Posted on

Choco Romance [Sinopsis – BAB I]

Oleh : Fannie Chrishty Saffiany Purnomo SINOPSIS Sonya Anggita Putri adalah seorang murid baru di SMA PERTIWI BANDUNG. Gadis ini sangat cantik dan cukup menggemaskan, tapi walaupun begitu, Sonya merupakan gadis yang bersifat dingin dan juga cuek. Dibalik sifatnya itu, Ia malah semakin populer di kalangan pria. Awalnya hanya ada satu anak yang bisa berteman dengan Sonya, yaitu Ferro. Ferro adalah teman sebangku Sonya. Kepopuleran Sonya ternyata juga di dengar oleh anak kelas tiga bernama Dion yang juga sangat populer di kalangan para gadis. Dion adalah seorang pria tampan dan juga cerdas di SMA PERTIWI BANDUNG. Tapi dibalik kepopuleran Sonya, ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Ia kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya. Apakah sesuatu yang berharga itu?? Dan kira-kira bagaimana kisah cinta Sonya??? BAB SATU Hari ini merupakan hari pertama Sonya pindah ke SMA PERTIWI BANDUNG dan dia tidak mengenal siapa-siapa. Ia baru saja pindah ke kota ini beberapa minggu yang lalu karena pekerjaan Ayahnya yang harus di pindah tugaskan. Ibunya juga harus menjaga toko coklat peninggalan neneknya yang sudah hampir tidak terurus dan bahkan bisa dibilang hampir bangkrut. Tapi kota ini adalah kota kelahiran Sonya dan Sonya juga pernah besar disini hingga mau masuk SD. Dan sekarang Sonya harus melakukan suatu hal yang paling membosankan, merepotkan dan bahkan membuatnya sangat kesal, hal itu adalah memperkenalkan diri di depan kelas. “Arti nama kamu apa kok indah banget sih??” “Punya pacar belum??” “Rumahnya dimana?? Sini biar aku antar jemput.” “Kenapa kok balik lagi ke tanah kelahiran?? Ada yang dikangenin yah??” “Senyum dikit dong!! Pasti tambah manis.” ‘Berhentilah bertanya dan berbicara macam-macam atau aku akan menendang kalian satu per satu! Kenapa guru ini juga tidak segera menyuruhku duduk??!’ batin Sonya yang sedikit emosi di dalam hatinya, “Bu, bolehkah aku langsung duduk saja?” pinta Sonya yang memotong berbagai pertanyaan dari anak-anak satu kelas. Ia tidak kuat jika terus mendengar ucapan tidak penting dari mereka. “Kamu tidak mau menjawab pertanyaan mereka dulu, Sonya??” tanya guru wali kelas yang terheran-heran, mungkin Ia heran karena reaksi Sonya yang mengabaikan pertanyaan omong kosong itu. Tapi memang seperti itulah sifat Sonya. “Tidak, Bu. Lagipula pertanyaan mereka tidak akan masuk dalam soal ujian, kan??” jawab Sonya dengan nada yang cukup menyebalkan dan membuat anak satu kelas memasang ekspresi yang bermacam-macam. Ada yang saling mengejek karena gombalannya direspon dengan cukup mengenaskan dan juga ada yang kecewa karena melihat Sonya yang memiliki wajah manis tapi lidah yang sangat tajam. “Haha… Baiklah kalau kamu tidak mau menjawab pertanyaan mereka. Kamu duduk saja di bangku yang kosong. Itu dekat Ferro kosong kok,” Bu Vida ikut tersenyum mendengar ucapan Sonya yang cukup berani untuk membuat anak satu kelas menutup mulut dan mempersilahkan Sonya duduk di bangku yang dimaksudkan tadi, “Baiklah kita lanjutkan pelajaran kemarin saja. Sonya tanya Ferro saja yah kalo ada yang tidak mengerti!!?” Pelajaran pun dimulai. Tentu saja Sonya hanya diam seperti biasanya. Tapi pria disampingnya ini cukup mencurigakan, karena dari tadi Ia terus saja memperhatikan Sonya dengan sangat antusias dan saat Sonya mencoba menengok untuk melihatnya, Ia malah menundukkan kepalanya seperti menghindari kontak mata dengan Sonya. Hal itu tentu saja membuat Sonya cukup jengkel, tapi Sonya tentu saja harus menahan rasa jengkelnya itu. Cowok ini tidak seperti cowok kebanyakan yang pastinya akan tersenyum atau cari perhatian jika Sonya melihatnya. Yang terlintas di pikiran Sonya saat itu hanyalah satu, yaitu DIA ANEH.  ‘Aku harus cepat-cepat pulang. Ibu pasti sudah kerepotan menjaga toko dan membuat coklat hanya berdua dengan Tante,’ batin Sonya yang mempercepat langkah pendeknya itu. Tapi toko Sonya jaraknya memang tidak terlalu jauh dari sekolah dan rumahnya adalah sebuah rumah toko yang lumayan besar. Jadi, Sonya bisa membantu di toko saat sedang ramai dan melakukan urusan pribadinya jika sepi. Tinggal 2 belokan lagi Sonya sampai, tapi Ia merasakan seseorang mengikutinya dari belakang. Awalnya Sonya hanya cuek saja tanpa memperdulikan apapun karena saat Ia menoleh kebelakang, yang Ia lihat adalah pria yang memakai seragam yang sama dengannya, tapi lama-lama Ia sedikit takut juga karena wajah pria itu tertutup tudung jaket yang sedang Ia kenakan, ‘Kenapa penampilannya seperti itu? Apa dia tidak sadar kalau penampilannya sangat menakutkan?? Apa jangan-jangan dia pencuri?? Tapi kenapa dia memakai seragam sekolahku??’ Sonya terus saja berceloteh di dalam hati dengan langkah kaki yang semakin lama semakin cepat. Hingga tiba-tiba bahunya dipegang dari belakang. “Mau apa kamu?!!” Sonya langsung mengangkat tasnya tinggi-tinggi untuk menghantam siapapun orang yang berani menyentuh bahunya. Sonya tidak peduli walaupun Ia sendiri sedikit takut, bahkan Sonya juga menutup matanya. “Ahh… Tunggu!! Ini aku. Buka matamu!!” laki-laki itu mencoba menghentikan tangan Sonya yang hendak memukulnya dan mencoba menyadarkan Sonya yang menutup matanya sambil berusaha melawan dan berhasil menendang sesuatu. “Tidak!!! Pergilah dariku atau kamu akan menyesal!!” teriak Sonya yang melepaskan genggaman laki-laki itu dan sekarang Sonya berhasil menarik rambut laki-laki itu hingga membuatnya terpontang-panting karena rambut laki-laki itu ditarik dengan kuatnya oleh Sonya. “Aku mohon sadarlah!!! Ini aku Ferro,” ucap laki-laki itu dengan suara yang tampak sangat putus asa menahan kesakitan. Rambutnya mungkin banyak yang rontok karena tertarik tangan jahat Sonya. Sonya perlahan-lahan membuka matanya dan benar saja, Ia melihat laki-laki yang saat ini penampilannya sudah sangat berantakan karena dihajar habis-habisan dengan sembarangan adalah teman sebangkunya yaitu Ferro, “Kamu?? Mau apa sih? Mengagetkanku saja!! Apa kamu tidak sadar kalau penampilan kamu itu seperti pencuri??” tanya Sonya yang kembali memasang ekspresi datar ditaburi sedikit emosi “Owh?? Aku… ahh… aku hanya penasaran dengan toko coklat kamu. Hehe…” jawab Ferro yang sedikit gelagapan menjawab pertanyaan Sonya. Tingkahnya sekarang juga masih tampak mencurigakan seperti di kelas tadi. “Kalau begitu ayo ikut aku!! Tapi kamu cukup hebat juga bisa tau kalau keluargaku punya toko coklat. Padahal tadi di kelas aku tidak bilang apa-apa,” Sonya jalan mendahului Ferro yang masih terdiam di tempat yang kemudian perlahan-lahan mengikuti Sonya dengan malu-malu.

284 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini