Posted on

CHOICES

 By: Endah Nofiyanti


Pernahkah suatu hari kau menjadi sangat baik? Kau memakan masakan ibumu yang biasanya kau tak menyukai jenis makanan itu. Ibumu tersenyum manis. Sangat manis. Itu meninggalkan bahagia tersendiri untukmu. Jadi, kau juga ikut tersenyum. Senyum itu menular bukan?
Jangan mencoba untuk menyangkalnya! Lalu cobalah membuat banyak orang tersenyum! Bisakah kau lakukan itu?
Kau menolong seorang nenek yang nampak kesulitan menyeberang jalan. Kau harus berdiri di bis yang berdesakan karena membiarkan tempat dudukmu ditempati seorang ibu yang mengandung.
Berbagai hal baik kau coba untuk lakukan.
Lalu kau tersenyum kepada orang yang membencimu. Membantunya ketika dia dihukum untuk menghapus papan tulis. Memberikan buku matematikamu ketika melihatnya kesulitan dengan perhitungan trigonometri.
Tapi apa yang kau dapatkan?
Dia menghampiri mejamu ketika jam istirahat tiba.
Dia salah mengerti dengan tindakanmu.
Kau meremehkanku? Kau pikir aku bodoh? Jangan tersenyum padaku! Jangan coba membantuku! Jangan berbuat sok baik! Ah, yang terpenting jangan munafik! Kau tak bisa menjadi malaikat!
Hei, lagipula kau tak berpikir untuk menjadi malaikat!
Muakkah kau dengan kata-kata itu?
Sulitkah menjadi orang baik?
Kalau sulit katakan saja sulit!
Lalu cobalah menjadi orang jahat!
Bagaimana caranya?
Katakanlah kau orang jahat sekarang! Menyakiti sahabatmu misalnya. Seperti memojokkannya. Atau kau bisa juga menyudutkannya. Katakan apapun kejelekan dan keburukan sahabatmu. Katakan kau membenci sikap buruknya. Kau membenci kelakuannya. Kau mengatakan berulang kali untuk membuatnya berhenti. Tapi dia enggan.
Jadi, kau benar-benar kesal dengan sikapnya.
Lalu kau meninggalkan sahabatmu.
Tidak menyapanya ketika berpapasan. Meskipun dari sudut matamu kau melihat sahabatmu itu melirik kearahmu.
Salah siapa? Dia juga tak menyapamu lebih dulu? Lalu untuk apa kau menyapanya?
Membiarkannya ketika kesulitan.
Tidak menolongnya ketika sahabatmu itu menjatuhkan setumpuk buku yang di genggamnya.
Sahabatmu lebih pendek darimu. Tapi kau tak lagi mengambilkan buku karena dia tak bisa meraih rak paling atas.
Kau jahat bukan?
Siapa yang salah disini?
Beberapa hari kemudian kau menemukan orang lain di samping sahabatmu. Dia membantu sahabatmu ketika dia jatuh. Menghiburnya ketika dia menangis. Dia melempar kalimat pujian ketika sahabatmu melakukan hal yang menurutnya baik. Dia siap merangkul sahabatmu kapan saja. Dia siap menyemangati sahabatmu kapan pun. Meskipun dia harus bertingkah konyol sekalipun.
Yang paling penting…
dia tersenyum bersama sahabatmu.
Kenapa kau merasa kesal ketika melihat sahabatmu bahagia?
Rupanya caramu tak membuatnya jera?
Kau kalah?
Kau yang menyakitinya tetapi kenapa kau sendiri yang merasa sakit?
Ah, sahabatmu bahagia dengan caranya sendiri.
Bolehkah aku mengambil perumpamaan seseorang? Begini, ibaratkan kau ular dan sahabatmu adalah sebuah pedang. Kau berusaha melawannya. Menyakitinya. Berbuat apapun yang menjatuhkan sahabatmu. Tapi bukankah ketika ular mencoba melawan sebuah pedang, dia sendiri yang terluka? Ular itu tergores ketika berusaha menyentuh pedang. Kau tahu sendiri apa yang terjadi ketika ular tersebut mencoba melilit pedang dengan tubuhnya.
Begitulah…
Pedang itu tidak terluka. Jadi, sahabatmu juga tidak apa-apa.
Sampai di sini, bolehkan aku meralat?
Dia…mantan sahabatmu
Ah tidak, apa kau yakin bahwa kau itu sahabatnya?
Hahahahaha
Bolehkah aku ikut tertawa?
Mulailah harimu dengan caramu sendiri. Kau boleh memilih menjadi orang jahat maupun orang baik.

Tapi kupikir, kau tak perlu menjadi ular.

294 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini