Posted on

Orang yang Tulus, Tulus Berjuang Bersamaku

Oleh: I Kadek Juni Saputra
            Kesunyian merasuk jiwa, tak ada suara, sekecil pun. Seakan suara semut yang berjalan pun terdengar. Sebuah ruangan yang sangat sunyi bagaikan terisolasi dari riuhnya dunia luar, namun seorang insan duduk dengan diam seribu kata. Lembar demi lembar ia lewati di dalam hidupnya. Lemari yang menjulang tinggi, rumah sang ilmu menjadi rumah bagi remaja berkacamata bernama Joe. Hidupnya terhabiskan hanya untuk membaca buku. Tak salah jika di kamar tak kurang dari 3×3 yang ia sewa, penuh dengan piala dan dan mendali. Setiap sore Joe berlatih bermain bola voli yang merupakan satu-satunya olah raga yang ia bisa. Walaupun ia sering berlatih bermain bola voli tak banyak orang yang mengenalnya. Mungkin dari 10 orang hanya 2 yang tahu Joe cukup detail. Suatu sore hujan lebat mengguyur Gelanggang Olah Raga biasa ia bermain bola voli. Setelah melakukan latihan pelatih bola volinya berkata bahwa kompetisi sudah dekat semua anggota tim harus solid dan mampu berkerja sama. Terutama Joe karena dia orang yang sangat tertutup walaupun kemampuannya lumayan diatas kemampuan teman-temannya, namun secara kerja sama ia tidak mudah diajak berdikusi. Latihan pun usai semua tim bergerombol bercerita namun Joe hanya duduk menunggu hujan mulai mereda sementara ia membuka sebuah buku yang selalu tersimpan di tasnya. “Joe mari pulang biar ku antar kamu menggunakan mobil ku. Ini sudah malam nanti kamu terlambat pulang” kata ketua tim volinya bernama Suar. “Aku pulang sendiri saja” hanya itu yang selalu dikatakan Joe. teman-temannya sudah mengetahui sifat Joe jadi Darsa tidak mau terlalu memaksa agar Joe ikut bersamanya. Setelah Darsa dan rombongannya tidak terlihat lagi Joe mengangkat tubuhnya, mulai berjalan menuju tengah lapangan di temani suara gemuruh tetes hujan yang mengenai atap GOR. Menatap sekitarnya dan memejamkan mata. Stelah beberapa detik ia berlari keluar dan mengambil sepeda motornya. Tak perduli gelapnya malam dan derasnya hujan ia tetap memacu sepeda motornya. Semua bagian tubuh dan ia pakai basah kecuali satu barang yaitu buku yang tersimpan rapi di tas dan terbungkus plastik. Di perjalannan ia berpikir tentang seorang wanita yang tadi menonton latihanya, dia begitu cantik ini pertama kali Joe memiliki rasa dengan seorang wanita, namun rasa yang beda. Ia seakan tersihir oleh paras cantik yang dimiliki gadis itu. Namun nama, asal, dan semua tentangnya masih di ujung angan. Dia tak henti-hentinya memikirkan gadis yang bagaikan bidadari turun kehidupnya. Sesampainya di tempat peristirahatannya selama dua tahun yang di mulai sejak ia menginjakan kaki di dunia abu-abu. Dia membuka pintu dengan keadaan basah kuyup, ia langsung mandi, mengganti pakaian, dan mencuci pakaiannya. Dia pun berbaring di tempat tidur yang menemani malamnya. Sambil mengambil kacamatanya ia mendengar telepon gemgamnya (bukan smartphone ya. Hehehe J) berbunyi. “Iya kenapa Bu?” suara yang pertama keluar dari mulutnya. “Gimana kabarmu nak?, apakah kamu tidak memerlukan tambahan uang” kata lembut keluar dari telepon gemgamnya. “Baik Bu, Uangnya cukup Bu. Saya masih punya tabungan semasih itu ada saya nggk minta ke Ayah atau Ibu” kata Anak yang merantau di umur muda itu. “Baiklah, nanti kalau ada masalah mohon telepon Ibu ya!. Kamu sudah makan nak?” Tanya Ibunya. “Sudah Bu” singkat kata Joe lalu ia meminta ijin untuk mematikan panggilannya. Singkat setelah ia meletakkan telepon gemgamnya pintu kamar itu bersuara. Joe pun segera mendatangi pintu dan membukanya. Seorang wanita berambut panjang berada di hadapannya dengan membawa sebuah kotak. “Kenapa kamu kesini?” Tanya Joe. “Kamu bisa membohongi orang tuamu, namun kamu tidak akan bisa membohongiku. Kamu belum makankan?, ini aku bawakan nasi buat kamu, tapi maaf ya kalau seadanya” kata wanita itu seakan seperti peramal. “Kenapa kamu tahu aku belum makan? Gi” Tanya Joe dan mepersilahkan gadis itu masuk. “Itu kan kebiasaanmu apalagi kamu tidak bisa beli bahan makanan karena hujan. Jarang-jarang kamu juga harus bisa makan di luar Joe” kata satu-satunya orang yang dekat dengan Joe. “Ya, mungkin besok” jawaban itu telah beribu kali keluar dari mulut Joe namun ia belum melakukannya. Agi pun pamit balik “Joe aku balik dulu ya, tidak enak lama-lama disini. Ingat belajar besok ulangan Kimia materi Radioaktif. Semangat ya!” katanya sambil berjalan menuju pintu. “Terimakasih Gi” kata Joe dengan penuh makanan di mulutnya. Malam itu Joe belajar dengan fokus, entah kenapa ketika ia membaca semua pikiran yang lain terbuang. Namun ia tertidur ditemani buku-bukunya. Dalam mimpi hidupnya berbeda ia bersama gadis pujaannya bersenang-senang namun tiba-tiba semua memburuk ketika gadis itu diculik oleh orang-orang hitam. Joe pun terbangunkan alarm yang tepat berada di samping telinganya. Ia melihat jam yang berdering di tangannya jarum pendek telah menunjukan angka 6. Joe tiba-tiba terkejut dan langsung bersiap-siap dan berangkat ke sekolahnya dengan terburu-buru. Di sekolah ia bingung kenapa sekolah begitu sepi, baru ia menuju ruang kelas tak ada siapa-siapa. Ia bertanya “Apakah aku masih dalam mimpi?”sambil menatap keluar. “Ini dunia nyata kok, Kutu Buku, aku nggak ngerti orang kayak kamu terlalu rajin, libur aja dateng ke sekolah” kata seorang wanita yang terlihat begitu liar. “Kamu, siapa namamu. Kenapa kamu datang kesekolah jika kamu tahu  hari ini libur” Joe bingung karena wanita itu adalah wanita yang datang ke mimpinya. “Aku Diany panggil saja Dye. Aku ada latihan public speaking. Aku nggk lupa hari kok, nggak kayak kamu” lalu wanita itu meninggalkan Joe sendirian. Joe pun segera mengenakan jaket yang ia bawa agar tidak ada yang mengetahui ia sekolah pada hari libur. Joe pun berjalan mengikuti Dye dan melihat ia latihan bersama beberapa temannya yang lain. Merasa bosan Joe pergi ke tempat biasa ia menghabiskan hari yaitu perpustakaan. Sambil berjalan ia berpikir kenapa Ellie mengatakan bahwa sekarang ada ulangan sekarang kan hari libur, ia tidak berpikir ribet ia hanya bergegas menuju perpustakaan. Beberapa menit berselang Joe telah membaca setengah novel tentang cinta seorang pria dengan seorang wanita namun terpisahkan tembok kasta sendirian di perpustakaan. Ketika Joe sedang asik membaca Dye datang dan bertanya “ternyata kamu kesini, aku kira kamu diam-diam pulang” katanya. “Aku lebih tenang disini, kamu mencari apa?” Tanya balik Joe. “Aku mencari buku tentang kepemimpinan karena besok aku ada orasi pemilihan ketua OSIS. Kamu tahu nggak buku kayak gitu ada dimana?” Tanya Dye. “Aku tahu, dimana buku kayak gitu. Tapi sebelumnya aku mau bilang aku ada rasa sama kamu, boleh tidak aku mengenalmu lebih jauh.” tak pikir panjang Joe berkata. “Ihhh, kok cepet gitu?, aku tebak pasti kamu tahu namaku dari tadi pagi. Aku mau deket sama kamu kalau kamu bisa berubah masak aku temenan sama anak cupu sihh” cepat Dye menjawab. Joe mengambil tangan Dye “Tapi sebenarnya aku, aku,” tiba-tiba Ellie memanggil Joe yang baru membuka pintu melihat Joe dan Dye berpegangan tangan. “Maaf mengganggu, aku Cuma mau bilang ulangan kimia sudah mau mulai Ms, Mara sudah menunggu. Aku harap kamu siap Joe.” Ellie langsung pergi. “Penuhi dulu syarat ku Joe, kamu harus berubah!” kata Dye, lalu ia pun menyusul Ellie keluar perpustakaan. Joe pun berpikir dan menarik nafas dalam lalu pergi ke kelas untuk ulangan, dia baru ingat bahwa ulangan kimia ini adalah ulangan susulan buat siswa yang belum menggambil. Ellie dilihatnya tidak ada di kelas saat ulangan, ingin dia bertanya namun siapa yang ia tanya semua orang bagaikan orang asing baginya. Setelah ulangan Joe memberanikan diri untuk bertanya pada Ms. Mara dan ternyata Ellie sedang sakit karena itu dia tidak jadi ikut ulangan. Setelah sampai di kosnya Joe melakukan kegiatan yang tak pernah ia lakukan ia menarik tabungannya untuk menghias dirinya. Pagi bersinar cerah, hari senin ini adalah orasi calon ketua osis, Dye yang bersiap-siap dibelakang panggung berharap agar Joe tidak mengganggu orasinya dengan hal yang lebih ekstream dari kemarin. Setelah berdiri di atas podium dye mencari-cari wajah seseorang namun ia nampaknya tak menemukannya, Dye dapat menghelas nafas lega. Setelah melakukan orasi Dye balik ke belakang panggung, namu ia melihat seseorang yang tak pernah ia temui sebelumnya. Potongan rambut undercut rapi, pakaian yang rapi namun tetap keren melewati dirinya. Dye terhenti sejenak sampai akhirnya ia tersentak oleh kata dari Master of Ceremony (MC) “Mari kita sambut calon ketua OSIS kita Juni Saputra” ia tak menyangka Joe bisa berubah seceat itu. Kata-kata yang terucap oleh Joe membuat para siswa bersorak-sorai, menandakan kekagetan dan kemenakjubkannya seorang Joe yang terkenal diam-diam saja namun sekarang bisa berpenampilan lebih keren daripada Suar yang terkenal paling keren di sekolah itu. Di akhir orasinya ia berkata “

Don’t Judge

read more