Posted on

Choco Romance [BAB V]

This post is part of the series Choco Romance

Other posts in this series:

  1. Choco Romance [BAB II-III]
  2. Choco Romance [BAB IV]
  3. Choco Romance [BAB V] (Current)
  4. Choco Romance [BAB VI]
  5. Choco Romance [BAB VII]
Oleh : Fannie Chrishty Saffiany Purnomo
 
BAB LIMA
Bel sekolah sudah berbunyi dan hari ini merupakan akhir pekan. Sonya dan yang lainnya tentu saja masih sekolah. Tapi akhir pekan merupakan hari dimana para pegawai akan libur seperti contohnya adalah Ayah Sonya. Tiap akhir pekan Ia akan selalu berada di toko untuk membantu Ibu dan Tante. Walaupun Ayah Sonya adalah seorang pegawai yang berangkat pagi dan pulang malam, Ayah Sonya cukup pandai dan handal dalam hal membuat kue. Kadang Ia akan membantu di bagian dapur untuk membuat kue atau roti coklat yang sangat enak. Herannya adalah, Ayah dan Ibu Sonya sangat pandai membuat kue atau roti yang sangat enak, tapi kenapa Sonya tidak bisa?? Hal yang Ia bisa bantu di toko mungkin hanya di kasir atau membuat minuman yang sangat mudah itu saja. Pernah dulu Ia belajar membuat kue, tapi rasanya sangat mengerikan. Rasa dan tampilannya cukup untuk membuat para pelanggan trauma memakan kue buatan Sonya. Dan sejak saat itu Sonya dilarang untuk membuat kue, walaupun menggunakan resep yang sudah tertera jelas.
“Kenapa kamu senyum-senyum?? Kamu terlihat aneh kalau seperti itu??” sindir Ferro menirukan ekspresi Sonya yang dari tadi senyum-senyum dengan tambahan ekspresi seperti mengejek.
“Hentikan!! Wajahmu jauh lebih aneh daripada wajahku,” Sonya sedikit kesal dan mencubit-cubit pipi Ferro sehingga wajahnya tampak lebih aneh.
“Sakit!! Lepaskan!! Kamu pikir wajahku ini adonan??” Ferro mencoba melepaskan tangan jail Sonya dari wajahnya hingga terlepas, “Memangnya ada apa kamu senyum-senyum begitu?? Apa kamu ada rencana dengan Ayahmu??” Ferro merasa kesakitan pipinya dicubit dengan sembarangan oleh Sonya. Ia juga menebak-nebak kenapa Sonya bisa senyum-senyum seperti itu. Sangat tidak mungkin jika tidak ada alasannya dan hal utama yang ada dipikiran Ferro adalah Ayahnya Sonya yang libur di akhir pekan.
“Apa kamu keturunan peramal?? Bagaimana kamu bisa tau?? Kasih tau aku bagaimana caranya!! Ayo cepat jawab!!” Sonya menghentikan langkah Ferro dengan cara menghadang di depannya sambil merentangkan kedua tangannya. Berusaha menghentikan langkah Ferro. Lama-kelamaan sifat kekanakan Sonya sedikit demi sedikit muncul saat di depan Ferro dan kedua orang tuanya. Hal itu membuat Ferro semakin teringat dengan kenangannya dengan Sonya saat masih kecil. Ia ingin kembali disaat Ia dan Sonya masih sangat dekat. Lebih dekat dari sekarang tanpa rasa canggung dan juga bersalah sedikitpun.
“Haha… Pikiranmu sangat kekanakan,” Ferro menyentil kening Sonya dengan pelan sambil terus berjalan melewati Sonya yang masih cemberut tidak puas dengan jawaban Ferro, “Aku menebaknya karena sekarang dan besok kan Ayahmu libur. Ayahmu juga jarang sekali bertemu denganmu karena Ayahmu kan berangkat saat kamu masih belum sadar dari mimpi indah kamu yang sangat berharga dan juga pulang saat kamu memulai mimpi indahmu lagi,” jelas Ferro panjang lebar yang membuat Sonya sedikit kesal. Apalagi Ferro menirukan gaya tidur anak perempuan dengan gerakan yang agak dimanis-maniskan sehingga membuat mata orang yang melihatnya jadi sakit.
“Ya… Ya… Ya… Intinya kamu benar. Rencananya mungkin besok aku, Ayah dan Ibu mau ke taman bermain. Soalnya aku sudah lama tidak pergi kesana,” jelas Sonya yang kembali senyum-senyum tidak jelas lagi. Ferro hanya bisa tersenyum melihat ekspresi Sonya saat ini. Karena ekspresi Sonya yang tersenyum sama persis dengan tawanya saat masih kecil. Itu adalah hal yang tidak bisa Ferro lupakan. Hal yang membuat jantungnya berdegub dengan kencang.
“Apa kamu tidak berencana mengajak kami??” tiba-tiba ada suara yang menyauti dari belakang. Suara yang tidak diundang dan menawarkan diri dengan enaknya tanpa merasa bersalah sedikitpun. Apalagi Ia dengan seenaknya merangkul Ferro dan Sonya dari belakang.
“Kalau Leon masih bisa aku pertimbangkan. Tapi kalau Kakak sepertinya tidak perlu. Kakak lebih baik belajar saja buat ujian. Jangan malah main terus!! Pelajar apa yang sudah dekat dengan minggu-minggu ujian akhir tapi malah enak-enakan bermain seperti ini,” jawab Sonya tanpa menoleh dan juga sudah hafal dengan suara orang yang sedang merangkulnya dari belakang ini. Sonya juga melepaskan rangkulan pria itu dengan melemparkan tangan pria itu ke udara dengan kasarnya.
“Sonya ada benarnya juga, Kak. Kelas 3 kan memang sudah mau ujian. Jadi, Kakak pulang saja dan belajar di rumah,” sahut Ferro sambil ikut menggoda pria yang tadi datang secara tiba-tiba dan bisa dengan mudahnya merangkul Sonya. Pria itu memang Kak Dion. Akhir-akhir ini, Sonya dan Kak Dion sering berbicara bersama dan hubungan mereka sepertinya sudah lebih dekat. Ada kalanya Ferro merasa cemburu, tapi Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena dipikirannya, Ia hanya bisa menyakiti dan melukai Sonya saja. Ia masih belum bisa menjaga Sonya dengan benar.
“Wahh… Kalian berdua cukup kejam denganku. Ingatlah siapa yang mengajari kalian matematika dan fisika. Anggap saja kalian bayar les privat dariku. Aku sangat butuh hiburan saat ini,” ucap Kak Dion setengah kesal dan sedikit menyombongkan diri supaya kedua temannya ini mengajaknya bermain bersama. Memang bagi pria cerdas seperti Kak Dion, ujian adalah hal yang biasa dan bisa dengan mudah Ia hadapi.
“Kakak sendiri yang menawarkan diri padaku dulu. Kalau tidak mau kenapa dulu Kakak membantu kamu belajar??” Sonya berjalan mendahului Kak Dion dan Ferro, Ia berjalan dengan sangat santainya tanpa menoleh sedikitpun kea rah belakang.
“Ayolah… Ajak aku, yah?? Aku mohon. Ajak aku, yah??” bujuk Kak Dion sambil merangkul Sonya untuk kedua kalinya. Tubuh Sonya memang tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu kecil, tapi standart dan cukup menggemaskan dan sangat pas dengan wajahnya.
Ferro yang masih dibelakang terdiam dan sedikit merasa cemburu dengan kedekatan Kak Dion dan juga Sonya. Walaupun dari luar Ferro tampak biasa saja, tapi hatinya sangat panas dan sangat terluka rasanya saat melihat mereka berdua sedekat itu, ‘Bagaimana Kak Dion bisa sedekat itu dengan Sonya?? Sedangkan aku?? Aku masih terlalu takut untuk bisa sedekat itu dengannya. Aku tidak terima jika ada pria lain yang dekat dengan Sonya, tapi aku bisa apa?? Aku hanya bisa melukainya saja. Bahkan aku masih sangat takut untuk mengakui bahwa kita adalah teman saat masih kecil. Aku juga belum bisa mengakui bahwa akulah penyebab Ia melupakan masa kecilnya yang sangat indah itu. Maafkan aku yang tidak bisa melindungimu dengan benar. Aku hanya akan melindungimu dari jauh dan aku akan mencoba menerima jika nantinya kamu bersama dengan Kak Dion’
“Leon, cepatlah!! Jalanmu sangat lama. Jauhkan pria ini dariku!! Aku mohon,” Sonya masih berusaha menjauhkan Kak Dion dari dirinya. Kak Dion berusaha membujuknya supaya ikut diajak ke taman bermain.
“Haha… Baiklah. Aku akan membantumu,” ujar Ferro yang setengah berlari mendekati Sonya dan Kak Dion untuk membantu Sonya menjauhkan diri dari Kak Dion, ‘Seharusnya akulah yang harus kamu jauhi, Fan,’ Ferro kemudian menarik tubuh Sonya untuk bersembunyi dibelakangnya dan Kak Dion masih berusaha membujuk Sonya agar mau mengajaknya.
Sesampai di tokoh Sonya, ternyata CHOCO SHOP sedang ramai pengunjung. Ayah Sonya ambil alih dapur, Ibu Sonya sedang melayani pengunjung di kasir, sedangkan Tante Ara mengambilkan pesanan dan mengantarkannya ke meja. Sonya yang tau tokonya ramai langsung melepas tas dan juga jaketnya untuk langsung dilemparkan begitu saja secara sembarangan. Ferro dan Kak Dion yang menyadari situasi tersebut juga ikut melemparkan tas dan jaket ke lantai 2. Sonya langsung ke arah Ibunya untuk mengambil alih kasir, sedangkan Ferro dan Kak Dion masih bengong tidak tau harus melakukan apa.
“Anu… Tante, kami juga ingin membantu,” ucap Kak Dion akhirnya sambil tersenyum malu. Karena Ia sudah berpikir ingin membantu mengantarkan makanan dan minuman, tapi Tante Ara terus melakukannya sendiri dibantu oleh Ibu.
“Tidak perlu. Kalian duduk saja,” jawab Ibu dengan ramah dan lembutnya sambil membuatkan pesanan minuman untuk para pembeli.
“Suruh saja mereka mengantarkan pesanan, Bu. Mereka kan sering datang kesini untuk menghabiskan makanan dan minuman, jadi tidak ada salahnya kalau…”
BUUUKKK…!!!
“Akh… IBUUU… Sakit…!!! Kenapa Ibu memukul anak sendiri saat anaknya membantu bekerja di depan pelanggan??” Sonya merasa kesakitan karena punggungnya dipukul oleh Ibu dengan tangan kosong dan cukup panas di punggung.
“Diamlah dan layani saja pembeli!!” Ibu langsung membisikkan kata-kata itu ditelinga Sonya dengan tambahan sebuah cubitan di pinggang Sonya. Cara Ibu mencubit dan membisikkan kata-kata kepada Sonya seolah dapat memancarkan aura hitam yang cukup mengerikan.
“Tante, kami ingin membantu. Biarkan kami yang mengantar pesanannya seperti kata Sonya. Kami bisa kok, Tante,” kali ini Ferro yang mencoba untuk berbicara. Ia sangat ingin ikut membantu keluarga Sonya. Dan juga membalas budi untuk semua yang keluarga Sonya lakukan untuknya dulu.
“Baiklah kalau kalian memang benar-benar ingin membantu. Tolong antarkan pesanan saja, yah?? Hati-hati salah meja atau pesanan lho!!” pesan Ibu Sonya dengan ramah dan juga lembut. Ibu Sonya memang sangat baik di mata semua orang. Tidak heran Ayah sangat mencintai Ibu, demikian juga Sonya.
“Baik, Tante,”
Toko terus ramai akan pembeli sampai malam hari. Sonya, Ferro dan Kak Dion kadang disuruh istirahat untuk mandi dan juga makan. Ferro dan Kak Dion bahkan sampai meminjam baju Ayah Sonya sebagai baju ganti, untung saja badan Ayah Sonya tidak terlalu besar, jadi baju yang mereka pinjampun lumayan pas di tubuh mereka. Tapi setelah mandi dan makan, Sonya menghilang untuk membantu menjaga kasir lagi. Hal itu membuat Ferro dan juga Kak Dion ikut tergerak untuk mengantarkan pesanan lagi. Sebenarnya Ferro dan Kak Dion pasti lelah, tapi entah kenapa mereka tidak mau istirahat jika melihat Sonya menjaga kasir. Hingga akhirnya jam sudah menunjukkan jam 9 tepat dan pengunjung mulai sepi karena toko sudah hampir tutup.
“Bagaimana kalau kalian berdua besok juga ikut kami ke taman bermain??” ajak Ayah dengan ramah karena Ferro dan Kak Dion tadi juga sudah banyak membantu di toko mereka. Mereka berdua juga tidak mau dibayar, jadi satu-satunya cara yang terlintas di pikiran Ayah Sonya adalah mengajak mereka berdua bersenang-senang.
“Benarkah, Om?? Terima kasih. Om tau saja kalau saya sedang ingin refreshing karena mau ujian,” Kak Dion sangat senang karena rencananya untuk ikut keluarga Sonya berlibur akhirnya berhasil. Tanpa ragu sedikitpun Ia menerima ajakan keluarga Sonya.
“Terima kasih, Om, Tante. Tapi apa tidak merepotkan kalau kami berdua ikut?? Bukankah ini acara keluarga??” tanya Ferro dengan sopan karena sedikit tidak enak kalau mengganggu kesenangan keluarga Sonya dengan adanya dirinya dan juga Kak Dion.
“Kamu bicara apa sih?? Kamu sudah kami anggap seperti anak sendiri kok. Tidak perlu sungkan-sungkan. Kalian berdua besok ikut saja. Lagian tadi kalian juga sudah membantu kami dan asal kalian tau saja, kalian itu seperti pelaris toko kami. Banyak gadis-gadis yang datang kemari dan mereka sangat suka saat kalian berdua melayani mereka. Sonya pasti sangat beruntung dikelilingi 2 pria tampan seperti kalian,” celoteh Ibu Sonya dengan antusias dan senang dengan Ferro dan Kak Dion yang tadi membantunya di toko.
“Terima kasih, Tante,” jawab Kak Dion setengah kecewa mendengar Ibu Sonya yang sepertinya lebih menyukai Ferro daripada dirinya, ‘Apa yang kurang dariku?? Kenapa malah Ferro yang Tante suka??’ batin Dion dalam hati yang merasa cemburu dengan Ferro. Mereka sama-sama bekerja keras tapi kenapa Ibu Sonya lebih sayang kepada Ferro??
“Aku tidak ada apa-apanya dari Kak Dion, Tante. Dia tampan dan juga pintar. Dia juga sangat popular di sekolah. Sangat berbeda denganku, Tante,” jawab Ferro yang merendah, Dia sangat lembut dan baik hati hanya saja Ia tidak sadar dengan kelebihan yang ada pada dirinya.
“Bercerminlah!! Kamu itu juga tampan dan pintar. Kamu tidak kalah darinya. Dia sangat menyebalkan. Beda denganmu,” Sonya yang awalnya duduk di sebelah Ayahnya kini berpindah duduk disamping Ferro sehingga Ferro duduk diantar Sonya dan Kak Dion.
“Bicara apa, sih anak ini?? Aku senang kalau kalian masih betah berteman dengan anak ini. Aku dan Ibunya kadang sempat takut kalau dia dibenci banyak orang. Apalagi mulut anak ini tajam, setajam pisau yang masih baru di asah,” komentar Ayah Sonya sambil mengusap-usap rambut Sonya dengan kasar.
“Ahh… Ayah…!! Ayah merusak tatanan rambutku. Aku ini cukup terkenal di sekolah dan aku tidak takut kalau dibenci mereka. Aku kan masih punya Leon. Iya kan??” ujar Sonya dengan cueknya sambil menepuk-nepuk pundak Ferro yang hanya diam saja menatap Sonya yang saat ini tersenyum dengan lembutnya. Baru kali ini Ferro dan Dion melihat senyuman Sonya yang lembut dan membuatnya semakin manis sehingga membuat wajah Ferro dan Dion berwarna merah seperti udang rebus karena tersipu malu. Dan hal itu membuat mereka berdua spontan terdunduk atau memalingkan wajah agar Sonya tidak melihatnya.

259 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Continue reading this series: