Posted on

Choco Romance [BAB IV]

This post is part of the series Choco Romance

Other posts in this series:

  1. Choco Romance [Sinopsis – BAB I]
  2. Choco Romance [BAB II-III]
  3. Choco Romance [BAB IV] (Current)
  4. Choco Romance [BAB V]
  5. Choco Romance [BAB VI]
Oleh : Fannie Chrishty Saffiany Purnomo
 
BAB EMPAT
Saat jam istirahat di sekolah, Sonya pergi ke perpus untuk mengembalikan buku yang Ia pinjam dan juga meminjam buku lagi untuk Ia pelajari di rumah. Ia masih belum terlalu paham dengan pelajaran-pelajaran terutama matematika, fisika dan juga kimia. Sonya sebenarnya gadis yang cukup pintar dan cepat paham. Tapi ada kalanya Ia bisa semakin bingung dan tidak paham dengan materi yang Ia terima dari sekolah.
“Kamu masih belum bisa membaur dengan materi disini, yah?” tiba-tiba sebuah suara muncul dari belakang Sonya yang sedang mencari buku di rak sehingga membuat Sonya tersontak menoleh kebelakang.
“Kamu lagi,” jawab Sonya yang melihat bahwa pria yang tadi dibelakangnya adalah Kak Dion yang sedang berdiri sedikit canggung sambil menyapa Sonya.
“Ahh… Iya… Hehehe… Apa ada yang bisa aku bantu? Jujur aku ingin membantumu,” tawar Dion dengan ramahnya sambil mengambil buku yang dibawa Sonya.
“Aku dengar kamu pintar matematika dan fisika. Bisakah kamu mengajariku? Tapi kalau kamu tidak bisa, tidak apa aku akan…”
“Aku mau dan aku bisa. Kapan aku bisa mulai mengajarimu?” tanya Dion yang memotong ucapan Sonya yang belum selesai. Hal ini adalah sesuatu yang Ia inginkan sejak dulu yaitu bisa dekat dengan Sonya.
“Terserah kamu. Kalau kamu senggang datanglah ke toko coklat milik keluargaku. Nama tokonya ‘CHOCO SHOP’, itu rumahku,” jelas Sonya dengan santainya menjelaskan kepada Kak Dion yang tampak sangat senang.
“Bagaimana kalau nanti kita kesana barengan?? Aku nanti senggang kok,” ucap Kak Dion dengan tidak sabarnya ingin lebih dekat dengan Sonya.
“Baiklah.”
Akhirnya Dionpun berhasil mendekati Sonya, sedangkan Sonya punya seseorang yang bisa mengajarinya pelajaran yang tidak Ia mengerti. Saat pulang sekolahpun Sonya pulang dengan Dion karena Ferro merupakan seorang ketua di organisasi SMA, jadi dia harus mengikuti rapat. Sepanjang jalan Sonya hanya diam saja sambil memakan biscuit coklat yang tadi pagi Ia dapat dari Ferro, sedangkan Dion terus menatap Sonya yang tetap cuek kepadanya. Tapi dalam lubuk hati Dion, Ia sudah cukup senang walaupun hanya berjalan berdampingan seperti ini. Hingga akhirnya mereka berdua sampai di depan toko coklat keluarga Sonya.
“Tunggu disini!! Aku mau ganti baju dulu,” Sonya kemudian pergi meninggalkan Kak Dion yang duduk di sofa dan pergi menemui Ibunya untuk cium tangan yang kemudian langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya untuk ganti baju.
Mata Dion terus mengikuti Sonya sampai Sonya menghilang di anak tangga. Hingga kemudian matanya bertemu dengan Ibunya Sonya. Dion hanya tersenyum dengan ramah dan juga agak malu hendak menyapa Ibu Sonya. Mereka saling mengobrol saat menunggu Sonya berganti pakaian. Dion terus bertanya tentang Sonya, sedangkan Ibunya Sonya terus bercerita tentang Sonya. Dion hanya mendengarkan dengan semangat bagaimana sifat Sonya yang belum Ia ketahui. Ia cukup mudah bergaul dengan berbagai orang, buktinya saja sekarang Ia bisa bicara santai dengan Ibunya Sonya.
“Sedang membicarakanku, yah??” Sonya turun dari lantai 2 dengan santai sambil memperhatikan Ibunya mengobrol dengan Kak Dion. Sonya sedikit penasaran dengan apa yang Ibunya ceritakan kepada Kak Dion.
“Kamu penasaran, yah?? Tanya aja sama Nak Dion sana. Tapi belajar dulu yang rajin. Jangan bikin repot Nak Dion. Kemarin saja Leon sudah kamu bikin kerepotan gara-gara kamu tidak paham waktu dia jelaskan. Bahkan sampai membuat Leon menggendongmu ke kamar. Nak Dion sabar saja yah sama Sonya, dia cukup ceroboh dan teledor” celoteh Ibu Sonya yang menceritakan semua tentang Sonya sambil pergi ke dapur untuk mengangkat kue yang sepertinya baru matang. Ibu Sonya sedikit kerepotan karena Tantenya masih ke toko bahan kue untuk membeli persediaan bahan pembuatan kue dan minuman yang berbahan serba coklat.
“Sudah, Ibu angkat saja kuenya biar aku yang jaga tokonya,” Sonya dengan sigap langsung menuju meja kasir dan juga melayani tamu yang sedang memesan kue dan minuman, “Kak, tunggu sebentar, yah?? Aku bantu Ibu dulu,” Sonya masih melayani pembeli dengan sigap. Walaupun Ia berbicara kepada Kak Dion, tapi konsentrasinya tetap ke pesanan para pembeli yang ada di depannya.
“Iya, santai saja. Apa perlu aku bantu mengantarkan pesanannya??” Dion lalu berdiri sambil melipat lengan jaketnya untuk membantu Sonya melayani berbagai macam pembeli yang tiba-tiba saja ramai karena memang sudah waktunya anak sekolah baru pulang. Toko coklat milik keluarga ini memang memiliki berbagai menu yang enak dengan harga yang tidak terlalu mahal dan juga suasananya yang juga sangat nyaman. Tempat ini sangat cocok untuk para anak muda.
“Tidak perlu, Kak. Kakak…”
“Sudahlah biar aku bantu. Supaya kita bisa cepat selesai dan juga cepat belajar. Bukannya kamu juga ingin cepat menguasai materi,” potong Kak Dion sambil mengambil nampan yang berisi kue dan juga minuman. Kak Dion ternyata cukup cekatan dalam melayani konsumen. Buktinya saja Ia bisa dengan cepat mondar-mandir dengan nampan ditangannya. Sedangkan Sonya membawa nampan berisi 2 gelas minuman saja sudah gemetaran dan hampir jatuh.
Setelah melewati masa-masa ramainya tokoh dan Tante Ara sudah datang, Kak Dion dan Sonya disuruh berhenti dan segera belajar oleh Ibu Sonya. Karena alasan utama Kak Dion kesini adalah untuk membantu Sonya dalam hal belajar, bukannya membantu untuk menjaga toko yang sedang ramai akan pengunjung.
“Waahhh… Nak Dion ternyata cukup cekatan yah dalam melayani pengunjung. Tidak seperti Sonya yang mengantar pesanan saja harus banyak-banyak diperhatikan. Dia sangat ceroboh, jadi sering bikin khawatir,” ujar Ibu Sonya dengan panjang lebar. Sonya hanya cemberut saja mendengar Ibunya mengatakan semua kekurangannya di depan orang yang tidak terlalu lama Ia kenal.
“Tidak kok, Tante. Tadi dia sempat bicara denganku sambil mencatat pesanan. Itu artinya dia bisa membagi konsentrasi dengan baik,” bela Dion dengan antusias sambil melihat Sonya yang tampak sedikit senang dengan pembelaaan Dion. Melihat Sonya yang senang karena dirinya, adalah suatu kesenangan sendiri bagi Dion. Entah apa yang dilakukan oleh Sonya, Dion semakin terpesona.
“Haha… Kamu terlalu memihaknya,” ujar Ibu Sonya sambil mengelus rambut Sonya pelan. Sonya hanya cemberut saja tanpa bersuara sedikitpun. Ibunya memang suka mengoceh tentang keburukan dirinya, tapi Sonya tetap sayang kepada Ibunya.
“Sudahlah kita belajar di kamarku saja. Disini ramai banyak pembeli,” ajak Sonya sambil membereskan buku yang ada di meja, diikuti dengan Kak Dion yang masih tersenyum dan mengambil tasnya.
“Mari, Tante. Kita belajar dulu. Permisi,” Dion pamit kepada Ibu Sonya dengan sopan santun. Ia tidak mau dipandang buruk atau tidak sopan di depan keluarga Sonya. Walaupun bisa dibilang Dion sedikit mencari perhatian orang tua Sonya.
Di lantai 2, lebih tepatnya di kamar Sonya, mereka belajar matematika dengan serius. Awalnya mereka ingin mempelajari Fisika terlebih dahulu, tapi dikarenakan cara perhitungan di fisika termasuk dalam bab matematika yang belum terlalu Sonya pahami, jadi mereka memutuskan untuk mempelajari matematika terlebih dahulu. Dion menjelaskan materi yang tidak Sonya kuasai dengan mudah dan Sonyapun lebih cepat mengerti dengan penjelasan dari Dion. Rangkuman yang dibuat Dion secara dadakanpun bisa dengan mudah Sonya pahami. Sonya cukup tertolong dengan adanya Kak Dion disini. Mungkin dengan kemampuan Kak Dion ini, Ia bisa saja membuat tempat les, pasti akan menarik banyak pelajar. Kak Dion merasa sangat senang mengajari Sonya, karena Ia sedikit demi sedikit bisa dekat dengan Sonya.
‘Dia sangat manis. Aku masih belum bisa melihat kelemahannya kecuali sifat cuek yang dia miliki. Sebenarnya apa yang membuatku bisa terpesona denganmu?’ gumam Kak Dion dalam hati sambil terus memperhatikan Sonya yang fokus mengerjakan soal yang tadi ditandai oleh Kak Dion. Sonya memang mudah fokus terhadap suatu hal. Sehingga Kak Dion tidak melepaskan pandangannya sedikitpun, ‘Tatapannya sangat mempesona. Aku suka semua yang ada di kamu, Fan,’ Kak Dion masih terus memperhatikan Sonya yang masih fokus mengerjakan soal itu.
“Selesai…!!! Tolong diperiksa yah Kak?? Aku akan ambil camilan dan juga minuman lagi,” akhirnya Sonya selesai mengerjakan 8 soal matematika yang tadi Kak Dion carikan di internet. Sonya juga cukup cepat mengerjakan 8 soal itu. Ia mengerjakan soal itu kurang dari 15 menit, jadi bisa diperhitungkan 1 soal yang cukup rumit itu dikerjakan dalam waktu kurang dari 2 menit.
BRAAKK…!!
Saat hendak berdiri, Sonya mendengar suara gaduh dari depan kamarnya. Karena penasaran, Ia langsung menghampiri suara tersebut dan mendapati Ferro yang sedang memegangi vas bunga yang hendak terjatuh dari atas meja di sebelah pintu kamar Sonya.
“Leon?? Apa yang kamu lakukan??” Sonya penasaran dengan apa yang Ferro lakukan saat ini dengan vas ditangannya. Ferro tampak seperti pencuri yang hendak mencuri dan saat ini Ia ketahuan oleh sang pemilik rumah. Ia sedikit membungkukkan punggungnya karena menangkap vas yang hampir jatuh tadi dan ekspresinya tampak bingung dan juga malu dengan apa yang Ia lakukan saat ini. Apalagi Sonya dan Kak Dion menatapnya dengan tatapan curiga sekaligus bertanya-tanya.
“Ahh… Sebenarnya aku ingin mengunjungimu karena tadi aku kan ada rapat dan membiarkanmu pulang sendiri dan mungkin kamu butuh bantuan tentang pelajaran di kelas. Tapi aku lihat ada Kak Dion disini dan kamu sedang fokus mengerjakan soal jadi lebih baik aku pulang saja. Kemudian saat aku mau pulang, aku malah menabrak vas ini barusan,” ucap Ferro yang sedikit bingung mau bicara apa dan akhirnya Ia membicarakan apa yang ada dipikirannya.
“Bicara apa sih?? Masuk saja sana!! Kita bisa belajar bersama. Lagipula kita tidak merasa terganggu kok. Iya kan, Kak??” Sonya tidak terlalu suka jika teman yang cukup Ia percaya berpikir seperti itu. Walaupun sikap Sonya cukup cuek dan dingin kepada Ferro, tapi secuek-cueknya Sonya masih ada sifat hangatnya walaupun sedikit. Dan itulah yang membuat para pria di sekolah kadang iri dengan Ferro.
“Iya, kok. Semakin banyak orang kan semakin ramai dan seru. Kita juga bisa belajar bersama,” ucap Kak Dion dengan ramahnya. Walaupun di dalam lubuk hatinya yang paling dalampun terdapat perasaan kecewa karena Ia sangat menikmati saat dimana Ia hanya berdua dengan Sonya seperti tadi. Menurut Dion, memandangi Sonya secara diam-diam seperti itu adalah suatu kesenangan tersendiri. Ia bisa mengamati tiap senti bentuk wajah Sonya dan juga tiap helai rambut Sonya yang Ia ikat kebelakang supaya tidak mengganggu, tapi hal itu semakin membuat Sonya tampak lebih cantik dan manis.
“Dengar sendiri, kan?? Ayo masuk sana. Aku mau ambil camilan dan minuman lagi untuk kalian,” ucap Sonya yang kemudian turun mengambil camilan.

 

280 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Continue reading this series: