Posted on

Duniaku Jatuh Cinta

Oleh : Himyasa Aliabigovic Siti
Mamaku bilang, “Selesaikan saja sekolahmu dan setelah sukses nanti, mulailah berkencan dengan laki-laki yang kamu mau!”. Kalimat mama itu yang selalu ada di otakku dan tertanam begitu saja tanpa aku sadari. Ketika suatu hari laki-laki pertama menyatakan perasaannya padaku, kalimat Mama lah yang kujawab dengan lantang. Akhirnya selalu itu saja jawabanku, bukannya suka atau tidak suka. Atau mau juga tidak mau.
Hari ke 365 sekolah…
Aku berniat mengakhiri hari ini lebih cepat dari biasanya karena aku harus memasak ramen. Aku selalu merayakan kesetahun hari sekolahku sebagai tanda berakhirnya jadwal satu tahun sekolah, dan akan digantikan dengan tahun berikutnya. Setidaknya begitu menurutku yang selalu dianggap aneh oleh beberapa orang, termasuk mama.
“Eno! Kamu mau kuantar?”, salah satu sahabatku namanya Ayu.
Aku hanya menggeleng, “Aybud aku pulang dulu, ya~”.
“Hentikan memanggilku Aybud!”
“Haha! Bye~!” aku mulai berlari menelusuri lorong dan anak tangga. Tak ingin kehilangan momen berharga ini sedikitpun.
Tiba-tiba, seorang laki-laki menabrakku dari arah yang tak terduga. Aku terduduk dengan posisi wajahku di pipinya. Kami segera bangun dan belum sempat dia meminta maaf, aku pergi dengan melambaikan tangan padanya tanda ‘aku baik-baik saja! Kau tak perlu khawatir’ begitu.
Untung saja, hari ini tidak ada tugas atau apapun untuk dikerjakan selain belajar.
“Yak! Ayo masak!”, aku keluarkan semua bahan di atas meja dan memutar musik kesukaanku belakangan ini, salah satu lagu dari ChiCho with HoneyWorks.
Sekai wa Koi ni Ochiteiru hikari no ya mune wo sasu
Kimi wo wakaritaindayo
“Nee, oshiete”
Dalam setengah jam, semua makanan siap disajikan tapi, aku lupa membeli teh untuk ayah dan mama. “Cerobohnya aku!”, lagi-lagi aku berlari dan berharap secepatnya tiba di toko terdekat sebelum ayah pulang kantor.
“Sekai wa Koi ni Ochiteiru~ nanana~”, aku bernyanyi asal-asalan. Di persimpangan jalan, seorang laki-laki berdiri mematung seperti sedang menunggu kekasihnya dengan gelisah. Siluetnya bagus untuk ukuran murid SMA, atau dia mahasiswa? Atau model dan semacamnya? Segera kuhentikan pikiran peduliku kepadanya ketika…
“Hei! Kau tidak ingin minta maaf padaku?”
Eh? Siapa dia? Berbicara pada…ku?
“Siapa yang-?”
“Kau tentu saja! Kau yang membuatku jatuh di ujung koridor!”, laki-laki ini tampak kesal.
“Nah? Salahku apa?”
“Kau benar-benar kucing liar!”
“Hei! Kau siapa-?”
“Lihat saja pembalasanku di sekolah besok!”
Dia menepuk bahuku hingga membuatku merinding. Kekuatan mengintimidasi macam apa itu, batinku. Kuteruskan perjalanan beberapa langkah ke rumah. Tepat waktu, ayah baru saja tiba dan aku menyalaminya.
Langit cerah dengan sedikit awan yang menutupinya. Senangnya hari pertama di tahun ke-entah berapa-sekolahku, cerah dan manis. Aku harap hari ini akan berjalan cepat seperti hari lain.
Memang, aku masih murid kelas 2 SMA tapi aku tidak bisa diremehkan. Aku terbilang cakap dalam beberapa bidang pelajaran juga olahraga fisik. Meski kadang kekuatanku tidak cukup baik dan terlihat aneh melakukan beberapa gaya renang. Salah satu yang membuatku lucu adalah ketika beberapa kenalanku memberi julukan “Cantik” atau “Manis” atau “Baik” kepadaku, padahal mereka juga sering mencemoohku. Jadi, sebenarnya mereka menyukaiku atau bagaimana? Haha, aku tidak habis tertawa mengingatnya.
Di kelas…
Aybud baru saja mengaku padaku bahwa dia punya pacar tapi tidak bisa disebut pacaran, karena menurutnya yang Aybud jalani hanya kehidupan biasa dengan laki-laki itu. Tidak ada yang spesial dengan status pacaran mereka. Aku mendengarnya dengan seksama dan sedikit terkekeh dengan tingkahnya.
“Aybud…”
“Aku ingin hubunganku…. Eh iya?”
“Aku ingin ke kantin sebelum jam akhir. Temani aku!”, aku menyeretnya.
“Eno, mereka menggosipkanmu dengan laki-laki kelas sebelah. Kau tahu?”
“Nyam~” aku makan dengan lahap. “Aku tidak peduli.”
“Inilah Eno. Wanita menyebalkan yang menjadi sahabatku!”, Aybud hanya berbisik.
Baru saja kami akan meninggalkan meja makan siang, seorang laki-laki yang kemarin sempat membuatku merinding, menghalangi jalanku.
Aku meminta Ayu kembali ke kelas terlebih dahulu karena sepertinya laki-laki ini ingin membicarakan sesuatu dengaku. Aku tidak ingin membuatnya menertawakanku di kelas nanti. Nah, Ayu pasti akan tertawa. Pasti. Juga akan kesal padaku, dia akan menganggap ini sebagai pernyataan cinta. Aku akan menjelaskannya setiba di kelas nanti.
“Ada apa? Mm…”
“Riku Antara. Aku Riku!”
“Sebaiknya kita duduk saja…”
RIKU! AKU MENCINTAIMU! AKU DEWI KAREEN AGITA MENCINTAIMU!
Wajahku memerah, entah karena malu atau karena merasa dilecehkan. Dari mana suaraku itu? Kurasa, aku tidak pernah mengatakan sesuatu seperti itu! Apa yang terjadi? Seseorang tolong bantu aku memahami kejadian ini!
Aku tidak bisa berdiri lagi. Aku duduk lemas di lantai kantin itu. Aku melihat kaki Riku yang  jongkok. Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku, berbisik, “Aku sudah bilang semalam kan?”. Suaranya, meniruku? Tidak adil! Apa ini?! aku terus berteriak dalam hati sedangkan otakku berpikir keras apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Suaranya memang mirip sekali dengan suaraku! Dia menyamakan suaranya denganku! Tidak adil! Apa kesalahanku?! Bukannya dia yang menabrakku? Kenapa aku yang harus minta maaf  padanya? Dan ini pembalasan macam apa?! Masih saja aku mencari-cari pembenaran karena aku memang benar dan dia yang salah! Begitu terus hingga bel berbunyi dan semua murid yang ada di kantin lenyap satu per satu.
Aku akhirnya bangun. Tak kusangka, aku menangis. Laki-laki bernama Riku itu berdiri di depan pintu kantin. Entah apa yang ditertawakannya, aku melewatinya begitu saja dan berniat kembali ke kelas.
“Hei! Kau tidak ingin jawabanku? En-“
Aku melepaskan tangannya paksa dan berjalan santai, berharap kejadian seperti ini cepat berlalu dan aku tidak perlu dihakimi siapa pun. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun! Dan itu bukan suaraku! Itu hanya mirip! Semua orang pasti tau itu! Yak, aku mengusap air mata yang tersisa di pipiku lalu tersenyum memasuki kelas.
“ENO!”
“ENO! KAU BAIK-BAIK SAJA?!”
“AKU TIDAK MENYANGKA KAU AKAN MENGAKUINYA SEPERTI ITU!”
“DIA CINTA PERTAMAMU?”
“ENO KAU SUNGGUH TAK BISA DIPERCAYA! KAU TERNYATA SEMUDAH ITU!”
Sudah cukup! Aku kesal dengan ini semua! Tapi aku akan menganggap ini tidak apa-apa dan semoga cepat berlalu. Itu saja.
Selama pelajaran akhir kelas hari ini, aku tidak bisa berkonsentrasi seperti biasanya. Otakku melayang kemana-mana. Masih tidak bisa menerima yang terjadi. Mungkin Ayu khawatir padaku hingga dia melempar kertas bertuliskan ‘Aku percaya padamu!^^’ dan aku hanya membalasnya dengan anggukan.
Kamarku terasa sesak akhir-akhir ini, karena berbagai macam hadiah datang padaku disaat yang tidak tepat! Hari ini bukan hari yang spesial, tapi entah kenapa hadiah dan surat ini datang begitu saja dan terus-menerus ke kamarku?
Ah, itu benar! Batinku. Sejak kejadian memalukan itu, beberapa kenalanku menghadiahkan ini dan itu. Aku tidak membukanya, aku tidak punya niat sama sekali. Aku yakin isinya aneh. Salah satu surat dari, seseorang yang mengaku fansku saja isinya aneh. Menanyakanku pertanyaan tak penting seperti, ‘Sejak kapan kau menyukainya?’ atau ‘Kapan kau akan menyatakan perasaan sukamu padaku juga?’ atau ‘Aku sudah empat kali menyatakannya tapi kau terus saja menjawab kalimat mamamu itu! Kau payah!’. Aku tidak payah kau tau itu? Kau mengaku penggemarku tapi kau tidak tau apa-apa tentangku! Kau yang sebenarnya payah!, aku membatin lagi.
Pintu kamarku terbuka, “Mama bilang jika kau tidak mau, buang saja semua hadiah itu!”
Dia adik laki-lakiku. Umurnya hanya terpaut tiga tahun denganku. Edo.
Ah, tidak mungkin. “Sini! Bantu aku membukanya! Mmm, haruskah kubawa ke halaman belakang saja?”
Kami membawanya ke halaman belakang lalu membuka paksa hadiah itu satu per satu. Kuminta Edo tidak membuka surat-suratnya karena kurasa itu cukup pribadi bagiku membacanya.
Beberapa menit berlalu, tersisa satu hadiah yang belum kubuka. Edo menghilang, dia bilang akan main bola. Jika diperhatikan, hadiah ini jauh lebih besar dari yang lainnya. Dan sedikit berat. Aku menoleh ke tumpukan hadiah lain, sejauh ini tidak ada barang aneh. Jadi, aku menyiapkan diri untuk kemungkinan barang aneh di dalamnya.
Satu, lapisan ketas pertamanya bertuliskan ‘Jangan!’
Lapisan kedua yang kubuka bertuliskan ‘Buka!’
Sepertinya ini kertas terakhir, aku benar. Sebuah kotak kayu sederhana di depanku. Aku mencari pembuka kotaknya. “Ah, ini dia…. AAAAAAAARGGGH!”, jantungku seperti akan mencuat keluar. Bagaimana tidak? Siapa yang berani memberiku boneka badut berdarah seperti itu?! Seseorang dendam padaku? Salah satu kenalanku? Teman sekelasku? Siapa?! SIAPA!?
Mama dan adikku buru-buru datang, aku menyembunyikan kotak itu dan berlari ke kamar. Pasti ada petunjuk siapa yang mengirimnya.
“Tidak ada petunjuk satu pun!”, artinya aku harus melupakan ini begitu saja hingga seseorang itu mengakuinya sendiri.
Sudah lebih dari seminggu berlalu tapi rumor tentangku masih saja hangat. Telingaku sudah terbiasa, aku menganggap diriku artis atau sesuatu semacam itu untuk menghibur dan terlihat baik-baik saja. Ayu tetap menemaniku dan berbicara denganku tapi tidak dengan yang lain, mereka menjaga jarak. Haish, padahal mereka juga pernah menyatakannya pada orang yang mereka sukai. Otakku yang menulisnya. Sedangkan, aku tidak! Itu semua kecurangan laki-laki bernama Riku!
Aku tidak melihatnya akhir-akhir ini. Sepertinya dia bersenang-senang di suatu tempat melihatku menjadi bahan gosip.
“Eno, aku pulang dengan pacarku!”
“OK! Aku akan mengembalikan buku ke perpustakaan dulu, bye!”, kulambaikan tanganku pada bayangan tubuh Ayu yang menjauh.
“Senangnya dia! Hehe.”
Sekai wa Koi ni Ochiteiru hikari no ya mune wo sasu
Kimi wo wakaritaindayo
“Nee, oshiete”
Lagu itu, ada kah yang juga menyukainya? Tanpa sadar aku mengikuti asal suara itu dan membawaku padanya, pada laki-laki menyebalkan yang membuatku menjadi bahan tertawaan seantero sekolah!
Aku berbalik tapi kalah cepat, dia di depanku sekarang. Hebat, huh?
“Kau terkenal berkat aku!”
Aku mengangguk malas.
“Harusnya kau berterima kasih!”, dia tersenyum meremehkanku?
“Tidak mau! Minggir, aku harus-“
Dia menyeretku masuk kelas. Suara seorang wanita dengan beberapa temannya. Aku mengenalnya, wanita itu salah satu model langganan majalah olahraga favoritku.
“Tidak ada kabar?”
“Aku yakin mengirimnya di alamat yang tepat!”
“Dia hanya bersikap cuek seperti biasa. Tanpa tau kesalahannya!”
“Hei, tapi boneka dengan noda darah itu bukankah sedikit-“
“Aku tau! Hanya kali ini saja sampai dia menyadarinya! Aku tidak akan melakukannya lagi lain-“, Mega menghentikan kalimatnya saat tau aku menepuk pundaknya dan tersenyum.
“Jadi, kau yang menyuruh mereka mengirimnya Mega?”
Dia diam, itu menang benar. Dia pasti merasa tersaingi dengan gosip tentangku.
“Terima kasih. Kukira kau orang baik yang kujadikan idola karena muncul di majalah favoritku. Aku salah.”
Sebelum pergi meninggalakan mereka, aku berbalik dan berkata dengan lantang, “KALIAN TIDAK BERPIKIR BAHWA MEGA AKAN MELAKUKAN ITU PADA KALIAN JUGA? JANGAN MEMBUATKU TERTAWA KALIAN MAU MENJADI PESURUHNYA!”
Aku terkekeh, tidak kusangka aku bisa seberani itu. Tidak, aku terkekeh bukan karena itu tapi, karena Mega yang model majalah favoritku ternyata berani melakukan itu padaku. Aku sakit hati, dan merasa bodoh. Harusnya aku lebih mengenalnya sebelum mulai menjadi salah satu fansnya.
Tangan seseorang menepuk pundakku, aku merinding. Riku menyuruhku berhenti. Aku menurutinya dengan malas dan berbalik.
“Kau yakin baik-baik saja?”
“Apa? Pergilah!”, aku memukul tangannya dibahuku.
Malam ini aku tidak bisa tidur, aku teringat kalimatnya ‘Kau yakin baik-baik saja?’. Apa maksudnya itu, batinku berbicara. Aku beranjak dari kamar dan meminta ijin ayah untuk berjalan ke taman sekitar perumahan. Sudah lama sekali aku tidak melakukannya karena belajar, belajar, dan belajar.
Anginnya menyejukkan tapi dingin. Parahnya, aku lupa membawa jaket. Kakiku berhenti melangkah saat seorang laki-laki memelukku dari belakang. Siapa dia? Kutendang kakinya dan berbalik saat dia mengeluh kesakitan.
“Riku.”
“Apa? Pergilah!”
Dia menyamakan suaranya lagi. Sudah lama aku tidak mendengarnya.
“Kau belajar teknik menirukan suara?”
“Tidak, hanya kau saja yang bisa kutiru.”
Apa maksudnya itu? Aku membuat wajah aneh.
Hening diantara kami. Aku baru sadar, sudah terlalu lama aku diluar rumah. Sudah saatnya kembali.
“Eno, harusnya kau mencoba menyukaiku. Susah sekali menirukan suaramu. Kau tau?”
“Kau bercanda. Pulanglah!”
Dia memelukku lagi. Aku melepaskannya.
“Riku, aku tidak akan menyukaimu. Mungkin tidak pernah.”
“Jadi, aku hanya perlu bermain denganmu. Aku mengerti. Pergilah!”
Kami meninggalkan taman itu, dan berjalan ke arah yang berbeda.
Kelasku terlihat biasa saja kecuali dengan datangnya makhluk aneh itu. Sejak kapan dia di kelas kami? Dan lagi, dia duduk di tempat dudukku! Aku akan duduk di belakang kelas saja. Ada bangku kosong sepertinya, batinku sebenarnya mengeluh.
Sepanjang kelas, angin menerpaku melewati jendela yang terbuka, rambutku jadi acak-acakan. Konsentrasiku hancur. Jendela sebelah bangkuku macet. Aku sudah mencoba menutupnya berkali-kali tapi tetap saja tidak bisa. Akhirnya kubiarkan angin ini, semakin lama aku semakin menyukainya. Tak sadar aku terkekeh senang. Rasanya damai. Ku buat wajahku menghadap jendela.
“Hei, Eno ternyata makin cantik ya?”
“Eno memang cantik!”
“Eno itu manis, hanya saja dia cuek.”
Was wes wos, was wes wos. Jam istirahat mereka membicarakanku. Termasuk, Riku.
Ah mengingat Riku, ingat kalimatnya semalam. Dia hanya mau bermain-main denganku? Bermain apa?
Belum sempat kuteruskan pikiranku, seorang laki-laki menarikku ke sudut koridor. Dia menyatakan perasaannya padaku. Kujawab saja santai seperti biasa. ‘Mamaku bilang, blablabla’. “Eh?!” celetukku. Aku tidak pernah menjawabnya seperti ini dengan Riku. Aku malah menjawabnya dengan kalimat lain, apa ya? Kutepuk dahiku mengingatnya. Aku meninggalkan laki-laki itu sendirian dan berlari mencari sosok Riku.
Di kelas, tidak ada. Kantin, juga. Perpusatakaan? Mana ada dia disana! Ruang serba guna? Aula? Dia dimana?
“Tunggu! Aku mencarinya?”, aku tidak percaya aku mulai peduli hal seperti ini.
Dengan malas aku berjalan kembali ke kelas, Ayu memanggilku dan kami berjalan bersama. Sampai di akhir anak tangga…
“So, Riku. Kau benar-benar tidak menyukainya?”
“Entahlah. Mungkin tidak.”
“Lalu, benarkah dia menyatakannya padamu dikantin saat itu?”
“Tidak, itu aku yang susah payah menirukan suaranya.”
“Jadi? Boleh?”
“Apa maksudmu?”
“Biarkan aku memacarinya! Hahaha.”
“Jangan ganggu mainanku!”, dari suaranya, dia benar-benar kesal. Begitu juga aku. Aku muncul dari balik tangga dan hanya melihat mereka sekilas, aku akan mengingat wajah mereka. Satu per satu akan kuingat. Kumpulan laki-laki menyedihkan seperti mereka, dan Riku. Aku tidak peduli lagi jika aku mulai peduli, aku merasa bodoh dengan ini tetapi aku lega mengetahuinya. Selalu tidak sengaja seperti ini. Jadi aku tidak akan sakit hati dan hanya cuek seperti biasa.
Aku pulang sekolah sendirian. Sepertinya, aku melamun sampai di rumah. Meskipun di kamar, aku langsung tertidur tanpa lebih dulu ganti baju. Mama berteriak, “BANGUN! EDO BANTU MAMA! KAKAKMU! BANGUN KAREEN! ENO!” suara mama menghilang.
Cahaya matahari terik mematri selimut biru yang kupakai. Bau desinfektan. Aku melihat selang dan infus. Wah, aku benar-benar ada di rumah sakit? Aku masih tidak percaya.
Ayah dan mama masuk kamarku disusul Edo yang membawakan kursi roda. Aku mengatakan baik-baik saja dan meminta keluargaku agar tidak mengkhawatirkannya. Kudengar dari mama dan Edo, saat itu aku demam tapi tetap saja mandi air dingin. Karena aku yang dipanggil untuk makan malam tidak datang juga, mama memeriksa kamarku. Suara air yang terus mangalir itu membuat mama yakin, aku melamun lagi di kamar mandi. Mama membuka pintu dan melihatku pingsan dengan seragam lengkap di bak mandi penuh air dingin di malam hari. Akhirnya, mama dan Edo mengabari ayah untuk pulang kerja dan membawaku ke rumah sakit. Syukur, dokter berkata tidak ada yang serius denganku dan aku hanya perlu istirahat total selama sehari besok.
Mendengar cerita itu, aku tidak yakin bisa mengingat apa pun yang terjadi hingga membuat aku ceroboh. Beristirahat seharian penuh, artinya aku meninggalkan pelajaran. Akhir-akhir ini saja aku kurang konsentrasi, ditambah besok. Apa tidak ada cara agar aku bisa belajar dengan lebih baik?
“Tenang saja, teman-temanmu mengirimkan ini padaku, kak!”, Edo memecah lamunanku. Dia meletakkan setumpuk buku catatan di atas kasur.
“Senangnya!”, kami tertawa bersama.
***
Semakin hari, aku semakin gila belajar. Begitu ungkap teman sekelasku. Aku tak peduli, aku harus menebus semua ketertinggalan pelajaran selama beberapa minggu terakhir akibat kecerobohanku.
Di jam istirahat pun, aku masih asyik menyalin dan menyoret bukuku, lalu dia datang…
“Ini, makanlah! Aku suapi ya!”
Aku hanya menatap roti yang dia tawarkan tapi mulutku tidak terbuka. Aku tidak ingin makan apa pun. Perutku sudah kuisi penuh sewaktu sarapan tadi, sedangkan dia masih gigih dengan roti coklat yang terbuka setengah plastik pembungkusnya. Sepertinya sayang untuk dilewatkan, aku mendekatkan diri. Membuka mulutku perlahan dan memakannya.
“Haha, wajahmu lucu! Ya sudah, lanjutkan saja.”
Riku pergi dengan roti yang sempat kumakan sedikit itu. Laki-laki itu menyebalkan! Apa maksudnya ingin menyuapiku? Aku hanya gigit sekali lalu dia pergi begitu saja. Aku hanya membatin, melanjutkan belajarku tapi…
“Eno, ini dari Riku!”, Ayu melemparkan sebuah roti coklat padaku.
“Kamu yakin ini dari dia?”
“Iya, dia bilang berikan ini pada Eno. Begitu. Eh, sepertinya kalian dekat. Katakan sesuatu padaku!”, Ayu sudah duduk tepat disampingku.
“Aku tak perlu menjelaskan apa-apa.”
Ayu hanya tertawa, dan membantuku makan roti selagi jam istirahat belum berakhir.
Hari ini pelajaran dihentikan begitu saja ketika salah satu guru kami pingsan di kelas. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku cukup yakin itu karena kelelahan. Segera kami berhamburan ke depan kelas, aku mencegah beberapa murid laki-laki yang akan menggendong Bu Akita sembarangan. Aku memarahi mereka.
“Kamu harus meletakkan tanganmu disini, ini dan disitu! Cepatlah! Bantu aku!”, satu per satu laki-laki itu mengerti dan mulai membantuku mengangkat tubuh Bu Akita yang terasa ringan, tapi aku tidak sadar Riku menggantikan tempatku dan mereka meninggalkan kelas.
Suasana kelas tidak terkendali, aku juga tidak bisa belajar. Kuputuskan menjenguk Bu Akita di UKS. Dalam perjalanan menuju ruang UKS, aku melihat siluetnya lagi. Riku berjalan ke arahku dan menepuk bahuku hingga merinding, ‘Beliau baik-baik saja’ samar aku mendengarnya. Aku lega, saatnya kembali ke kelas.
Baru pertama kali ini aku melihat bayangan tubuh Riku, maksudku bagian belakang tubuhnya. Dia tinggi, berambut coklat yang sedikit ikal. Berkaos hitam dibalik seragamnya. Eh? Aku melamun aneh. “Haha.” Tawaku terdengar girang dan membuatnya tersenyum saat berbalik melihatku.
“Kamu memang aneh! Haha.”
Dia tidak merespon kalimatku dan kami terus berjalan kembali ke kelas.
“Hari Minggu…”. Aku sangat malas bangun dari tempat tidur.
Edo mengetuk pintu kamarku, “Kak, ada Riku di bawah. Cepat temui dia!”
Aku terkejut, sejak kapan dia tahu alamat rumahku? Oh iya, malam itu dia berdiri di persimpangan jalan menuju rumah. Lalu, ada urusan apa dia kesini?, otakku memberontak.
Selesai mengeringkan rambut dan berpakaian, kutemui dia di ruang tamu. Dia sendirian saja. Edo pasti bermain bola sepak, mama dan ayah mungkin sedang jalan-jalan.
“Pagi, ada perlu apa kamu datang kesini?”
“Hai, pagi. Aku mau mengajakmu jalan-jalan, tentu saja.”
Dia mengatakannya seolah dia tahu aku tidak akan menolak.
“Aku sedang malas. Pulanglah!”
“Bagaimana jika aku temani kau bersantai? Di halaman belakang?”, sebelum kupersilahkan dia sudah berdiri dan melangkahkan kaki ke halaman belakang rumah kami.
Dia duduk di salah satu gazebo. Dengan enggan, aku mengikutinya dan duduk tepat di belakangnya. Tiba-tiba suasana di antara kami hening. Rumput dan bunga yang bergoyang diterpa angin, membuatku senang. Aku hendak berdiri sebelum tangannya menarikku dan memaksaku duduk.
“Apa?!”, aku mulai kesal.
“Aku tidak bisa membuatmu menjadi mainanku. Membuatku frustasi.” Dia memalingkan wajahnya.
“Mainan?”
“Iya, kukira kau akan suka padaku. Kau tahu?”
“Aku tidak mengerti.”
“Jika kau menyukaiku, aku bisa membuatmu mainanku tapi tidak jika sebaliknya.”
“Kamu bercanda?”
Dia diam dan menatapku dalam. Sedetik kemudian dia tersenyum jahil. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Mencium pipiku. Aku yakin wajahku memerah karena terasa panas.
“Melihat reaksimu, kau mungkin menyukaiku.” Dia terkekeh.
Aku hanya menganggapnya angin lalu. Sikapku biasa.
“Lihat aku!”
“Ap…Au!”, dia mencubit pipiku, mencubiti pipiku seperti boneka. Mainan? Itu maksudnya bermain speperti ini? dia terus saja mencubit pipiku dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memilin rambutku. Wajahnya terlihat sangat gembira sedangkan aku kesakitan dibuatnya.
“Eno, coba tangkap ini! Lari Eno!”, dia menyuruhku mengambil bola kasti yang dilemparnya sembarangan. Entah kenapa aku menurutinya. Menangkap bola itu dan melemparkannya kembali. Terus seperti itu, hingga dia merendahkan lemparannya dan memperpendek jarak kami. Tepat dua meter di depanku, dia tak lagi melemparkan bola kasti di tangannya. Aku menunggunya berbicara atau melakukan sesuatu.
Seketika saja angin membuat rambutku acak-acakan. Dia terkekeh dan membuka mulutnya namun tidak bersuara. Aku tidak mendengar apa pun.
“Lupakan saja!”, ucapnya kemudian.
“Baiklah.”
Kami memutuskan masuk ke rumah ketika angin semakin kencang dan, turun hujan juga. Kukira dia akan pulang begitu saja.
“Kenapa kamu belum pulang?”
“Aku belum selesai bermain.”
Dia membantuku membuat teh dan menyiapkan kudapan. Sebenarnya, aku memang tidak mengenal dia sama sekali. Yang kutahu hanya namanya Riku Antara. Dia suka berkata ‘Mainan, mainan mainan’ yang aku pun tidak begitu paham maksudnya.
“Jadi, mainan itu apa sebenarnya?”, pertanyaan itu muncul begitu saja. Aku pasti melamun. Dia akan menertawakanku. Iya kan?
“Bisa disentuh, bisa dibawa kemana saja. Bisa juga dicium.” Aku tidak menyangka dia akan sebahagia itu menjawabnya.
“Mainanku itu kamu.”
Aku terkekeh, tapi juga membuat wajahku panas. Apa yang sebenarnya laki-laki ini katakan? Dia bukan anak kecil, benarkan? Dia tidak tampak seperti anak kecil yang kurang bahagia. Dia tertawa seakan bahagia selama hidupnya sepanjang hari.
Kami menonton film menunggu ayah dan mama pulang. Sesekali kulihat dia, tenang. Saat dia melihatku, aku hanya memalingkan wajahku menatap layar. Ternyata hari ini menyenangkan berkat dia, aku tidak perlu sendirian dan menghabiskan waktu untuk belajar lagi seperti hari Minggu lainnya. Suatu hari aku akan berterima kasih padanya. Aku janji.
“Kamu jangan dekati dia! Nilaimu jangan sampai turun hanya karena dia.” Mama memarahiku sebelum berangkat sekolah.
Aku ingin menceritakannya pada Ayu tapi hari ini dia absen karena harus menjenguk neneknya yang sakit. Rasanya sesak, lalu aku teringat Riku. Mungkin dia mau mendengarkanku.
Memasuki kelas, kulihat dia sedang bersama seorang wanita. Kuputuskan bersembunyi di balik pintu. Mendengarkan percakapan mereka berdua.
“Jangan kencani dia! Apalagi menjadi pacarnya!”, wanita itu sedikit berteriak.
“Bukan hakmu mengatur hidupku.” Riku tidak terdengar marah.
“Kita pernah bersama! Aku masih punya hak untuk memberi pendapat!”
“Apa? Bersama? Telingaku gatal mendengarnya.”
“Tara-ya! Aku masih mencintaimu! Apa yang sebenarnya terjadi-?”
Percakapan mereka terhenti ketika salah satu temanku membuka pintu. Aku menyusulnya masuk kelas tanpa wajah bersalah. Wanita itu segera pergi, sempat menabrakku juga. Aku hanya acuh tak acuh seperti biasa.
“Dia murid kelas tiga yang pernah berkencan denganmu?”
Aku memasang telinga. Menarik.
“Begitulah, tapi, aku punya mainan baru. Itu!”, aku terkejut karena dia menunjukkku dan membuat beberapa murid lain menatapku aneh.
“Apa?”, kujawab saja dengan santai.
“Kemarin kita belum melakukan apa-apa, kau tahu?”, lagi. Kalimatnya membuat tatapan aneh dan bingung teman sekelasku.
Stop joking around!”, aku membuka botol minuman ber-ion pemberian mama tadi pagi.
Bel pertama berbunyi, aku merasa lega karena dia tidak melanjutkan kalimatnya meski sudah membuka mulut.
Beberapa hari berlalu, aku tidak ingat sudah berapa lama aku merasa aneh dan sedikit risih. Berawal dari hari itu, di gedung olahraga ketika pulang sekolah. Aku melemparkan bola basket ke ring. Berlari ke tengah lapangan, lalu kembali ke bawah ring dan mencoba dunk. Tidak berhasil meski keringat rasanya sudah mencapai telapak tanganku.
Cuz i know i can treat you better
Than he can
And any girl like you deserve a gentleman
Suara musik siapa itu? Nada dering? Sepetinya bukan. Aku hanya membatin. Suara musik itu semakin mendekati aku. Laki-laki aneh yang selalu menyebutku mainan, Riku Antara, datang dengan wajah cemberut.
“Aku pinjam bolanya!”, dia merebutnya dari tanganku. Lalu, melemparnya sembarangan ke ring. Dia benar-benar sedang kesal.
Mendengar bunyi musik dan pantulan bola basket, tidak menyenangkan untukku karenanya aku bergegas membereskan tas dan berniat meninggalkannya.
“Aku mau pu…. Hmmmph!”
Dia memelukku dengan tubuh besarnya. Bahunya lebar dan kekar, aku baru menyadarinya.
“Kau belum menyukaiku ‘kan?”
“….”, karena aku tidak segera menjawab dia membuka satu tangannya dan aku bisa bernafas lagi, syukurlah.
“Apa yang harus kusuka darimu?”, benar-benar membuatku bingung dengan pertanyaannya.
“Kehadiranku? Kau bisa mulai menyukainya.”
“Kehadiran seperti ini maksudmu? Tiba-tiba datang, lalu memelukku?”
“Iya, tepat seperti ini!” suaranya terdengar senang. Aku mendongak karena penasaran. Bukannya tadi dia berwajah masam, dan mengerutkan kening?
Belum sempat aku mendorongnya, bibirnya sudah menyentuh pipiku, sedikit mendekati bibir kananku.
“Riku, ini juga termasuk menjadi mainanmu?!”
“Iya.”
“Lalu kapan aku bisa menjadi wanita untukmu?!”, aku tidak sadar sudah mendorongnya hingga tersungkur. Aku berlari sekencang-kencangnya yang aku bisa lakukan. Aku tidak peduli guru-guru yang kulewati, tanah lapangan sepak bola yang sedikit basah karena gerimis. “Sudah cukup! Mama benar!”, aku meneriakkannya namun tak bersuara.
Tepat sejak saat itu, aku mengurung diri di kamar. Berangkat ke sekolah, menuju perpus, belajar. Pulang sekolah ditemani Ayu dan segera ke kamar tanpa banyak bicara. Hanya beberapa kali Ayu dan kenalanku, juga termasuk teman sekelasku menelpon. Sekedar menanyakan perubahan sikapku ini. Aku hanya menjawab sekenanya, ‘Aku harus menjaga rumah’ ‘Aku harus menyiapkan tugas’ ‘Aku harus mencuci baju yang menumpuk’ dan berbagai alasan lainnya. Aku memang sengaja tidak jujur pada mereka, kecuali Ayu. Dia tau semua kejadiannya. Aku yang menceritakannya belakangan ini. Tanggapannya mengejutkanku, “Kamu memang suka dia!”.
Aku belum cukup yakin, maka hari ini kuputuskan untuk memikirkannya. Semua yang dia lakukan, menilai sikapnya padaku, membandingkannya dengan semua yang menurutku pantas diperhitungkan. Gagal. Aku salah. Ini bukan masalah logika, otak atau sesuatu yang harus kunilai.
“Iya, ini masalah hati.”, aku bergumam dan menangis. Ini pertama kalinya aku merasa gagal. Aku mulai peduli. Kalimat Mama tidak lagi menjadi kekuatanku, justru sebaliknya. Membuatku sakit. Dadaku perih. Sepertinya, aku akan membuat Mama marah besar jika mendengarnya. Lalu, bagaimana caraku berterus terang?
Aku masih terus memikirkannya, semakin larut dalam perasaan ini. Campur aduk. Bahagia karena perasaanku memang bahagia entah kenapa, sedih mengingat Mama dan keluargaku yang susah payah ingin membuatku wanita sukses suatu hari nanti. Aku ingin bertemu Riku dan meminta pendapatnya. Besok. Aku harus menemuinya dan mengaku padanya, aku sangat menyukainya sebelum kusadari itu sudah berlangsung lama.
Pagi yang mendung. Burung saja tidak ingin berkicau. Halaman belakang rumahku juga terlihat tak terawat. Pemandangan menyedihkan sedangkan hatiku tidak sabar ingin bertemu dengannya.
Mama dan Ayah menasehatiku seperti biasa. “Oh iya. Edo! Ganbatte!”, malam nanti dia akan bertanding melawan salah satu tim sepak bola terbaik di kota kami. Edo hanya tersenyum dan mengantarku hingga pintu depan rumah.
Riku, Riku. Tempat duduk Riku kosong. Mungkin aku berangkat terlalu cepat. Pelajaran kedua berakhir dan Riku baru saja tiba di kelas. Guru kami memarahinya dan memberi hukuman piket sepulang sekolah nanti. Kudengar dia mengeluh. Aku menatapnya sekilas, dia tersenyum jahil.
Jam istirahat, aku melihatnya menuju kantin. Kudekati dia dan hendak bertanya apakah dia punya waktu untuk berbicara denganku tapi, seorang teman menariknya. Usaha pertamaku gagal. Kembali berjalan ke perpustakaan, niatku.
Di perpustakaan…
Bel istirahat berakhir sudah kudengar empat kali. Tandanya semua murid SMA 7 harus masuk kelas namun, laki-laki aneh memelukku dan menarikku mengikutinya. Dia Riku. Aku yakin dia sedang tersenyum jahil seperti tadi pagi.
Kami tiba di kantin. Sepi. Petugas kantin pun tidak ada. Artinya aman bagiku untuk mengungkapkannya tanpa rasa malu.
“Riku…”
“Aku dengar kau pergi dengan Rizal semalam.”
“Eh?”
“Iya, Rizal pacar Ayu ‘kan? Kenapa kau pergi dengannya di malam hari? Kalian melakukan sesuatu tanpa kami tau?”
“Hah?!”
Memang benar, aku pernah pergi berdua dengan Rizal. Itu bukan di malam hari! Sore! Pulang sekolah! Untuk membeli kado ulang tahun Ayu!, aku hanya membatin dan mendengarkannya melanjutkan percakapan kami.
“Jawab aku!”
“Kenapa aku harus menjawab pernyataan yang salah?”
“Bagian mana yang salah? Kami punya buktinya kalau…”
“Kami? Maksudmu kamu dan Ayu?”
“Iya.”
“Ayu tidak mungkin mempermasalahkan ini.”
“Jadi hanya aku.”
“Ayolah, kamu tidak mungkin menyeretku dengan wajah senang untuk membahas ini!”, aku sedikit kesal.
“…”
“Kita ketemu nanti, itu pun kalau kamu mau.”
“Berhenti! Eno!”
Aku membalikkan badan, dia mendekat. Tersenyum.
“Aku tau kau menyukaiku.”
Tentu saja aku terkejut. Sikapku biasa saja, menurutku. Aku tidak melakukan sesuatu yang menunjukkan bahwa aku menyukainya. Benar. Aku tidak menyatakan sesuatu juga padanya.
“Kamu bercanda? Sejak kapan aku menyukaimu?!”, nadaku meninggi.
Dia yang terkejut kali ini, hingga memundurkan langkahnya. Sebelum pergi meninggalkanku, dia menepuk bahuku dan berbisik, ‘Aku akan pergi jika itu maumu’. Tidak. Dadaku kembali sakit. Ingin sekali aku mengejarnya tapi tidak sanggup. Kakiku serasa menginjak semen super dan badanku bergetar. Akhirnya, setelah mengambil nafas panjang, aku bisa berjalan setenang diriku dahulu meski hatiku rasanya mengecil.
Pulang sekolah…
Dia menjalankan hukumannya dengan baik. Aku tetap diam di kelas melihat siluetnya. Kami tidak berbicara satu sama lain. Canggung. Bingung bagaimana harus memulai percakapan.
“Maaf.” Hanya kata itu yang bisa kukatakan.
Aku tidak berani melihatnya lagi, kuletakkan dahi dia atas meja, melihat lantai di bawah kakiku yang mulai kabur dari pandangan.
“Aku sakit, pertama kali aku menginap di rumah sakit itu karena perubahan sikapku yang aneh. Membingungkan meski ada alasan logis untuk itu. Aku sering melamun sejak mencoba mengenalmu.”
Tidak ada respon, aku melanjutkannya. Angin berhembus ditelinga membuatku geli.
“Pertama kali kujawab pernyataan cinta dengan kalimat berbeda karena kamu yang terlintas. Seingatku, aku menjawabnya dengan ‘Tidak mau’ semacam itu ‘kan? Ah, kamu mungkin lupa. Tapi itu lucu. Aku yang seperti itu…”
Kudengar suara papan tulis. Dia tidak merespon lagi.
“Jangan pergi. Aku sudah terbiasa dengamu yang selalu ada di sudut mataku. Dimana pun itu selalu ada kamu. Kantin. Kelas. Bahkan perpustakaan dan gerbang sekolah.”
Itu tidak terdengar seperti permohonan ataupun kalimat suruhan.
“AKU…. Eh?”, sedikit terkejut saat menegakkan leher.
“HAHAHAHA…”
Dia tertawa terbahak-bahak, menuliskan kalimat yang aku ucapkan sedari tadi. Dia iseng sekali. Aku memang dianggapnya mainan saja.
“Lucu? Aku hampir saja mengatakannya.”
“Lanjutkan! Ayo!”
“Tidak mau! Riku aneh! Laki-laki aneh! Aku ma-“
“I love you.”
Dia mengusap kepalaku, dan menyentuh bibirku. Hangat. Bibirnya terasa hangat.
“Aku bertaruh, ini ciuman pertamamu!”, dia tertawa lagi. Aku hanya bahan leluconnya. Aku bisa bayangkan jika menjadi pacarnya dan mulai berkencan nanti, aku hanya akan menjadi mainan seperti yang dia sering katakan. Mainan itu benda yang bisa disentuh, dicubit, juga dicium. Satu lagi, bisa dijadikan bahan leluconnya setiap saat.
“Aku benar-benar menjadi mainanmu?”
“Tidak, kau pacarku sekarang!”, dia memegang tanganku. Tangannya kotor karena kapur, tapi terasa hangat. Aku juga merasakan sengatan hingga membuat wajahku memerah.
“Kareen, ayo kita temui keluargamu. Kali ini aku sebagai pacarmu. Haha.”
“Tertawalah, aku bisa pulang sendiri!”
“Kareen, tunggu aku!”
Aku tidak menggubrisnya, dan berjalan girang menyusuri lorong. Dia memanggilku Kareen?
Sekai wa Koi ni Ochiteiru hikari no ya mune wo sasu
Kimi wo wakaritaindayo
“Nee, oshiete”
Lagu itu terdengar sangat mewakili perasaanku. Memang, saatnya duniaku mulai jatuh cinta.
***
Kami menghabiskan es krim dengan cepat, hari ini panas sehingga es di tangan kami cepat meleleh. Aku memberinya setengah bagianku. Dia senang.
“Tapi, ini milik mainanku. Kau harusnya tidak membaginya dan membiarkanku… yang memberimu.”
“Berisik! Aku kenyang.”
Riku menyendokkan es krim teh hijau dengan toping coklat itu ke mulutnya.
“Riku, kamu akan memanggilku ‘mainan’ terus?”
“Aku… belum punya kata yang tepat untuk-“
“Terserah sajalah! Tapi jujur itu membuatku risih.”
“Jadi, ‘mine’?”
“Mine?”, kata berbahasa Inggris yang artinya milikku.
“Terdengar seperti ‘main’ dari kata ‘mainan’ juga. Menurutku cocok.”
“Lagi-lagi aku hanya mainan.”
“Haha… kau… pacarku. Buktinya kita kencan beberapa hari ini.”, dia tersenyum jahil. Aku bahan tertawaan baginya.
Aku tidak menjawab dan terus memandang langit. Panasnya hari ini dibuat sejuk karena ada Riku disampingku. Laki-laki yang bahunya lebar dan kekar. Dengan rambut ikal berwarna tidak biasa untuk ukuran orang Indonesia umumnya. Dia pacar pertamaku. Dia mengenalkan cinta di duniaku yang hanya berfokus pada belajar dan masa depan yang sukses. Perjuangannya membuat duniaku berbeda, aku baru menyadarinya. Cinta itu memang indah tapi juga menyakitkan. Seperti saat aku mendengarnya berbicara dengan murid lain selain aku, apalagi berdua di dalam kelas yang sepi. Juga saat dia menyebutku mainannya. Cinta itu membuatku kebingungan, hingga harus masuk rumah sakit dan menginap seharian dengan bau desinfektan dan obat-obatan. Cinta itu membuatku sedih hingga menangis, cinta itu juga membuatku menjadi pribadi yang lebih baik.
Cinta itu dia. Riku Antara adalah cinta itu sendiri. Terima kasih telah bersusah payah mengajarkanku. Mengejarku hingga terjatuh, berusaha selalu ada di sudut mataku. Berusaha membuatku memahami apa sebenarnya arti cinta itu bagiku. Sekali lagi, terima kasihku untukmu. Cinta pertamaku, Riku-kun!

546 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini