Posted on

Choco Romance [BAB X]

This post is part of the series Choco Romance

Other posts in this series:

  1. Choco Romance [BAB VIII]
  2. Choco Romance [BAB IX]
  3. Choco Romance [BAB X] (Current)
Oleh : Fannie Chrishty Saffiany Purnomo
 
BAB SEPULUH
Liburan sekolah sudah mulai, Sonya menghabiskan waktunya untuk membantu kedua orang tuanya di toko. Ferro dan Kak Dion juga sering ke toko untuk membantu dan juga sebagai pelaris. Kak Dion kini melanjutkan kuliahnya di jurusan pendidikan fisika. Ia bisa dengan mudahnya memasuki jurusan itu. Bahkan ada yang bilang Ia mendapat beasiswa. Sonya tidak percaya kalau Ia mempunyai teman sepintar Kak Dion. Herannya, kepintaran Kak Dion tidak menular kepadanya.
“Bu, apa mereka masih belum pacaran??” tanya Kak Dion yang sedang membantu Ibu mencuci piring. Kak Dion sekarang sangat mendukung hubungan Sonya dengan Ferro. Kak Dion memang masih menyayangi Sonya, tapi hanya sebatas rasa sayang seorang kakak kepada adiknya yang lucu dan juga menyebalkan.
“Belum, Nak. Padahal mereka sudah keliatan kalau saling mencintai. Ibu sendiri gemas melihat mereka berdua. Apa langsung dinikahkan saja yah??” jawab Ibu yang setengah kesal. Teman-teman sekolahnya saja sudah mengira mereka berdua pacaran. Kenapa tidak sekalian saja pacaran.
“Sepertinya aku harus turun tangan, Bu. Aku tidak tahan melihat mereka tidak pacaran-pacaran seperti itu. Kalau sampai diambil orang pasti menyesal. Serahkan saja padaku, Bu,” Kak Dion kemudian menaruh lap piring yang Ia gunakan untuk mengeringkan piring-piring kotor yang habis dicuci Ibu.
“Ibu serahkan kepadamu, Nak,” dukung Ibu yang sangat senang dengan rencana Kak Dion yang sebenarnya masih belum diketahui.
Jam sudah menunjukkan waktu istirahat. Ferro dan Sonya duduk di kursi sambil meregangkan badan mereka. Kemudian Kak Dion ikut-ikutan duduk di depan mereka berdua. Ia memperhatikan Sonya dan Ferro yang tampak malu-malu untuk saling menatap satu sama lain. Jika tanpa sengaja pandangan mereka bertemu, mereka akan saling senyum tidak jelas. Hal itu membuat gemas orang-orang yang melihatnya. Melihat hal itu, Kak Dion jadi ingin menjalankan rencananya.
“Owh iya… Fan, tadi Ibu menyuruhku untuk mengecek tanggal kadaluarsa yang ada di gudang. Tapi aku masih belum paham. Bisa minta tolong kamu yang mengeceknya??” pinta Kak Dion dengan pandainya berakting di depan Sonya dan Ferro.
“Tidak bisakah nanti?? Kakak kan pintar fisika, masa liat tanggal kadaluarsa saja tidak paham??” tanya Sonya yang sepertinya masih malas untuk mengecek tanggal-tanggal kadaluarsa bahan kue yang lumayan banyak.
“Sudahlah cepat periksa. Setelah itu kita makan. Aku traktir coklat kesukaanmu,” bujuk Kak Dion dengan cerdiknya. Sogokan yang serba coklat tidak mungkin bisa ditolak olehnya. Kak Dion sangat yakin hal itu. Walaupun Ia harus keluar uang banyak karena coklat kesukaan Sonya cukup mahal.
“Baiklah. Tapi aku minta 2,” ucap Sonya dengan malasnya berdiri dan berjalan menuju ke gudang untuk mengecek tanggal kadaluarsa.
“Iya tenang saja,” jawab Kak Dion dengan sangat terpaksa, ‘Sial!! Aku tekor,’ batin Kak Dion. Setelah dilihat Sonya sudah berada di dalam gudang, sekarang saatnya Ia menjebak Ferro.
“Owh… Aku juga baru ingat. Ayah tadi menyuruhmu mengambil tepung di gudang. Katanya ada pesanan kue yang lumayan banyak,” ucap Kak Dion yang menjalankan rencana keduanya. Ia memang ingin menyatukan kedua orang yang Ia sayang ini.
“Kenapa bukan Kakak saja??” jawab Ferro yang juga merasa malas disuruh oleh Kak Dion.
“Perutku sedikit bermasalah sejak tadi, tidak bisa angkat yang berat-berat. Sepertinya aku salah makan pagi ini. Aku tidak kuat untuk mengangkat tepung seberat itu. Perutku bisa tambah sakit nantinya,” ucap Kak Dion yang penuh alasan dan juga acting.
“Huft… Baiklah,” Ferro kemudian berdiri dan pergi menuju gudang untuk mengambil tepung yang tadi dibilang Kak Dion tanpa curiga sedikitpun.
Kak Dion mengikuti Ferro dengan pelan dibelakangnya. Ferro memasuki gudang dengan Sonya di dalamnya yang juga sedang mengecek tanggal kadaluarsa. Saat mereka berdua berada di dalam gudang, tiba-tiba pintu gudang ditutup dan terdengar suara pintu yang dikunci.
“KAK…!!! APA-APAAN INI??!!” teriak Sonya dengan panik sambil menggedor-gedor pintu gudang. Ia pasti sangat terkejut karena tiba-tiba pintu ditutup bahkan dikunci juga. Apalagi Ia dikunci dengan Ferro di dalam gudang.
“KAK INI TIDAK LUCU CEPAT BUKAKAN!!” teriak Ferro juga. Ia sangat bingung saat ini. Ia sedang berduaan di gudang dengan Sonya. Ia tidak bisa menutupi perasaannya lagi. Ia sangat mencintai Sonya.
“AKU TIDAK AKAN BUKA PINTU INI SAMPAI KALIAN BERDUA PACARAN!!” teriak Kak Dion dari balik pintu dengan senangnya. Ia sangat senang karena rencananya berjalan lancar.
“AYAH DAN IBU JUGA GEMAS LIHAT KALIAN BERDUA. LEBIH BAIK KALIAN PACARAN SAJA!!” teriak Ibu juga yang sepertinya bersekongkol dengan Kak Dion dan juga sangat senang anaknya dikunci di gudang seperti ini.
“Apa-apaan ini?? Kita harus bagaimana??” ucap Sonya sambil bersandar di pintu gudang dengan kesalnya. Ia tidak bisa terlalu dekat dengan Ferro. Jantungnya terus berdetak dengan kencangnya jika bersama Ferro. Tiba-tiba Ia merasakan sesuatu di bahu kanannya. Sonya langsung membuka kedua matanya dan melihat Ferro juga bersandar pada pintu tepat di sebelah Sonya.
“Sepertinya Ibu dan Kak Dion merencanakan hal ini. Seharusnya aku sadar, Kak Dion tadi sedikit mencurigakan,” ucap Ferro yang bersandar di sampingnya.  Awalnya Ia ingin menahan perasaannya, tapi sekarang pasti sangat susah. Tapi walaupun susah, Ia harus tetap menahannya.
“Benarkah?? Tapi aku tidak curiga sama sekali. Terus kita harus bagaimana??” Sonya tampak ragu-ragu dan juga bingung dengan keadaan yang sekarang menimpanya. Dikunci di gudang dengan orang yang Ia sayang dan juga Ia cintai.
“Bagaimana kalau kita turuti permainan mereka??” tanya Ferro dengan malu-malu menatap Sonya yang tampak bingung mendengar ucapannya tadi. Walaupun suasana gudang agak sedikit gelap, tapi Ferro masih bisa melihat wajah Sonya yang saat ini merona dan menatapnya seperti tidak percaya. Ferro semakin tidak tahan melihat wajah Sonya yang tampak merona dan juga bingung ini, “Ayo kita pacaran dan menjalin hubungan yang lebih dari seorang teman masa kecil!!” ucap Ferro dengan jelasnya.
“Ma… Maksud kamu?? Aku tidak suka kalau kamu bercanda seperti ini. Aku…”
“Aku mencintaimu. Dari dulu sampai sekarang dan seterusnya. Ini bukan candaan. Aku memang sangat mencintaimu. Selama ini aku menahannya karena aku takut kalau aku bilang, kamu akan menjauhiku,” jelas Ferro yang menatap Sonya dengan sangat tajam dan penuh arti.
“Benarkah??” tanya Sonya yang masih tidak percaya dengan apa yang Ia dengar barusan. Ia tidak percaya kalau ternyata Ferro juga mempunyai perasaan yang sama kepadanya.
“Iya. Sekarang bagaimana denganmu?? Kamu bisa menolakku kalau…”
“Aku juga. Bantu aku mengingat sebagian masa laluku yang hilang. Aku mohon,” potong Sonya sambil menggenggam tangan Ferro. Ia tidak menyangka Ferro ternyata juga mencintainya. Jika Ia tau kalau kebenarannya seperti ini, Ia tidak akan menahan perasaannya. Biarlah perasaan itu meluap-luap.
“Jadi sekarang kita bagaimana?? Apa mulai sekarang kita pacaran??” tanya Ferro dengan senyum yang lembut dan juga lega menatap Sonya yang masih tampak malu-malu. Ferro juga menggenggam tangan Sonya dengan lembut dan juga hangat berdiri di hadapan Sonya.
“Boleh saja,” jawab Sonya dengan wajah yang sangat merah.
“AKHIRNYAAAA… INILAH YANG SUDAH KAMI TUNGGU-TUNGGU…,” Ibu kemudian membuka pintu gudang dan memeluk putri semata wayangnya itu dengan sangat bahagia, “Akhirnya Ibu akan punya calon menantu yang sudah lama Ibu idam-idamkan. Ibu senang,” Ibu memeluk Sonya dan Ferro dengan sangat senangnya.
“Ahh… Sepertinya aku juga harus cari pacar. Aku tidak mau jadi jones atau obat nyamuk saat jalan dengan kalian,” celoteh Kak Dion yang melihat kebahagiaan mereka sambil melipat kedua tanggannya di depan dada bersandar di pintu, ‘Inilah sesuatu yang sangat ingin aku lihat sejak awal. Melihat mereka berdua bahagia seperti ini. Awalnya memang sakit melihat orang yang kita sayang bahagia dengan orang lain. Tapi aku tidak bisa memaksakan perasaan orang lain, jadi aku hanya bisa bahagia jika orang yang aku sayang itu bahagia, walaupun Ia bahagia dengan orang lain. Tetaplah bersama dan jangan pernah berpisah apapun alasannya.”

Setelah satu tahun pacaran, kini Sonya dan Ferro sedang sibuk-sibuknya mendaftar untuk kuliah. Mereka berencana kuliah di kampus yang sama dengan Kak Dion. Tapi mereka berdua selalu menolak jika ditawari masuk jurusan pendidikan Fisika oleh Kak Dion.
“Kalian mau ambil jurusan apa??” tanya Kak Dion saat mereka sedang istirahat makan siang di CHOCO SHOP. Semenjak mulai semester dua, Kak Dion bekerja part time di CHOCO SHOP. Selain untuk membantu orang tua Sonya, Kak Dion juga memanfaatkannya untuk mengisi waktu luang.
“Aku masih bingung, Kak. Tapi mungkin aku ambil jurusan menejement. Aku nantinya pasti akan mengurus cafe ini,” ucap Sonya dengan sombongnya.
“Itu kewajiban kamu sebagai anak satu-satunya untuk melanjutkan usaha keluarga. Kalau kamu Ferro??” tanya Kak Dion yang merasa penasaran dengan pilihan kedua mantan adik kelasnya ini.
“Aku mau ambil jurusan teknik, Kak,” jawab Ferro dengan bangganya karena Ia sudah menetapkan pilihannya.
“Haha… Lumayan nanti kalau ada lampu putus dia yang membereskannya,” goda Sonya dengan senangnya.
“Kamu bilang apa??” Ferro langsung mengapit leher Sonya dengan lengannya tanpa ampun. Walaupun begitu, cara Ferro mengapit tidak membuat Sonya kesakitan sedikitpun.
“Apa yang kamu lakukan?? Lepaskan!!” ancam Sonya sambil memelototkan matanya kepada Ferro.
“Berhentilah kalian! Kalian sengaja bermesraan di depanku??” ucap Kak Dion yang bagaikan obat nyamuk. Tidak dianggap dan juga terabaikan melihat Sonya dan Ferro bermesraan.
“Haha… Maaf, Kak. Kami tidak bermaksud begitu,” Ferro langsung melepaskan tangannya dari leher Sonya.
“Makanya Kakak cepat cari pacar!!” kata-kata yang diucapkan Sonya memang singkat padat dan jelas. Tapi ada sesuatu yang menyakitkan dibalik kata-kata itu.
“Ferro, apa kamu bisa menutup mulutnya??” ucap Kak Dion dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Antara marah dan menyedihkan.
“Haha… Tenang, Kak. Owh iya… Ngomong-ngomong aku juga berencana kerja part time disini lho. CHOCO SHOP saat ini juga jadi semakin ramai daripada dulu, pasti Ayah dan Ibu membutuhkan seorang pekerja lagi. Dan aku semalam sudah ijin ke Ayah dan Ibu kamu dan juga orang tuaku kalau aku mau kerja part time disini juga seperti Kak Dion,” jelas Ferro.
“Benarkah?? Wah… Pasti sangat menyenangkan,” Sonya merasa senang karena kedua orang yang dia sayang kerja part time di CHOCO SHOP. Itu artinya mereka jadi sering menghabiskan waktu mereka bersama-sama disana.
“Bilang saja kalau kamu tidak bisa jauh dari aku,” goda Ferro sambil tersenyum jail.
“Kamu bicara padaku??” jawab Sonya yang pura-pura tidak mendengar ucapan Ferro.
“Anak-anak cepat buka tokonya!!” suruh Ibu dari dalam dapur membantu Ayah menyiapkan kue yang baru keluar dari oven.
“Iya, Bu,” Sonya kemudian berdiri dan membuka CHOCO SHOP diikuti dengan Ferro dan juga Kak Dion yang sudah siap di tempatnya masing-masing. Sonya kemudian tersenyum melihat Ferro dan Kak Dion yang saling mengobrol dan juga tertawa, ‘Aku sangat senang punya pacar yang sangat baik dan juga perhatian seperti Leon. Aku juga senang punya Kak Dion yang juga menyayangiku seperti adiknya sendiri. Ingatanku mulai kembali sedikit demi sedikit karena bantuan Ferro. Aku tidak menyesal walaupun aku belum bisa mengingat semua kenangan masa laluku, karena aku bisa mengisinya dengan kenangan-kenangan baruku bersama Leon dan juga Kak Dion. Dan semua kenangan itu berada di toko ini, CHOCO SHOP.’

296 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini