Posted on

Choco Romance [BAB II-III]

This post is part of the series Choco Romance

Other posts in this series:

  1. Choco Romance [Sinopsis – BAB I]
  2. Choco Romance [BAB II-III] (Current)
  3. Choco Romance [BAB IV]
  4. Choco Romance [BAB V]
Oleh : Fannie Chrishty Saffiany Purnomo



BAB DUA
Hampir seminggu Sonya sekolah disana dan ternyata Ia cukup popular dan mulai punya banyak penggemar, apalagi di kalangan pria. Banyak laki-laki yang mencoba untuk mendekatinya, tapi Ia tidak pernah menghiraukannya. Bahkan ada seorang kakak kelas 3 yang sekarang juga ikut mendekatinya.
“Hay… Sendirian saja?? Boleh aku temani??” ucap Kakak kelas 3 yang bernama Dion. Ia memang cukup populer di sekolah. Bukan hanya karena wajahnya yang tampan, tapi Dion ini juga punya otaknya yang lumayan cerdas. Ia selalu diikut sertakankan lomba matematika atau fisika oleh sekolahnya. Ia juga lumayan aktif di kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Jadi tidak heran jika banyak gadis yang mengejarnya.
“Tidak perlu. Aku memang sengaja ingin duduk sendiri kok. Tapi kalau mau duduk saja silakan, tapi jangan menggangguku. Aku tidak mood bicara dengan siapapun saat ini,” Sonya menjawab tanpa melirik laki-laki bertubuh jenjang di depannya. Tapi Ia malah asyik menyantap roti coklat yang Ia bawa dari rumah.
Tiba-tiba saja Ferro melewati Sonya yang sedang menyantap roti dan Ia juga memperhatikan laki-laki di sebelah Sonya yang merupakan Kak Dion si cowok populer sedang menatap Sonya, “Leon!! Kemarilah!! Kata Ibu kamu suka roti ini. Ini buatmu dari Ibu!” Sonya kemudian memberikan sebungkus roti yang Ia bawa kepada Ferro. Sonya saat ini memanggil Ferro dengan nama Leon, karena nama panjang Ferro adalah Ferro Leondika. Entah kenapa Sonya lebih suka memanggil Ferro dengan nama Leon.
“Apa? Tidak perlu repot. Aku bisa…”
“Makan atau kamu akan menyesal!!” belum sempat Ferro berbicara, Sonya sudah memotong ucapan Ferro dengan ancaman terlebih dahulu sehingga Ferro hanya bisa menurut saja dan menerima roti itu.
“Terima kasih. Sebagai gantinya akan aku belikan susu coklat. Kamu tunggu dulu, yah??” ucap Ferro yang kemudian berlari untuk membelikan Sonya susu coklat kesukaannya. Ferro tau bahwa Sonya memang sangat menyukai segala sesuatu dengan rasa coklat. Hal itu juga membuat Ferro sedikit demi sedikit juga menyukai coklat. Sedangkan Dion hanya diam di samping Sonya melihat keakraban mereka.

Sejak Ferro ke toko Sonya dulu, mereka berdua jadi sering berangkat dan pulang bersama karena rumah mereka yang sejalan dan juga karena Sonya memang jarang bicara dengan teman sekelasnya. Sonya cukup terkenal dengan sifatnya yang cuek, dingin dan tidak peduli dengan apapun, Ia bahkan hanya bicara seadanya saja. Sifat polosnya itulah yang mampu membuat semua orang menyukainya. Apalagi dengan wajahnya yang cukup manis dan juga menggemaskan seperti anak kecil dengan mata bulatnya yang cukup lebar.
“Kamu sejak kapan dekat dengan Kak Dion?” tanya Ferro saat mereka sedang jalan pulang dari sekolah.
“Siapa??”
“Kak Dion yang tadi bersama denganmu di kantin. Apa kamu lupa??” Ferro tampak sangat tersiksa karena penasaran akan hubungan Sonya dengan Kak Dion yang sangat popular itu. Yang semakin membuat lebih tersiksa lagi adalah ekspresi Sonya memang tidak bisa dibaca.
“Owh… Laki-laki itu?? Aku tidak tau. Tadi dia tiba-tiba datang sendiri tanpa diundang dan dia mencoba untuk mengusikku seperti laki-laki lain. Sangat menyebalkan,” Sonya menjawab seadanya dengan wajah datar sedikit emosi dan menjilati es cream coklat yang dibelikan Ferro tadi dengan sangat nikmat.
“Kak Dion sepertinya menyukaimu,” jawab Ferro yang tadi sempat melihat bagaimana reaksi Kak Dion kepada Sonya. Sonya saat itu memang hanya diam saja, tapi dilihat dari bagaimana cara Kak Dion menatap Sonya, Ferro yakin bahwa Kak Dion sedikit ada rasa kepada Sonya atau bisa saja Kak Dion memang menyukai Sonya.
“Ha-ha-ha-…Cukup lucu,” Sonya memasang ekspresi berpura-pura tertawa dengan wajah datarnya yang membuatnya sedikit tampak menyebalkan, “Lebih baik kamu diam!! Pulang saja sana!” Sonya memasukkan es creamnya langsung ke mulut Ferro supaya dia diam. Benar saja Ferro langsung terdiam dengan mulut yang belepotan es cream.

BAB TIGA
Di Sekolah yang baru ini, Sonya cukup telat mengikuti pelajaran karena materinya berbeda dengan sekolahnya yang dulu. Sonya pun mencari materi yang dia masih belum terlalu paham di perpustakaan. Untuk ukuran murid SMA, Sonya bisa dibilang cukup rajin karena Ia mau mencari materi sendiri daripada pinjam catatan atau bertanya kepada teman-temannya yang masih belum tentu paham juga juga dengan materinya, kecuali guru dan mereka yang sudah ahli baru Sonya mau meminta tolong.
“Sonya??” tiba-tiba seorang pria datang dan berdiri tepat di belakang Sonya.
Sonya sontak langsung memutar kepala beserta badannya untuk melihat siapakah orang yang memanggilnya dengan santai tadi. Sonya melihat pria itu dari kaki sampai kepala. Dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak dan tampak mengoreksi, Sonya kemudian mulai ambil suara, “Siapa??”
“Ahh?? Aku Dion. Aku yang dulu pernah di kantin denganmu. Aku duduk disebelahmu saat itu. Ngomong-ngomong kamu sedang mencari buku apa? Biar aku bantu. Aku dengar kamu murid pindahan, pasti susah menyesuaikan pelajaran disini dengan disekolahmu. Owh iya… Aku juga bawa susu coklat. Aku dengar kamu suka semua yang berbau coklat,” ucap Kak Dion tersenyum lebar agak canggung yang berbicara panjang lebar dengan perasaan yang sedikit gugup saat berhadapan langsung dengan Sonya.
“Kakak sedang mewawancara aku??” jawab Sonya yang mengambil susu coklat yang diberikan kepadanya dengan nada yang cukup menusuk hati dan juga tatapannya yang tampak tajam membuat orang menjadi down seketika. Tentu saja Dion hanya bisa terdiam untuk sesaat karena shock dengan ucapan Sonya.
“Ahh… Maaf. Sini biar aku bantu bawa bukunya saja. Badan kamu kan kecil. Pasti berat,” Kak Dion semakin salah tingkah dan mengambil buku yang sedang dibawa Sonya di tangannya.
“Kakak secara tidak langsung mau bilang kalau aku kecil, pendek dan lemah?” mulut berbisa Sonya mulai keluar. Ucapan yang keluar dari mulutnya sekarang hanyalah duri semata. Ucapan Sonya ini cukup untuk membanting-banting hati dan juga melukainya secara tidak langsung.
“Tidak. Bukannya seperti itu. Aku tidak bermaksud mengataimu. Aku hanya… Aku hanya ingin membantumu saja. Percayalah padaku. Akh… Kalau ada materi atau pelajaran yang tidak kamu mengerti, tanya saja padaku. Aku akan membantumu sebisa mungkin. Aku lumayan bisa kalau masalah matematika dan fisika,” Dion tampak sangat gugup dan juga cemas. Bahkan matanyapun tak mampu untuk menatap Sonya yang saat ini berdiri tepat di depannya sambil terus menatapnya, “Sebaiknya aku pergi dulu. Buku ini akan kutaruh di meja baca di pojok sana. Lain kali ajaklah aku atau teman kamu saat ke perpus. Itu akan sangat membantu. Sampai jumpa lagi,” dengan kecepatan yang melebihi rata-rata Dion pergi dan menaruh buku yang dibawanya tadi ke meja baca yang Ia maksud tadi. Perasaannya kini sudah bercampur aduk menjadi satu.
‘Dia tadi menyuruhku kalau ke perpus harus sama orang lain supaya mereka bisa mengambilkanku buku? Aku tidak sependek itu. Lagipula aku juga bisa melakukannya sendiri,’ celoteh Sonya dalam hati. Ia sangat tidak terima jika dikatai pendek. Walaupun tingginya hanya 154 cm.

Dion masih sangat gugup dan juga bingung setengah mati. Dia tidak tau harus senang atau kecewa karena apa yang tadi Ia ucapkan kepada Sonya. Dia sama sekali tidak bermaksud mengejek ataupun berbicara jelek tentang Sonya. Tapi kenapa malah hal itu yang keluar dari mulutnya dan kenapa juga fikiran Sonya harus sampai ke arah yang negatif. Saat sedang merenungi kesalahannya barusan, tiba-tiba Dion melihat Ferro yang berjalan dengan santainya sambil membawa dua botol susu coklat dan juga biscuit coklat kesukaan Sonya.
“Ahh… Tunggu!!” Dion kemudian menghentikan langkah Ferro dengan berdiri tepat disampingnya sambil tersenyum ramah.
“Ada apa, Kak?” tanya Ferro dengan santainya karena Ia tidak begitu akrab dengan Kak Dion dan sekarang secara tiba-tiba dirinya dipanggil dan bahkan berdiri tepat dihadapan Dion, sang pangeran yang cukup terkenal di sekolahnya.
“Kamu temannya Sonya, kan?” tanya Dion dengan senangnya saat Ia mulai membahas Sonya.
“Iya, Kak. Memangnya ada apa? Apa terjadi sesuatu dengannya?” Ferro jadi khawatir saat mendengar Dion menyebut nama Sonya, karena Ferro tau benar kalau Sonya cukup ceroboh dan juga teledor.
“Tenang saja. Aku hanya bertanya saja. Aku cuma ingin tau tentang Sonya. Kamu mau membantuku bukan?? Karena setauku Sonya tidak terlalu akrab dengan seseorang dan yang aku liat dia kemarin baik kepadamu saat di kantin. Jadi aku berfikir kalau kamu itu sahabatnya,” celoteh Dion yang mulai cerewet kepada Ferro dan berusaha mencari segala informasi yang berhubungan dengan Sonya.
“Maaf, Kak. Tapi Kakak kan tau kalau dia murid pindahan dan aku juga baru kenal beberapa hari dengannya. Jadi, aku tidak yakin Kakak bisa mendapat informasi yang lengkap dariku. Kalau boleh aku mau permisi dulu, Kak. Sonya mungkin sedang menunggu susu coklat ini,” Ferro menunjukkan susu coklat dan biscuit coklat yang dibawanya dan kemudian berjalan melewati Dion, ‘Sebenarnya apa maunya? Kenapa dia tanya-tanya tentang Sonya? Jangan sampai Kak Dion suka Sonya. Dia terlalu perfect untuk menjadi lawanku untuk mendapatkan Sonya. Apalagi Sonya juga sudah lupa denganku,’ batin Ferro yang merasa cemas dan juga sangat bingung, karena sebenarnya Ferro juga menyukai Sonya.

Hari menjelang sore, Ferro datang ke toko coklat milik Sonya. Disana ada Ibunya Sonya yang sedang menjaga toko dan kadang membuat roti atau kue dengan Tante Ara. Ferro disuruh Sonya untuk datang ke tokonya malam ini karena ada suatu pelajaran yang tidak terlalu Ia mengerti dan Sonya tidak tau harus bertanya kepada siapa lagi kecuali Ferro, sahabat satu-satunya di kelas. Tapi ternyata Ferro tidak terlalu baik dalam hal menjelaskan dan menerangkan.
“Leon, kamu jangan pernah menjadi guru! Aku semakin bingung melihat soal fisika ini setelah kamu ajarkan,” ucap Sonya yang menyerah karena semakin bingung dan tidak paham dengan penjelasan Ferro yang terus berputar-putar. Padahal saat mengerjakan soal, Ferro tampak biasa saja tanpa ada kesulitan, tapi kenapa saat mengajarkan Sonya segalanya menjadi terasa lebih susah dari biasanya.
“Maaf. Aku juga bingung kalau disuruh menjelaskan begini. Kalau suruh mengerjakan aku mungkin bisa,” jawab Ferro yang tersenyum merasa bersalah karena sebelumnya Ia sudah berjanji akan membantu Sonya dalam hal apapun termasuk pelajaran dan sekarang ternyata Ia tidak bisa mengajarkan materi kepada Sonya.
“Apa lebih baik aku tanya saja ke Kakak yang di perpus tadi, yah? Dia bilang mau bantu jelasin matematika atau fisika, kok,” Sonya kemudian mengingat-ingat kejadian di perpus tadi siang. Kakak itu memang menawarkan bantuan untuk menjelaskan tentang pelajaran matematika atau fisika yang memang cukup rumit. Jadi, tidak salah kan kalau Sonya berniat untuk meminta pertolongannya.
“Siapa?? Jangan bilang Kak Dion,” tebak Ferro dengan mata terbelalak kaget bercampur penasaran. Karena siapa lagi disekolahnya yang pintar matematika sekaligus fisika selain Kak Dion sang pangeran di sekolah.
“Aku lupa namanya. Dia pria menyebalkan yang duduk di depanku waktu di kantin saat aku memberimu roti. Tapi bagaimana kamu tau dia? Apa dia seterkenal itu??” Sonya jelas penasaran karena Ferro bisa langsung tau nama pria yang Sonya maksud tadi. Padahal ciri-ciri yang Sonya jelaskan tidak terlalu jelas.
“Itu karena… Kak Dion itu selalu menjadi kandidat lomba matematika atau fisika. Dia juga sering menjadi juara pertama dalam lomba. Karena itu dia cukup popular. Dia juga rajin ikut ekstrakulikuler yang ada di sekolah, makanya banyak cewek-cewek yang juga tergila-gila dengannya,” jelas Ferro dengan ekspresi sedikit minder dengan Dion yang perfect itu.
“Owh…” jawab Sonya singkat sambil kembali tenggelam ke tumpukan buku-buku yang tadi Ia pinjam dan fotocopy dari perpus. Ia berharap ilmunya akan menyalur ke otaknya jika Ia memakai buku-buku itu menjadi bantal.
Ferro dan Sonya belajar hingga larut malam. Sonya mencoba mempelajari sesuatu dari buku-buku perpus. Bahkan Sonyapun sampai tertidur dalam posisi duduk dengan kepala yang tertidur diatas buku dan pensil di tangan kanannya. Mungkin itu karena Sonya lelah. Setelah pulang sekolah tadi, Ia langsung membantu Ibunya menjaga toko karena toko sedang ramai pengunjung.
“Leon, bisa minta tolong bawa Sonya ke kamarnya? Kamu tau kamarnya, kan? Kamarnya tetap seperti dulu, kok,” pinta Ibunya Sonya yang memanggil Ferro dengan panggilan Leon, sama seperti cara Sonya memanggil Ferro.
“Iya, Tante. Aku masih ingat kok kamar Sonya. Dulu aku kan juga sering main disana dengannya,” jawab Ferro yang kemudian menggendong Sonya dan membawanya ke kamar Sonya yang ada di lantai 2. Saat digendong, tiba-tiba Sonya bergerak dan wajahnya menghadap ke arah Ferro, ‘Astaga. Walaupun sudah sekian lama. Tapi wajahnya tetap manis dan menggemaskan. Dia masih tetap sama seperti saat masih kecil,’ batin Ferro dalam hati. Ferro segera menaruh tubuh kecil Sonya di atas ranjang dan juga menyelimutinya.
“Sudah lama sekali, benarkan? Terakhir kamu bermain dikamar ini saat kalian masih kecil. Bahkan Ibu kangen saat kalian bermain disini dengan jailnya. Hal itu sudah lama sekali, benarkan?? Apalagi setelah kecelakaan yang membuat Sonya koma dan juga amnesia. Kenapa kamu tidak cerita saja kalau kalian teman dari kecil?” ucap Ibu Sonya yang berdiri di ambang pintu sambil membawakan buku Sonya dan menaruhnya di meja belajar Sonya.
“Aku akan bilang kalau aku sudah siap, Tante. Sonya memang sudah berubah, tapi aku masih bisa merasakan kalo ada suatu bagian dari Sonya yang tidak pernah berubah, entah itu apa tapi sampai sekarangpun aku tetap menyukainya. Aku juga sudah membuatnya terluka dan tidak bisa menjaganya dengan baik dulu, bahkan Ia sampai koma. Jadi, ini adalah hukuman buatku untuk dilupakannya begitu saja,” terang Ferro yang belum siap untuk menceritakan bagaimana perasaannya dan fakta kalau Ferro adalah teman masa kecilnya dulu bahkan Ferro adalah seseorang yang telah membuat Sonya koma cukup lama sampai amnesia.
“Kamu tidak perlu mengingat masalah itu lagi. Sonya sudah lupa tentang hal itu. Kalau kamu suka dengannya, tembak saja. Ibu selalu dukung kamu, kok. Sonya sekarang memang tampak lebih dingin dan cuek dari sewaktu dia kecil, tapi dia tidak akan berbuat sesuatu yang mengecewakan Ibu. Ibu hanya khawatir dengan sifat cerobohnya itu. Ibu minta tolong supaya kamu jaga Sonya, yah? Cuma kamu orang yang benar-benar sayang padanya. Ibu juga percaya dengan kamu,” kata-kata Ibu Sonya sangat halus dan juga tulus sehingga bisa membuat hati Ferro menjadi lebih tenang dan juga damai.
“Tapi sepertinya ada kakak kelasku yang juga menyukai Sonya. Dia pintar dan juga tampan, Tante. Aku tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengannya,” Ferro tampak sedikit kecewa dan juga sedih saat menceritakan Kak Dion kepada Ibu Sonya.
“Kamu bicara apa sih? Yang paling penting itu hatinya dan juga perasaan Sonya. Buat apa tampan dan pintar kalau nantinya yang Sonya pilih itu kamu,” jelas Ibu Sonya sambil tersenyum ramah dan lembut sambil sedikit menggoda Ferro.

 

321 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Continue reading this series: