Posted on

Choco Romance [BAB VIII]

This post is part of the series Choco Romance

Other posts in this series:

  1. Choco Romance [BAB VI]
  2. Choco Romance [BAB VII]
  3. Choco Romance [BAB VIII] (Current)
  4. Choco Romance [BAB IX]
  5. Choco Romance [BAB X]
Oleh : Fannie Chrishty Saffiany Purnomo
 
BAB DELAPAN
Sudah seminggu Ayah dan Ibu Sonya di rumah sakit. Ayah Sonya sudah berada di ruang rawat inap dengan perban yang melilit dengan rapi di kepalanya. Sedangkan Ibu Sonya masih koma dan belum sadarkan diri. Sonya setiap hari akan selalu ada ada di rumah sakit, dan Ferropun setiap hari menemani Sonya di rumah sakit. Kadang kala Kak Dion juga datang untuk menjenguk. Hubungan Sonya dengan Ferro juga sudah lebih baik, tapi kadang kala ada rasa canggung diantara mereka. Sonya juga masih belum tau kenapa Ferro menyembunyikan fakta bahwa mereka adalah teman sejak kecil. Terkadang Sonya merasa sangat penasaran, tapi disisi lain Ia tidak mau terdapat masalah lagi sehingga mereka hilang komunikasi selama beberapa hari seperti satu minggu yang lalu. Kondisi Sonya saat ini masih terlalu lemah untuk menghadapi masalah seperti itu. Tapi sejujurnya Ia sangat penasaran.
“Leon??” panggil Sonya yang setengah ragu duduk di sofa sebelah Ferro yang sedang duduk menyandarkan punggung dan kepalanya sambil memejamkan matanya.
“Iya?? Ada apa?? Apa ada sesuatu??” jawab Ferro yang langsung mengangkat kepalanya dan berusaha membuka matanya yang masih sedikit mengantuk. Bahkan walaupun selesai mandipun Ia masih mengantuk dan semakin mengantuk.
“Aku mau menanyakan sesuatu. Tapi aku takut kamu marah,” jawab Sonya dengan kepala masih tertunduk tidak berani menatap mata Ferro secara langsung. Orang yang paling Ia sayang sudah terbaring lemah dan Ia tidak mau Ferro yang selalu bersamanya selama beberapa hari juga akan meninggalkannya juga. Hal itu masih terlalu menyakitkan bagi Sonya.
“Tanya saja. Akan aku jawab kok,” ucap Ferro sambil memegang pipi Sonya untuk menghadap kepada dirinya. Ferro tau kalau hal yang ingin ditanyakan adalah hal yang cukup serius dan menyangkut hubungan mereka. Melihat tingkah Sonya saja Denys sudah tau kalau Sonya mungkin akan menanyakan tentang masa lalu mereka.
“Emm… Kenapa kamu dulu tidak mau cerita kalau kita teman masa kecil?? Apa kamu tidak suka denganku??” jawab Sonya yang malu-malu. Ia ingin hubungannya dengan Ferro seperti dulu lagi. Dimana tidak ada rasa canggung diantara mereka.
“Aku selalu suka denganmu sejak dulu sampai sekarang dan aku juga tidak ingin hubungan kita sampai renggang. Jika aku menceritakan semuanya, aku takut kalau kamu akan benci dan juga meninggalkanku. Seharusnya yang takut itu aku. Aku takut kamu seperti kemarin yang meninggalkanku. Aku takut kamu membenciku karena itu aku tidak menceritakannya padamu. Sebenarnya aku sendiri juga tersiksa tidak menceritakan padamu. Kamu bahkan tidak ingat padaku jadi bagaimana bisa aku tiba-tiba menceritakan semuanya,” ucap Ferro terus terang mengapa Ia tidak menceritakan semuanya dan juga kenapa Sonya menjadi amnesia.
“Aku juga tidak akan membencimu. Aku kemarin juga sangat tersiksa. Aku sangat ingin berjalan ke arahmu dan berbicara denganmu seperti biasa. Tapi saat aku ingat bahwa kamu bohong seperti itu aku jadi marah. Aku kira kamu memang ingin melupakan kenangan kita. Asal kamu tau, aku sering memimpikan seorang anak laki-laki kecil yang selalu bermain denganku saat masih kecil. Aku tidak pernah tau kalau itu kamu sampai kita ke taman bermain. Aku baru tau kalau anak laki-laki itu kamu. Aku awalnya senang kalau ternyata dia itu kamu, tapi aku juga marah karena kamu tidak menceritakannya sama sekali padaku. Yang lebih membuatku marah adalah kamu pura-pura tidak mengenaliku,” Sonya meluapkan isi hatinya dan tanpa Ia sadari, matanya sudah mulai berkaca-kaca. Ia seperti sudah tidak bisa membendung air matanya yang tampak sudah meluap-luap.
“Baiklah aku akan menceritakan semuanya, tapi kamu jangan menangis,” ucap Ferro yang mengetahui kalau Sonya sudah tidak tahan membendung air matanya dan Ferro memegang kedua pipi Sonya sambil mengelusnya secara lembut untuk menenangkan Sonya supaya tidak menangis.
Sonya kemudian mendongakkan kepalanya berusaha menahan air matanya yang hendak menetes. Setelah dirasa Ia sudah bisa membendung air matanya, Sonya langsung menghadap ke Ferro lagi, “Ceritalah!!”
“Baiklah. Dulu kita bertemu saat kita masih berumur 4 tahun kalau tidak salah. Kamu baru saja pindah kesini saat itu dan kamu tidak mengenal siapa-siapa disini. Kamu sangat ingin bermain, tapi kamu juga bingung harus bermain dengan siapa. Ayah dan Ibu kamu sibuk, dan kamu jadi sering bermain sendirian di taman dekat rumah kamu itu. Aku jadi sering memperhatikan kamu, kamu yang saat itu sangat menggemaskan kenapa selalu bermain sendiri.  Sebenarnya aku ingin menemanimu bermain, tapi aku masih malu dan takut kamu tidak suka denganku. Selama itu aku selalu memperhatikanmu, aku selalu ingin berjalan ke arahmu, tapi aku masih terlalu takut. Sampai akhirnya aku dapat keberanian, aku berjalan dengan perlahan ke arahmu sambil terus melihatmu yang masih bermain sendirian dengan pasir. Sejak saat itu kita mulai berteman. Kamu mulai suka kepadaku. Aku juga tidak mau jauh dari kamu dan ingin terus melindungi kamu. Kita jadi sangat dekat sampai banyak yang mengira kita adik kakak atau kembar. Ayah dan Ibuku juga selalu sibuk dengan pekerjaan mereka, jadi aku sering ke rumah kamu. Ayah dan Ibuku juga jadi sering menitipkanku di rumah kamu. Aku seperti punya keluarga baru dan aku lebih merasakan arti dari sebuah keluarga saat berada di rumah kamu. Tapi suatu hari saat bermain di taman aku sempat lengah. Kamu memanjat pipa-pipa besi dan mencoba meniruku yang sering bergelantungan disana. Aku tidak bisa melindungimu lagi. Kamu jatuh dengan cukup keras dengan kepala yang terbentur beberapa pipa hingga akhirnya jatuh ke tanah. Kepala kamu berdarah cukup banyak. Aku sangat shock dan tidak bisa apa-apa lagi. Tiba-tiba kamu dibawa ke rumah sakit dan kamu koma selama beberapa hari. Aku tidak berani untuk menemuimu. Ayah dan Ibu kamu yang menganggapku seperti anak mereka sendiri juga berusaha menenangkanku yang saat itu melihat secara langsung bagaimana kamu terjatuh. Melihat seseorang yang paling Ia sayang terluka di depan mata kamu sendiri, apalagi saat itu aku masih sangat kecil,” jelas Ferro secara panjang lebar. Ia bercerita dengan kepala yang tertunduk.
Suasana menjadi sunyi. Ferro masih tertunduk tanpa suara. Sonya menatap Ferro dengan sangat dalam. Kemudian tangannya meraih pundak Ferro dan memeluknya, “Jangan pernah berpikir seperti itu. Kamu sudah melindungiku. Kamu selalu ada saat aku susah dan juga senang. Dari dulu, sampai sekarang. Terima kasih,” ucap Sonya yang berusaha menenangkan Ferro.
“Maaf aku sudah menghapus kenangan masa kecil kamu,” ucap Ferro lagi sambil membalas pelukan Sonya. Ia merasa sangat nyaman saat Sonya memeluknya dan juga mengusap lembut rambutnya. Sudah lama Ia tidak merasakan suasana senyaman ini. Ia sangat menyayangi gadis ini, sejak dulu sampai sekarang. Ia juga bingung dengan perasaannya. Ia hanya sayang seperti saudara apa Ia sangat mencintai gadis ini. Ia masih bingung dengan perasaannya.
“Iya. Tapi aku juga mau bilang makasih. Tanpa adanya kamu, mungkin aku akan seperti dulu yang selalu kesepian. Walaupun ingatanku ada yang sebagian hilang, tapi aku tidak pernah menyesali fakta kalau aku pernah sangat bahagia dengan kamu. Tidak ada yang aku selali sama sekali,” ucap Sonya dengan tersenyum lembut melepas pelukannya dan menatap Ferro yang juga menatapnya dengan sedih dan juga merasa bersalah.
Kak Dion berjalan keluar dari rumah sakit dengan lemas. Ia berjalan sambil tersenyum sedih, dibalik senyumannya terdapat suatu kekecewaan yang sangat mendalam, ‘Akhirnya mereka tahu semuanya. Aku sudah bertanya-tanya sampai kapan mereka tidak menyadari bagaimana perasaan mereka masing-masing. Sekuat apapun aku mencoba untuk membuat Sonya cinta padaku, tidak akan berhasil. Bagaimana mungkin aku bisa merusak cinta yang sudah bertahun-tahun ada?? Bahkan walaupun mereka terpisah dan hilang ingatanpun mereka masih bisa tetap bersama,” Kak Dion tampak sangat sakit hati. Tampaknya Ia melihat dan mendengar semua yang Ferro dan Sonya bicarakan saat di kamar Ayah Sonya. Hatinya serasa hancur berkeping-keping.
Tidak lama kemudian hpnya berdering. DEG… Jantungnya langsung berdebar dengan kencang melihat nama seseorang yang tertera di layar ponselnya.
“Halo??” jawab Kak Dion yang berusaha tidak terjadi apa-apa.
“Kakak ada dimana?? Katanya mau kesini?? Ini kan sudah siang,”
“Maaf. Sepertinya aku tidak bisa menemanimu. Aku ada urusan mendadak,” jawab Kak Dion yang terpaksa berbohong.
“Benarkah?? Baiklah kalau begitu. Semangat Kak ujiannya,”
“Iya. Maaf yah aku tidak bisa kesana. Sudah dulu yah, Fan?? Semoga Ayah dan Ibu cepat sembuh” ucap Kak Dion yang memutuskan panggilannya. Ia masih belum sanggup berbicara terlalu lama dengan Sonya. Ia memang sangat menyukai Sonya dan sekarang rasa suka dan sayangnya ingin Ia rubah menjadi rasa sayang seorang Kakak kepada Adiknya. Sekarang Ia ingin menyatukan Ferro dan Sonya.
“Nak, kamu pulang saja sama Leon, yah?? Kamu pasti capek,” pinta Ayah Sonya yang baru saja bangun dan makan. Ayah Sonya memang sudah lebih enakan dari satu minggu yang lalu. Sekarang Ia sudah bisa bercanda sambil menghibur Sonya yang sedih menunggu Ibunya sadarkan diri.
“Tapi Ayah bagaimana?? Mana mungkin aku meninggalkan Ayah sendiri??” tolak Sonya yang masih sangat mengkhawatirkan kondisi Ayahnya yang masih lemah.
“Kamu tenang saja. Tante Ara nanti akan kesini. Kamu pulang saja istirahat. Ayah akan menghukummu kalau kamu tidak pulang dan istirahat. Apalagi kalau kamu sampek sakit gara-gara kecapekan,” ancam Ayah dengan ekspresi mengancam Sonya yang masih duduk disebelahya.
“Tapi, Yah…”
“Tidak ada tapi-tapian. Leon, tolong jaga Sonya di rumah yah?? Ayah percaya kamu tidak akan berbuat aneh-aneh walaupun hanya berdua di rumah,” pesan Ayah kepada Ferro yang berdiri disamping Sonya. Keluarga Sonya memang sangat percaya kepada Ferro. Bahkan mungkin keluarga Sonya sudah percaya untuk menyerahkan Sonya kepada Ferro kelak.
“Ayah apa-apaan sih?? Aku bisa kok sendirian di rumah. Lagipula apa Ayah tidak khawatir meninggalkan anak perempuan Ayah satu-satunya dengan seorang pria yang aku…” Sonya tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia barusan hampir saja bilang kalo Ferro adalah pria yang Ia suka.
“Apa?? Sudahlah ayo pulang!! Aku tidak akan macam-macam,” Ferro mengapit leher Sonya dan menariknya keluar ruangan. Tidak lupa Ferro mengambil tasnya yang ada di sofa, “Kami pulang dulu, Yah,” pamit Ferro dengan sopan dan kembali menarik leher Sonya dengan lucunya. Bahkan Sonya tidak bisa berontak dan berkata-kata. Ia hanya terbengong-bengong dengan sikap Ferro yang cukup menyebalkan.
Sesampai di rumah Sonya, Ferro tidak langsung pulang. Ia ikut Sonya memasuki rumahnya yang sedang kosong tidak ada orang. Ferro sekarang tampak lebih menyebalkan dari biasanya. Walaupun begitu, hubungan mereka jadi semakin dekat dan jauh lebih dekat dari sebelumnya. Ferro sudah tidak menyembunyikan masa lalunya lagi. Sekarang Ia jauh lebih terbuka dari biasanya. Bercanda dengan Sonya sudah tidak canggung seperti dulu lagi.
“Kenapa kamu tidak pulang saja?? Kamu kan sudah mengantarku pulang. Kenapa masih disini??” tanya Sonya yang memberhentikan Ferro saat Ferro hendak mengikutinya ke lantai dua.
“Kamu belum makan dari tadi,” jawab Ferro dengan singkatnya sambil berjalan menaiki tangga dan melewati Sonya begitu saja. Karena tangga yang tidak terlalu luas, Ferro sengaja mendorong tubuh Sonya ke tembok sehingga rasanya tubuh Sonya dihempaskan ke tembok begitu saja.
“Memangnya kenapa kalau aku belum makan?? Aku bisa beli kok,” Sonya berusaha mengejar Ferro yang hampir sampai di lantai dua Ia hanya takut kalau dengan perhatian Ferro yang seperti ini membuatnya jatuh cinta padanya. Ia takut kalau Ferro membencinya kalau Ferro tau Ia menyukainya.
Mendengar celoteh Sonya membuat langkah Ferro terhenti dan tiba-tiba memutar badannya menghadap Sonya yang berlari menaiki tangga. Sonya yang tadinya berlari, tidak bisa berhenti secara mendadak, alhasil Ia menabrak badan Ferro dan terhuyung ke belakang. Ferro langsung saja menggapai tangan Sonya dan menyangga tubuhnya agar tidak terjatuh, “Hati-hati!! Dan beli makanan diluar itu tidak baik, lebih baik masak sendiri. Aku akan membuatkanmu makanan. Tidak usah protes dan sekarang ayo kita belanja bahan makanan! Bersiap-siaplah dan aku tunggu dibawah saja,” ucap Ferro yang memposisikan tubuh Sonya supaya tegak lagi dan berjalan melewatinya dengan hati-hati. Sedangkan Sonya hanya diam melamun.
‘Apa-apaan dia barusan?? Jantungku langsung berdebar-debar. Bagaimana bisa wajahnya dan wajahku jadi sangat dekat dan dia bisa bicara seperti itu. Aku harus lupakan perasaanku ini,’ batin Sonya dalam hati. Ia mencoba mengembalikan kesadarannya dan segera bersiap-siap.
Sedangkan Ferro yang tadinya turun, sekarang sedang duduk di kursi sambil menunggu Sonya. Walaupun tampak biasa saja, tapi sepertinya Ia menyembunyikan sesuatu, yaitu hatinya, ‘Apa yang sudah aku lakukan tadi?? Bagaimana aku bisa melakukan tindakan yang ceroboh?? Aku harus menyembunyikan perasaanku ini. Aku tidak mau kalau Sonya mengetahuinya dan kemudian dia membenciku,’ batin Ferro yang menekan perasaannya. Ia tidak mau mengakui perasaannya karena takut Sonya menjauh darinya.
“Ayo, Leon. Aku sudah siap,” ajak Sonya sambil menuruni tangga. Wajahnya masih terlihat agak merah. Hal itu membuatnya tampak lebih manis walaupun cara berpakaiannya biasa saja. Ia hanya memakai celana jeans dan kaos saja.
“Kalau begitu ayo,” Ferro langsung berdiri dan berusaha mengalihkan perhatiannya. Ia menahan diri supaya tidak terpesona dengan Sonya yang menurutnya sangat manis dan cukup menggemaskan.
Sesampai disana, Sonya hanya diam saja tidak tau apa-apa. Ia tidak tau bahan apa yang harus Ia beli. Bumbu-bumbupun Ia tidak tau, bumbu yang Ia tau hanya gula dan garam. Saat Ferro tanya bumbu yang ada di rumahnya untuk masak ada apa tidak, Sonya hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak mengerti.
“Leon, aku mau tanya. Dulu aku memanggilmu siapa??” tanya Sonya yang mendorong kereta belanjaan secara pelan-pelan mengikuti Ferro yang sedang memilih bahan makanan.
“Sejak dulu kamu memanggilku ‘Leon’,” jawab Ferro sambil memasukkan bahan makanan kedalam kereta belanjaan. Ia sangat tau apa makanan kesukaan Sonya dan apa yang tidak disukai oleh Sonya. Ferro selalu memperhatikan semua tentang Sonya sekecil apapun itu. Hal-hal yang bersangkutan dengan Sonya tidak pernah Ia lewatkan sedikitpun.
“Kenapa dulu aku memanggilmu ‘Leon’??” tanya Sonya yang merasa sangat tidak puas dengan jawaban Ferro. Ia malah semakin penasaran karena ternyata ‘Leon’ adalah nama yang masih Ia ingat dari Ferro dan Sonya memang lebih nyaman memanggil Ferro dengan panggilan Leon.
“Asal kamu tau, kamu itu tidak terlalu suka suatu hal yang istimewa. Awalnya kamu memanggilku Ferro, tapi karena anak lainnya juga memanggilku seperti itu, kamu ingin suatu panggilan yang lebih istimewa dari mereka, jadi kamu memanggilku ‘Leon’ dan kata kamu dulu aku sama kerennya dengan singa makanya kamu suka kan sama singa?? Apa sekarang kamu puas??” tanya Ferro yang berhenti dan menoleh untuk melihat bagaimana respon Sonya.
“Terima kasih,” jawab Sonya yang masih agak malu-malu sambil sesekali menundukkan kepalanya. Kemudian saat Ia mulai mengangkat kepalanya, pandangannya melihat seseorang yang sangat familiar dengannya, “Leon, bukannya itu Kak Dion yah??” tanya Sonya sambil berjalan menuju Kak Dion.
“Kak!!” ucap Sonya dengan nada yang cukup mengagetkan Kak Dion sehingga tubuhnya tampak tersentak karena Sonya mengagetkannya dengan pukulan di bahu yang lumayan keras.
“Sonya?? Kenapa kamu disini??” tanya Kak Dion yang masih terkejut. Tatapannya kemudian menuju ke arah Ferro yang berjalan dengan pelan ke arahnya. Ferro tampak tersenyum kepada Kak Dion. Kak Dion tampak tidak enak dengan Ferro, tentu saja, Kak Dion dulunya selalu menceritakan bagaimana perasaannya tentang Sonya dan sekarang Ia ingin menahan perasaannya dan membantu Ferro supaya bisa bersama dengan Sonya dan juga menjadi pelindung Sonya.
“Ayah menyuruhku pulang dan istirahat. Sekarang aku dan Leon sedang mencari bahan makanan untuk dimasak. Apa Kakak sibuk?? Ayo ikut makan di rumah!!” ajak Sonya dengan ramah. Sonya merasa nyaman dengan Kak Dion, Ia sudah menganggapnya seperti kakaknya sendiri. Sonya tidak pernah mempunyai saudara dan tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang saudara, dan sekarang Ia merasakannya dari Kak Dion.
“Ah… Aku harus…”
“Harus ikut kita. Iya kan, Leon??” Sonya langsung memotong perkataan Kak Dion dan menarik tangannya supaya ikut makan dan berbelanja dengannya dan Ferro. Mau tidak mau Dion ikut saja dengan Sonya. Ia ingin mencoba untuk membantu mereka agar saling mengerti perasaan masing-masing. Ia ingin menyatukan Sonya dan juga Ferro. Kak Dion sudah terlanjur sayang kepada kedua orang ini. Ia harus berusaha untuk menyatukan mereka. Tidak peduli dengan perasaannya. Lama-kelamaan hatinya pasti akan bisa menerima keputusan yang sudah Ia ambil.
Mereka kemudian selesai belanja. Kak Dion ke rumah Sonya menggunakan taxi seperti Ia berangkat tadi. Semua belanjaan ditaruh di dalam bagasi taxi. Awalnya Sonya ingin ikut Kak Dion naik taxi, tapi Kak Dion dengan kasarnya mendorong Sonya keluar dengan alasan Ia ingin menghafalkan pelajaran sedikit demi sedikit di dalam taxi. Sonya juga sebenarnya ingin sedikit menjaga jarak dengan Ferro. Ia sedikit malu jika hanya berdua dengan Ferro saja. Walaupun Sonya tampak cuek dan tidak menghiraukan Ferro, tapi sebenarnya jantungnya berdetak dengan kencang.

319 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Continue reading this series: