Posted on

Dua Mawar untuk Maida

Oleh : Nanda Ruli Maulidiyah

“Permisi mbak, lagi nunggu siapa?” Tanya seseorang kepada Maida.
            “ Lagi nunggu bus mas”.
            Ternyata orang itu juga sedang menunggu bus, ia pun mengajak Maida untuk berkenalan. Ia mengulurkan tangannya ke Maida namun ia meletakkan tangan di depan dada sambil tersenyum. Lelaki itu pun tersenyum dan ikut meletakkan tangan seperti Maida. Hari itu hujan turun dengan derasnya dan bus yang biasanya banyak berlalu lalang kini hampir setengah jam belum lewat juga. Sambil mereka berbincang-bincang bus yang mereka tunggu pun datang. Mereka berdua naik dan duduk bersebelahan karena tak ada tempat duduk yang kosong lagi. Maida  turun terlebih dahulu sedangkan lelaki tadi masih melanjutkan perjalanannya.
            “ Permisi mas, saya turun dulu assalamualaikum”
            “ Waalaikumsalam, hati-hati mbak” .
            Lelaki itu turun di sebuah restoran berbintang untuk menemui seorang lelaki yang sudah menunggunya sejak satu jam tadi. Ia berusaha menenangkan lelaki yang sudah lama menunggunya tadi karena ia merajuk.
            “ Sayang, jangan marah ya tadi itu ban mobilku bocor, aku telpon sopir dan aku kesini naik bus”
            “ Kamu itu selalu kayak gitu udah sejam loh aku nunggu kamu”. Dengan usaha keras akhirnya ia berhasil menenangkan lelaki yang merajuk tadi.  Mereka makan malam bersama sambil bercanda ria. Setelah makan malam selesai mereka pulang ke kos-kosan lelaki yang merajuk tadi. Ketika tengah malam salah satu diantara mereka terbangun karena mimpi buruk.
            “ Ada apa Roby?”
            “ Aku baik-baik  saja”
            Roby adalah seseorang yang bertemu Maida di halte tadi sore. Keesokan harinya Roby pergi bekerja, ia seorang general manajer sebuah hotel ternama di kotanya. Tanpa disangka-sangka ia bertemu Maida di lift ketika hendak menuju lantai 9. Mereka berdua sama-sama ingat dengan orang yang kali ini ada di hadapan mereka. Maida akan mengikuti seminar di ballroom hotel tersebut. Di ruangan kerjanya Roby senyum-senyum sendiri teringat wajah manis Maida yang baru saja ia temui. Siapa gadis itu, gumamnya dalam hati, sepertinya ia ingin mengenal Maida lebih dalam. Sejak saat itu ia sering memikirkan Maida, bahkan suatu hari saking inginnya dia bertemu Maida, ia pergi ke halte tempat pertama kali ia bertemu Maida, tapi ia tak dapat menemukan apa yang ia cari. Ketika ia pulang dari kantor, tak sengaja ia melihat sosok perempuan yang mengajar anak-anak jalanan di kolong jembatan, tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri sekolah darurat itu. Ia tak mau mengganggu Maida hingga akhirnya ia menunggu sampai hampir 2 jam.
            Setelah Maida keluar dari sekolahan itu, Roby menghampirinya.
            “Assalamualaikum Maida”.
            “ Waalaikumsalam, mas Roby?”
            “ Iya”.
            Roby mengajak Maida untuk makan bersama sembari mengenalnya lebih dalam. Namun karena terdengar adzan magrib Maida mengajak untuk shalat magrib terlebih dahulu. Lalu, Maida menunjukkan warung yang terkenal enak dan murah tempat dimana ia biasanya makan. Roby terkesan dengan kesederhanaan dan kebersahajaan Maida. Waktu sudah sedikit malam maka sudah saatnya Maida untuk pulang. Roby mendatangi Beni di kos-kosannya, yah Beni adalah kekasih Roby. Pasti tak ada yang menduga lelaki setampan dan semapan Roby adalah seorang gay. Meskipun seorang gay tapi mereka tak melakukan hal-hal yang terlalu jauh. Beni dan Roby mempunyai latar belakang pendidikan agama yang bagus tapi entah apa yang membuat mereka sampai seperti itu. Beni merasa ada yang berbeda dari kekasihnya, tapi Roby selalu berusaha meyakinkan Beni bahwa semuanya baik-baik saja. Di kos-kosan Roby tak henti-hentinya membayangkan wajah Maida hingga membuat Beni kesal terhadapnya.
            “ Roby, kamu kenapa sih dari tadi diem aja gak kayak biasanya” bentak Beni.
            “ Sayang, aku baik-baik saja, kamu jangan marah gitu dong”.
            Setelah bertengkar hebat, Beni mengusir Roby dari kosnya. Roby pun bergegas untuk pulang dengan perasaan yang kalut. Beberapa hari kemudian Maida bertemu dengan Beni ketika ia mengembalikan daftar presensi dosen konsorsium yang mengajar di fakultasnya.
            “Permisi mas, mau tanya ruangan bapak Ahwan dimana ya?”
            “ Ini lurus aja mbak trus belok kiri”.
            “Terima kasih mas”.
Beni bingung dengan perasaannya sendiri, kali ini tiba-tiba saja ia mulai tertarik lagi dengan perempuan setelah beberapa tahun ia tak pernah ada rasa ketertarikan pada kaum hawa. Ia mulai mencari tahu tentang Maida dan mengikuti kegiatan yang sama dengannya agar ia bisa lebih akrab. Roby bertemu Beni di jalan, tak sengaja Maida berjalan di belakang Beni,ia melihat pertengkaran hebat Beni dan Roby. Akhir-akhir ini Maida mulai menyimpan perasaan pada Roby tapi ia berusaha menyimpannya rapat-rapat. Maida tak kuasa mendengar dan melihat apa yang terjadi tepat dihapannya saat ini. Roby marah pada Beni karena tiap dihubungi selalu tak bisa padahal Roby ingin membicarakan sesuatu.
            “ Aku ingin bicara sama kamu Beni, kenapa kamu selalu gak bisa dihubungi “.
            “ Kamu mau ngomong apa gak ada yang perlu dibicarakan lagi”.
            “ Aku ingin mengakhiri semua ini, aku ingin tobat, aku gak mau jadi gay lagi aku mau jadi manusia normal Ben”.
            Mendengar apa yang diucapkan Roby, Maida langsung meninggalkan tempat dengan perasaan yang tak karuan. Setelah sampai di masjid ia langsung mengambil air wudhu dan shalat ashar. Di atas sajadah ia menumpahkan tangisnya kepada Allah SWT, ia tak menyangka orang sudah mulai dicintainya adalah seorang gay. Dengan langkah gontai ia menuju rumah. Kini, ganti Roby yang sampai di masjid untuk shalat magrib, ia bertaubat kepada Allah atas perilakunya selama ini yang menyalahi agama.
Berawal dari kekagumannya pada sosok Maida ia mulai menyukai gadis yang hobi olahraga panahan ini. Beni pun juga bertaubat, ia terinspirasi oleh Maida yang baru saja ia kenal. Setelah mengenal Beni beberapa saat terakhir ini Maida teringat bahwa ia adalah orang yang pernah dilihatnya bertengkar dengan Roby. Namun ia berpura-pura seakan-akan tidak tahu.
“Maida, besok aku wisuda kamu datang ya?” kata Beni.
“InshaAllah” jawab Maida sambil tersenyum.
Setelah acara wisuda selesai Maida memberi ucapan selamat dan berfoto bersama dengan wisudawan lainnya. Tiba-tiba handphone Maida berdering, ia segera mengangkatnya. Ternyata itu adalah telepon dari Roby. Maida mohon izin pada Beni untuk pamit terlebih dahulu. Ia ingin bertemu Maida dan mengajaknya ke suatu tempat yang pastinya disukai Maida, yah tempat itu adalah tempat olahraga panahan. Namun, Maida menolaknya tanpa mengurangi rasa sopan karena ia tak mau membiarkan rasa cinta yang mulai muncul itu semakin dalam, ia ingin membuang semua rasa itu. Roby bisa memahami semua itu karena ia tahu bahwa Maida memang orang yang sibuk jadi ia berfikir bahwa Maida memang sedang tak punya waktu.
            Maida merasa Roby dan Beni mempunyai perasaan yang sama terhadapnya, ia selalu berdo’a agar mereka tidak pernah tahu kalau orang yang mereka sukai adalah orang yang sama. Pagi tadi, ia meminta izin kepada orang tuanya untuk pulang agak telat karena mengajar ngaji di panti asuhan dekat kampusnya. Bus yang ia tunggu tak kunjung lewat hingga akhirnya ia memutuskan menunggu bus sembari berjalan. Di tengah perjalanan ia melihat seorang mahasiswi yang dirampok sambil berteriak.
            “ Toloooong, toooolong”…
            Maida yang pernah belajar silat pun merasa terpanggil untuk membantu sesama yang membutuhkan pertolongan. Tak semua orang yang mau melakukan hal seperti Maida karena kurangnya rasa kepedulian terhadap sesama. Dalam hatinya ia hanya berdo’a memohon pertolongan kepada Allah dan membulatkan tekad. Ia harus berjibaku melawan tiga orang berbadan kekar sebelum akhirnya ada 5 orang pemuda yang kebetulan lewat ikut membantunya. Setelah tas dan laptop mahasiswi tadi berhasil diambil kembali dan ketiga rampok itu pergi, baju Maida berlumuran darah karena tertusuk oleh pisau perampok tadi. Banyak sekali orang yang mengerumuninya dan ketika akan dibawa ke rumah sakit Maida menghembuskan nafas terakhirnya setelah mahasiswi yang ia bantu tadi mengucapkan terima kasih. Air mata mahasiswi itu berlinang melihat Maida yang menahan rasa sakit. Roby yang kebetulan lewat di jalan itu pun memberhentikan mobilnya. Ia tak kuasa menahan air mata, melihat orang dicintainya meninggalkannya untuk selamanya. Ia pun membawa pulang jenazah Maida ke rumahnya. Betapa kaget orang tuanya melihat anak bungsunya pergi menghadap Sang Khaliq dan mendahului mereka.
            Namun orang tuanya, Roby dan semua orang bangga dengan aksi heroik Maida yang peduli terhadap sesama. Beni juga datang ke rumah Maida untuk memberikan penghormatan terakhir dan sama seperti Roby,Beni pun tak kuasa menahan tangisnya karena kepergian Maida. Setelah pemakaman Maida Roby tak sengaja bertemu dengan Beni. Mereka saling meminta maaf dan saling bertanya bagaimana mereka bisa ada di sini. Mereka berdua bercerita dan mendo’akan Maida karena ia adalah inspirasi Beni dan Roby untuk kembali ke jalan yang benar. Mereka berdua meletakkan mawar putih di atas makam Maida. Putih melambangkan kesucian seperti hati Maida yang suci dan ikhlas menolong sesama.
             
           

316 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini