Posted on

Choco Romance [BAB VI]

This post is part of the series Choco Romance

Other posts in this series:

  1. Choco Romance [BAB IV]
  2. Choco Romance [BAB V]
  3. Choco Romance [BAB VI] (Current)
  4. Choco Romance [BAB VII]
  5. Choco Romance [BAB VIII]
Oleh : Fannie Chrishty Saffiany Purnomo
 
 
 
BAB ENAM
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, sehingga Ferro dan Dion harus berpamitan untuk pulang. Awalnya mereka disuruh menginap tapi mereka menolak karena merasa tidak enak dengan Ayah dan Ibu Sonya. Mereka juga belum mempersiapkan barang dan pakaian yang harus mereka bawa dan pakai untuk besok. Mereka pulang berjalan kaki karena mereka berdua menolak untur diantar. Apalagi rumah Ferro tidak terlalu jauh dan rumah Kak Dion ternyata hanya selisih 2 belokan saja dari rumah Ferro.
“Ferro, apa kamu menyukai Sonya??” tanya Dion dengan tiba-tiba. Ia bertanya tanpa melihat ke arah Ferro sehingga Ia tidak tau bahwa Ferro menahan ekspresi kaget karena pertanyaan Dion yang cukup mengejutkannya.
“Kakak tanya apa sih?? Aku dan Sonya cuma teman biasa kok,” jawab Ferro dengan tertunduk dan tanpa sadar Ia merasa sangat sedih hanya untuk menjawab pertanyaan Kak Dion saja.
“Apa kamu tidak ada rasa sedikitpun padanya?? Dia tampak menyukaimu daripada aku. Dia juga selalu membelamu,” Kak Dion merasa sangat tidak puas dengan jawaban Ferro yang tampaknya seperti sebuah pengakuan dari lubuk hati Ferro yang paling dalam bahwa Ferro juga menyukai Sonya. Tapi Ia tampak mengelak semua itu entah karena alasan apa.
“Dia pasti seperti itu karena aku adalah teman pertamanya disini. Aku juga menyukainya sebagai teman,” jawab Ferro sambil tersenyum sedih membayangkan Sonya yang selama ini baik dan perhatian padanya. Jika Ia bisa, Ia ingin mengaku bahwa dirinya selalu menyukai Sonya sejak kecil. Ia juga ingin selau bersama dan melindungi Sonya jika bisa. Tapi itu hanya impiannya saja.
“Aku menyukainya. Aku sangat menyukainya,” kata Kak Dion tiba-tiba sambil tersenyum menatap langit, “Aku suka sifatnya yang cuek. Wajahnya yang imut dan menggemaskan membuatku ingin melindunginya. Aku suka semua kekurangan dan kelebihannya,” ujar Kak Dion yang tersenyum malu mengakui perasaannya kepada Ferro.
“Aku tau kalau Kakak menyukai Sonya. Aku bisa melihatnya dari cara Kakak melihat Sonya. Malah sejak awal aku tau,” ujar Ferro yang sudah tau kenyataan bahwa Kak Dion menyukai Sonya. Sejujurnya hatinya tentu saja terluka mendengar semua itu. Tapi Ia tidak punya hak untuk marah apalagi menghalangi hubungan Sonya dan Kak Dion.
“Sebenarnya aku bermaksud ingin menyatakan cinta padanya besok jika sempat. Atau aku akan membawanya ke suatu tempat yang lebih berkesan. Tapi aku harus lihat reaksinya dulu besok, jika besok suasananya juga sangat memungkinkan, aku akan mencoba menyatakan cinta padanya. Apakah menurutmu dia akan menerimaku??” tanya Kak Dion dengan antusiasnya. Ia ingin segera mendapatkan Sonya karena Ia sangat mencintai gadis itu.
“Sonya pasti juga menyukai Kakak,” jawab Ferro yang berusaha untuk tersenyum menyembunyikan rasa sakit di hatinya yang terasa tercabik-cabik karena patah hati.
“Benarkah?? Sudah aku duga itu. Besok aku akan membuatnya terpesona denganku. Tidak hanya aku yang selalu terpesona dengannya. Tunggu saja besok. Kamu juga harus menjadi saksi saat aku menyatakan cinta padanya. Kamu pasti dukung aku, kan??” tanya Kak Dion dengan senangnya.
“Iya, Kak. Kakak tenang saja. Ngomong-ngomong aku sudah sampai, Kak. Aku masuk duluan, yah?? Jaga stamina buat besok,” Ferro kemudian berhenti di depan rumahnya. Rumah Ferro tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. Rumahnya berlantai 2 yang hanya ditinggali Ferro dan kedua orang tuanya saja.
“Baiklah. Besok pagi aku akan menjemputmu terlebih dahulu. Kita berangkat bersama,” ucap Kak Dion sambil melambaikan tangan dan berjalan mundur meninggalkan Ferro. Ferro hanya tersenyum saja dengan lembut membalas lambaian Kak Dion.
‘Apa besok aku kuat menahan perasaanku jika Kak Dion menyatakan cinta pada Sonya?? Aku seperti tidak ingin mendengarnya. Kalau bisa aku besok tidak ingin ikut. Tapi aku sudah berjanji akan ikut. Apa yang harus aku lakukan??’ Ferro memasuki rumah dengan melamun. Orang tuanya mungkin sudah tidur atau belum pulang karena urusan pekerjaan mereka. Sudah menjadi hal yang biasa bahwa Ferro selalu merasa sendiri jika di rumah. Kedua orang tuanya selalu bekerja berangkat pagi dan pulang malam. Jarang sekali mereka menghabiskan waktu bersama, jadi Ia langsung saja masuk ke kamarnya untuk tidur juga dan menyiapkan keperluan untuk besok, lagipula Ia sudah tidak bisa kabur lagi. Ia tidak mau mengabaikan ajakan Ayah dan Ibu Sonya yang dari dulu baik padanya dan bahkan sekarang mereka mau berpura-pura tidak terlalu mengenalinya walaupun sebenarnya Ferro juga sangat dekat dengan orang tua Sonya.
Langit sangat cerah di sebuah lapangan bermain. Terdapat beberapa anak kecil yang sedang bermain dengan senangnya. Dan tampak seorang anak yang mirip dengan Sonya yang masih kecil sedang bermain pasir di kotak pasir. Ia sedang bermain sendirian tanpa seorangpun disampingnya, bahkan di kotak pasir itu hanya ada Ia sendiri tanpa anak kecil lain yang mau bergabung dengannya.
“Kenapa kamu sendirian??” tanya seorang anak laki-laki. Ia berjongkok di depan Sonya yang lagi asyik bermain pasir dan Sonya tiba-tiba mendongakkan kepalanya melihat anak yang ada di depannya ini.
“Iya. Aku tidak punya teman disini. Mereka tidak mau berteman denganku,” jawab Sonya yang tertunduk menyembunyikan ekspresi sedihnya sambil bermain pasir.
“Kalau begitu bermainlah denganku. Kamu cantik. Aku suka denganmu,” kata anak laki-laki itu dengan berani. Ia mengajak Sonya kecil berdiri sambil memegang kedua tangan Sonya kecil. Sonya sangat senang dan tersenyum ceria saat anak laki-laki itu mengajaknya bermain.
Mereka berdua bermain dengan senangnya. Sonya sangat menyukai anak laki-laki ini. Ia selalu lembut kepada Sonya. Ia seperti menjaga Sonya selayaknya Sonya seperti barang pecah belah yang sangat rapuh. Mereka bermain hingga sore hari, Sonya sedikit merasa kecewa karena hari itu menurutnya terlalu singkat.
“Ayo pulang!! Sebentar lagi malam. Aku akan mengantarmu,” ucap anak laki-laki itu dengan dewasanya. Walaupun umurnya mungkin masih sekitar 4 tahunan, tapi Ia bisa menjaga Sonya dengan baik bahkan ingin mengantar Sonya pulang karena khawatir.
“Tidak mau. Aku tidak mau pulang,” rengek Sonya sambil menggenggam erat tangan anak laki-laki itu. Ia tampak tidak ingin jauh darinya. Sonya menggenggam tangan anak laki-laki ini dengan kepala yang tertunduk karena mata Sonya yang berkaca-kaca seperti ingin menangis tidak mau ditinggalkan.
“Apa kamu menangis?? Aku mohon jangan menangis,” anak laki-laki ini tampak sangat bingung dan tidak tau harus melakukan apa. Ia kemudian mengusap pipi Sonya untuk menghapus air mata Sonya yang mulai jatuh ke pipinya yang cukup chubby dan menggemaskan itu, “Baiklah aku akan selalu bersamamu. Tapi sekarang kita harus pulang ke rumahmu. Aku akan bermain denganmu dulu di rumah kamu sampai kamu puas dan besok aku juga akan bermain denganmu lagi,” bujuk anak laki-laki itu dengan pintarnya.
“Benarkah?? Terima kasih,” Sonya kemudian mengusap air matanya dengan kasar dan memeluk anak laki-laki itu dengan tiba-tiba, ”Owh iya. Nama kamu siapa??” tanya Sonya sambil melepaskan pelukannya dan menatap anak laki-laki itu dengan tersenyum manis.
Anak laki-laki itu langsung gugup karena pelukan Sonya yang datang secara tiba-tiba, “Ah.. Namaku.. adalah…”
“Sonya!! Kamu mau tidur sampai jam berapa??!!” tiba-tiba terdengar suara Ibu yang sangat keras dan langsung melenyapkan semuanya.
‘Mimpi itu lagi. Sebenarnya siapa anak laki-laki itu. Aku sangat ingin tau tentangnya. Kenapa aku selalu terbangun saat aku hampir tau siapa dia?? Sangat menyebalkan,’ Sonya bergumam dalam hati dan merasa kesal karena belum mengetahui nama anak laki-laki itu yang selalu ada di mimpinya. Ia sudah sering bermimpi tentang anak laki-laki itu. Anak laki-laki itu seperti malaikat kecil yang selalu menemani Sonya sewaktu kecil. Sonya juga merasa bahwa mimpinya itu terlalu nyata untuk disebut sebuah mimpi.
Sonya bersiap-siap dengan cekatan. Tidak seperti gadis lainnya yang sangat peduli dengan penampilannya sehingga untuk pergi keluar saja membutuhkan waktu sampai berjam-jam. Sonya hanya memakai kaos putih panjang bermotif polkadot dan jaket dengan celana panjang. Tapi walaupun seperti itu, Sonya tampak sangat cantik dan menggemaskan. Jam sudah menunjukkan pukul 8 lebih, Ferro dan Kak Dion datang secara bersamaan. Kak Dion datang dengan penampilan yang cukup untuk memikat banyak perempuan. Ia memakai kemeja dengan jaket yang menghiasi kemejanya dan celana panjang biasa dilengkapi dengan sepatu berwarna biru senada dengan kemejanya. Sedangkan Ferro hanya mengenakan kaos polkadot hitam dan celana panjang biasa, tidak lupa juga sepatu yang biasa Ia kenakan saat keluar rumah. Sonya merasa penampilan kedua temannya ini bisa mengundang perhatian para gadis. Tanpa Ia sadari bahwa penampilannya juga bisa mengundang perhatian banyak pria yang melihatnya.
“Apa-apaan kalian?? Kenapa kalian sama-sama memakai kaos polkadot?? Kalian sudah janjian yah??” celoteh Kak Dion yang curiga saat melihat kaos Sonya dan Ferro sama-sama memiliki motif polkadot. Ia merasa mereka seperti mengenakan kaos couple. Padahal Ia berencana menyatakan perasaannya kepada Sonya.
“Memangnya kenapa??” tanya Sonya dengan cueknya sambil melihat baju Ferro yang ternyata memang sama-sama bermotif polkadot. Ia tidak merencanakan hal itu dengan Ferro sebelumnya. Ia hanya kebetulan mengambil kaos itu karena kaos itu letaknya ada di tumpukan paling atas dan mudah diambil.
“Kita tidak sengaja kok, Kak. Ini cuma kebetulan saja,” jawab Ferro yang tampaknya mengerti bahwa Kak Dion sedikit cemburu atau berpikir bahwa dirinya dan Sonya merencanakan hal itu supaya Kak Dion tidak jadi menyatakan cinta.
“Kalian selalu membuatku iri,” Kak Dion kemudian merangkul Sonya dengan tangan kanannya dan Ferro dengan tangan kirinya. Sebenarnya Ia cukup cemburu melihat mereka berdua memakai pakaian yang seperti kaos couple, tapi Ia percaya dengan Ferro karena semalam Ferro juga sudah bilang kalau Ia hanya sebatas teman saja dengan Sonya dan tidak mungkin Ferro mengkhianatinya.
Akhirnya merekapun mulai bersiap untuk berangkat ke taman hiburan. Mereka sudah tidak sabar ingin segera merasakan setiap wahana yang ada disana. Tante Ara dan suaminya tidak bisa ikut karena ada suatu urusan. Jadi Ferro ingin mengalah dan duduk di bangku paling belakang sendirian.
“Apa yang kamu lakukan?? Apa kamu mau duduk sendirian disana?? Kita duduk bertiga disini,” ajak Sonya sambil menarik baju Ferro dengan kasarnya. Setelah ditarik Sonya, Ferro seketika mengurungkan niatannya dan duduk di bangku tengah di samping pintu. Sedangkan Sonya duduk di tengah diampit oleh Ferro dan Kak Dion.
Sesampai di taman hiburan, mereka bermain dengan sepuas hati. Mereka mencoba setiap wahana yang ada disana dengan serunya. Ternyata Ferro dan Kak Dion mempunyai kelemahan yang sama, yaitu ketinggian. Mereka sama-sama takut akan ketinggian. Sonya selalu mengajak mereka menaiki wahana yang berhubungan dengan ketinggian. Ayah dan Ibu hanya mengikuti dan kadang menunggu mereka di CAFE untuk membandingkan Cafe itu dengan toko mereka. Sonya tidak peduli apa-apa, yang ada di pikirannya sekarang hanyalah bermain. Ferro dan Kak Dion serasa mual-mual karena beberapa wahana yang tampak seperti mengaduk-aduk isi perut mereka. Tapi Sonya masih tidak peduli dan terus bermain. Hingga akhirnya hanya 1 wahana yang belum mereka coba dan Sonya menolak untuk memasuki wahana itu, yaitu rumah hantu. Sonya sangat membenci hal-hal seperti hantu. Ia terlalu takut untuk melihat wajah rusak mereka yang tampak mengerikan. Ferro dan Kak Dion tidak mau melewatkan hal itu, mereka berdua memaksa Sonya untuk masuk ke dalam rumah hantu. Saat sudah berada di dalampun, Sonya menggenggam erat lengan Ferro dan Kak Dion dengan sangat erat tanpa bisa bergerak sedikitpun ataupun bahkan menjauh darinya. Hal tersebut membuat Ferro dan Kak Dion merasa malu dan merasa panas di wajah mereka karena posisi mereka yang terlalu dekat dengan Sonya, sedangkan Sonya hanya menutup mata saja selama berada di rumah hantu. Tanpa mereka sadari, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Sonya merasa lelah dan duduk di bangku yang ada di taman bermain bersama Kak Dion, Ferro pergi untuk membelikan minuman untuk mereka berdua dan dirinya sendiri.
“Apa kamu sudah puas membuatku dan Ferro merasa tersiksa??” ucap Kak Dion yang masih mengatur nafas karena wahana yang mengerikan dan juga karena dirinya yang dekat dengan Sonya dan ingin cepat-cepat menyatakan cintanya.
“Aku hanya membantu supaya kamu dan Leon tidak takut ketinggian,” jawab Sonya dengan polosnya tanpa memperdulikan Kak Dion sambil melihat ke arah 2 anak kecil laki-laki dan perempuan yang sedang bermain dengan senangnya. Kedua anak itu mengingatkan Sonya akan mimpinya semalam. Ia masih penasaran dengan sosok anak laki-laki yang selalu bersamanya untuk melindunginya. Tiba-tiba ada sesuatu yang menyakitkan di kepala Sonya. Kepalanya terasa sangat sakit. Kemudian terdapat beberapa bayangan mengenai anak kecil di mimpinya, ‘Siapa kamu??’ Sonya masih bertanya-tanya akan identitas anak laki-laki itu. Di bayangannya, laki-laki itu menggenggam tangan Sonya sambil menariknya berlari-lari, ‘Adik, nama kamu siapa??’ tanya Sonya kepada anak kecil yang ada di depannya. Anak laki-laki itu kemudian berhenti berlari dan menghadap Sonya. Sonya yang penasaran akan anak laki-laki itu langsung berjongkok agar Ia bisa melihat anak laki-laki itu dengan jelas, ‘Nama kamu siapa??’ tanya Sonya untuk kesekian kalinya dengan tersenyum lembut. Anak laki-laki itu kemudian memegang pipi Sonya, ‘Aku Leon, Kak. Kenapa Kakak tidak ingat denganku??’ jawab anak laki-laki itu dengan menggemaskan tapi membuat Sonya sangat terkejut, ‘Apa??’ Sonya serasa syok dengan apa yang Ia dengar dari anak laki-laki ini. Anak laki-laki itu kemudian hanya tersenyum. Kemudian anak gadis kecil yang seumuran dengan Ferro kecil itu datang dengan berlari-lari, ‘Leon…!!!’ teriak gadis kecil itu dari kejauhan hingga akhirnya Sonya melihat bahwa anak gadis itu adalah dirinya yang masih kecil. Bayangan dirinya yang masih kecil itu kemudian mengajak Ferro pergi. Tiba-tiba dibalik bayangan kedua anak kecil yang pergi tadi terdapat bayangan seorang pria remaja yang datang menghampirinya, ‘Sonya, apa kamu tidak apa??’ pria itu adalah Ferro.
“Sonya, kamu kenapa?? Sadarlah!! Apa yang terjadi denganmu?? Aku mohon sadarlah,” Ferro memohon-mohon dengan sangat khawatir saat melihat Sonya pingsan disamping Kak Dion. Ia takut terjadi apa-apa dengan Sonya. Ia tidak mau suatu hal terjadi padanya. Melihat keadaan Sonya yang pingsan seperti saat ini membuat Ferro teringat masa lalu dan kembali membuatnya merasa bersalah.
“Sonya, bangunlah!!” Kak Dionpun sangat khawatir dengan kondisi Sonya saat ini.
“Kamu kenapa, Nak?? Jangan buat Ibu khawatir,” Ibu sedih dengan kondisi Sonya yang tiba-tiba pingsan seperti ini.
“Ada apa dengannya?? Kenapa dia tiba-tiba pingsan seperti ini??” Ayahpun sangat khawatir dengan keadaan putri semata wayangnya.
“Saya tidak tau, Om. Tadi dia baik-baik saja. Tapi kemudian kepalanya sakit dan pingsan,” jelas Kak Dion yang dari tadi bersama dengan Sonya.
Sonya merasakan suara berisik di sekitarnya. Perlahan-lahan Ia mulai membuka matanya yang terasa sangat berat. Awalnya tampak samar-samar, tapi kemudian Ia bisa melihat wajah khawatir orang-orang disekitarnya dengan sangat jelas.
“Akhirnya, Nak. Kamu membuat Ibu khawatir,” ucap Ibu yang kemudian memeluk Sonya dengan erat. Sedangkan Sonya masih menatap Ferro dengan tatapan kosong dan penuh amarah.
“Kalau kamu kelelahan, seharusnya kamu bilang. Jangan memaksakan diri,” celoteh Ayah yang juga sangat khawatir dengan keadaan Sonya. Tapi semua itu tidak bisa menutupi perasaan Sonya yang serasa sedang dibodohi secara mentah-mentah.
“Kenapa kamu tidak bilang??” ucap Sonya dengan mata yang mulai berkaca-kaca menatap Ferro yang sangat mengkhawatirkannya dengan lekat. Sudah lama Ia ingin mengetahui identitas anak laki-laki yang selalu membuatnya bahagia sewaktu kecil. Tapi Ia tidak menyangka bahwa anak itu adalah Ferro dan kenapa Ferro tidak bercerita sama sekali bahwa mereka adalah teman sewaktu kecil. Sonya memang amnesia sewaktu kecil, tapi hal itu tidak menutup kemungkinan untuk menceritakan semua kenangan Sonya yang tadinya terlupakan.
“Bilang apa?? Kenapa kamu menangis seperti ini?? Apakah masih sakit??” tanya Ferro yang setengah takut melihat Sonya yang tampak ingin menangis. Ia sangat mengkhawatirkan Sonya. Ia tidak ingin Sonya terluka sedikitpun ataupun merasa sakit. Ia ingin terus melindungi Sonya.
“KENAPA KAMU TIDAK BILANG KALAU KAMU ITU TEMAN MASA KECILKU?!! AKU DARI DULU INGIN TAHU SIAPA ANAK LAKI-LAKI ITU. DASAR EGOIS!!!” bentak Sonya yang kemudian berlari meninggalkan Ayah, Ibu, kak Dion dan tentu saja Ferro. Mereka berempat tampak terkejut mendengar bentakan Sonya bercampur dengan suara isakannya, terlebih lagi Ferro. Kata-kata itu seperti petir yang menyambar dirinya. Ayah dan Ibu langsung mengejar Sonya, sedangkan Kak Dion masih terkejut sekaligus bingung dengan ucapan Sonya tadi.
“Apa maksud ucapannya tadi?? Kamu teman masa kecilnya?? Itu artinya kamu sudah mengenalnya dari dulu?? Kenapa kamu tidak pernah bicarakan hal itu denganku atau paling tidak kamu ceritakan padanya??” Kak Dion marah, Ia berdiri sambil menarik baju Ferro dengan kedua tangannya, “SEHARUSNYA KAMU CERITAKAN HAL ITU PADANYA!!!! BUKANNYA JADI PENGECUT SEPERTI SAAT INI!!” bentak Kak Dion juga yang merasa dibohongi mentah-mentah. Ia kemudian pergi meninggalkan Ferro yang masih terduduk lemas. Selama ini Kak Dion selalu menceritakan bagaimana perasaannya kepada Sonya kepada Ferro. Tapi kenyataannya, Ferro lebih tau semuanya. Ia sudah mengenal Sonya jauh sebelum dirinya. Tapi yang Kak Dion tidak mengerti, kenapa Sonya sendiri tidak tau kalau Ferro adalah teman masa kecilnya.

309 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Continue reading this series: