Posted on

Choco Romance [BAB IX]

Oleh : Fannie Chrishty Saffiany Purnomo =&0=& =&0=& =&2=& Sepulang sekolah Sonya langsung pergi ke rumah sakit ditemani Ferro. Ayahnya sekarang sudah pulang. Ayahnya mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja, Ia ingin menjaga Sonya dan Ibu Sonya yang masih terbaring koma di rumah sakit. Ayah juga ingin membantu di toko saja karena penghasilan dari toko saja sudah lumayan baik dan Ayah juga bisa selalu berkumpul dengan keluarga. Tante Ara juga harus pindah rumah karena pekerjaan suaminya yang dipindah tugaskan ke pusat yang ada di Jakarta. Ayah juga bekerja keras di toko. Kadang pagi-pagi sekali Ayah sudah membuat kue untuk dijual. Toko juga sekarang buka lebih siang dari biasanya karena Ayah yang sendirian menjaga toko. Sonya juga membantu saat pulang sekolah dibantu oleh Ferro dan Kak Dion yang juga menjadi pelaris bagi para gadis. “Ibu… Kenapa Ibu belum sadar?? Kenapa lama sekali Ibu tidurnya?? Aku kangen, Bu. Ibu cepatlah sadar, atau aku saja yang menggantikan Ibu,” ucap Sonya yang menggenggam tangan Ibunya dan melihat wajah Ibunya yang tidur dengan tenang dilengkapi selang di hidungnya dan kabel-kabel yang terpasang di jari dan tubuh Ibu. Sonya meneteskan air matanya. Ia sangat merindukan Ibunya. Sonya seperti ingin menggantikan posisi Ibunya. Ia ingin menggantikan Ibunya terbaring di ranjang rumah sakit. Ferro sendiri cukup terpukul mendengar ucapan Sonya tadi. Sonya pasti sangat merindukan Ibunya. Mata Ferro sedikit berkaca-kaca melihat kondisi Ibu Sonya dan juga keadaan Sonya yang merindukan Ibunya. Ferro kemudian mendekati Sonya dan berdiri tepat disampingnya sambil memegang bahu Sonya, “Menangislah!! Aku tau bagaimana perasaan kamu. Aku juga bisa merasakannya, aku sudah menganggap Ibu kamu seperti Ibuku sendiri sejak dulu,” ucap Ferro dengan sangat lembut. Sonya yang mendengar ucapan Ferro langsung memeluk pinggang Ferro. Sonya menumpahkan seluruh air matanya dipelukan Ferro, Ferro juga membalas pelukan Sonya. Ia tau bagaimana kondisi Sonya saat ini yang sangat membutuhkan sandaran dan juga kasih sayang. Ferro tau kalau Sonya sangat tertekan dan juga Ferro selalu berusaha untuk menghibur Sonya. “Sudah kita pulang saja yah. Kamu belum makan dari pagi. Aku akan membuatkanmu makanan yang enak. Ibu pasti sedih kalau kamu sampai sakit. Kita pulang yah??” bujuk Ferro sambil merangkul Sonya yang masih merasa sedih. Sonya hanya diam dan menuruti Ferro karena Ia sangat mempercayai Ferro.

BACA :
Choco Romance [BAB VIII]
Choco Romance [BAB VII
Choco Romance [BAB VI]

Sesampai di rumah, Sonya hanya diam saja dan menunggu di meja makan sambil duduk memandang Ferro yang memasakkan makanan dengan bahan seadanya yang ada di kulkas. Ia sangat bersyukur dengan adanya Ferro. Ayahnya sekarang masih menyiapkan kue untuk dijual dan kadang kala Ayah Sonya membuat resep baru untuk dijual di toko. Ferro kemudian selesai membuat nasi goreng dan juga telur dadar. Sonya segera memakan nasi goreng dan telur dadar buatan Ferro. Saat sedang enak-enaknya makan, tiba-tiba Sonya mendengar langkah kaki yang berlari menaiki tangga menuju lantai dua. “Nak Ibumu sudah sadar,” ucap Ayah dengan nafas yang masih tersengal-sengal karena berlari menaiki tangga dengan celemek yang masih ada di pinggangnya. “Apa, Yah?? Ayo cepat kesana!!” Sonya langsung memasuki kamarnya dan mengambil tas kecil yang hanya diisi dompet dan juga handphone. Ayah juga segera melepas celemeknya dan ditaruh sembarangan di kursi meja makan. Ferro juga langsung mengambil tas ranselnya yang awalnya Ia taruh sembarangan di sofa ruang tengah. Akhirnya mereka bertigapun berangkat menggunakan mobil Ayah. Sonya tidak sabar ingin segera menemui Ibunya. Ayah juga mengendarai mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Bisa dilihat dari mata Ayah saat ini kalau Ia sangat khawatir dengan kondisi Ibu. Sesampai di Rumah Sakit, Sonya, Ayah dan juga Ferro lari sekencang-kencangnya. Mereka sangat ingin tau bagaimana kondisi Ibu Sonya saat ini. Hingga akhirnya Sonya berhenti tepat di depan pintu kamar Ibu. “Ayah masuklah lebih dulu. Aku akan masuk setelah Ayah,” ucap Sonya sambil tertunduk di depan pintu. Sonya tau bahwa Ayahnyalah yang paling merindukan Ibunya. Ia tidak mau egois dan mementingkan dirinya sendiri. “Apa kamu tidak ingin melihat Ibumu terlebih dahulu?? Ayo kita masuk sama-sama!!” ajak Ayah yang memegang pundak Sonya dan mengajak Sonya masuk. Ayah sangat tau benar anak semata wayangnya ini sangat menyayangi kedua orang tuanya. “Tidak apa, Yah. Ayah duluan saja. Aku akan menunggu disini dengan Leon dulu,” Sonya kemudian mendorong Ayah supaya masuk ke kamar Ibu. Sonya tersenyum dengan lembut untuk membuat Ayah segera masuk ke dalam kamar Ibu. Setelah Ayah sudah masuk ke kamar Ibu, Sonya langsung duduk di kursi yang dekat kamar Ibu diikuti dengan Ferro. Mereka duduk diam menunggu Ayah memanggil. Tidak ada 10 menit waktu berjalan dan akhirnya Ayah keluar untuk memanggil Sonya. Sonya langsung saja berdiri dan berlari menuju Ayahnya, Ia ingin segera menemui Ibunya. Kemudian Ia melihat Ibunya yang juga menatapnya dengan tatapan lembut. “Sini, Nak!! Kamu pasti kangen kan sama Ibu??” ucap Ibu Sonya dengan lemahnya. Mata Sonyapun mulai berkaca-kaca. “IBUU…!!!!” Sonya langsung berlari memeluk Ibunya. Sonya sangat merindukan kasih sayang Ibunya. Air mata meluap dipelukan Ibunya. Kemudian Ayahpun ikut memeluk Sonya dan juga Ibu. Ferro yang melihat dari pintu jadi ikut terharu melihat keluarga yang akhirnya mendapatkan kembali kebahagiaannya. “Leon juga pasti mengkhawatirkan Ibu, kan?? Sini Leon!!” ajak Ibu juga. Ibu juga sangat menyayangi Leon seperti anaknya sendiri. ‘Keluarga inilah yang selalu aku inginkan sejak aku kecil. Hidup berkecukupan tapi selalu berlebih kasih sayang. Keluarga yang akan merasa kehilangan jika ada suatu masalah yang menimpa salah satu anggota keluarga. Aku sangat ingin keluargaku juga seperti ini. Tapi aku tidak menyesal dengan keluarga yang aku miliki walaupun aku sangat kurang kasih sayang dari mereka. Jika aku hidup dengan kasih sayang yang berlebih, mungkin aku tidak bisa hidup seperti ini dan juga mungkin saja aku tidak bisa bertemu dengan Sonya dan juga keluarganya,’ batin Ferro yang masih memeluk Ibu Sonya dan juga Sonya.

Baca :  <span

read more

 
Posted on

Duniaku Jatuh Cinta

Oleh : Himyasa Aliabigovic Siti Mamaku bilang, “Selesaikan saja sekolahmu dan setelah sukses nanti, mulailah berkencan dengan laki-laki yang kamu mau!”. Kalimat mama itu yang selalu ada di otakku dan tertanam begitu saja tanpa aku sadari. Ketika suatu hari laki-laki pertama menyatakan perasaannya padaku, kalimat Mama lah yang kujawab dengan lantang. Akhirnya selalu itu saja jawabanku, bukannya suka atau tidak suka. Atau mau juga tidak mau. Hari ke 365 sekolah… Aku berniat mengakhiri hari ini lebih cepat dari biasanya karena aku harus memasak ramen. Aku selalu merayakan kesetahun hari sekolahku sebagai tanda berakhirnya jadwal satu tahun sekolah, dan akan digantikan dengan tahun berikutnya. Setidaknya begitu menurutku yang selalu dianggap aneh oleh beberapa orang, termasuk mama. “Eno! Kamu mau kuantar?”, salah satu sahabatku namanya Ayu. Aku hanya menggeleng, “Aybud aku pulang dulu, ya~”. “Hentikan memanggilku Aybud!” “Haha! Bye~!” aku mulai berlari menelusuri lorong dan anak tangga. Tak ingin kehilangan momen berharga ini sedikitpun. Tiba-tiba, seorang laki-laki menabrakku dari arah yang tak terduga. Aku terduduk dengan posisi wajahku di pipinya. Kami segera bangun dan belum sempat dia meminta maaf, aku pergi dengan melambaikan tangan padanya tanda ‘aku baik-baik saja! Kau tak perlu khawatir’ begitu. Untung saja, hari ini tidak ada tugas atau apapun untuk dikerjakan selain belajar. “Yak! Ayo masak!”, aku keluarkan semua bahan di atas meja dan memutar musik kesukaanku belakangan ini, salah satu lagu dari ChiCho with HoneyWorks. Sekai wa Koi ni Ochiteiru hikari no ya mune wo sasu Kimi wo wakaritaindayo “Nee, oshiete” Dalam setengah jam, semua makanan siap disajikan tapi, aku lupa membeli teh untuk ayah dan mama. “Cerobohnya aku!”, lagi-lagi aku berlari dan berharap secepatnya tiba di toko terdekat sebelum ayah pulang kantor. “Sekai wa Koi ni Ochiteiru~ nanana~”, aku bernyanyi asal-asalan. Di persimpangan jalan, seorang laki-laki berdiri mematung seperti sedang menunggu kekasihnya dengan gelisah. Siluetnya bagus untuk ukuran murid SMA, atau dia mahasiswa? Atau model dan semacamnya? Segera kuhentikan pikiran peduliku kepadanya ketika… “Hei! Kau tidak ingin minta maaf padaku?” Eh? Siapa dia? Berbicara pada…ku? “Siapa yang-?” “Kau tentu saja! Kau yang membuatku jatuh di ujung koridor!”, laki-laki ini tampak kesal. “Nah? Salahku apa?” “Kau benar-benar kucing liar!” “Hei! Kau siapa-?” “Lihat saja pembalasanku di sekolah besok!” Dia menepuk bahuku hingga membuatku merinding. Kekuatan mengintimidasi macam apa itu, batinku. Kuteruskan perjalanan beberapa langkah ke rumah. Tepat waktu, ayah baru saja tiba dan aku menyalaminya. Langit cerah dengan sedikit awan yang menutupinya. Senangnya hari pertama di tahun ke-entah berapa-sekolahku, cerah dan manis. Aku harap hari ini akan berjalan cepat seperti hari lain. Memang, aku masih murid kelas 2 SMA tapi aku tidak bisa diremehkan. Aku terbilang cakap dalam beberapa bidang pelajaran juga olahraga fisik. Meski kadang kekuatanku tidak cukup baik dan terlihat aneh melakukan beberapa gaya renang. Salah satu yang membuatku lucu adalah ketika beberapa kenalanku memberi julukan “Cantik” atau “Manis” atau “Baik” kepadaku, padahal mereka juga sering mencemoohku. Jadi, sebenarnya mereka menyukaiku atau bagaimana? Haha, aku tidak habis tertawa mengingatnya. Di kelas… Aybud baru saja mengaku padaku bahwa dia punya pacar tapi tidak bisa disebut pacaran, karena menurutnya yang Aybud jalani hanya kehidupan biasa dengan laki-laki itu. Tidak ada yang spesial dengan status pacaran mereka. Aku mendengarnya dengan seksama dan sedikit terkekeh dengan tingkahnya. “Aybud…” “Aku ingin hubunganku…. Eh iya?” “Aku ingin ke kantin sebelum jam akhir. Temani aku!”, aku menyeretnya. “Eno, mereka menggosipkanmu dengan laki-laki kelas sebelah. Kau tahu?” “Nyam~” aku makan dengan lahap. “Aku tidak peduli.” “Inilah Eno. Wanita menyebalkan yang menjadi sahabatku!”, Aybud hanya berbisik. Baru saja kami akan meninggalkan meja makan siang, seorang laki-laki yang kemarin sempat membuatku merinding, menghalangi jalanku. Aku meminta Ayu kembali ke kelas terlebih dahulu karena sepertinya laki-laki ini ingin membicarakan sesuatu dengaku. Aku tidak ingin membuatnya menertawakanku di kelas nanti. Nah, Ayu pasti akan tertawa. Pasti. Juga akan kesal padaku, dia akan menganggap ini sebagai pernyataan cinta. Aku akan menjelaskannya setiba di kelas nanti. “Ada apa? Mm…” “Riku Antara. Aku Riku!” “Sebaiknya kita duduk saja…” RIKU! AKU MENCINTAIMU! AKU DEWI KAREEN AGITA MENCINTAIMU! Wajahku memerah, entah karena malu atau karena merasa dilecehkan. Dari mana suaraku itu? Kurasa, aku tidak pernah mengatakan sesuatu seperti itu! Apa yang terjadi? Seseorang tolong bantu aku memahami kejadian ini! Aku tidak bisa berdiri lagi. Aku duduk lemas di lantai kantin itu. Aku melihat kaki Riku yang  jongkok. Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku, berbisik, “Aku sudah bilang semalam kan?”. Suaranya, meniruku? Tidak adil! Apa ini?! aku terus berteriak dalam hati sedangkan otakku berpikir keras apa yang harus aku lakukan setelah ini. Suaranya memang mirip sekali dengan suaraku! Dia menyamakan suaranya denganku! Tidak adil! Apa kesalahanku?! Bukannya dia yang menabrakku? Kenapa aku yang harus minta maaf  padanya? Dan ini pembalasan macam apa?! Masih saja aku mencari-cari pembenaran karena aku memang benar dan dia yang salah! Begitu terus hingga bel berbunyi dan semua murid yang ada di kantin lenyap satu per satu. Aku akhirnya bangun. Tak kusangka, aku menangis. Laki-laki bernama Riku itu berdiri di depan pintu kantin. Entah apa yang ditertawakannya, aku melewatinya begitu saja dan berniat kembali ke kelas. “Hei! Kau tidak ingin jawabanku? En-“ Aku melepaskan tangannya paksa dan berjalan santai, berharap kejadian seperti ini cepat berlalu dan aku tidak perlu dihakimi siapa pun. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun! Dan itu bukan suaraku! Itu hanya mirip! Semua orang pasti tau itu! Yak, aku mengusap air mata yang tersisa di pipiku lalu tersenyum memasuki kelas. “ENO!” “ENO! KAU BAIK-BAIK SAJA?!” “AKU TIDAK MENYANGKA KAU AKAN MENGAKUINYA SEPERTI ITU!” “DIA CINTA PERTAMAMU?” “ENO KAU SUNGGUH TAK BISA DIPERCAYA! KAU TERNYATA SEMUDAH ITU!” Sudah cukup! Aku kesal dengan ini semua! Tapi aku akan menganggap ini tidak apa-apa dan semoga cepat berlalu. Itu saja. Selama pelajaran akhir kelas hari ini, aku tidak bisa berkonsentrasi seperti biasanya. Otakku melayang kemana-mana. Masih tidak bisa menerima yang terjadi. Mungkin Ayu khawatir padaku hingga dia melempar kertas bertuliskan ‘Aku percaya padamu!^^’ dan aku hanya membalasnya dengan anggukan. Kamarku terasa sesak akhir-akhir ini, karena berbagai macam hadiah datang padaku disaat yang tidak tepat! Hari ini bukan hari yang spesial, tapi entah kenapa hadiah dan surat ini datang begitu saja dan terus-menerus ke kamarku? Ah, itu benar! Batinku. Sejak kejadian memalukan itu, beberapa kenalanku menghadiahkan ini dan itu. Aku tidak membukanya, aku tidak punya niat sama sekali. Aku yakin isinya aneh. Salah satu surat dari, seseorang yang mengaku fansku saja isinya aneh. Menanyakanku pertanyaan tak penting seperti, ‘Sejak kapan kau menyukainya?’ atau ‘Kapan kau akan menyatakan perasaan sukamu padaku juga?’ atau ‘Aku sudah empat kali menyatakannya tapi kau terus saja menjawab kalimat mamamu itu! Kau payah!’. Aku tidak payah kau tau itu? Kau mengaku penggemarku tapi kau tidak tau apa-apa tentangku! Kau yang sebenarnya payah!, aku membatin lagi. Pintu kamarku terbuka, “Mama bilang jika kau tidak mau, buang saja semua hadiah itu!” Dia adik laki-lakiku. Umurnya hanya terpaut tiga tahun denganku. Edo. Ah, tidak mungkin. “Sini! Bantu aku membukanya! Mmm, haruskah kubawa ke halaman belakang saja?” Kami membawanya ke halaman belakang lalu membuka paksa hadiah itu satu per satu. Kuminta Edo tidak membuka surat-suratnya karena kurasa itu cukup pribadi bagiku membacanya. Beberapa menit berlalu, tersisa satu hadiah yang belum kubuka. Edo menghilang, dia bilang akan main bola. Jika diperhatikan, hadiah ini jauh lebih besar dari yang lainnya. Dan sedikit berat. Aku menoleh ke tumpukan hadiah lain, sejauh ini tidak ada barang aneh. Jadi, aku menyiapkan diri untuk kemungkinan barang aneh di dalamnya. Satu, lapisan ketas pertamanya bertuliskan ‘Jangan!’ Lapisan kedua yang kubuka bertuliskan ‘Buka!’ Sepertinya ini kertas terakhir, aku benar. Sebuah kotak kayu sederhana di depanku. Aku mencari pembuka kotaknya. “Ah, ini dia…. AAAAAAAARGGGH!”, jantungku seperti akan mencuat keluar. Bagaimana tidak? Siapa yang berani memberiku boneka badut berdarah seperti itu?! Seseorang dendam padaku? Salah satu kenalanku? Teman sekelasku? Siapa?! SIAPA!? Mama dan adikku buru-buru datang, aku menyembunyikan kotak itu dan berlari ke kamar. Pasti ada petunjuk siapa yang mengirimnya. “Tidak ada petunjuk satu pun!”, artinya aku harus melupakan ini begitu saja hingga seseorang itu mengakuinya sendiri. Sudah lebih dari seminggu berlalu tapi rumor tentangku masih saja hangat. Telingaku sudah terbiasa, aku menganggap diriku artis atau sesuatu semacam itu untuk menghibur dan terlihat baik-baik saja. Ayu tetap menemaniku dan berbicara denganku tapi tidak dengan yang lain, mereka menjaga jarak. Haish, padahal mereka juga pernah menyatakannya pada orang yang mereka sukai. Otakku yang menulisnya. Sedangkan, aku tidak! Itu semua kecurangan laki-laki bernama Riku! Aku tidak melihatnya akhir-akhir ini. Sepertinya dia bersenang-senang di suatu tempat melihatku menjadi bahan gosip. “Eno, aku pulang dengan pacarku!” “OK! Aku akan mengembalikan buku ke perpustakaan dulu, bye!”, kulambaikan tanganku pada bayangan tubuh Ayu yang menjauh. “Senangnya dia! Hehe.” Sekai wa Koi ni Ochiteiru hikari no ya mune wo sasu Kimi wo wakaritaindayo “Nee, oshiete” Lagu itu, ada kah yang juga menyukainya? Tanpa sadar aku mengikuti asal suara itu dan membawaku padanya, pada laki-laki menyebalkan yang membuatku menjadi bahan tertawaan seantero sekolah! Aku berbalik tapi kalah cepat, dia di depanku sekarang. Hebat, huh? “Kau terkenal berkat aku!” Aku mengangguk malas. “Harusnya kau berterima kasih!”, dia tersenyum meremehkanku? “Tidak mau! Minggir, aku harus-“ Dia menyeretku masuk kelas. Suara seorang wanita dengan beberapa temannya. Aku mengenalnya, wanita itu salah satu model langganan majalah olahraga favoritku. “Tidak ada kabar?” “Aku yakin mengirimnya di alamat yang tepat!” “Dia hanya bersikap cuek seperti biasa. Tanpa tau kesalahannya!” “Hei, tapi boneka dengan noda darah itu bukankah sedikit-“ “Aku tau! Hanya kali ini saja sampai dia menyadarinya! Aku tidak akan melakukannya lagi lain-“, Mega menghentikan kalimatnya saat tau aku menepuk pundaknya dan tersenyum. “Jadi, kau yang menyuruh mereka mengirimnya Mega?” Dia diam, itu menang benar. Dia pasti merasa tersaingi dengan gosip tentangku. “Terima kasih. Kukira kau orang baik yang kujadikan idola karena muncul di majalah favoritku. Aku salah.” Sebelum pergi meninggalakan mereka, aku berbalik dan berkata dengan lantang, “KALIAN TIDAK BERPIKIR BAHWA MEGA AKAN MELAKUKAN ITU PADA KALIAN JUGA? JANGAN MEMBUATKU TERTAWA KALIAN MAU MENJADI PESURUHNYA!” Aku terkekeh, tidak kusangka aku bisa seberani itu. Tidak, aku terkekeh bukan karena itu tapi, karena Mega yang model majalah favoritku ternyata berani melakukan itu padaku. Aku sakit hati, dan merasa bodoh. Harusnya aku lebih mengenalnya sebelum mulai menjadi salah satu fansnya. Tangan seseorang menepuk pundakku, aku merinding. Riku menyuruhku berhenti. Aku menurutinya dengan malas dan berbalik. “Kau yakin baik-baik saja?” “Apa? Pergilah!”, aku memukul tangannya dibahuku. Malam ini aku tidak bisa tidur, aku teringat kalimatnya ‘Kau yakin baik-baik saja?’. Apa maksudnya itu, batinku berbicara. Aku beranjak dari kamar dan meminta ijin ayah untuk berjalan ke taman sekitar perumahan. Sudah lama sekali aku tidak melakukannya karena belajar, belajar, dan belajar. Anginnya menyejukkan tapi dingin. Parahnya, aku lupa membawa jaket. Kakiku berhenti melangkah saat seorang laki-laki memelukku dari belakang. Siapa dia? Kutendang kakinya dan berbalik saat dia mengeluh kesakitan. “Riku.” “Apa? Pergilah!” Dia menyamakan suaranya lagi. Sudah lama aku tidak mendengarnya. “Kau belajar teknik menirukan suara?” “Tidak, hanya kau saja yang bisa kutiru.” Apa maksudnya itu? Aku membuat wajah aneh. Hening diantara kami. Aku baru sadar, sudah terlalu lama aku diluar rumah. Sudah saatnya kembali. “Eno, harusnya kau mencoba menyukaiku. Susah sekali menirukan suaramu. Kau tau?” “Kau bercanda. Pulanglah!”

Stop

read more

 
Posted on

WATERSIDE

Oleh : Shintany R. Widyananda
            “Ma, hari ini anak-anak pulang sekolah jam berapa?”             “Jam setengah dua siang, Pa.”             “Baiklah, biar Papa saja yang jemput mereka.”             “Tidak usah, Pa. Biar Pak Mario, supir kita saja yang menjemput mereka. Apa gunanya punya supir tapi tidak dimanfaatkan.”             “Baiklah, kita lanjutkan saja berjemurnya, Ma.”             Mirna menurunkan kembali kacamata hitamnya dan kembali berbaring di kursi santai.             “Dengan begini, kita tidak perlu repot-repot turun ke pantai, Ma. Di teras atas rumah sendiri juga sudah bisa berjemur,” ujar Bharata.             “Santiiii…..,” teriak Mirna.             Perempuan menggunakan seragam putih putih bernama Santi itu pun muncul.             “Ya, Nyonya. Nyonya memanggil saya?”             “Tolong bawakan ice lemon tea dua gelas, ya,” perintah Mirna.             “Baik, Nyonya.”             Santi segera ke dapur dan membuatkan Mirna dan Bharata minuman yang diminta. Dengan sigap ia kembali ke teras atas rumah itu dan menyajikan dua gelas

ice

read more

 
Posted on

Lelah Disiksa Rindu

Oleh : Nanda Ruli Maulidiyah
Rinduku padanya cukup menyiksa. Di sepanjang hari-hariku wajahnya terus saja membayangi. Empat tahun setengah bukan waktu yang sebentar. Selama itu pula aku tak bisa meruntuhkan kerasnya hati seseorang yang telah membuatku bertahan mencintainya selama itu. Ia tak pernah tahu siapa sebenarnya aku. Ingin sekali ku tunjukkan padanya siapa aku. Namun aku tak sanggup. Aku tak sanggup bila ia mengetahui siapa aku, pasti ia akan meninggalkanku. Aku tak sanggup bila harus jauh darinya. Pengorbananku selama ini akan sia-sia saja. Tapi dalam ketidakjelasan seperti ini juga akan menambah ketidakjelasan cerita ini. Sampai kapan ia harus dalam rasa penasaran yang telah lama membalut hatinya. Aku tak tega melihat batinnya tersiksa seperti itu. Dari hatiku yang paling dalam aku ingin melihat canda tawanya secara langsung, melihat senyum manisnya dan mendengar segala keluh kesahnya disaat ia membutuhkan pendengar. Cerita ini berawal ketika ia duduk di bangku kelas XI sedangkan aku duduk di kelas XII. Pertemuan kami bermula di sebuah tempat les bahasa Inggris. Aku sudah jatuh hati padanya sejak pertama kali bertemu. Ia lebih dulu masuk di kursusan tersebut dan aku baru masuk setelah beberapa minggu kelas pendaftaran murid baru dibuka. Kami sama-sama ada di kelas regular sedangkan yang tingkat lanjut ada di kelas intensive. Tak tahu mengapa sejak pertama kali masuk mataku langsung tertuju pada gadis berbaju coklat itu. Ia memang pendiam tapi sebenarnya dia humoris kalau sudah kenal. Aku tak bisa mendekat padanya. Sulit sekali mendapat perhatiannya. Dia tak pernah menoleh kepadaku sedikitpun. Bahkan untuk sekedar bertanya saja aku malu dan sedikit takut. Takut dicuekin. Hanya sekali aku berhasil bertanya pada ia yang pendiam itu. Itu pun karena tutor kami mengacak tempat duduk kami dan kebetulan aku ditempatkan duduk disampingnya. Rasanya senang sekali, tapi masalahnya apakah aku bisa berbicara dengannya. Dari tempat duduk inilah ada secercah harapan. Disaat tutor menjelaskan dan kami mencatatnya, aku ketinggalan dan aku bertanya padanya. Mau tidak mau ia harus menjawabnya karena teman duduk terdekat adalah ia. Rasanya seperti disiram es di tengah gurun pasir bisa mendengar ia berbicara langsung kepadaku. Berbagai cara telah aku lakukan untuk mendapat perhatiannya. Namun belum membuahkan hasil. Pernah suatu saat aku mengumpulkan tugas yang diberikan tutor kepada kami. Kebetulan aku selesai terlebih dahulu. Setelah mengumpulkan tugas kami harus oral test. Disaat aku akan oral test ia juga selesai mengerjakan dan tutor memanggilnya untuk mengumpulkan tugas yang telah selesai ia kerjakan. “ Nana kumpulkan tugasnya, sudah selesai kan?” “ Iya mister”. Karena tempat dudukku yang berhadapan dengan mister menghalangi jalannya, ia pun memutar arah menjadi lebih jauh. Dari mulutku mengeluarkan kata-kata. “Kasihan, jalannya jadi lebih jauh” dan apa reaksinya, ia hanya diam sembari berjalan. Entah dia tidak mendengarnya atau memang cuek. Menurutku dia mendengar namun hanya diam saja. Yah, aku sudah paham kalau dia memang cuek. Tapi usahaku tak berhenti sampai disitu saja. Beberapa waktu kemudian, ia maju untuk telling story. Audience pun diberi kesempatan untuk bertanya setelah ia selesai bercerita. Aku yang tak pernah bertanya saat itu bertanya padanya. Lagi-lagi ia tak memberikan respon padaku, tetap saja cuek. Malah ia menunjuk teman-teman yang lain. “ Gak jadi Tanya wes, gak direspon” itulah celotehku saat ia tak mempedulikanku. “Iya, silahkan”. Akhirnya ia menunjukku. Senang rasanya. Aku mempunyai pertanyaan kedua. Namun, ia sempat menolaknya.             “ Mister, dia Tanya dua kali” katanya             “ Gak apa-apa, ayo Fikri” setelah mister berkata seperti itu dengan terpaksa ia menjawab pertanyaanku. Kecuekannya terus berlanjut sampai kami lulus TC 39. Aku hanya bisa menatap wajahnya dari jarak beberapa meter. Dekat dengannya pun aku hanya bisa menatap sedikit tanpa bisa berbicara dengannya.             Sejak awal-awal pertemuanku dengannya aku berusaha mencari tahu tentangnya. Ku minta nomor hp nya dari teman yang satu sekolah dan biasanya berangkat bersama. Mungkin hanya lewat cara itu aku bisa dekat dengannya. Aku tahu ia anak yang baik, sopan, lembut dan pandai. Ia menyambutku dengan baik sebagai teman barunya lewat sms setelah melalui perundingan alot dan butuh kekuatan ekstra untuk meyakinkannya. Pernah aku membuat sekali kesalahan hingga membuatnya marah dan tak percaya padaku lagi. Terus aku menghubunginya tapi tak ada jawaban sedikitpun. Hubungan pertemanan kami berhenti disitu. Dalam penyamaranku aku mengaku sebagai seseorang yang berumur satu tahun dibawahnya padahal aku satu tahun diatasnya. Beberapa bulan setelah itu aku menghubunginya kembali. Alhamdulillah ia masih mau membalas sms ku. Benar saja ia membalasnya karena aku ganti nomor agar ia tidak tahu kalau itu aku. Aku beruntung ia tetap mau berteman denganku. Aku menyatakan cinta padanya, dan ia pun langsung memberikan jawaban. Yah, ia menolakku. Ia beralasan ingin fokus sekolah dulu dan masih ingin sendiri. Dari situ aku bisa menyimpulkan bahwa ia memang tidak ingin pacaran dulu.             Kami sempat bertengkar karena sesuatu. Kesalah pahaman antara aku dengannya membuat ia memutus hubungan denganku. Harus seperti ini lagikah? Gumamku dalam hati. Beberapa bulan kami lost contact lagi. Sekarang ia kelas XII dan akan segera menghadapi ujian nasional. Aku mulai menghubunginya kembali, ingin aku memberinya semangat untuk berjuang menghadapi UN. Bersyukur aku karena ia mau membalas sms ku lagi, tentu saja dengan nomor baruku. Aku merasa berat hati ketika tahu ia melanjutkan pendidikannya di luar kota. Yah, meskipun bukan kota yang jauh sekali dari kota kelahiran kami. Hilang kontak sudah menjadi kebiasaan kami berdua. Memang mungkin salahku yang tak pernah menunjukkan identitas. Aku memang mengaku dengan nama lain, namun feelingnya terlalu kuat. Ia tetap tak percaya dengan identitas palsuku. Ia tak pernah ganti nomor karena nomornya saat ini terlanjur menyebar. Semua teman-temannya tahu nomornya saat ini. Aku pun menghubunginya kembali. Disaat keadaan mulai membaik aku mengungkapkan perasaanku untuk kedua kalinya, namun jawabannya tetap sama. Ia ingin fokus kuliah dan ingin mendapat pasangan yang lebih tua darinya.             Meski berkali-kali ku jelaskan rasa sayang tak memandang usia, ia tetap dengan pendiriannya. Lost contact terjadi lagi. Hampir sepuluh bulan ia tak pernah membalas sms ku sama sekali. Ingin menyerah saja aku. Namun aku harus terus memperjuangkannya. Sering ia memintaku untuk pergi ke kampusnya, tapi dengan beribu alasan aku menolaknya. Aku takut setelah ia tahu siapa aku sebenarnya ia akan menjauh dan tak mau mengenalku lagi. Aku memang sedang LDR namun bukan long distance relationship. LDR ku adalah lelah disiksa rindu. Yah, aku tersiksa rinduku padanya yang bertahun-tahun tak pernah bertemu dengannya. Ingin sekali aku selalu berada di sampingnya, namun hanya satu hal itu yang membuatku takut kehilangannya.

<span style="font-family: "Times New Roman","serif"

read more

 
Posted on

Bukan Aphrodite

Oleh : Astry Rizky  “Bawa anak ini pergi!  Aku tidak mau tertular penyakitnya!” “Tapi, ma ini bukan penyakit menular. Dia tidak akan menularkannya kepada siapa pun.” “Aku tidak peduli, aku jijik melihatnya!” Aku masih ingat suara penolakan oma padaku saat itu aku masih berumur 6 tahun. Mama selalu menjadi orang terdepan yang membelaku sejak kepergian ayah. Ah, seandainya bercak ini tidak pernah muncul, mungkin aku masih jadi cucu kesayangan nenek dan mungkin kami masih diizinkan masuk ke rumahnya. “Oma cuma lagi kesel sedikit aja, nak. Mungkin besok oma sudah tidak emosi lagi, sekarang kita pulang yuk mama akan masak makanan kesukaanmu.” Mama mencium keningku dan menggenggam tanganku. Kami pun tinggal berdua bertahan di rumah peninggalan ayah dan jauh dari kerabat. Untunglah kumemiliki mama yang sangat kuat yang sangat hebat. Dari kejauhan, seorang pria paruh baya berdiri sambil menatap barisan orang-orang yang sedang berlenggak-lenggok di atas panggung. Matanya yang sangat awas mengamati dengan saksama. Sesekali dia berteriak atau bahkan menghampiri jika ada gerakan yang tidak sesuai dengan irama musik. “Okay, latihan untuk hari ini cukup girls” kata Mas Oki, sang koreografer sambil bertepuk tangan sebanyak dua kali “jangan lupa besok datang tepat waktu ya.” Pintanya dengan intonasi yang lembut kemudian berlalu.             Sambil bercermin, sekilas aku teringat kembali pada awal kariernya.  Dulu, banyak orang yang menganggapnya aneh. Beberapa bercak putih menyelimuti tubuhnya yang jenjang dan langsing. Bercak-bercak putih ini mulai muncul secara lambat saat aku berumur 6 tahun.             “Ma, liat tanganku deh. Tanganku memutih.” Aku ingat aku tertawa dan tersenyum lebar karena tanganku bisa lebih putih tanpa aku harus berbuat apapun. Dengan cepat, dia melihat kedua tanganku. Dia tidak berkata apapun dan melihat ke kaki, leher, wajah dan membuka bajuku. Aku tidak tau kenapa dia tidak senang saat anaknya bisa lebih putih, aku melihat ekspresi kecemasan di wajahnya.             “Ma, kok diem aja sih?”             “Besok kita ke dokter ya, nak. Mama kangen sama dokter Vin.” Katanya sambil memakaikan kembali bajuku. Dia pergi ke ruang kerja ayah dan menelepon dokter Vin, “Dok, besok saya ke sana ya. Ada yang ingin saya tanyakan.” Dia terdiam sesaat dan berkata, “baik, sampai bertemu besok. Terima kasih.”

&nbsp

read more

 
Posted on

Dua Puluh Lima (25)

Oleh : Astry Rizky Tidak biasanya dia menelepon. “Hey, baby dapatkah kita bertemu hari ini?” “Kita kan selalu bertemu di hari Jumat.” “Aku gak sabar. Laters baby.” Aku tidak percaya papa yang kudengar, baby dia menyebutku seperti itu. *          *          * Jumat, 3 Juni 20.. Green tea late dengan ekstra krim?” Adrian, pria yang biasa membuat minuman kesukaanku ini tersenyum saat duduk di hadapanku. “Kopi hitam tanpa diaduk.” Dia menaikkan alis kirinya seolah tidak percaya. Sambil menunggu, aku duduk di tempat kesukaanku di sudut café. Entah sudah berapa lama aku menjadi pelanggan tetap di ini, aku rasa saat “dia” pertama kali membawaku ke sini. Ya, ini adalah café favoritnya. Aku datang lebih awal hari ini sehingga aku bisa menyiapkan materi kalimat aktif dan pasif yang kubuat dalam bentuk tabel dengan dua bahasa: Indonesia dan Inggris. 5 menit kemudian Adrian datang dengan membawa pesananku. Dia selalu memperlakukanku istimewa dengan mengantarkan pesanan ke tempat favoritku. “Mbak, baik-baik aja? Gak biasanya mbak memesan kopi hitam tanpa diaduk. Ini kan minuman yang bisanya dipesan sama…” Aku hanya tersenyum dan menyelesaikan tabel perbandingan kalimat sebelum siswaku datang. “Ini gratis.” Adrian mengantarkan pesananku dengan senyum manisnya. “Kenapa saya selalu mendapat minuman gratis?” “Setiap hari, kami memberikan minuman gratis kepada pelanggan yang datang sesuai dengan nomor urut yang telah ditentukan. Nomornya selalu berganti dan kebetulan mbak cantik yang selalu beruntung.” Adrian yang selalu mengikat rapi rambut hitam panjangnya. Dia adalah pekerja paruh waktu di sini, profesi utamanya adalah sebagai model dan mahasiswa. Entah bagaimana cara dia membagi waktu, tapi dengan bibir merah, postur tubuh yang ideal, dan mata cokelat yang dimiliki, setiap pelanggan selalu mengidolakannya.             Mbak Cantik

dan baik hati

read more