Posted on

Choco Romance [BAB VII]

This post is part of the series Choco Romance

Other posts in this series:

  1. Choco Romance [BAB V]
  2. Choco Romance [BAB VI]
  3. Choco Romance [BAB VII] (Current)
  4. Choco Romance [BAB VIII]
  5. Choco Romance [BAB IX]
Oleh : Fannie Chrishty Saffiany Purnomo
 
BAB TUJUH
Sudah 3 hari sejak kejadian di taman hiburan. Sonya sering mengurung diri di kamar. Ia marah dengan semua orang. Ferro tidak menceritakan kenangan masa lalunya, sedangkan Ayah dan Ibunya ikut menyembunyikan identitas Ferro walaupun sebenarnya mereka tau. Bahkan di tokopun Sonya hanya diam saja walaupun ikut membantu. Ia hanya mau bicara kepada Kak Dion. Ia seperti kehilangan kendali karena 3 orang yang Ia sayangi menipu dirinya secara mentah-mentah.
“Bagaimana hubungan kamu dengan Ferro??” tanya Kak Dion saat melihat Sonya sedang tidur-tiduran di perpustakaan yang sunyi akan suara-suara. Tempat ini adalah tempat paling cocok dimana seseorang menginginkan sebuah ketenangan.
“Jangan bahas dia dulu! Aku masih tidak mau dengar namanya,” Sonya kemudian menenggelamkan kepalanya ke kedua tangannya yang terlipat diatas meja. Ia masih sedih dengan perilaku Ferro. Ia penasaran kenapa Ia menyembunyikan fakta itu darinya. Apa Ferro merasa tidak suka dengan masa lalunya yang bersama dengan dirinya.
“Apa kamu menyukainya??” tanya Kak Dion secara tiba-tiba. Kak Dion merasa Sonya seperti sakit hati karena Ia seperti sedang dilupakan. Kak Dion sendiri sekarang mulai patah hati, karena disaat Ia sudah berusaha menata hatinya untuk menyatakan cinta, tiba-tiba masalah datang dan hal itu membuatnya merasa tidak percaya diri hingga akhirnya Ia mulai mengurungkan niatannya untuk menyatakan cinta.
“Pertanyaan bodoh macam apa itu??” balas Sonya. Ia merasa malas karena tidak bisa berganti bangku saat di kelas. Jadi, mau tidak mau, Ia harus tetap duduk di sebelah Ferro.
“Pertanyaan bodoh yang membuatku gelisah,” jawab Kak Dion dengan tersenyum manis kepada Sonya yang awalnya menenggelamkan wajahnya, langsung menatap Kak Dion dengan terheran-heran dan juga bingung dengan maksud Kak Dion tadi.
“Apa maksud Kakak??” tanya Sonya yang masih bingung dan tidak mengerti. Sonya sudah menganggap Kak Dion seperti kakaknya
“Apa kamu tidak pernah sadar kalau aku ini menyukaimu??” jawab Kak Dion yang bertopang dagu menatap Sonya yang menatapnya dengan mata bulat yang sangat menggemaskan. Kak Dion memang sangat menyukai wajah polos Sonya yang seperti saat ini, yaitu dimana Ia menatap seseorang dengan matanya yang besar dan bulat. Entah kenapa, Kak Dion mengungkapkan isi hatinya tanpa beban sedikitpun. Ia ingin agar Sonya segera tau bagaimana perasaannya kepada dirinya. Kak Dion ingin supaya Sonya tidak selalu murung lagi.
“Maksud Kakak apa, sih?? Jangan bercanda seperti itu!” Sonya kemudian berdiri untuk meninggalkan Kak Dion yang menurutnya sudah mulai mengada-ngada. Sonya tidak mau mendengar candaan Kak Dion terlebih dahulu, suasana hatinya masih belum membaik setelah kebohongan yang telah Ferro buat.
GREEB…
“Hehe… Iya aku minta maaf. Aku kira kamu terpancing candaanku. Ternyata suasana hati kamu masih belum membaik, yah??” ucap Kak Dion yang menghentikan langkah Sonya yang akan meninggalkannya, ‘Maaf, aku berbohong seperti ini karena aku tidak mau kamu meninggalkanku,’ batin Kak Dion dalam hati tapi dengan tersenyum ke arah Sonya yang masih dalam suasana hati yang belum membaik, ‘Sepertinya kamu memang menyukai Ferro. Tapi kamu masih belum sadar dengan perasaan kamu sendiri,’ batin Kak Dion sekali lagi. Ia masih belum siap jika Sonya akan meninggalkannya. Ia terlalu mencintainya. Sangat mencintainya.
Hari minggu ini sudah tepat seminggu Ferro diabaikan oleh Sonya, Ia tidak kuat menahan semua itu lebih lama lagi. Ia sangat menyayangi Sonya. Ia tidak mau Sonya terus menjauhinya. Sudah beberapa tahun Ia terpisah dengan Sonya dan sekarang saat Ia sudah bisa dekat dengannya lagi, masalah baru mulai muncul dan menghancurkan semuanya. Saat ini Ia sedang menunggu Sonya di depan toko CHOCO SHOP karena toko keluarga Sonya tutup jika hari minggu. Ia menunggu saat dimana Sonya keluar dari rumah dan Ia ingin menjelaskan semuanya. Tapi saat masih menunggu, tiba-tiba Sonya berlari keluar dari rumah dengan air mata yang bercucuran.
“Ada apa?? Apa yang terjadi??” tanya Ferro dengan sangat khawatir melihat kondisi Sonya yang menangis sambil terisak seperti saat ini.
“Pergilah!! Ayah dan Ibu kecelakaan dan sekarang mereka berada di rumah sakit. Aku harus kesana sekarang. Aku tidak mau kalau mereka sampai meninggalkanku,” ucap Sonya yang masih terisak dan juga berjalan tidak tentu arah mencari kendaraan yang bisa mengantarnya ke rumah sakit. Ia sudah tidak bisa berpikir secara lurus. Bahkan untuk jalan saja Ia sudah sempoyongan. Ia sangat takut jika harus kehilangan kedua orang tuanya.
“Tunggulah disini! Aku akan mengambil sepeda motor dan mengantarmu. Percayalah mereka pasti baik-baik saja. Cobalah untuk tenang. Aku akan segera kembali. Tunggu disini!!” Ferro kemudian meninggalkan Sonya yang masih sangat terisak di depan rumahnya. Ia sangat tidak tega melihat kondisi Sonya yang sangat terpukul seperti itu. Ia ingin selalu menjaga dan melindungi Sonya. Ia tidak mau lagi berpisah dengan Sonya untuk kedua kalinya.
Ferro mengambil sepeda sambil berlarian. Ia tidak ingin membuat Sonya menunggu terlalu lama. Ia takut jika Sonya melakukan hal bodoh karena mendengar kabar kecelakaan orang tuanya. Sonya memang tidak punya saudara lagi. Ia hanya punya Tante Ara dan Om Bintang saja dan sekarang mereka sedang pergi keluar kota karena suatu urusan. Tidak lama kemudian, Ferro datang menggunakan sepeda motor.
“Kenapa lama sekali??!!! Ayo cepat!! Aku takut!!!” bentak Sonya yang sangat khawatir dengan kedua orang tuanya.
Mereka berduapun berangkat ke rumah sakit dengan kecepatan yang diatas rata-rata. Sonya sudah tidak menangis lagi, tapi entah kenapa, air matanya terus mengalir tanpa henti. Suara sesenggukan Sonya juga masih terdengar dengan jelas. Ferro menyuruhnya untuk berpegangan karena Ferro melajukan sepedanya dengan kencang. Ia tidak mau buang-buang waktu di jalan. Ia juga ingin mengetahui kondisi Ayah dan Ibu Sonya dan juga sangat khawatir dengan mereka karena menurut Ferro, orang tua Sonya adalah orang tua kedua setelah orang tua kandungnya. Setelah sampai di rumah sakit, ternyata Ibu Sonya masih ada di ruang operasi, sedangkan Ayah Sonya berada di ruang ICU. Sonya bingung harus bagaimana.
“Lebih baik kita lihat kondisi Ayah dulu,” Ferro merangkul Sonya yang sangat stres dan tidak tau lagi harus apa. Bahkan air mata Sonya masih terus mengalir tiada henti. Sonyapun menuruti ucapan Ferro dengan lemas tanpa respon sedikitpun.
Sesampai di ruangan ICU, Sonya kembali dibuat lemas setelah melihat Ayahnya terbaring lemah masih belum sadarkan diri, “Ayah… Ayo sadarlah… Aku takut, Yah… Aku nggak mau sendirian…” ucap Sonya saat dibolehkan masuk hanya sebentar saja, tapi mau bagaimana lagi kalau pihak rumah sakit melarangnya. Setelah dirasa cukup, perawat tiba-tiba datang dan menyuruh Sonya untuk menunggu di luar. Ferro menunggunya di luar dengan sangat khawatir. Ferro menatap mata Sonya yang mulai bengkak karena menangis.
“Leon… Aku nggak mau sendiri… Aku takut…” Sonya datang sambil bersandar di dada Ferro. Ferro hanya diam saja dan memeluk Sonya dengan lembut. Ia ingin menenangkan Sonya yang saat itu dalam kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Sonya memang kadang terlihat kuat dari luar, tapi jika sudah menyangkut Ayah Ibu dan perasaan, Ia akan sangat lemah dan rapuh.
“Kamu tidak sendiri. Aku selalu bersamamu. Jangan pernah berpikir kalau kamu sendirian, karena sebenarnya masih sangat banyak orang yang menyayangimu,” ucap Ferro yang semakin mempererat pelukannya kepada Sonya. Ia sangat ingin menanggung beban yang Sonya hadapi saat ini. Hatinya terasa sangat sakit jika melihat Sonya seperti ini. Ia sangat merindukan senyuman Sonya yang sangat manis dan juga menggemaskan.
“Jangan tinggalkan aku…” ucap Sonya yang memeluk Ferro semakin erat juga sambil terisak.

277 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Continue reading this series: