Posted on

Bukan Aphrodite

Oleh : Astry Rizky
 “Bawa anak ini pergi!  Aku tidak mau tertular penyakitnya!”
“Tapi, ma ini bukan penyakit menular. Dia tidak akan menularkannya kepada siapa pun.”
“Aku tidak peduli, aku jijik melihatnya!”
Aku masih ingat suara penolakan oma padaku saat itu aku masih berumur 6 tahun. Mama selalu menjadi orang terdepan yang membelaku sejak kepergian ayah. Ah, seandainya bercak ini tidak pernah muncul, mungkin aku masih jadi cucu kesayangan nenek dan mungkin kami masih diizinkan masuk ke rumahnya.
“Oma cuma lagi kesel sedikit aja, nak. Mungkin besok oma sudah tidak emosi lagi, sekarang kita pulang yuk mama akan masak makanan kesukaanmu.” Mama mencium keningku dan menggenggam tanganku.
Kami pun tinggal berdua bertahan di rumah peninggalan ayah dan jauh dari kerabat. Untunglah kumemiliki mama yang sangat kuat yang sangat hebat.
Dari kejauhan, seorang pria paruh baya berdiri sambil menatap barisan orang-orang yang sedang berlenggak-lenggok di atas panggung. Matanya yang sangat awas mengamati dengan saksama. Sesekali dia berteriak atau bahkan menghampiri jika ada gerakan yang tidak sesuai dengan irama musik.
“Okay, latihan untuk hari ini cukup girls” kata Mas Oki, sang koreografer sambil bertepuk tangan sebanyak dua kali “jangan lupa besok datang tepat waktu ya.” Pintanya dengan intonasi yang lembut kemudian berlalu.
            Sambil bercermin, sekilas aku teringat kembali pada awal kariernya.  Dulu, banyak orang yang menganggapnya aneh. Beberapa bercak putih menyelimuti tubuhnya yang jenjang dan langsing. Bercak-bercak putih ini mulai muncul secara lambat saat aku berumur 6 tahun.
            “Ma, liat tanganku deh. Tanganku memutih.” Aku ingat aku tertawa dan tersenyum lebar karena tanganku bisa lebih putih tanpa aku harus berbuat apapun. Dengan cepat, dia melihat kedua tanganku. Dia tidak berkata apapun dan melihat ke kaki, leher, wajah dan membuka bajuku. Aku tidak tau kenapa dia tidak senang saat anaknya bisa lebih putih, aku melihat ekspresi kecemasan di wajahnya.
            “Ma, kok diem aja sih?”
            “Besok kita ke dokter ya, nak. Mama kangen sama dokter Vin.” Katanya sambil memakaikan kembali bajuku. Dia pergi ke ruang kerja ayah dan menelepon dokter Vin, “Dok, besok saya ke sana ya. Ada yang ingin saya tanyakan.” Dia terdiam sesaat dan berkata, “baik, sampai bertemu besok. Terima kasih.”

            “Selamat pagi, cantik apa kabarmu?” Dokter Vin selalu mengucapkan kalimat yang sama setiap kali aku ke tempat praktiknya “om, boleh liat tanganmu? Katanya sekarang kamu memutih ya?” Mulutku terlalu penuh dengan permen untuk bisa menjawabnya. Tanpa menunggu dia langsung melakukan memeriksa seluruh tubuhku sama seperti yang mama lakukan.

            “Anak cantik, suster Bya mau kasih hadiah untukmu, kamu boleh pilih sendiri hadiah yang kamu mau.” Suster Bya sudah ada di sampingku dan mengajakku pergi.
Beberapa minggu setelah kunjungan ke dokter Vin, perlahan  kaki, leher, dan wajahku dihiasi dengan bercak itu. Sejak saat itu, aku menyadari bahwa ada yang salah dengan bercak ini. Aku mulai merasa tidak normal.             Beberapa kali aku mencoba bertanya pada mama, tapi  tak pernah mendapat jawaban. Aku harus mencari jawaban sendiri. Aku harus tau apa yang terjadi denganku.
Aku pergi ke kamar dan menyalakan komputer mencari informasi di Google. Kuketik kata kunci ‘bercak putih pada tubuh’. Kumembuka link teratas. Vitiligo itulah nama penyakit yang kumiliki. Mengetahui kenyataan bahwa Vitiligo tidak dapat disembuhkan membuat hatiku hancur. Aku harus hidup dengan vitiligo semumur hidupku!
“Ce, makan yuk.” Aku mendengar suara mama memanggil namaku dari lantai bawah. Berulang kali dia memanggil namaku. Aku tidak ingin makan, aku hanya ingin… “Ce, dari tadi mama panggil kok gak nyahut sih?” Kubenamkan seluruh tubuhku dengan selimut dan menutup wajahku dengan bantal. “nak, kamu kenapa?” Aku tau jika aku tidak segera menjawab, dia akan semakin khawatir.
“Aku udah tau kalau bercak putih yang kumiliki ini gak normal, ma. Ini vitiligo. Aku tau.”
Tanpa menitikkan air mata setetes pun, mama mencium keningku dan memelukku erat, “Kamu tetap cantik, nak. Sampai kapanpun kamu akan selalu cantik.” Aku bersyukur dia tidak menangis karena aku yakin jika dia seperti itu, aku pasti akan semakin sedih. “tuh kan perut kamu udah bunyi tuh, ayo kita makan. Mau mama gendong?” Aku menolaknya dan memilih berjalan bersama sambil merangkul manja padanya.
            Dua bulan pertama saat aku memiliki keunikan itu, aku tidak berani becermin. Keluarganya pun menyembunyikan cermin yang ada di rumah untuk menjaga perasaan. Memang butuh waktu yang lama bagiku untuk menerima kenyataan. Lama-kelamaan, aku mulai berani becermin karena dukungan keluarga.
            Muse Aphrodite Sophia adalah salah satu ciptaan-Nya yang sangat unik. Bercak vitiligo tidak melunturkan keindahan lahiriah yang telah  kumiliki. Tubuhnya yang memiliki tinggi 180 cm membuat banyak orang menyarankanku untuk menjadi seorang model.
            Di saat aku mulai menerima keunikan warna kulitku, keunikan lainnya pun muncul. Aku menyadari ukuran dadaku lebih kecil daripada perempuan lain. Hal itu pula yang membuatku memotong pendek rambut hitam. Wajah yang mulus tanpa jerawat, pipi yang tirus membuat tulang pipiku menonjol, rambutnya yang dipotong pendek, dan dada yang tidak besar membuatnya sekilas terlihat seperti seorang laki-laki. Maka lengkaplah sudah paket keunikan yang kumiliki.
 Aku tidak secantik Aphrodite, tapi aku harus bisa menerimanya.
            Setelah selesai berolahraga di taman, aku duduk di sebuah kursi panjang berwarna hijau yang ada di hadapan sebuah kolam untuk membaca buku diiringi dengan alunan musik band kesukaannya, The Script. Tiba-tiba seorang pria berpakaian rapi dengan mengenakan setelan jas lini busana Ralph Lauren. Sangat terlihat jelas kalau pria ini adalah orang yang berkedudukan tinggi di perusahannya.
            “Kamu mau jadi model?” Pria berkacamata bingkai kotak warna putih itu langsung bertanya tanpa basa-basi sambil menyodorkan kartu namanya.
            “Saya? Model?” Aku yang terkejut bahkan terlalu sibuk untuk memerhatikan kartu nama yang diberikan.
            “Kenapa enggak?”
            “Tapi … “ Aku melihat sekujur tubuh dan memperlihatkannya pada pria itu. Berusaha mengatakan bahwa diriku memiliki beberapa bercak putih yang sampai kapan pun akan menjadi bagian diriku.
            Si pria hanya tersenyum sambil berkata, “Justru karena itu saya menawarkan kamu untuk jadi model. Kamu punya semua hal yang dibutuhkan, kamu punya keunikan.” Berbeda dengan dugaanku, pria ini tidak menganggapku aneh.
            “Tapi ..” Lagi-lagi aku hanya mampu mengucapkan kata yang sama. Kali ini sambil mengelus dada.
            “Jangan pikirkan itu. Kamu tahu Elliot Sailor?”
            Aku menggelengkan kepala walaupun entah sepertinya nama itu tidak asing di telinga.
            “Baiklah, kamu silakan pikirkan tawaran saya dan cobalah cari tahu siapa dia. Silakan hubungi saya kalau kamu berubah pikiran.” Pria itu tersenyum sambil memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi dan  terawat. Dia pergi menjauh meninggalkan Uce dalam kebimbangan.
            Dapatkah aku menjadi model dengan semua kekuranganku? Atau mungkin pria tadi hanya becanda dan memiliki niat tidak baik? Uce menyadari bahwa sebuah keputusan besar harus dia ambil. Sebuah keputusan yang mungkin akan mengubah nasibnya.
            Dalam perjalanannya menuju rumah, aku mulai berpikir panjang. Aku tahu tidak semua orang mendapat tawaran menjadi seorang model. Kukeluarkan kartu nama yang diberikan pria asing itu yang belum sempat  kuperhatikan dengan saksama. Sebuah kartu nama berwarna biru kini ada di jemari.
Irwan Dirgantara
L Model Agency
Sky Building 5th floor
Ph: 555 5555 Hp: 08888 8888
            
Tanganku bergetar saat membaca nama agensi model yang tertera di kartu itu. Sebuah agensi model paling ternama di negeri ini menawarkannya untuk menjadi bagian dari mereka.   Aku terus mengamati. Benarkah seseorang berdada kecil dan memiliki vitiligo sepertiku bisa jadi model? Pertanyaan yang sama kembali hadir. Aku berpikir sambil duduk bersedekap di ruang kerja ayahnya ditemani dengan kehangatan secangkir teh putih. Sesekali dia menyesap minuman berkhasiat itu dan berselancar dalam dunia maya untuk menyegarkan kembali ingatannya tentang Elliot Sailor.

            Membaca perjalanan hidup Elliot Sailor[*], aku tahu kalau ada seorang model perempuan yang ternama memiliki keunikan yang sama sepertiku walaupun Elliot tidak memiliki vitiligo. Namun, itu sudah cukup untuk meyakinkannya untuk mengambil keputusan yang tepat.



[*] seorang model wanita yang awalnya memeragakan pakaian wanita, tapi kariernya tidak sukses hingga akhirnya Elliot memutuskan untuk meotong pendek rambutnya dan menjadi model androgini walaupun dengan pengorbanan dia harus menutup dadanya agar terlihat rata. Kariernya justru sukses saat dia menjadi model androgini dan memeragakan pakaian pria.

             Seminggu kemudian, Mas Irwan terdengar sangat senang saat mendengar suaraku. Sejak saat itulah aku resmi menjadi menjadi salah satu anggota agensi model ini. Ternyata insting Mas Irwan tidak salah untuk menjadikanku sebagai anak didik. Aku memiliki semua hal yang tidak dimiliki model lain: bercak putih dan dadanya yang tidak besar justru menjadi nilai jual tersendiri. Berbagai pagelaran busana dari merk lini busana karya desainer ternama kerap kuikuti. Model androgini[*]pertama adalah predikat yang diberikan padaku.


[*] Androgini adalah seseorang  yang dapat memadukan  sifat feminin dan maskulin di dalam dirinya. 


Kini, sepuluh tahun sudah aku berjalan di catwalk. Karier sebagai model sukses telah kudapat. Namun, kaya dan terkenal bukanlah jaminan bagi seseorang untuk mendapat jodoh. Aku masih belum bisa bertemu pujaan hati. Mana ada pria yang jatuh cinta sama wanita aneh sepertiku? Ah, sudahlah. Percuma bersedih. Jodoh tidak akan datang jika kamu menangis. Dia pasti akan datang di saat yang tepat menurut Sang Maha Sempurna.
            Sambil menunggu giliran mendapat riasan wajah,  kumemasang headset sambil bernyanyi,
Well, I’ve seen you in jeans  with no make up
And I’ve stood here in awe as your date for the prom
I’m blessed  as a man to have you in white
But I’ve never seen anything quite like you tonight
Alunan musik yang indah, lirik yang romantis, dan suara khas Danny  O’ Donoghue di lagu Never Seen Anything Quite Like You inilah yang selalu berhasil membuatnya tersenyum. Lagu ini adalah lagu kesukaanku, lagu yang akan membuat hati setiap wanita luluh. Baginya lagu ini adalah penggambaran yang tepat tentang ketulusan perasaan cinta seorang pria pada wanita yang dia cintai. Bahkan di saat terburuk bagi wanita (tanpa menggunakan make up) si pria tetap mencintainya. Suatu hal yang hingga kini masih jadi khayalan bagiku.
             Pemotretan kali ini membuatnya berdebar-debar. Saat tahu kalau sang fotografer, Fugu Kusuma adalah fotografer untuk pemotretannya hari ini. Fugu bukanlah orang baru dalam kehidupannya. Dia  adalah cinta pertamanya. Setelah selesai dirias dan berganti baju. Kini tiba saatnya pemotretan. Ketika melangkah menuju set, kumelihat sosok pria yang selama ini selalu ada dalam hatinya. Mungkinkah dia masih mengenaliku? Walaupun hatinya berdetak kencang, dia tetap harus menjaga profesionalitas dalam bekerja. Bagaimanapun urusan pribadi tidak boleh mengganggu pekerjaan. Interaksi antara mereka berdua pun hanya berkaitan dengan pekerjaan.
          “Okay, kerja yang bagus teman-teman.” Kata-kata Fu menutup sesi pemotretan hari itu.
          Setelah bersalaman, Fu dan kru disibukkan dengan berbagai peralatan yang harus dibereskan. Mengetahui tidak mungkin berinteraksi lebih lanjut dengannya, aku kembali ke ruangan untuk membersihkan riasan wajah. Tiba-tiba Fu yang mengenakan kemeja berwarna abu-abu, celana jins, dan  sepatu kets yang berwarna senada dengan kemejanya duduk di samping Uce.
          “Apa kabar?”
          Aku menengok kanan dan kiri , “Kamu ngomong sama aku?”
          “Kan cuma kita berdua di sini. Kamu Uce kan? Kita kan di SMA yang sama.”
          “I..iya sih, tapi kita gak pernah sekelas.” Uce tidak dapat menyembunyikan rasa gugupnya. Saat becermin, dia bisa melihat pipinya memerah. Efek kupu-kupu[*]yang sudah lama tidak dia rasakan, kini hadir saat melihat wajah Fu.
            “But, I know you. Eh, selamat yah kamu sekarang udah jadi model terkenal. Kamu juga semakin cantik.”
            Jangankan kalimat pujian, sepatah kata yang meluncur dari bibirnya bahkan bisa membuatnya terbang ke langit ketujuh. Baginya, hanya Fu satu-satunya pria yang memberikan pujian, tidak menjauhinya, dan selalu menganggapnya istimewa.
            “Kamu juga, selamat yah. Kamu udah jadi fotografer terkenal. Kamu hebat!”


[*] Efek kupu-kupu adalah fenomena menggelitik yang bergejolak dalam perut saat bertemu atau melihat seseorang yang kita sukai. Merupakan gabungan 12 area otak yang bekerja lebih aktif dan saling bersinergi, sebagai reaksi ketika melihat, mendengar atau menyentuh orang yang kita sukai. Proses kimiawi inilah yang menghasilkan rasa menyetrum, menggelitik, atau menyengat pada perut.



Aku baru magang aja kok di sini. Kamu ada acara lagi gak hari ini?”
            “Sepertinya gak ada.”
            “Makan malam bareng yuk. Aku belum sempat makan dari tadi siang nih.” Fugu mengelus-elus perutnya yang rata.
            “Baiklah, tapi tunggu aku bersihin muka ya.”
            Sejak dulu, aku merasa percaya diri meskipun tanpa memakai riasan wajah jika bersama Fu. Saat bergerak menuju mobil, pria itu tidak pernah melepaskan genggaman tangannya yang hangat dari tangan Uce.
            “Kamu masih suka The Script, Ce?”
            “Kok kamu masih inget?”
            “Kan gara-gara kamu, aku juga jadi suka mereka. Nih, liat aku sampe beli CD album terbaru mereka, ‘No Sound Without Silence’. ” Kata Fugu sambil memamerkan  CD The Script yang dimaksud.
            “Beneran?”
            Fugu menganggukkan kepala dengan penuh keyakinan.
Sebulan telah berlalu sejak makan malam yang terakhir. Sebulan yang sangat dinanti-nantikan Uce akhirnya tiba. Fugu menunggu di ruang tamu. Beda dengan biasanya, kali ini Uce mengenakan riasan wajah walaupun tetap terkesan natural.
            Fu membawa Uce ke tempat yang pernah mereka datangi saat masih sekolah. Tempat yang mengembalikan kembali semua kenangan yang pernah tercipta.
            “Kamu cantik sekali malam ini.”
            “Terima kasih, Fu. Kamu juga selalu terlihat menawan seperti biasanya.”
            “Aku mau kasih kamu sesuatu.”Dia beranjak dari kursi lalu berlutut di hadapan Uce sambil mengeluarkan sebuah kotak merah. “Ini sesuatu yang seharusnya sudah lama kulakukan. Sesuatu yang seharusnya sudah lama kuberikan.”
            Fu, gak mungkin.  Dia pasti becanda!
            “Ce, maukah kamu menjadi wanita pertama yang aku lihat setiap hari? Menjadi orang yang terakhir dalam perjalanan cintaku?”
            “Tapi, Fu. Lihatlah aku. Lihatlah semua keanehan yang kumiliki ini.” Uce mulai menitikkan air mata.
            “Kamu itu seperti kupu-kupu, Ce. Mereka tidak pernah menyadari mereka begitu indah. Hanya orang lainlah yang dapat melihat keindahannya. Kamu mungkin tidak sadar betapa cantiknya dirimu karena kamu tidak melihatku. Aku cinta kamu, Ce. “
            Fu tetap berlutut saat kumemikirkan jawaban yang akan diberikan. Fu tidak peduli saat semua pengunjung restoran melihat ke arahnya.
            Kuanggukkan kepalan. Aku yakin Fu adalah pria terbaik.
            Fu segera memakaikan cincin berlian yang dihiasi zamrud di tengahnya di jari manis Uce. Dia tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Seseorang yang menjadi cinta pertamanya telah melamarnya. Tuhan, terima kasih untuk kejutan yang luar biasa ini, Tuhan.
            Ternyata kejutan tidak hanya berhenti begitu saja. Fu juga memberikan sebuah buket bunga aster berukuran besar dan sebuah bingkisan misterius. Uce membuka bingkisan itu.
            “I..ini hadiah yang paling berharga. Terima kasih, Fu.”
            Sebuah toples putih dengan tinggi 60 cm ini menjadi hadiah yang sangat berarti bagi Uce. Toples yang di dalamnya dipenuhi dengan kertas-kertas berwarna kuning, biru, dan merah muda. Di bagian dinding, Fu memberi sebuah label bertuliskan,
Cara penggunaan: ‘Toples 365’ ini berisi 365 tulisan tangan yang ditulis dalam kertas dengan tiga warna berbeda. Setiap warna mewakili tiga kelompok yang ada: Warna kuning adalah kenangan kita berdua, warna biru adalah kutipan dan lirik lagu, warna merah muda adalah alasan aku mencintaimu. Setiap hari, pilihlah satu kertas dan bacalah. Ini akan jadi penyemangatmu sepanjang hari.
            Uce mengambil salah satu kertas sambi menutup mata. Kertas berwarna biru adalah kertas pertama yang dia ambil. Tulisan tangan Fu begitu rapi dan indah,
You don’t love a girl because she’s beautiful but she is beautiful because you love her

Sibi terbangun karena alarm di kamarnya berbunyi. Pertanda sudah jam 3 pagi. Terdengar suara ketukan di pintu, “Nak, ayo kita solat.” Dengan setengah sadar Sibi membuka pintu kamarnya. “Kamu baru bangun? Pasti abis baca Bukan Aphrodite lagi.” Ibu selalu tau kalau itu adalah bacaan wajib sebelum dia tidur.
            Setelah berwudhu, Sibi becermin dan melihat seorang perempuan di sana. Seorang perempuan yang diselimuti dengan bercak putih, Aku camtik!

324 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini