Posted on

Dandelion dalam Rindu

Barangkali, sudah waktunya aku berhenti menulis surat untukmu. Surat yang selalu aku tulis bilamana aku merindukanmu dan tak tau kemana harus kucari. Ayah, lihatlah dandelion ini merangkul putrimu yang malang. Dandelion kesukaan kita menari monoton dihadapanku, karena dia tau kau tak lagi ada di sisiku. Ayah, kau tak tau bukan? Sejak hari itu, aku kehilangan semua impianku. Semuanya menjadi puzzle yang berserakkan. Ayah, anakmu sudah menjadi seorang gadis remaja. Seorang gadis yang telah kehilangan banyak kebahagiaannya, tidak seceria masa kecilnya dahulu. Seorang gadis yang di setiap hari senjanya menanti seseorang agar segera tiba dan memeluknya. Seperti dulu.

Seingatku, sudah sepuluh tahun berlalu. Waktu itu usiaku tujuh tahun.

“Ayah…” Aku berlari dan menghambur kepelukkan ayah. Ini adalah kebiasaanku, menunggu ayah pulang bekerja lalu kami akan pergi ke sebuah padang ilalang di sudut kota Jakarta. Letaknya tidak jauh dari rumahku, biasanya kami pergi dengan berjalan kaki.

“Ayah tau nggak?” kataku sambil menggandeng tangan ayah.

“Apa?”

“Zea sayang Ayah,” aku menghentikan langkah dan menengadahkan kepala menatap ayah.

Ayah hanya tersenyum tipis, menatapku sejenak sambil membelai rambutku. Lalu kami melanjutkan langkah. Tak pernah terbayangkan olehku, bahwa hari itu adalah hari terakhirku menatap mata sayu ayah yang penuh kasih.

Ayah sangat meyukai dandelion, bunga liar yang suka tumbuh di antara ilalang. Tapi terkadang aku juga menemukannya di tepi jalan. Ayahlah yang memperkenalkan bunga putih itu padaku, lalu aku pun ikut menyukainya. Ada kesenangan tersendiri ketika aku meniup dandelion-dandelion itu dan menari-nari bersama mereka yang berterbangan.

“Zea, sini duduk di sebelah Ayah,” ayah memanggilku, tangan kirinya menepuk-nepuk bangku panjang yang sedang didudukinya.

“Yah, dari tadi Zea perhatiin ayah gelisah aja. Ayah kenapa?”

“Nggak apa-apa kok sayang, ayah cuma lagi capek aja,” ayah merangkulku erat.

“Ayah kok nggak bilang dari tadi sih, kan kita nggak usah ke sini kalau Ayah capek,” Aku merengut manja seraya melipat kedua tangan di dada.

“Yakin nggak apa-apa? Kata kak Gwen tiap hari kamu selalu nungguin ayah pulang kerja. Iya kan?” Ayah tertawa mengolokku. Aduh, kakak perempuanku itu.

“Aduh yah, kak Gwen kan emang suka melebih-lebihkan keadaan. Emang kebetulan aja aku lagi main di teras waktu Ayah pulang.”

“Kak Figon juga bilang,” ayah tersenyum-senyum melihat ekspresiku yang manyun.

“Ih, mereka berdua emang nggak asyik. Masa ngomongin aku diam-diam ke Ayah,” umpatku pelan.

“Husshh, itu tandanya mereka berdua sayang sama adek bungsu mereka.”

“Ibu sama Ayah sama aja, kak Figon sama kak Gwen melulu yang di belain.”

Aku pasang tampang pura-pura cemberut. Sebenarnya aku tau, kalau ayah dan ibu lebih memanjakanku dari dua kakakku yang lain. Mereka memang sering menjahiliku, tetapi bukan berarti mereka membenciku. Mereka sangat menyayangiku, ya aku tau kalau mereka berdua benar-benar sangat menyayangiku.

“Ayah, di kehidupan yang akan datang mau jadi apa?”

“Dandelion. Karena bisa terbang bebas tanpa ada pilihan. Kamu memangnya mau jadi apa?”

“Dandelion juga, biar bisa sama-sama Ayah terus.”

“Ada saatnya kita berpisah,” ayah mengusap rambutku lembut.

“Tapi, Zea pengen seumur hidup sama Ayah terus.”

“Seumur hidup adalah waktu yang sangat lama sayang.”

Senja menyela percakapan kami. Seperti biasa, kamipun beranjak pulang. Ayah memaksaku untuk naik ke punggungnya. Awalnya aku menolak tapi karena ayah memaksa akhirnya aku naik juga. Di perjalanan kami bernyanyi bersama, rasanya perjalanan pulang hari ini terasa lebih lama dari biasanya. Sebelum kami benar-benar keluar dari padang ilalang itu, ayah berhenti lama sekali dan menoleh ke belakang, kemudian ayah mengambil beberapa dandelion yang masih melekat dibatangnya dan digenggamnya erat. Saat itu, aku hanya diam dan tidak bertanya tentang apapun.

Besoknya, seperti biasa aku menunggu ayah. Tapi sosok jangkung itu tak kunjung datang. Hingga akhirnya aku menyerah. Lalu dimulailah mimpi burukku.

“Besok nggak usah tunggu ayah lagi,” kak Figon mencengkram kedua bahuku.

“Kenapa?” Aku mulai menangis. Takut melihat kak Figon yang tidak seperti biasanya.

“Dia nggak akan datang lagi buat kita. Nggak akan pernah,” kak Figon berteriak marah.

“Figon,” kak Gwen mendorong kak Figon kemudian memelukku erat. Erat sekali.

Kak Figon kemudian pergi entah kemana. Kak Gwen menangis dan aku pun ikut menangis bersamanya. Aku menangis tanpa kendali. Membayangkan wajah ayah, belaian ayah, senyum ayah, serta suaranya. Bagaimana kalau kak Figon benar? Berarti aku tidak akan pernah melihat ayah lagi. Lalu bagaimana dengan janji ayah yang akan membawaku melihat dandelion setiap hari?

Seminggu kemudian, Aku, Ibu, kak Gwen, dan kak Figon pergi meninggalkan kota Jakarta. Kata kak Gwen ke kampung halaman ibu. Memang tidak sebesar Jakarta, tetapi di sanalah kami akan menemukan kedamaian yang utuh. Tentu saja tanpa ayah. Semingggu sebelum kami pergi, ayah memang tak pernah datang. Aku tidak tau apa yang terjadi, yang aku tau dalam shalat malamnya, ibu menangis dalam diam. Aku tidak akan bertanya besok. Suatu hari pasti akan kutanyakan. Mungkin belum saatnya aku tau.

Di sekolahku yang baru, aku berhasil menjadi juara kelas. Tapi aku benar-benar tidak berbahagia. Ayah tidak di sini melihatku. Sejak hari itu aku selalu menulis surat untuk ayah dan kualamatkan pada rumah kami yang lama. Banyak sekali surat yang aku kirim, namun sebanyak itu juga tak ada balasan. Hanya itu satu-satunya yang bisa kulakukan untuk mengobati rindu yang selalu hadir. Pria yang selalu kupuja-puja dan kujadikan idola, membiarkanku tertinggal tanpa ada sepatahpun kata perpisahan. Meninggalkanku dalam rasa penasaran dan dilema.

Aku kembali mengingat percakapanku dengan ayah sehari sebelum senja terakhir kami waktu itu. Setiap semester, yang datang ke sekolah dan mengambil raporku adalah ayah. Dan percakapan kami waktu itu seolah menyiratkan pesan bahwa dia takkan pernah datang ke sekolah dan melakukan hal yang selalu dia lakukan ketika musim penerimaan rapor.

“Nggak kerasa, anak ayah udah gede ya?” Ayah mengusap kepalaku lembut.

“Iya dong Yah, masa Zea kecil terus,” aku bergelayut manja ke lengan Ayah.

“Semester depan nggak perlu ayah lagi dong yang jemput rapornya, kan udah gede.”

“Ih nggak mau, harus Ayah yang jemput. Pokoknya sampai aku sekolahnya kayak kak Figon sama kak Gwen harus tetep Ayah yang jemput.”

Saat itu ayah tak mengiyakan, namun hanya tersenyum kemudian menggelitikku sampai aku berteriak-teriak minta ampun. Tanpa aku sadari bahwa yang diucapkan ayah hari itu adalah benar adanya. Semester-semester selanjutnya, tak ada lagi ayah yang akan datang dan mengambil raporku. Aku harus terbiasa.

Aku tidak akan menceritakan semua hari-hari yang aku lalui tanpamu. Aku tidak ingin kau tau kalau aku sering menangis dan merasa tersiksa. Ayah, apa yang sedang kau lakukan saat ini? Apakah kau masih mengingatku? mengingat kami? Ayah, kata kak Gwen waktu itu Ayah pergi dengan keluarga baru Ayah. Apakah itu benar Yah? Ayah, apa kau tidak merindukanku? Ayah, mungkin sudah saatnya aku berhenti menunggumu. Mungkin sudah tiba masanya aku menulis kisahku sendiri. Terlepas dari semua bayangan dan kenangan bersamamu. Ayah tidak perlu cemas, aku akan baik-baik saja tanpamu. Dan kudo’akan semoga hari-harimu selalu bahagia.

Dandelion, dalam sepi hati, ku memohon padamu. Terbang. Terbanglah sejauh mungkin. Kutitip pesan rindu terakhirku untuk Ayah.

371 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini