Posted on

13 KARYA-KARYA ARSITEKTUR INDONESIA

 Oleh : BENNY SENTOSA WIJAYA ST  =&0=& Sejauh ini, yang saya ketahui sebagai penulis, belum ada buku-buku karya arsitektur yang bergenre humor atau komedi . Yang ada, foto atau design gambar suatu karya yang diberi penjelasan-penjelasan sesuai kenyataan dan terkesan agak serius atau mungkin terlalu formal . Untuk itulah, saya mencoba menulis sebuah buku, yang nanti akan dibuat berseri, yang isinya, karya-karya arsitektur yang dibikin seunik mungkin, sesinting mungkin, seaneh mungkin, tapi bisa dibangun, atau setidaknya masih bisa diwujudkan ke dunia nyata . Penjelasan dari setiap karya tersebut, juga saya bikin senyeleneh dan segila mungkin . . Jadi amat sedikit yang terkesan serius .   Tujuannya jelas, yang pertama, untuk menghibur pembaca . Lalu yang kedua, ya ditujukan untuk mereka-mereka yang berprofesi sebagai arsitek, agar menikmatilah pekerjaan atau profesi anda-anda ini.Jangan dirasakan kalo jadi arsitek itu, stress . Karena umumnya, berkaitan dengan hobi anda juga kan?Yaitu suka gambar, atau ngedesign . Ke-13 karya dari arsitek-arsitek fiksi ini, juga diharapkan bisa memberi masukan kepada anda-anda, arsitek atau mungkin owner yang mau bikin rumah,  yang mungkin sedang buntu ide . Jadi demikianlah sinopsis ini saya buat.Semoga dapat diterima semua lapisan masyarakat . Terima Kasih . 13 KARYA-KARYA ARSITEKTUR INDONESIA ………………………….. YANG SESINTING2NYA PART 1 Nama pribadi, nama golongan, nama organisasi, keterangan tanggal dan tahun, segala kejadian yang ada di dalam buku ini, hanyalah karangan fiksi semata . Bagi seorang arsitek, merancang sekaligus membangun rumah tinggal di lahan yang sempit, dengan tetap mengedepankan unsur fungsional, kenyamanan dan estetis, adalah suatu tantangan yang menarik . Di satu sisi lagi,pemilik atau owner adalah raja . Anda pun tetap harus membuat  rancangan yang sedikit banyak memenuhi ekspetasi keinginannya ( kan itu bakal jadi rumahnye…Bukan rumah lu tu yehh ) . Sebagai contoh. Di lahan bangunan berukuran 8 x 12 m, si onwer ingin memiliki kolam renang atau hutan tropis di dalamnya  . Sebagai  arsitek, anda jangan langsung tegang atau keringat dingin .  Stay cool . Tetap tenang . Tarik nafas dalam-dalam,buang pelan-pelan . Ulangi sebanyak 3 – 4 kali sebelum makan . Ikuti petunjuk dokter dan Go ahead . Tetap optimis dan yakinlah jika segala sesuatu  tidak ada yang mustahil  di tata surya ini .  Apalagi mendapat job design sekaligus ngebuild ( ngebangun ), bisa dikatakan sebagai anugerah . jadi nikmati sajalah . Jangan ragu untuk menumpahkan ide-ide atraktif, liar, out of box  anda ke dalamnya . Dan jangan pula merubah aliran atau gaya arsitektur yang selama ini sudah digandrungi atau dijadikan pedoman  oleh anda dalam merancang bangunan . Seperti yang dilakukan arsitek-arsitek berikut ini  . Masing-masing,  dengan tanpa ragu,tanpa  beban, tanpa unsur paksaan, tanpa belas kasihan, menumpahkan ke-15 karyanya di Buku Karya Arsitektur Yang Sesinting2Nya:  part 1 . Sebagai pembaca,anda bisa menyimak bagaimana pengalaman, keluh kesah, harapan, kritikan, penderitaan yang dialami, baik dilihat dari sisi si owner, dari sisi si arsiteknya sendiri atau dari pandangan pengamat arsitek  . Dan untuk hal-hal selanjutnya, lu baca aja deh….    Sugitomo “The Samurai House “ Rumah bergaya modern minimalis ini diarsiteki oleh Ir Pheng Tong ( karya-karya sebelumnya : Kemoceng Wood House, The Pentungan , Spi-Dol ), yang tak lain dan tak iya dan juga tak bukan, saudara ipar dari mertua istri keduanya Bapak Sugitomo . Berada di ketinggian 120 cm dari permukaan laut, dengan sudut 6 derajat LU, 8 derajat LS, “The Samurai House”  dibangun untuk menghormati leluhur Pak Sugi sendiri, yang katanye ( ini katanye ye…Jadi kalo salah, lu jangan libatin gue ..) keturunan Masaksih Samurai, seorang musashi terkenal di zaman……Di zaman kapan ye…Di zaman yang banyak ninjanya deh…Susah amat . Sebagai arsitek, Pheng Tong sendiri mengaku tak kesulitan merancang rumah impian Pak Sugi tersebut . “Saya menggunakan konsep sabetan pedang . Jadi kebetulan, Pak Sugi ini memiliki sebuah pedang Samurai ori ( asli . Jadi ga kw-kw an ) yang dibelinya via online  . Dan saya menyuruhnya membuat 3 sabetan pedang di kertas putih ukuran A1 yang sengaja saya bentangkan dihadapannya….SSt..SSStt….Ciiaaatt…Jebret…” “Nah, berdasarkan pola sabetan itulah, saya bisa merancang  denah, mengatur ruang per ruang sesuai keinginan Pak Sugi bersama keluarga…, “lanjut Pheng Tong, yang mengaku juga kepada saya, kalo dia tuh belum punya pacar…. Seakan-akan masih belum puas dengan itu, Pheng Tong juga menyiapkan satu kejutan lagi untuk si ownernya tersebut . “Setiap malam, saat tukang-tukang udah pada tidur, saya diam-diam datang ke lokasi untuk membuat sebuah karya seni berupa replika pedang samurai setinggi 15.8 meter .  Dan selama 5 bulan pengerjaan, mereka-mereka yang berada di sana, termasuk mandor, hingga Pak Sugi sendiri bersama keluarga, belum boleh tau, apa  itu . Replika nya sendiri sengaja saya tutup dengan kain merah setiap selesai mengerjakannya . ……Dan hingga tepat saat rumah tersebut sudah siap ditempati , barulah saya membukanya tepat di depan mata Pak Sugi sendiri . Dan hasilnya, dia terharu, langsung mencium, memeluk saya berkali-kali, yang diakuinya sendiri, telah melebihi kuantitas jumlah pelukan pada istrinya per bulan….Sungguh mengagumkan….” Meski begitu, di mata Ir Eng Ing Eng ( pemimpin Ultran Red Archi; Kelompok Garis keras Arsitektur Indonesia ), keberadaan monumen tersebut sangat menbahayakan dan sesungguhnya juga tidak diperlukan . “Terlalu over act  , saya lihat . Dan danger.Just Imagine, both of you, bagaimana kalo tuh monumen tiba-tiba collapse, ambruk, nimpa everybody yang ada di bawahnya..And  there’s many birds will be die cause hinggap di sana..,” komentar Eng saat diwawancarai media setempat . “Itu kan dipancang, kalo ga salah 30 meter sampe tanah keras.Ada 4 titik pancang di penampang bawahnya supaya kuat dan tahan gempa hingga 9 SR . Dan lagi, kalo ada burung-burung yang luka atau mati, ya itu salah burungnya…Kok nyalahin saya…Udah tau itu tajam kok hinggap di sana,” bales pedas manis Pheng Tong .  S To XL House “Saya menginginkan 5 sampe 6 kamar tidur, bahkan bisa ditambah jadi 7 jika memungkinkan..Lalu 4 kamar mandi…Satu Ruang makan plus dapur…Kemudian rooftop ( lantai paling atas tanpa atap ) yang bisa digunakan untuk acara barbie party, barbeque party, jebar ( ngejemur bareng ) party hingga nobar ( nonton bareng ) party.” Begitu bunyi keinginan Pak Lupis Ependi untuk rumah idamannya, yang harus dipenuhi dengan teramat sungguh-sungguh oleh arsitek Ben Tji . “Dengan lahan terbatas, ukuran 4 x 15 meter . Dipotong carport ( untuk parkiran mobil ), menjadi 4 x 11 meter . Awalnya bagi saya, terasa berat . Tak heran beberapa kali saya harus berdebat dengan Pak Lupis bersama istri, sampe ke babe nyaknya juga ikut . Mereka bilang, kalo saya sebagai arsitek seharusnya bisa mewujudkan itu semua . Jangan menyerah dulu . Coba pikirkan dengan tenang, damai . …Akhirnya, kurang lebih sebulan lah setelah itu, saya menyerahkan ke mereka, awalnya ke Pak Lupis dulu, rancangan design pertama  yang diberi kode : PX-1 . Dan, well, ternyata dia  cukup puas . Setelah dipoles kiri kanan atas bawah sana sini maju mundur, dari kode:PX-1 sampai PX-12, maka tepat pada tanggal 2 Juni 2017, di hadapan pengacara langganannya, Keluarga Lupis menyetujui secara resmi rancangan terakhir saya yang kelak diberi nama S To XL house…….S To XL house bisa diartikan sebagai rumah yang berukuran kecil tapi berkapasitas besar seperti layaknya rumah-rumah menengah pada umumnya ( berukuran 8 x 15,8x 17 atau 8 x 20 m ) . ..” “Maksimalisasi ruangan . ..Design saudara Ben Tji ini bahkan melebihi ekspetasi, tak hanya saya, mungkin arsitek-arsitek lainnya . Bagaimana mungkin sebuah rumah kecil dapat memiliki banyak kamar yang tentu saja tetap nyaman dan enak dibuat tidur, lalu di lantai atasnya ada fasilitas outdoor yang bisa digunakan untuk berbagai acara.Tapi di tangan Ben Tji, semua bisa….Unbeliavable..,” komentar Pak Lupis di suatu kesempatan wawancara . “Untuk rancangan S to XL house ini, saya menggunakan permainan split level,khususnya di ruangan lantai 1 dan 2 . Tujuannya semata-mata agar tampak depan bangunan tak terlihat sangat tinggi . Apalagi lebarnya kan hanya 4 meter . Pak Lupis sendiri juga tidak mau rumahnya terlihat seperti rumah toko . Akibat dari permainan tersebut, 3 kamar harus saya korbankan ketinggian ruangannya. Dari yang normal sekitar 2.75 atau 3 meter, menjadi masing-masing sekitar 1.6 meter . Toh semua pekerjaan masih bisa dilakukan sambil duduk atau rebahan di ranjang . Mau ngetik, ngechat ( kecuali ngecat ), ngemail, ngemil, ngelamun,ngedumel,ngedandan,ngerias,ngebaca,ngenonton dan ngeh lainnya . Tapi,lagi-lagi, berposisi sebagai pihak oposisi, Ultran Red Archi ( kali ini diwakili wakil bendaharanya yang bernama Ir Tereng Tereng ) mengkritik habis-habisan rancangan aristek Ben Tji tersebut . Baik melalui sosmed, koran setempat sampe lewat media televisi . Tak tahan mendapat “gempuran”, Ben Tji sempat meneteskan air mata ( campur belek ) di hadapan kameraman salah satu stasiun televisi swasta . “Saya Cuma menjalankan tugas saya….Kenapa harus seperti ini?…Kalo terus menerus seperti ini, saya tak tahan lagi….Saya ingin pulang…..,”keluh sang arsitek yang mengaku baru 4 tahun ini terjun ke lapangan ( “Ke lapangan baru kali ini.Tapi kalo ke sungai,udah beberapa kali,” ngakunya waktu itu ) . “Itu rancangan, terlalu maksa, saya lihat . Hanya demi memenuhi keinginan si owner,  si arsitek tak lagi mementingkan aspek kenyamanan dalam ruangan . Asal taruh-taruh aja, asal pangkas-pangkas aja ( ketinggian ruangan ),” komentar pedas Ir Tereng Tereng . Merasa kasihan, iba, Pak Lupis Ependi langsung memberi pembelaan untuk Ben Tji . “Mereka ( Kelompok Ultran Red Archi ) sudah beraksi di luar batas . Tak seharusnya asal mengkritik,sementara mereka sendiri sama sekali belum merasakan tinggal di dalam sana . Saya mewakili Pak Lupis, berani mengklaim, tak hanya keluarga Lupis saja sudah nyaman di sana ( di rumah S to XL House ), sebanyak 42  tamu sudah tandatangan di atas meterai, kalo mereka merasakan kenyamanan yang sama . Jadi, cobalah datang dulu, baru mengkritik . ,” ujar Udang Efendi SH, pengacara si owner . “Dan juga perlu saya tegaskan kalo saudara Ben Tji ini anak orang.Kasihan lah kalo dijelek-jelekin seperti itu”tambahnya lagi. “Ya siapa bilang dia anak ayam.Saudara pengacara jangan main tuduh aja,” balas Mr Tereng Tereng di suatu kesempatan . “Dan lagi, apa benar ke-42 tamu itu tandatangan secara ikhlas?Jangan-jangan ada main belakang nih….Kita kan ga tau.Ga ada saksi dari pihak kami atau pihak lainnya semisal utusan dari PIMAI ( Persatuan Ikat Mengikat Arsitek Indonesia )..” Too Fast and too Houserius Pagi itu, tanggal 27 April 2017, eksodus telah dimulai . “Setelah Dunkirk, ini mungkin yang paling fenomenal di zaman modern ini.Selesai hanya dalam waktu kurang dari 12 jam . Total melibatkan 25 bus Full AC VVIP, 3 helikopter, 20 truk kontainer, 2000 personil keamanan, 7 ekor anjing pelacak, 10 panser lapis baja ( bukan lapis legit ya…) hingga 8 buah drone berkamera 360 derajat . Tujuannya, yang pertama adalah memindahkan terlebih dahulu 150 KK menuju hotel-hotel bintang 4 yang sudah disiapkan oleh Pak Bingkis Antoni ( orang nomor 1427 terkaya di Indonesia ), dimana di sana, mereka akan diinapkan selama 1 bulan penuh . L alu yang kedua, tentu saja agar pembangunan rumah Bibit Bintitan ( yang tak lain, putra sekaligus anak satu-satunya dari Pak Bingkis beserta istri ) berjalan cepat, ontime plus lancar,” penjelasan AKBP Hendra Niyan, Kapolsek Tengah Timuran .   “Kan dia mau kawin.Lalu disuruh bapaknya pindah, ga mau.Penginnya tetap di sini, di tengah-tengah permukiman kami ini.Ya jadinya begini nih.Dibilang repot, iya…Tapi nikmat sih.Dikasih tempat penampungan sementara,lalu dianter pake bus yang ada Waipai nya lagi ( Wifi maksudnya kali….).Pokoknya berkesan banget deh.Sampe anak saya pengin lagi.Ya saya jawab, tunggu anaknya si Mas Bibit itu kawin,mungkin kayak gini lagi,” ujar Mpek Entin, yang ngaku tetangge deketnya anak si Pak Bingkis tuh . “Surat pemberitahuan plus kartu kondangan kami terima sekitar sebulan yang lalu lah.Jadi isinya, pada intinya, agar rumah si Bibit tuh cepat kelar, kami dipindahin dulu ke, ada 4 hotel kalo ga salah yang udah dibook sama Bos Bingkis tuh , untuk sebulan penuh.Jadi ada 1,2….Oh 5 blok yang harus diungsikan dikarenakan sistem konstruksi rumah anaknya itu, yang pake kontainer.Jadi ada, kalo ga salah 4 kontainer yang tinggal ditaruh-taruh aja di konstruksi beton yang sudah siap sebelumnya.Takut terjadi apa-apa, si Bos Bingkis ga mau ambil resiko, seperti ketimpa kontainer atau yang gawat-gawat gitulah, ya kami diungsikan deh . ,” penjelasan Idih Komang, Ketua RT setempat . “Anak saya itu,  sebelumnya udah panggil 6 ahli fengshui . Jadi masing-masing dari mereka udah pada datang, pertama ke tanah rumah lama ini, lalu yang kedua di tanah yang udah saya beliin sebenarnya tuh untuk dia, di Jalan Kalong . Nah semuanya pada bilang sama saya kalo di rumah lama ini dilewatin garis khatulistuye…Lah saya bingung, setahu saya, namanya khatulistiwa….Jadi pada intinya, garis khatulistuye itu garis keberuntungan, kemapanan.Kalo di jalan Kalong tuh, gawat….Ga bagus gitulah…So, seperti inilah sebab musabab, kenapa akhirnya si Bibit memilih tetap di sini, di tanah yang sudah ditempatinya sejak umur 5 bulan,” penjelasan panjang agak melebar dari Pak Bingkis Antoni, pengusaha yang bergerak di bidang mebel, perfilman hingga masih menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Suami-suami Yang Istrinya Suka Arisan ( KEPERSUSISUSAN ). Meski begitu, lagi-lagi, Ultran Red Archi  kembali hadir untuk melakukan tugasnya, yaitu MENGKRITIK . “Apa yang salah??…Ibaratnya, kami ini punya banyak detektif, yang bertugas 3M, Mencari, Mendokumetasi hingga Mentelaah karya-karya arsitektur yang belum, lagi hingga selesai dibangun.Jadi anda-anda yang berprofesi sebagai arsitek, ya harus siap mental lah kalo ketemu atau dikritik kami.Tujuan kami kan sebenarnya bukan ngajak berantem, tapi ya itu tadi, supaya bangunan-bangunan lu-lu pada, diterima baik lewat kacamata arsitek-arsitek, tak hanya lokal atau interlokal saja, bahkan bisa outerlokal,” penjelasan Mimi Mimisan, sekretaris Ultran Red Archi ( kelompok ini diklaim sudah berdiri sejak tahun 2012. ) Dan kritikan kali ini, memang berpusat pada eksodus tersebut . “Bangunannya si ok…Baik dari cara pembangunan yaitu pake blok-blok kontainer supaya cepat . Lalu dari segi design, ya kami kasih point 7 setengah lah. Cuma ya itu tadi, yang kami ga sukanya, terkait eksodus penghuni-penghuni rumah itu…Bisa mendatangkan kecemburuan sosial,khususnya bagi penduduk-penduduk di  blok-blok yang ga ikut kena eksodus.Padahal mereka kan terganggu juga dari segi suara saat tahap konstruksi hingga finishing . Seharusnya Pak Bingkis melihat itu….,” tambah Mimi Mimisan di suatu kesempatan . Mendengar itu, Pak Bingkis langsung berkomentar :  “Ya saya mau habis uang berapa lagi?Tujuh blok dipindahin juga?Lah yang ujung, keganggu,keganggu apaan?Paling-paling, saya ajak makan-makan aja deh gimana?Atau saya kasih kupon makan gratis di salah satu restoran cepat saji?!!,” ujarnya dengan nada agak meninggi ( ya sekitar 7 cm lah dari biasanya…) . Tapi belakangan Pak Bingkis setuju meneksodus 2 blok lagi, dengan masa menginap di hotel bintang 3 “hanya” 1 minggu saja.Lalu 5 blok lainnya yang ( memang ) letaknya agak jauh dari proyek rumah anaknya, diberi kupon gratis selama 3 hari penuh di salah satu restoran cepat saji milik teman pria ( nya ) . Tapi lagi-lagi, kritikan datang kembali.Kali ini dari PERIHPASAR ( Persatuan Ibu-Ibu yang Habis ke PASAR ) . “Kami-kami ini udah belanja di pasar.Tiba-tiba datang kupon makan gratis . Ya kami jadi bingung, mau dikemanain belanjaan kami ini kalo ga dipake ?!!…Seharusnya ada sosialisasi dulu dong sebelum kami belanja,” keluh Mpok Ayong, wakil PERIHPASAR . “Waduh…Ga abis-abis ini…..Aku tak pergi dulu, mule nang Suroboyo,” tanggapan Pak Bingkis sambil terburu-buru masuk ke mobilnya.”Wes-wes…Nanti yo…..Nanti”    T-Bikey House Reynold Baker, pria tulen berdarah Prancis,Inggris,Jerman,Suriname,Tegal-Pekalongan ( ini jurusan bus ?  ) dikenal sebagai arsitek yang unik . Karya-karyanya selalu nyeleneh, seperti Rumah Burung, Gogila ( rumah bagi penggemar monster ), K-Rang House ( ownernya penggemar koleksi kerang ) atau U-tan ( pemiliknya punya banyak orang utan ) . Dan kali ini, dia menghadirkan T-Bikey House untuk Keluarga Bang Sosmed Twitt , yang memang dikenal sebagai keluarga penggemar olahraga Gowes ( sepeda ) . “Mereka tetap bisa bersepeda ria di rumah, karena saya menghadirkan track bike ( lintasan sepeda ) . Tidak ada tangga, yang ada hanya ramp ( lintasan miring untuk naik atau turun ) yang mengelilingi seisi ruangan di dalamnya.Sebagai sarana penunjang, saya juga menempatkan beberapa rambu lalu-lintas, seperti awas tikungan tajam, awas turunan curam, lalulintas satu arah,dilarang klakson hingga awas tegangan tinggi . Selain itu, di setiap lantai terdapat pula stasiun pengisian angin ban, rest area hingga layanan servis sepeda di lantai 2 . ( Hahahaha….Woahahahaha….haha….hahahaha… kikikikik…kik).Ir Eng Ing Eng tertawa lebar-lebar ( ya ga lebar-lebar banget lah…) melihat design Reynold tersebut “Dia itu mantan anak buah saya….Dulunya dia sepaham,segaris,selengkung sama saya.Tapi dalam beberapa tahun ini, ya dia berubah gitulah.Kan keliatan nih dari karyanya yang lucu-lucu.Lebih lucu lagi kali ini.Apa dikasih nama samanya?,” tanya Ir Eng kepada seorang wartawan yang kebetulan hinggap di kantornya. “T-Bikey House…. !,”jawab Bebe k ( nama si wartawan tersebut ) “Ya…Ya… kamu kan bisa jawab sendiri lah…Dulu-dulu waktu kecil, kamu main sepeda di rumah, dilarang ga?Disuruh main di luar ga?… “O iya dong…Ga boleh cama mama papa main di dalam…” “La ya itu….Ini kok dibalik sama si Reynold ..Ini yang bikin saya heran, kok dia jadi begini sekarang???..” “Belum lagi, jalur jalan sepedanya itu satu arah lho..Lah kalo satu ada yang naik, satu ada yang turun??Solusinya gimana?Ga sekedar salah satu mundur lho…Itu ga menyelesaikan persoalan !!!,”tambah Ir Eng Ing lagi .  “Tahu nggak ?? !!,” ,sambil menggebrak gebrak meja. . “Tahu nggak, anda ini?Hoi…Denger ga apa yang saya katakan barusan?!!!” “Lah salah saya apa, Bang ?,” ngadu si wartawan kepada Bapak Sosmed Twitt, di keesokan harinya . “Kok jadi saya yang dibentak-bentak??”” Reynold Baker sendiri, yang dihubungi secara terpisah, menyesalkan aksi kemarahan yang ditunjukkan oleh Ir Eng . “Ya seharusnya ini antara kita berdua.Si Bebe k itu kan hanya menjalankan tugasnya, yaitu meliput berita.Lagipula, si Pak Sosmed bersama keluarga, merasa nyaman kok di rumah barunya itu.Masalah kalo ketemuan di satu titik, ya seberapa sering sih, saya tanya.Wong di rumahnya aja, belakangan ini kadang cuma berdua.Dia sama istrinya… ,”tambah Reynold lagi . MPH-12 F1 “Saudara Mpek Monyong ingin rumahnya itu benar-benar dites di terowongan angin milik markas scuderia Ferrari di Italia . Dan tentu saja, atas nama profesional kerja, saya sebagai arsiteknya, mau menuruti kemauannya itu….” Ir Entin Entinan “Lah tapi kata teman akrabnya, ya saya ga perlu sebut nama lah…Mungkin kalian-kalian udah pada tau…Si Entin diliatnya pake kipas angin pas ngetes tuh rumah…Minjem lagi kipas anginnye…Jadi dia bikin tuh rumah pake maket skala gitu, trus disembur pake tuh kipas..Entah diiiat apanya, saya juga bingung….” Mimi Mimisan, sekretaris Ultran Red Archi “Dari kecil, dia itu memang suka balapan.Mulai dari balap lari, balap karung, balap liar, balap sepeda, balap-balapan ama temen-temennye, balap makan pisang, balap makan kerupuk, balap becak, balapan motor,balapan mobil sampe balapan dapetin pacar. Jadi ya namanya hobi, saya sebagai seorang ayah, ga bisa terlalu ngelarang ya…Dan itu kebawa-bawa trus samanya sampe ke design rumah impiannya itu…Meski supercar impiannya belum kesampean sampe sekarang, tapi setidaknya, rumah itu udah mewakili lah, gitu ibaratnya….” Babe Ndut , Babenye si Mpek Monyong . “Mulai dari pegangan setiap pintu  yang pake stang racing moge, lalu aroma dalam rumahnya yang sengaja dibikin bau karet ban, kemudian suara knalpot hingga komentator balapan yang menggema secara bergantian di setiap penjuru ruangan, trus ada lagi jejak-jejak ban mobil yang membekas mulai dari keramik lantai ruang tamu terus mengarah ke kiri ke arah dapur dan ngebelok secara tajam ke arah kamar tidur utama.  Dan tak cukup itu saja.Kabarnya lagi, setiap tamu yang datang, WAJIB mengenakan terlebih dahulu kostum balap plus helm racing  . Jadi sekarang saya berani dan bisa berpendapat kalo arsitek-arsitek muda saat ini terlalu lemah dan gampang dipengaruhi  owner . Ga berani menentang..Yang seharusnya berada di jalan benar, tapi mudah dibelokin gitu loh ibaratnya..Lalu kenapa si owner pake jasa arsitek segala kalo sendirinya yang mengontrol sepenuhnya..Trus bagaimana kalo nenek nya yang sudah renta hendak datang ke rumah si Mpek tuh?Apa dia harus pake kostum dan helm balap juga?” Mimi Mimisan, sekretaris Ultran Red Archi “Perlu saya luruskan dalam posisi sebagai owner, bahwa saya dan istri bersama papa mama akong emak engkim acio engku ii tante, tidak pernah mengekang saudara Entin dalam merancang rumah saya ini. Sedari awal sudah saya katakan kepadanya, bahwa dasar penciptaan rumah, tidak boleh lari dari supercar.Apalagi yang berbau Ferrari . Itu semacam pondasi yang saya berikan kepada si arsitek . Selanjutnya, terserah dia bagaimana mengolah itu semua . Butuh waktu, kalo ga salah seminggu ya, saudara Entin menyerahkan proposal designnya yang pertama . Dan saya puas.It’s amazing . Jadi tinggal poles sana sini . Nah dalam proses memoles inilah, saya ceritakan lagi kemauan-kemauan saya, semisal aroma bau ban, jadi bukan bau badan ya, yang harus memenuhi seisi ruangan di dalamnya, terkecuali wc.Karena percuma, biasanya yang saya tau, bau ban pasti kalah sama bau WC. Trus harus ada jejak ban, suara mesin V12 yang meraung-raung, atau suara desitan mobil yang sedang ngedrift, peletakan bendera finish di 2 titik ruangan, kursi meja tamu yang terbuat dari ban tubeless…That’s all.Nah selanjutnya tugas arsitek untuk mewujudkan itu semua secara tepat, cermat di rumah impian saya ini .  Intinya, saya kasih dia cukup kebebasan lah…Tidak terlalu mengekang…Hasilnya, ya seperti yang sudah anda lihat ini … Mpek Monyong, owner  MPH-12 F1 “Soal nenek gimana? Pa Ul, wartawan lepas dari surat kabar “Burung” “Ya saya kan ga pernah maksa nenek harus pake helm pas masuk rumah.Saya Cuma bilang, sebaiknya.Lah kalo mau, syukur, kalo ga mau, ya ga apa-apa.Hanya saja, kan jadi aneh kalo kakek mau pake, tapi nenek nggak.Ntar dilihat orang, gimana gitu….” Mpek Monyong, owner  MPH-12 F1 “Saya ga percaya itu…Jelas-jelas tuh nenek juga distir samanye . Ga Cuma si arsiteknye aje…..” Mimi Mimisan, sekretaris Ultran Red Archi Tiba-tiba, sepasang sepatu kets merk ‘Jelly Pip’ no 42, dilempar secara sengaja tepat ke dahi Mimi . “Itu neneknya !! Anda ini sudah kelewatan !!,” teriak seseorang, yang belakangan diketahui sebagai Ben Tji ( tak lain dan tak bukan, arsitek dari rumah S to XL House, yang pada beberapa bulan lalu mendirikan organisasi tandingan dari Ultran Red Archi, diberi nama Great White Horse Archis ) . “ Kritikan-kritikan anda tuh seperti kripik !!..” “Ya berarti bagus dong kalo seperti kripik.Enak dimakan, kritikan saya……Enak diterima !!…..,” balas Mimi sambil terus memegang dahinya yang mulai agak menghijau . Keributan disertai aksi lempar-lemparan berskala kecil pun tak dapat dihindarkan lagi, antara kedua pendukung, yang secara kebetulan hadir di konferensi pers tersebut . “Kecil lah…Ga gede-gede amat…Yang dilempar-lempar juga kecil-kecil . Mulai dari kacang-kacangan, buah-buahan seperti duku, salak, permen-permen sugar free, kelereng, aneka macam gorengan seperti bakwan, tahu isi, pisang goreng, tempe . Jadi yang kena lempar, ya luka kecil-kecilan juga.Semuanya kecil-kecil…” Pa Ul, wartawan lepas dari surat kabar “Burung” Keributan pun reda 3 jam kemudian dan berakhir dengan gencatan omongan, gencatan lemparan, gencatan makian yang harus dipatuhi oleh kedua belah pihak dalam waktu 1 x 24 jam .          =&1=&