Posted on

Choco Romance [BAB IX]

This post is part of the series Choco Romance

Other posts in this series:

  1. Choco Romance [BAB VII]
  2. Choco Romance [BAB VIII]
  3. Choco Romance [BAB IX] (Current)
  4. Choco Romance [BAB X]
Oleh : Fannie Chrishty Saffiany Purnomo
 
 
BAB SEMBILAN
Sepulang sekolah Sonya langsung pergi ke rumah sakit ditemani Ferro. Ayahnya sekarang sudah pulang. Ayahnya mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja, Ia ingin menjaga Sonya dan Ibu Sonya yang masih terbaring koma di rumah sakit. Ayah juga ingin membantu di toko saja karena penghasilan dari toko saja sudah lumayan baik dan Ayah juga bisa selalu berkumpul dengan keluarga. Tante Ara juga harus pindah rumah karena pekerjaan suaminya yang dipindah tugaskan ke pusat yang ada di Jakarta. Ayah juga bekerja keras di toko. Kadang pagi-pagi sekali Ayah sudah membuat kue untuk dijual. Toko juga sekarang buka lebih siang dari biasanya karena Ayah yang sendirian menjaga toko. Sonya juga membantu saat pulang sekolah dibantu oleh Ferro dan Kak Dion yang juga menjadi pelaris bagi para gadis.
“Ibu… Kenapa Ibu belum sadar?? Kenapa lama sekali Ibu tidurnya?? Aku kangen, Bu. Ibu cepatlah sadar, atau aku saja yang menggantikan Ibu,” ucap Sonya yang menggenggam tangan Ibunya dan melihat wajah Ibunya yang tidur dengan tenang dilengkapi selang di hidungnya dan kabel-kabel yang terpasang di jari dan tubuh Ibu. Sonya meneteskan air matanya. Ia sangat merindukan Ibunya. Sonya seperti ingin menggantikan posisi Ibunya. Ia ingin menggantikan Ibunya terbaring di ranjang rumah sakit.
Ferro sendiri cukup terpukul mendengar ucapan Sonya tadi. Sonya pasti sangat merindukan Ibunya. Mata Ferro sedikit berkaca-kaca melihat kondisi Ibu Sonya dan juga keadaan Sonya yang merindukan Ibunya. Ferro kemudian mendekati Sonya dan berdiri tepat disampingnya sambil memegang bahu Sonya, “Menangislah!! Aku tau bagaimana perasaan kamu. Aku juga bisa merasakannya, aku sudah menganggap Ibu kamu seperti Ibuku sendiri sejak dulu,” ucap Ferro dengan sangat lembut.
Sonya yang mendengar ucapan Ferro langsung memeluk pinggang Ferro. Sonya menumpahkan seluruh air matanya dipelukan Ferro, Ferro juga membalas pelukan Sonya. Ia tau bagaimana kondisi Sonya saat ini yang sangat membutuhkan sandaran dan juga kasih sayang. Ferro tau kalau Sonya sangat tertekan dan juga Ferro selalu berusaha untuk menghibur Sonya.
“Sudah kita pulang saja yah. Kamu belum makan dari pagi. Aku akan membuatkanmu makanan yang enak. Ibu pasti sedih kalau kamu sampai sakit. Kita pulang yah??” bujuk Ferro sambil merangkul Sonya yang masih merasa sedih. Sonya hanya diam dan menuruti Ferro karena Ia sangat mempercayai Ferro.

BACA :
Choco Romance [BAB VIII]
Choco Romance [BAB VII
Choco Romance [BAB VI]

Sesampai di rumah, Sonya hanya diam saja dan menunggu di meja makan sambil duduk memandang Ferro yang memasakkan makanan dengan bahan seadanya yang ada di kulkas. Ia sangat bersyukur dengan adanya Ferro. Ayahnya sekarang masih menyiapkan kue untuk dijual dan kadang kala Ayah Sonya membuat resep baru untuk dijual di toko. Ferro kemudian selesai membuat nasi goreng dan juga telur dadar. Sonya segera memakan nasi goreng dan telur dadar buatan Ferro. Saat sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba Sonya mendengar langkah kaki yang berlari menaiki tangga menuju lantai dua.
“Nak Ibumu sudah sadar,” ucap Ayah dengan nafas yang masih tersengal-sengal karena berlari menaiki tangga dengan celemek yang masih ada di pinggangnya.
“Apa, Yah?? Ayo cepat kesana!!” Sonya langsung memasuki kamarnya dan mengambil tas kecil yang hanya diisi dompet dan juga handphone. Ayah juga segera melepas celemeknya dan ditaruh sembarangan di kursi meja makan. Ferro juga langsung mengambil tas ranselnya yang awalnya Ia taruh sembarangan di sofa ruang tengah.
Akhirnya mereka bertigapun berangkat menggunakan mobil Ayah. Sonya tidak sabar ingin segera menemui Ibunya. Ayah juga mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Bisa dilihat dari mata Ayah saat ini kalau Ia sangat khawatir dengan kondisi Ibu. Sesampai di Rumah Sakit, Sonya, Ayah dan juga Ferro lari sekencang-kencangnya. Mereka sangat ingin tau bagaimana kondisi Ibu Sonya saat ini. Hingga akhirnya Sonya berhenti tepat di depan pintu kamar Ibu.
“Ayah masuklah lebih dulu. Aku akan masuk setelah Ayah,” ucap Sonya sambil tertunduk di depan pintu. Sonya tau bahwa Ayahnyalah yang paling merindukan Ibunya. Ia tidak mau egois dan mementingkan dirinya sendiri.
“Apa kamu tidak ingin melihat Ibumu terlebih dahulu?? Ayo kita masuk sama-sama!!” ajak Ayah yang memegang pundak Sonya dan mengajak Sonya masuk. Ayah sangat tau benar anak semata wayangnya ini sangat menyayangi kedua orang tuanya.
“Tidak apa, Yah. Ayah duluan saja. Aku akan menunggu disini dengan Leon dulu,” Sonya kemudian mendorong Ayah supaya masuk ke kamar Ibu. Sonya tersenyum dengan lembut untuk membuat Ayah segera masuk ke dalam kamar Ibu. Setelah Ayah sudah masuk ke kamar Ibu, Sonya langsung duduk di kursi yang dekat kamar Ibu diikuti dengan Ferro. Mereka duduk diam menunggu Ayah memanggil. Tidak ada 10 menit waktu berjalan dan akhirnya Ayah keluar untuk memanggil Sonya. Sonya langsung saja berdiri dan berlari menuju Ayahnya, Ia ingin segera menemui Ibunya. Kemudian Ia melihat Ibunya yang juga menatapnya dengan tatapan lembut.
“Sini, Nak!! Kamu pasti kangen kan sama Ibu??” ucap Ibu Sonya dengan lemahnya. Mata Sonyapun mulai berkaca-kaca.
“IBUU…!!!!” Sonya langsung berlari memeluk Ibunya. Sonya sangat merindukan kasih sayang Ibunya. Air mata meluap dipelukan Ibunya. Kemudian Ayahpun ikut memeluk Sonya dan juga Ibu. Ferro yang melihat dari pintu jadi ikut terharu melihat keluarga yang akhirnya mendapatkan kembali kebahagiaannya.
“Leon juga pasti mengkhawatirkan Ibu, kan?? Sini Leon!!” ajak Ibu juga. Ibu juga sangat menyayangi Leon seperti anaknya sendiri.
‘Keluarga inilah yang selalu aku inginkan sejak aku kecil. Hidup berkecukupan tapi selalu berlebih kasih sayang. Keluarga yang akan merasa kehilangan jika ada suatu masalah yang menimpa salah satu anggota keluarga. Aku sangat ingin keluargaku juga seperti ini. Tapi aku tidak menyesal dengan keluarga yang aku miliki walaupun aku sangat kurang kasih sayang dari mereka. Jika aku hidup dengan kasih sayang yang berlebih, mungkin aku tidak bisa hidup seperti ini dan juga mungkin saja aku tidak bisa bertemu dengan Sonya dan juga keluarganya,’ batin Ferro yang masih memeluk Ibu Sonya dan juga Sonya.

349 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Continue reading this series: