tidak tertarik untuk ikut, yasudah,” aku meninggalkannya sambil berpura-pura bertampang cuek.”Ah aku hanya bercanda. Jangan marah Nadine! Please, please, please…take me to there!” ujarnya memelas sembari mengejarku yang sengaja berjalan lebih cepat didepannya agar terlihat seperti sedang kesal padanya.
Akhirnya tiba di hari yang kami tunggu, aku dan Rachel berjalan berdua menyusuri jalan kota yang ramai. Kami akan menuju ke tempat dimana David menunggu,”Apa bajuku kali ini tidak terlalu mencolok?” aku menatap apa yang kupakai malam ini dengan ragu. Sebuah dress berwarna putih yang dipadu padankan dengan sebuah winter coat berwarna light blue yang kumiliki terkesan sangat tidak cocok denganku.
“Tidak, kau sangat cantik Nadine.”
 Sebelumnya, Rachel memang datang ke apartemenku. Kami melakukan janji temu disana, dan sesaat setelah aku membukakan pintu untuknya, ia langsung dengan serta merta berteriak dan memelototi aku yang tak tau apa-apa,”What…the…hell?! Nadine?! Are you serious? I mean, kamu mau pakai baju itu? For the god sake!” aku hanya terbengong bingung dibuatnya.”Whats wrong? Aku biasa berpakaian seperti in…” “Sssshh…Shut up and just watching! Aku akan benar-benar memberimu sedikit sihir malam ini dan kau hanya aku perbolehkan untuk diam dan menurut, okay?”
Bagai seorang anak kecil yang dimarahi oleh mamanya, aku hanya mengangguk polos mengikuti semua perkataan Rachel. Dia sangat berbeda malam ini, terlihat sangat cantik. Aku tau kalau dia memang sudah cantik, tapi malam ini aku seperti melihat sisi lain dari Rachel. Dengan fashion yang sangat modis dan make up yang tidak berlebihan tapi cocok untuknya, sedangkan aku? Hanya berdandan seperti biasanya, pakai baju seperti biasa, dan hanya memakai bedak tipis dilengkapi lip balm. Aku memang sangat simpel dalam berpakaian dan tidak pernah memikirkan hal-hal semacam itu dalam benakku, aku hanya fokus pada belajar dan hal-hal lainnya yang akan membuat orang-orang disekitarku berpikir bahwa aku seorang ‘Nerd’.
“Kau selalu seperti ini saat kencan dengan David?” tanya Rachel sambil memilih-milih baju dalam lemariku. Lagi-lagi aku mengangguk polos dan kulihat Rachel langsung menggelengkan kepalanya,”Aku tak menyangka bahwa kau sepolos ini Nadine,” ucapannya kali ini terdengar sangat mengasihaniku. Dan aku hanya bisa terdiam dan membisu, tak habis pikir apa yang akan dia lakukan kepadaku sedetik selanjutnya.
“Hai David!” sapaku kepada David yang kulihat sedang meringkukkan badannya ditengah salju yang turun.”Hai!” ia menoleh dan memperhatikanku sesaat lalu memalingkan wajahnya untuk memperhatikan Rachel yang ada di sampingku,”Ini pasti teman Nadine. Hai, aku David Serkoff, kau bisa memanggilku David,” David menjulurkan tangannya ke arah Rachel. “Aku Rachel Dougglass, biasa dipanggil Rachel”. Kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju tujuan utama kami, Festival Musim Dingin. Beberapa menit setelah kami berjalan dalam diam, Rachel menarik tanganku agar kami berjalan lebih lambat dibelakang David,”Hey, apa aku tidak salah lihat? Dia sangat kaku, dan…Ayolah, dia bahkan tidak berkomentar setelah melihat hasil dari sihirku padamu. Setidaknya dia bisa berkata ‘Kau terlihat berbeda malam ini Nadine’ atau langsung pada intinya seperti ‘Kau cantik malam ini Nadine’ dan hal-hal sejenis itu. Apa dia normal? Maksudku, aku takut kalau dia ternyata seorang psikopat berhati dingin atau gay,” Rachel berbisik padaku setelah David berjalan sedikit jauh di depan kami.”Oh ayolah, kau terlalu banyak menonton film Rachel. Dia baik, tapi memang ia sedikit kaku pada orang yang baru dikenalnya. Dan kau tau sisi baiknya? Dia sopan, dan bukan berarti dia gay atau psikopat,” aku hanya menjawabnya denga sedikit menahan tawa.”Ya memang sih, pendapatku terlalu berlebihan, tapi setidaknya ada satu point pasti disini, dia tidak romantis!” aku hanya tertawa dan kembali mensejajarkan langkah kami dengan David yang sudah menengok karena sadar bahwa langkah kami melambat.
***
Festival yang dikatakan David ternyata sangat meriah. Hiruk pikuk dari lautan manusia yang memenuhi festival ini mematahkan pendapatku sebelumnya yang sempat berpikir bahwa festival semacam ini sangatlah membosankan. Berbagai stand dari mulai jajanan khas Romania, makanan-makanan ringan, permainan, dan masih banyak stand lainnya berjajar di lapangan yang luas ini.
“Wah menakjubkan!” seru Rachel takjub. Ku tolehkan kepalaku sejenak kearah David yang sedari tadi diam membisu, tak berkomentar apapun sepanjang perjalanan hingga sampai ke tempat yang diinginkannya ini. Ia tetap diam, dingin, dan tak bergeming, namun tatapannya mengatakan bahwa ia sangat senang telah dapat datang kemari, seperti tatapan seorang anak kecil yang baru pertama kali diajak orangtuanya berkunjung ke sebuah festival.
Kami berjalan menelusuri setiap stand yang ada, mencoba semua yang kami ingin coba. Pendapat Rachel tentang David yang dingin berubah seketika ketika David mulai menunjukan sifat aslinya yang humoris. Bahkan kami tertawa bersama saat David memakai sebuah topeng berbentuk kakek tua dan menirukan gaya seorang kakek tua, namun tidak sengaja terpeleset jatuh ke tanah. “Hey, kalau aku tidak salah mengingat, sepertinya nanti akan ada kabaret keliling lapangan. Kalian mau ikut melihat?” aku dan Rachel saling memandang dan mengangguk ke arah David. David yang tidak tau pasti tentang kabaret itu langsung bertanya ke orang yang kebetulan lewat didepan kami untuk memastikannya. Kami sangat bersenang-senang malam itu, terutama aku yang sangat bahagia melihat tawa kedua sahabat baruku.
“Wah orang-orang sudah mulai ramai berkumpul untuk melihat kabaret disana, ayo kita juga kesana!” Rachel tiba-tiba berlari ke arah kerumunan ketika kami sedang asik berbincang-bincang. Aku dengan refleks berlari mengikutinya dan disusul David dibelakangku. Tak kusangka, kerumunan orang ini semakin ramai dan riuh, bagai arus yang menyeret siapapun yang ada didalamnya. Aku yang awalnya mengikuti dibelakang Rachel sekarang sedang terseret arus oleh lautan manusia ini. Aku tidak bisa melihat apapun diantara orang-orang yang rata-rata berbadan tinggi besar ini, aku bahkan tidak bisa melihat Rachel maupun David. Ditengah kepanikanku, sebuah tangan dingin menangkapku dan mendekapku erat, membawaku keluar dari arus para manusia yang semakin memadat dan menyesakkan, entah bagaimana caranya. Setelah kami sampai ditempat yang sepi, sosok itu melepaskanku dan akupun menoleh kearahnya untuk memastikan siapa dia,”David! Syukurlah ternyata kau,” aku memelukknya erat, entah bagaimana nasibku jika ia tak menolongku didalam kerumunan tadi. Bahkan aku tidak bisa membayangkan jika ternyata yang mendekapku adalah seorang sosok asing yang berniat tak baik padaku.”Kau tidak apa? Untung tadi aku bisa menangkapmu. Kerumunan tadi benar-benar menyeramkan. Aku bahkan lebih rela jika tidak melihat kabaret tersebut daripada harus masuk kesana lagi hanya untuk sekedar melihatnya,” ia terlihat sangat lucu dengan wajahnya yang cemberut, menampakkan kejengkelannya.”Well, dimana Rachel?” ucapan David menyadarkanku bahwa Rachel tidak ada bersama kami. Aku memandang sekeliling, berharap melihat sosok Rachel tak jauh dari tempat kami namun semuanya sia-sia. Sosok Rachel benar-benar lenyap, hilang tertelan oleh kerumunan orang-orang tadi,”Coba kau hubungi handphonenya,” ujar David yang melihat kegelisahanku. Segera ku ambil handphoneku di dalam tas dan menekan nomor Rachel
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.”
Sial! Handphonenya mati di saat-saat seperti ini. “Bagaimana?” David berbicara kepadaku sambil terus melihat sekeliling. Aku menggeleng, pertanda bahwa ini semua sia-sia,”Well, Rachel bukan anak-kecil jadi dia pasti baik-baik saja meski tanpa kita,” David menggandeng kedua tanganku dan menariknya, pertanda bahwa ia ingin membawaku ke suatu tempat.
“Lalu kita mau kemana?”
“Aku melihat ada sebuah bangku taman dibelakang stand itu,” ia menunjuk ke sebuah stand.Tempat ini jadi sedikit aneh, ramai disebagian tempat dan sangat sepi di bagian lainnya. Tidak seperti sebelumnya yang sangat ramai disemua bagian, mungkin kabaret yang tadinya kami ingin lihat merupakan bagian terpenting dan teristimewa dalam acara ini sehingga membuat orang-orang terhipnotis untuk mengelilinginya.
David terus menuntunku dan pada akhirnya kami sampai di bangku taman yang sekarang mulai semakin sepi. “Ah aku sedikit lelah, tapi malam ini cukup menyenangkan,” David terduduk sambil memandang langit, tersenyum dengan manisnya. Aku terduduk disampingnya dan ikut memandang langit. Bulan yang penuh dan langit yang ditaburi bintang di musim dingin ini sangat menawan, berkelap kelip seolah saling beradu menjadi yang terindah di atas sana. “Kau menikmatinya juga?” pertanyaan David membuyarkanku, “Ya, festivalnya sangat menakjubkan, aku suka,” hening sesaat setelah aku mengatakan kalimat tersebut buyar seketika dengan tawa meledak dari David, “Hahahahaha maksudku langitnya. Aku melihatmu sangat terpesona ketika memandang langit, kupikir kau juga menyukainya. Tak kusangka ternyata kau malah berkomentar tentang festival. Well, tanpa kau beritau pun aku sudah tau kalau kau juga menyukai festivalnya. Kau yang terlihat paling bersenang-senang selama di festival tadi, hahaha”.
Aku mencubit perut David, merasa sedikit malu karena menjadi bahan ejekan baru untuknya. Aku berusaha memukulnya kecil saat ia terus mengejekku dan ia terus menghindar dan menangkap tanganku, mencoba mengelak.
“Eh apa itu?” aku berhenti sejenak, memandang ke tanah karena merasa ada sesuatu yang terjatuh. Kulihat seutas gelang berinisial ‘DS’  sebagai hiasannya tergeletak diatas tanah. “Wah gelangku terlepas!” ujar David seraya memungutnya,“DS? David Serkoff?” ia mengangguk.
“Hahahahaha, kau memakai benda seperti itu? Norak sekali, hahaha,” kini giliranku yang tertawa, mengejeknya yang sedang memasang wajah jengkel favoritnya. “Ada yang salah, Nadine? Ini gelang kesayanganku, aku membuatnya sendiri ketika acara  membuat prakarya gelang saat di sekolah dasar. Jadi kau tak berhak menghinanya meski ini terlihat jelek,” melihatnya benar-benar tersinggung, aku menghentikan tawaku. “Okay, okay, maafkan aku. Well, gelang itu tidak terlihat jelek, hanya saja inisial namamu yang disertakan sebagai aksesoris terlihat sangat mencolok,” ia memperhatikannya sejenak, “Kurasa ini memang sedikit mencolok, hahaha. Tapi aku berpikir bahwa ini sangat keren saat pertama kali membuatnya, jadi gelang ini akan tetap menjadi favoritku,” ia tersenyum sembari memandangi gelang itu, “Berikan tanganmu!” David menarik lembut tanganku dan memakaikan gelang itu,”Sekarang kau akan selalu mengingatku setiap melihatnya”.
“Hey! Tidak adil! Aku tidak pernah menginginkan gelang jelek ini ditanganku,” ucapku dengan nada bercanda. Tanganku berusaha melepaskannya namun tangan dingin David menggenggam tanganku erat untuk mencegahnya, “Hahahaha, ayolah! Anggap saja ini sebuah kenang-kenangan dariku”.
Deg! Hatiku berdegup kencang.
Tangan David yang berusaha mencegahku melepas gelangnya tak sengaja menarikku mendekat padanya. Dan kini, wajah kami hanya berjarak lima centi satu sama lain. Aku bisa merasakan hembusan napasnya yang begitu dalam menerpa wajahku. “Kau terlihat sangat cantik malam ini Nadine. Kau bahkan membuatku membisu selama perjalanan kita kemari, membuatku tak tau apa yang harus kukatakan,” Kami saling berpandangan, tatapannya yang dalam membuat wajahku panas dan jantungku semakin berdebar. Sedetik kemudian, bibir kami saling menyentuh satu sama lain, saling berpagutan lembut ditengah dinginnya salju yang menerpa kami.
***
Kubuka kedua mataku yang masih terasa berat, kurasa aku baru merasakan nikmatnya tidur kurang lebih 3 jam yang lalu dan sekarang aku harus segera bangkit untuk berangkat ke kampus. Tadi pagi, David mengantarkanku pulang sampai ke depan pintu apartemenku. Kemudian Rachel yang semalaman menghilang tiba-tiba menghubungiku, “Ah Nadine! Maaf, aku baru sampai rumah dan menyalakan handphoneku. Selama di festival handphone ku mati kehabisan daya. Oh iya, maaf juga sudah membuatmu cemas. Saat kabaret aku tak sengaja berkenalan dengan seorang pria tampan jadi aku semalaman bersamanya dan lupa mengabarimu. Maaf ya,” begitu katanya.
Ah sudahlah. Aku harus segera bergegas ke kamar mandi dan membasuh tubuhku yang lumayan lelah dan kurang tidur ini.
From : [08:22] Nadine Syafira
Rachel kau dimana? Bolos?
From : [08:24] Rachel Dougglass
Huaaaahm…Aku masih dikasurku, aku rasa kasur ini masih merindukanku jadi ia tidak membiarkanku beranjak sedikitpun.
From : [08:26] Nadine Syafira
Alasan! Cepat bangun bodoh! Hari ini kita ada kelas.
From : [08:29] Rachel Dougglass
Siapa peduli?! Membolos satu matakuliah tidak akan membuatmu tidak lulus Nadine. Selamat tidur… ps : kalau kau mengganggu, kubunuh kau haha.
Ah, benar-benar Rachel ini. Aku menyesal telah mengajaknya kemarin.
Bus yang kutumpangi akhirnya berhenti di halte yang terdekat dengan kampusku. Ya, aku memang menggunakan bus karena aku terlalu lelah untuk hanya sekedar berjalan dari apartemenku yang jaraknya tak seberapa jauh. Ketika aku melangkahkan kakiku memasuki gerbang kampus, seketika mataku menoleh ke arah sebuah apartemen yang pernah ditunjuk olehnya sebagai apartemennya. Seketika perasaanku tak karuan mengingat berbagai hal yang telah aku lalui bersamanya dalam beberapa waktu ini. Ah apa-apaan aku ini?! Aku harus terus melangkah dan mengakhiri semua khayalan gilaku ini karena ku tau bahwa, AKU SUDAH TERLAMBAT!
***
Selesai dengan urusan kampusku hari ini, aku segera mencari handphoneku di dalam tas, mencoba menelpon David dan bertanya apakah hari ini ia akan menjemputku seperti biasanya atau tidak. Kebetulan aku juga ingin mengajaknya makan siang bersama sehubung dengan tidak hadirnya Rachel hari ini di kelas.
TUT…TUT…
Tidak diangkat. Kucoba berulang kali namun tetap tidak diangkat. Aku segera bergegas ke halte bus tempat biasa ia menungguku, mungkin ia sudah menungguku sedari tadi disana dan tentu saja itu membuatnya tak bisa mengangkat telepon dariku.
Tidak ada!
David tidak ada disana, lantas mengapa ia tidak mengangkat telepon dariku? Mungkinkah dia sibuk? Tapi ia tidak berkata apa-apa semalam. Kucoba untuk menelponnya lagi dan lagi.
TUT…TUT…
Dan hasilnya tetap sama, ia tidak mengangkatnya. Ku toleh lagi apartemen yang pernah ditunjuk olehnya, haruskah aku mengeceknya kesana? Aku sungguh tidak ingin mengkhawatirkan hal kecil ini, tapi entah mengapa hati kecil ini terus mendesakku agar aku kesana. Ada perasaan khawatir yang amat kuat, yang entah darimana datangnya. Kuputuskan untuk berjalan kesana, mengeceknya sekaligus berkunjung ke tempat tinggalnya.
Benar kata David, tempatnya tinggal benar-benar dekat. Tidak sampai 15 menit berjalan dari halte bus dekat kampusku, aku sudah sampai disini, di lobby apartemen kecil tempat ia tinggal.
“Permisi, apa kau tau orang bernama David Serkoff yang tinggal disini. Aku ingin mengunjunginya tapi aku tidak tau nomor tempat tinggalnya,” tanyaku pada seseorang yang baru saja turun dari lift.
“Oh Serkoff, ya aku mengenalnya. Ia tetanggaku dan kami lumayan akrab. Ia tinggal di kamar nomor 26 di lantai 2, tapi kurasa ia tidak ada di kamarnya sudah sejak sekitar empat belas hari yang lalu dan aku tak tau ia kemana”.
“Empat belas hari? Bagaimana mungkin? Aku masih menelponnya melalui sambungan telepon apartemennya kemarin dan ia menjawabnya dan selama empat belas hari ini kami sering saling menelpon dengan menggunakan sambungan itu. Itu berarti ia ada dirumah kan?” aku tak percaya dengan apa yang aku dengan dan berusaha menampiknya.
“Well, coba beritau aku nomor telepon apartemennya yang kau gunakan untuk menelponnya selama ini. Mungkin ia membohongimu, meski aku tidak yakin karena ia pemuda yang baik,” kuberikan nomor telpon yang pernah ia berikan padaku dan pria paruh baya itu mengamatinya.
“Ini benar nomor telpon apartemennya. Apa kau yakin anak muda? Mungkin kau sedikit berhalusinasi atau salah orang”.
“Tidak aku sangat yakin itu David!”
Orang itu menatapku bingung dan berpamitan. Aku mengucapkan banyak terimakasih padanya meski aku masih tak percaya akan apa yang ia katakan. Aku segera bergegas menuju kamar 26 di lantai 2, tempat tinggal David dan benar kata orang itu, pintunya terkunci! Aku berusaha menelponnya dan kali ini bahkan tidak tersambung sama sekali, seolah sambungan telpon itu tiba-tiba terputus. Aku bingung, apa yang terjadi pada David?
Aku mencoba bertanya pertanyaan yang sama pada semua orang yang aku temui di apartemen tersebut dan mereka menjawab dengan jawaban yang sama seperti pria paruh baya yang pertama kali aku temui di lobby. Bahkan lebih gilanya lagi ada yang memberitauku bahwa semua sambungan listrik, air, dan sambungan listrik di apartemennya telah diputus karena ia tidak dapat dihubungi sama sekali saat semua tenggat waktu untuk membayar semua tagihan itu telah tiba sekitar seminggu yang lalu.
Aku benar-benar bingung dan tak tau apa yang harus aku lakukan. Orang pertama yang terlintas di otakku disaat seperti ini adalah Rachel. Aku bergegas menuju asrama tempat tinggal Rachel dan menceritakan semua padanya.
“Tunggu, siapa David?”
Pertanyaanya membuatku geram, bisa-bisanya ia bercanda di saat-saat seperti ini.
“Rachel! Aku benar-benar bingung dan ini bukan saat yang tepat untuk bercanda!”
“Tapi aku benar-benar tidak tau, maksudku kau tiba-tiba datang dan bercerita panjang lebar tentang David seperti aku seolah-olah juga mengenalnya. Setidaknya ceritakan dulu siapa dia, Nadine”.
Ia benar-benar mengatakannya dengan wajah yang bingung. Ia akan mendapatkan penghargaan Oscar untuk akting terbaik jika ia memang mendaftar sebagai salah satu nominasi.
“Lalu siapa yang kau bilang dingin pada  saat perjalanan ke festival musim dingin lalu tiba-tiba kau mengatakan bahwa ia sangat menyenangkan saat kalian berdua sama-sama mencoba permainan aneh disana?!” aku benar-benar geram kali ini. Sungguh, ini bukan saat yang tepat untuk mempermainkanku.
“Festival musim dingin? Kau bercanda?! Kita hanya datang berdua, Nadine! Lalu siapa ‘ia’ yang kau maksud? Apa kau mabuk atau apa?” Kini gantian ia yang mulai kesal.
Aku terdiam. Bagaimana bisa Rachel mengatakan hal yang tak masuk akal tersebut. Jelas-jelas kami bertiga. Setidaknya, jika ia berbohong cobalah untuk membuat alasan yang lebih masuk akal dari ini.
“Nadine? Apa kau baik-baik saja?”
Aku mengangguk dan menceritakan semuanya dari awal. Rachel tampak bingung dan terkejut. “Tapi aku benar-benar tidak mengenalnya. Kau memang sempat bercerita tentang seorang temanmu yang tinggal di Romania saat pertama kali kita bertemu. Bahkan aku ingat bahwa kau saat itu sedang tertawa karena menerima pesan darinya. Tapi hanya itu, setelahnya kau tak pernah bercerita lagi tentangnya bahkan aku baru tau bahwa ternyata oarng yang kau bilang ‘seorang teman’ yang bicarakan saat hari pertamamu itu adalah orang yang kau sebut dengan David Serkoff”. Aku terkejut, bahkan aku terus bertanya pada Rachel apa kau tidak berbohong atau mempermainkanku berulang kali untuk memastikannya dan Rachel bersumpah bahwa ia sungguh-sungguh sama bingungnya denganku.
“Apa kau baik-baik saja? Kau tidak mabuk atau memakai obat kan? Atau mungkin kau depresi?”
“Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk mabuk, memakai obat, bahkan sampai mendapatkan sebuah depresi. Aku hanya…Uhm… mungkin lebih baik aku pulang ke apartemenku sekarang”.
Aku segera berpamitan kepada Rachel dan ia menatapku dengan tatapan iba bercampur khawatir. Aku sungguh-sungguh tak habis pikir mengapa Rachel tak ingat sedikitpun hal tentang David. Aku tergesa-gesa melangkah kembali ke apartemen tempat tinggal David, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Ditengah langkahku yang terburu-buru, tak sengaja aku menabrak seorang anak lusuh. Aku bergegas menoleh dan meminta maaf kepadanya. Namun, sedetik kemudian aku teringat, anak ini adalah seorang anak kelaparan yang pernah ditolong oleh David.
“Nyonya! Aku mohon maaf, aku tidak berhati-hati saat berjalan tadi. Apa anda baik-baik saja? Sungguh aku sangat minta maaf,” ucap anak itu dengan sopan sembari terus tersenyum kearahku.
“Kau…Kau ingat aku?”
“Tentu saja, nyonya pernah memberiku uang yang sangat banyak saat aku sangat kelaparan beberapa waktu yang lalu. Aku sungguh sangat berterima kasih padamu, dengan uang itu aku bisa bertahan selama seminggu dengan tidak kelaparan,” aku mengernyitkan dahiku, ada yang aneh dalam ceritanya.
“Aku? Tidak, tidak…Apa kau tidak ingat? Bukan aku yang memberimu uang, tapi seorang pria bertubuh tinggi yang pergi bersamaku saat itu. Kau ingat?” ia kehilangan senyumnya dan menggantinya dengan sebuah kerut kebingungan di wajahnya.
“Aku sungguh sangat mengingat kejadian itu dengan jelas dipikiranku, Nyonya. Tapi aku tidak melihat seorang pria seperti yang kau katakan. Kau hanya datang sendiri dan kau yang memberiku uang. Dan aku sangat berterima kasih. Oh, maaf aku harus segera pergi. Semoga harimu menyenangkan Nyonya,” anak itu pergi melambaikan tangannya dengan menyisakan lebih banyak tanya dalam benakku.
Ada apa ini? Mengapa David seolah-olah menghilang dari ingatan semua orang yang pernah mengenalnya ataupun bertemu dengannya? Kupercepat langkahku menuju apartemen David.
Dengan tergesa-gesa kulangkahkan kakiku memasuki lobby apartemennya, melewati seorang wanita paruh baya dengan wajah lebam seperti lelah dan habis menangis.
“Hey kau! Gadis muda!”
Aku menoleh, memastikan apakah aku yang dimaksud oleh suara itu. Rupanya sang wanita paruh baya dengan wajah lelah tadi yang memanggilku. Aku yakin bahwa ia pasti memanggilku karena ia sedang menatapku dengan wajah bingung.
“Darimana kau dapatkan gelang itu?”
***
Aku berdiri dengan lesu, seolah tak ada tenaga tersisa yang bisa menopang tubuhku. Kini, aku sedang berdiri didepan ruang ICU menatap tubuh David yang terbaring berbalutkan banyak selang ditubuhnya. Disampingku, berdiri wanita paruh baya yang kutemui di lobby apartemen tadi, yang kuketahui adalah ibu David.
“Jadi, sudah dua minggu ini ia terbaring di rumah sakit tanpa sadarkan diri?” aku mencoba membuka mulutku meski masih sedikit bergetar.
“Ya, dokter bilang bahwa seharusnya ia tewas ditempat dengan keadaannya yang parah itu, namun sepertinya keajaiban membuatnya bertahan hingga sekarang dan saat ini ia sedang dalam masa-masa terburuknya. Aku sudah merelakannya, ia anak yang baik jadi aku lebih rela jika ia pergi dengan tenang daripada harus tersiksa seperti ini,” ibu David mulai menitiskan air matanya. Kupeluk ia dan mencoba menenangkannya. Aku menyadari akan satu hal, David mengalami kecelakaan di hari dimana ia membuat janji temu denganku untuk pertama kalinya dan di tempat yang tak jauh dari tempat dimana ia menyuruhku untuk menunggunya. Sekarang aku tau mengapa ia tak memenuhi janji temunya saat itu dan menghilang setelahnya.
“Itulah mengapa, aku heran saat melihat seorang gadis sepertimu memakai gelang yang sama persis dengannya. Aku tau persis bahwa gelang itu adalah gelang kesayangannya dan hanya ada satu-satunya. Aku bahkan masih melihatnya tergantung dilengan David hingga kemarin dan menghilang begitu saja pagi ini. Aku tau kau tidak mungkin mencurinya karena benda itu bukanlah benda yang layak untuk dicuri. Dan setelah semua yang kau ceritakan padaku, aku semakin bertanya, bagaimana bisa?” ibu David terlihat sangat baik. Ia dengan sabar menceritakan semua kronologis menyedihkan yang menimpa anaknya meski aku tau, itu pasti sangat menyakitkan untuknya.
“Aku tidak berbohong tante, David yang memberikannya tepat kemarin malam, saat kami pergi ke festival bersama. Aku juga menghabiskan waktu selama seminggu ini dengan David, bahkan aku sempat mengenalkannya pada temanku. Kami bersenang-senang bersama sampai pada hari ini dimana ia menghilang dari ingatan semua orang yang pernah ditemuinya selama seminggu ini termasuk temanku”.
Ibu David hanya menggeleng, kurasa aku hanya terdengar seperti membual. Aku terdiam, masih menatap David didalam sana. David, apa yang terjadi? Jika ini semua hanya khayalanku, mengapa bisa terasa sangat nyata? Bahkan aku masih mengingat dinginnya sentuhan tanganmu saat menggenggamku. David…Jika kau mendengar semua tanyaku, kumohon, setidaknya temui aku sekali lagi untuk menjelaskan semuanya, menjelaskan bahwa semua yang terjadi padaku itu nyata.
***
Aku kembali ke apartemenku setelah berpamitan dengan ibu David. Untungnya ia tak menganggapku membual setelah aku menceritakan semuanya, bahkan ia menyuruhku untuk tetap menjaga gelang yang penuh kenangan ini, “Aku tau kau anak yang baik jadi aku percaya bahwa kau tidak berbohong. Aku yakin, pasti ada maksud lain dibalik ini semua. David pasti juga sangat menyayangimu sampai menyempatkan diri bertemu denganmu disaat kritisnya dan memberimu gelang kesayangannya, jadi simpanlah,” begitu katanya.
Kurebahkan tubuhku di kasur, aku mulai merasakan bulir-bulir air mata jatuh menetesi kedua pipiku, “David….,” aku terisak, mengingat semua kenangan yang aku dan dia lalui selama ini.
“Jika benar bahwa kaulah yang terbaring disana, lalu apa kau yang selama ini bersamaku itu tidak nyata? Apa semuanya hanya ilusiku, David? Tapi menagapa semua terasa sangat nyata? Bahkan gelang pemberianmu ini masih ada ditanganku…Mengapa David? Apa yang terjadi?”
“Nadine!”
Aku terlonjak, sebuah suara berat yang tak asing ditelingaku terdengar disini, didalam kamarku.
“David!”
Aku segera terbangun, kulihat sosok David berdiri dengan senyum sedih diwajahku.
“Nadine, maafkan aku”.
“Bodoh! Apa yang terjadi? Menagapa semua orang melupakanmu? Dan mengapa aku melihatmu terbaring di ICU? Jelaskan padaku David!! Jelaskan semuanya!!” aku sudah tak dapat mengontrol semua emosiku. Aku menangis, meluapkan semua rasa bingung, sedih, dan marah yang bercampur dalam dadaku.
“Maaf, seharusnya aku memberitaumu dari awal. Sebenarnya di hari saat kita pertama kali berjanji untuk bertemu, aku sudah melihatmu dari seberang jalan, aku memanggilmu tapi sepertinya kau tidak mendengarku karena sedang asik mendengarkan lagu di headsetmu. Kau mulai berjalan menjauh, kupikir kau marah padaku karena aku terlambat dan hendak pulang jadi aku dengan tergesa-gesa menyebrang untuk mengejarmu dan… sebuah bus menabrakku. Aku tak ingat atau merasakan apapun saat itu dan yang terlintas dalam benakku hanya satu, Tuhan, jika ini saat-saat terakhirku, kumohon setidaknya biarkan aku bertemu dengan Nadine sekali saja dan mengucapkan bahwa aku menyayanginya dan meminta maaf padanya karena aku tak bisa menepati janjiku. Sepertinya Tuhan menjawab semua doaku dan aku terbangun di dalam kamar apartemenku. Aku benar-benar tak dapat menemukan handphoneku yang akhirnya kutau bahwa benda itu telah hancur saat kecelakaan itu. Dan setelah aku mengingat semuanya aku segera menuju ke apartemenmu dan bertemu denganmu, kupikir itu adalah hari yang sama saat kita janjian dulu, tapi ternyata semua telah berlalu seminggu semenjak semua terjadi,”
“Melihatmu, aku terlalu bahagia sehingga tak ingin semua ini cepat berlalu jadi kupikir mungkin aku bisa menghabiskan sedikit waktu denganmu sampai akhirnya semalam, kusadari bahwa kondisiku mulai memburuk. Orang-orang tak bisa melihatku atau menyentuhku. Aku seolah-olah menghilang dari kehidupan ini. Aku melihatmu dari kejauhan di rumah sakit bersama ibuku dan lagi-lagi aku merasa sangat bersalah karena mungkin aku akan meninggalkanmu dalam kebingungan. Aku mengikutimu sampai disini dan…aku melihatmu menangis, tak sadar kupanggil namamu dan aku terkejut ternyata kau bisa melihatku sekarang,” David mengakhiri semua penjelasannya.
Aku masih terisak, air mataku tak bisa berhenti untuk mengalir.
“Hey, hey, sudahlah, jangan menangis terus. Setidaknya aku masih bisa mengucapkan salam terakhirku untukmu. Berhentilah menangis, ini sangat menyebalkan ketika aku melihatmu menangis tanpa bisa memeluk atau menghapus air matamu, jadi berhentilah,” ia berusaha tertawa tapi aku benar-benar tak bisa ikut tertawa, meski hanya berpura-pura.
“Bodoh! Kau benar-benar bodoh! Kau tau, ini sangat berat. Aku sudah terlanjur menyayangimu, aku bahkan pergi ke kota ini karena aku yakin bahwa kau ada di sisiku, tapi apa?! Kau meninggalkanku seperti ini! Aku bahkan tidak tau akankah aku bisa tertawa lagi setelah semua yang terjadi”.
Ia terdiam untuk beberapa saat, menatapku dengan tatapan sedih kemudian melangkah mendekat padaku, mencoba menggenggam tanganku namun usahanya sia-sia karena ia seolah-olah tembus pandang.
“Nadine, dengar! Aku minta maaf karena aku memang tak bisa selalu ada di sisimu mulai saat ini, tapi bisakah kau melakukan satu permintaan dariku? Mungkin ini adalah permintaan terakhirku. Tolong jangan lupakan aku dari hatimu, apapun yang terjadi. Jangan lupakan semua kenangan kecil yang kita buat dalam waktu yang singkat. Jangan lupakan aku seperti halnya orang-orang yang kau temui. Kumohon!”
“Bodoh! Tentu tidak akan! Aku terlalu menyayangimu untuk bisa melupakan semua itu,” aku berusaha tersenyum dicelah-celah tangisku. Kupandang wajah David, ia tersenyum  padaku, senyum terakhir yang mungkin aku lihat dari wajahnya.
“Terima kasih Nadine. Well, kurasa aku harus menghilang, kondisiku semakin memburuk. Jangan lupa berdandan saat datang ke pemakamanku ya, aku ingin melihatmu tampil cantik seperti semalam disana hahaha,” terdengar tawa yang menyedihkan dari bibirnya. Tangan David mengusap pipiku untuk menghapus air mata yang terus mengalir, seketika aku merasakan lembutnya tangan itu mengusap pipiku, terasa hidup sebelum sosoknya semakin memudar dan menghilang. Menyisakan kehampaan dihadapanku.
Aku kembali menangis, akankah semuanya berakhir seperti ini?
“David…Aku sungguh mencintaimu”.
***
Pemakaman David berlangsung dengan khidmat dan diiringin tangis beberapa kerabatnya. Banyak sekali orang yang mengunjungi upacara pemakamannya, kurasa ia memang seorang pemuda yang baik. Rachel tetap tidak ingat tentang David, dan aku membiarkan hal itu tetap seperti itu. Kupikir, itulah jalan Tuhan supaya semua orang tidak merasa aneh jika menyadari hal yang sebenarnya terjadi. Biarlah semua kenangan itu berada hanya dalam benakku.
Salju turun, mengiringi upacara pemakaman ini. Salju yang sama seperti saat dimana aku menunggunya untuk pertama kalinya. Salju yang sama saat dimana aku merasakan hangat bibirnya menyentuh bibirku. Salju yang sama saat dimana takdir memisahkan kita.
END

391 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini