Posted on

Cahaya Ikan Asin

Oleh : Nanda Ruli Maulidiyah

            Mungkin bagi sebagian orang, ikan asin hanyalah makanan orang-orang kampung dan kurang menarik karena rasa yang ditawarkan hanyalah rasa asin seperti namanya. Sebetulnya ikan asin adalah ikan pirik yang diawetkan dengan cara diasinkan lalu dijemur, karena rasanya yang cenderung asin maka disebut dengan ikan asin. Sensasi rasa asin yang disuguhkan oleh ikan pirik bercampur rasa gurih sehingga menurut sebagian orang ikan asin mempunyai rasa yang unik. Bagi Reza, ikan asin adalah makanan terlezat di dunia apalagi bila ikan asin dihidangkan dengan sambal terasi dan kangkung. Tak hanya itu ikan asin membawa hoki tersendiri buatnya, karena dengan izin tuhan melalui perantara ikan asin ia bisa mencetak sejarah di negeri yang terkenal dengan pizzanya dan disebut sebagai Leonardo Davincinya Indonesia. Yah, Leonardo Davinci adalah pelukis yang terkenal dengan lukisan monalisanya.
            Peristiwa tak terlupakan ini terjadi ketika Reza berusia 18 tahun, ia menemukan sebuah koran yang lusuh di pinggir jalan. Ia tak lantas membuangnya begitu saja tetapi membacanya dan pada halaman terakhir ia menemukan sebuah pengumuman lomba melukis di Italia.. Dengan membawa koran itu, ia berjalan pelan menyusuri setiap jalan di desanya menuju rumah kecil tempat tinggalnya. Keesokan harinya ketika fajar mulai menyingsing ia bergegas pergi ke pasar untuk berjualan ikan asin membantu meringankan beban bapaknya yang sudah berumur 50 tahun. Sepanjang perjalanan ia ditemani suara desiran ombak, maklumlah namanya juga daerah pesisir pasti tak asing lagi dengan yang namanya pantai atau laut. Sepulang dari pasar, ia langsung pulang ke rumah bersiap-siap menjemur ikan asin. Setelah lulus SMA ia tak langsung melanjutkan kuliah karena tak ada biaya, dalam bidang akademik pun ia tak terlalu pandai, sehingga kemungkinan mendapat beasiswa pun kecil, tapi ia mempunyai kelebihan lain yaitu melukis dan rajin. Bakat melukisnya ia warisi dari sang bapak.
            Ia ingin keluar dari kemiskinan yang mendera keluarganya selama ini, akhirnya ia memutuskan untuk menjadi TKI di luar negeri meskipun awalnya sang bapak tak memperbolehkannya berangkat ke luar negeri. Namun, dengan segala upaya meyakinkan sang bapak akhirnya restu pun didapat.
            “ Pak, izinkan saya berangkat ke luar negeri, saya ingin membahagiakan bapak, Reza akan mencari uang disana untuk bapak dan Fahmi Pak”.
            “ Nak, hujan batu di negeri sendiri lebih baik dari pada hujan emas di negeri orang, bapak sudah bahagia kamu disini, tapi jika kamu memaksa, bapak tak bisa berbuat-buat apa-apa”.
            Setelah itu, ia berangkat menjadi TKI di Italia, Alhamdulillah puji syukur ia panjatkan pada Allah SWT yang memberinya majikan baik hati, tidak pelit dan sabar.“terima kasih ya Allah” gumamnya dalam hati, bahkan sang majikan bersedia mendaftarkannya masuk ke sebuah perguruan tingi di Italia karena melihat kesungguhan dan optimisme yang dimiliki Reza.  Reza berpikir ini adalah kesempatan yang bagus dan ia harus bisa memanfaatkannya dengan baik, dalam hatinya ia boleh berangkat jadi TKI tapi pulang harus menjadi sarjana, apalagi belajar di Italia sepertinya keren. Mungkin ini garis yang sudah tuhan takdirkan untuknya, salah seorang temannya menemukan buku Reza tertinggal di kelas dan melihat sebuah kertas terselip bergambar ikan asin.
            “Reza is it yours?” tanya salah seorang temannya.
            “ Yes, thank you so much”.
Ketika ada pengumuman lomba melukis ia didaftarkan oleh temannya tanpa sepengetahuan Reza. Ia sangat terkejut ketika mendengar itu, tapi ia merasa sangat senang dan bersyukur. Tak lupa ia meminta do’a restu dari ayah dan adiknya di Indonesia serta sang majikan yang membantunya selama ini.
            “ Assalamualaikum ayah, Reza minta do’anya mudah-mudahan bisa memperoleh hasil terbaik”.
            “ Amin, teruslah berjuang nak, ayah dan adikmu akan selalu mendo’akanmu”.
            Setelah sampai di tempat lomba ia langsung mengucapkan syukur kepada Allah SWT karena anak pesisir dari kampung kecil bisa membuat jejak di negara yang terkenal dengan pizzanya itu. Ketika lomba dimulai dengan cekatan ia segera mengekspresikan idenya, berjibaku dengan cat dan menggoreskannya di atas kanvas yang membentuk lukisan sangat unik. Ia menggambar 7 ekor ikan asin yang dijemur oleh seorang bapak tua di pingir pantai. Di luar dugaannya ia menjadi juara dalam event tersebut yang ia impikan beberapa tahun lalu.
“The winner is Reza Muhammad from Indonesia”. 
Ketika ditanya oleh seorang wartawan yang meliput acara tersebut, mengapa ia menggambar ikan asin, ia menjawab karena melalui ikan asin itulah ia dan keluarganya bisa bertahan hidup. Tak perlu jauh-jauh ia mencari ide, karena dari lingkungan sekitar banyak sekali yang bisa dijadikan inspirasi, melalui ikan asin itulah ia mendapat cahaya untuk bertahan melewati kerasnya hidup. Ikan asin itu bagaikan sebuah cahaya yang membuat jiwa optimismenya terus tertanam melihat masa depan bahwa semua orang bisa meraih impiannya.  Setelah ia menyelesaikan pendidikan S1 nya di Italia ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia mememani sang ayah dan adiknya. Dengan ilmu, pengalaman serta materi yang ia dapatkan di luar negeri akhirnya bisa mengangkat derajat keluarganya dan membantu orang-orang disekelilingnya.  

294 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini