Posted on

ABU-ABU

Oleh : Widya Puspitasari
Malam semakin pekat, berbanding terbalik dengan mataku yang tak kunjung terlelap. Entah sudah berapa kali aku membalikkan badanku hanya untuk mengikuti pikiranku yang tiap detik semakin absurd dengan dunianya. Sesekali aku hanya mampu menghela napas dan mengeluh lirih sebagai reaksi rasa lelahku.
Apakah ada seseorang yang pemikirannya sama sepertiku?! Aku harap masih ada walaupun hanya segelintir, setidaknya bukan hanya diriku yang aneh sendiri di tengah kebebasan orang-orang yang mulai tidak bertanggung jawab dan menganggap kebebasan adalah melakukan apapun semau hati, tanpa berpikir konsekuensinya nanti.
Mereka yang bertolak belakang dengan pemikiranku, menganggapku terlalu membatasi diri, padahal aku tidak pernah merasa demikian. Ini soal prinsip, dan prinsip tidak pernah berbicara tentang bebas atau terkekang. Prinsip soal fundamental yang dijadikan pedoman, dan tidak ada unsur keterpaksaan di dalamnya, bagaimana bisa terkekang?
Pada titik ini, aku mulai merasa bahwa hidup ini semakin lama semakin terlihat abu-abu. Di usiaku yang mendekati seperempat abad, aku merasa kebenaran yang putih mulai kehilangan kesuciannya, dan kesalahan yang hitam mulai memudar kepekatannya. Semua terlihat samar, kehilangan keasliannya, entah putih yang mulai lelah dengan pedomannya, atau hitam yang mulai lupa dengan warna aslinya.
Pikiranku kembali terngiang oleh perkataan Sheila tadi siang. Ucapan Sheila seperti tayangan layar lebar yang  dipertontonkan dan diperdengarkan berulang-ulang sampai membuatku bosan, tapi aku tidak sanggup menghentikannya.
“Lo memang teman Gue yang paling polos!” ujar Sheila waktu itu, setelah mendengar curhatanku tentang Ronald, kekasihku, yang mungkin akan menjadi mantanku. Sheila orang kesekian yang mengatakan aku terlalu polos dan aku tidak bisa membantahnya.
Bagi sebagian orang, prinsipku terlalu kaku, bahkan sebagian orang lagi menganggapnya primitif. Aku bukannya marah, justru merasa lucu, membuatku tersenyum kecut dan bergeleng sendiri dengan kesimpulan mereka.
“Bi, dalam pacaran wajarlah ciuman, itu bukti sayang kali!” Sheila mempertegas.
“Baru juga ciuman ini, nggak sampai sex, come on! Jangan primitif!” lanjut Sheila. Tuh kan, muncul kembali kata ‘primitif’.
Prinsipku dalam pacaran yang tidak mengenal kata ciuman, atau hal apapun yang mengarah ke sex, jelas bertolak belakang dengan pemikiran Sheila yang liberal. Bagiku pacaran itu mengenal pribadi, mengenal karakter, menyatukan jiwa pada satu tujuan bukan mengenal bentuk tubuh, memangnya pelajaran biologi berujung otopsi? tapi bagi Sheila ciuman itu wajar selama tahu batas, padahal ciuman berpotensi hubungan menjadi bablas.
Aku tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan diriku sendiri, dan aku yakin selama hubungan itu tulus, pasti tidak akan sejauh itu pikirannya, meskipun aku belum menemukan sosok lelaki yang pikirannya sebersih yang aku harapkan, tapi aku yakin pasti ada. Aku juga yakin, masih ada pasangan yang menjunjung tinggi kesucian, dan kehormatan, walaupun sudah jarang. Hubunganku dengan Ronald contohnya, selama ini kami bersih-bersih saja, kami tidak ada yang melanggar batas norma.
Meskipun ternyata ujungnya tidak seperti yang kuharapkan, Ronald kalah, dia bermain dengan wanita lain, dan sebagian orang bukannya membelaku, tapi menyalahkanku, karena prinsipku yang menurut mereka terlalu kaku dan menyebabkan Ronald bertindak demikian.
Semenjak hubungan pertamaku berakhir dengan seorang yang ku labeli “cinta pertamaku” aku sangat hati-hati memulai hubungan lagi, bahkan pernah merasa takut. Apalagi akhir dari hubungan kami waktu itu bukan kisah yang indah untuk diceritakan. Cinta pertamaku itu meninggalkanku juga karena prinsipku. Katanya, aku terlalu dingin, tidak agresif, dan tidak asyik. Betapa sakitnya waktu itu, dia lebih memilih orang lain yang bisa dipeluknya sesuka hati, dan dicium pipi dan bibirnya dengan gemas. Bahkan dengan bangganya dia selalu memamerkan kemesraan itu di depanku.
Kadang lucu jika ingat waktu itu, karena aku telah menyia-nyiakan hati dan air mataku untuk seseorang yang tidak pantas aku tangisi bahkan aku pikirkan. Tapi akhirnya aku sadar, kisah itu adalah bagian dari perjalanan cinta yang membuatku yakin untuk terus memegang prinsipku. Setidaknya aku telah menang mempertahankan pedomanku meskipun merobek hatiku sendiri.
Itulah kenapa semenjak peristiwa itu, aku benar-benar pemilih soal pasangan, aku tidak ingin membuang waktu dengan orang yang salah, yang hanya memandang hubungan sebatas kesenangan dan mengikuti hasrat, padahal di dalamnya ada hati yang dipertaruhkan.
Tidak ada hubungan yang menjanjikan everlasting, walaupun semua harapan menginginkan demikian. Semua orang tentunya mendambakan hubungan yang happy ending, tapi tidak semua ending berujung happy. Apalagi cinta lelaki itu pendek dan berkali-kali, kita para wanita harus pandai-pandai menyikapi.
Alur lelaki mendekati seorang wanita selalu bisa ditebak. Pada awalnya mereka gencar seperti pemburu, berapi-api, tapi setelah mendapatkan, mereka akan ada dalam tahap diam dan tenang, merasa aman, dan ketika hubungan tidak lagi memberi tantangan, jiwa pemburunya seolah bangun dari mati suri, haus mencari sosok lain yang membuatnya tertantang. Hanya komitmen yang mampu mengendalikan mereka, tentu dibungkus pola pikir, kadar kedewasaan dan keimanan masing-masing. Jadi kesimpulanku, ada dua jenis lelaki, mereka yang memilih berburu tiada henti, atau mereka yang memilih berkomitmen pada satu hati.
Mereka yang memilih terus berburu, bukan berarti player, mereka hanya belum menemukan saja yang benar-benar membuat hidupnya berarti, sedangkan mereka yang memilih bertahan pada satu wanita, padahal terbuka luas untuk mencari wanita lain yang lebih dari pasangannya,  atau minimal sedikit bermain-main, adalah lelaki yang telah menemukan dan berani berkomitmen. Satu kata “Salut”
Ah, pikiranku kembali melayang-layang berkelana memikirkan satu topik lalu loncat ke topik lain, dasar kebiasaan! Aku mengusap rambutku sendiri.
Aku memilih beranjak dan duduk di kasur empukku lalu mengusap wajahku. Malam ini, aku masih tidak bisa tidur, dan aku lelah memaksanya, ada sebuah dilema yang membuat semuanya masih terlihat abu-abu, antara memutuskan untuk menghentikan hubunganku dengan Ronald, atau melanjutkan dengan syarat, sedikit melanggar prinsipku. Harusnya lebih mudah bagiku untuk berkata tidak! Sayangnya, perasaan cintaku ke Ronald, membuatku gamang mengambil langkah tegas. Aku masih ingin bersamanya, tapi prinsipku dengan keras menolaknya. Mungkin bagi wanita lain memberikan satu ciuman tidak masalah, tapi aku tidak ingin melakukannya. Aku ingin ciuman pertamaku sudah ada dalam restuNya, bukan mencuri waktu yang belum ditentukan olehNya.
Ronald yang aku pikir pelabuhan terakhirku, nyatanya membuatku meragukannya. Mungkin dia mulai bosan dengan hubungan kami yang sekian lama berjalan tanpa ada sebuah kepastian ingin dibawah kemana. Berbagai macam perbedaan yang aku pikir bisa terlewati ternyata melelahkan juga. Bisa jadi ini salah satu alasan, dia mulai bermain-main dengan wanita lain. Sampai-sampai pikiranku tidak memandang hal itu sebagai perselingkuhan, tapi sebuah pilihan yang dilakukan oleh Ronald.
Selama ini, Ronald selalu memegang kepercayaanku, dan mungkin kali ini dia khilaf, dia lelah. Padahal, aku memberinya kebebasan, aku tidak akan pernah membatasi dia harus berhubungan dengan siapapun, aku tidak akan stalking ponselnya, media sosialnya, dan apapun itu. Kami belum menikah, kami masih sepasang kekasih, dan aku akan tetap menghargai masing-masing privasi.
Selama berhubungan dengannya, aku selalu berpikir Ronald sudah dewasa,  dia bisa bertanggung jawab, tidak perlu dikekang atau dilarang ini itu,  karena aku sendiri juga tidak suka dikekang-kekang untuk hal-hal yang kurang masuk akal. Bahkan, aku pernah mengijinkannya berjalan dengan mantan kekasihnya, walaupun hatiku sendiri sedikit was-was, karena aku tahu mantannya masih sangat mencintainya, tapi karena aku terlalu percaya kepadanya, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa dia tidak akan serendah itu mengkhianatiku.
Hal itulah yang membuat kami nyaris tidak pernah bertengkar soal rasa cemburu. Perbedaan pendapat kami hanya soal kebiasaan, dan gaya hidup, hanya itu. Selebihnya tidak menjadi masalah. Kami adalah pasangan yang memberikan kebebasan kepada pasangannya asal tahu batas.
Tapi sayangnya di tahun keempat, ujian cinta kami ada pada ujian yang tidak bisa kami atasi. Ronald berubah, kami sering beradu argumen, dan untuk pertama kalinya aku merasa kebebasan yang aku berikan dimanfaatkan olehnya, dia tidak lagi menghargaiku sebagai kekasihnya. Sampai pada titik aku meminta, hubungan kami berhenti sejenak! Aku berharap di masa break itu, kami bisa saling mempertimbangkan dan akhirnya memutuskan apa yang terbaik.
Sayangnya, masa-masa break kami, justru semakin membuatku merasa tidak lagi mengenal sosok Raymond. Dia berubah, atau mungkin inilah wujud aslinya Raymond, mungkin benar kata orang, break adalah putus yang tertunda, dan aku mengalaminya.
Setelah kurenungkan, ada banyak perbedaan yang sulit kami satukan. Semakin lama, aku semakin menyadari, ada tembok tinggi yang menghalangi kami untuk bersama. Harusnya aku menyadari itu di awal hubungan kami, tapi sayangnya aku terlalu terbuai hasrat yang dibungkus perasaan dan dengan sok mampunya merasa semua pasti bisa terlewati. Kenyataannya, bertahun-tahun terlewat, tembok yang menjadi penghalang kami semakin tinggi, dan pilihannya hanya dua, bertahan dalam ketidak pastian, atau mengalah pada keadaan. Cinta harus realistis bukan? Waktu terus berjalan, jika sudah tahu tidak akan ada jalan, buat apa diteruskan?
Aku mengeluh sendiri, kenapa aku harus gagal lagi, padahal aku menginginkan hubungan kami ini adalah akhir, tapi ternyata ini belum berakhir, aku masih harus mencari lagi dalam ketidakpastian yang pasti.
Mau tidak mau, ini adalah bagian dari perjalanan yang harus kulewati menjadi sebuah pelajaran yang berharga. Kadang, aku iri dengan mereka yang mampu menjalani hubungan bertahun-tahun, dan akhirnya memutuskan berkomitmen bersama di hadapan Tuhan. Ya …, mungkin memang anugerah itu belum menghampiriku.
Jika mengingat masa 4 tahun silam, awal-awal aku memilih Ronald, ada setitik sesal yang terselip. Ronald adalah lelaki yang akhirnya mampu membuka pintu hatiku yang sebelumnya telah tertutup rapat sekian lama. Dia lelaki yang berbeda, itulah kenapa hatiku memilihnya. Tidak banyak basa-basi, tidak suka obral janji, tidak banyak omong, dan saat itu terlihat sekali dia sangat menghargai wanita. Bersamanya ada banyak hal yang aku pelajari, kadang kami saling bertukar pendapat, kadang kami asyik berdiskusi. Dia sosok cerdas yang membuatku tidak merasa digurui olehnya, ada beberapa nasehatnya yang secara tidak sadar aku terapkan. Hubungan kami berjalan sebagaimana mestinya, meskipun mereka yang melihatnya seolah membosankan, tapi bagiku cukup menyenangkan. Kami punya waktu quality time sendiri, yang terjadwal dengan sendirinya.
Pagi hari kalau tidak sempat video callatau telepon, Ronald akan mengirimiku sebuah pesan singkat yang bagi sebagian orang terasa kaku, tapi bagiku itu adalah wujud dari perhatiannya yang tidak berlebihan. Aku memang tidak terlalu suka jika begitu diperhatikan, terlalu dimanja sebegitunya, walaupun saat rasa rindu menyeruak, terkadang ada saat dimana aku ingin selalu bersamanya, tapi kadarnya tidak berlebihan. Kami dua orang yang sama-sama sibuk. Seminggu sekali, kami baru bisa bertatap muka, hari-hari selain itu, hanya bertemu di udara atau bertatap muka dengan bantuan media.
Hubungan kami berjalan natural, tanpa dibebani oleh tuntutan ini itu, semuanya berjalan apa adanya, sebagaimana hubungan dua orang dewasa yang mulai berpikir tentang masa depan. Berbeda sekali dengan hubunganku waktu ababil dulu, yang isinya ingin diberi, ingin dipenuhi keinginannya, saling menuntut, haus perhatian, haus kasih sayang. Ibarat dua gelas yang berisi setengah air, meminta air dari gelas lain yang juga berisi setengah, ujungnya saling menuntut, dan hasil akhirnya adalah saling meminta putus dengan alasan klasik tidak cocok, padahal tidak ada hubungan yang memang benar-benar cocok.
Sayangnya, hubungan yang aku kira sempurna ini, toh nyatanya harus diakhiri juga. Banyak orang akan menuduhku terlalu kaku, karena menganggap hubungan cinta kami ini kurang bumbu. Teman-teman dekatku berpendapat Ronald bermain dengan wanita lain karena aku tidak mampu memberinya wadah untuk menyampaikan hasratnya. Bahkan ada satu teman lelakiku yang sangat liberal berpendapat bahwa aku tidak akan pernah mendapatkan lelaki, jika prinsipku masih saja selurus ini. Love need Lust katanya. ‘Sex dalam pacaran itu penting, bagian dari pengenalan juga, dan bla bla bla.’ Dia menjelaskan panjang lebar, dan intinya tidak jauh berbeda dengan pendapat yang lain, pacaran itu wajar dibumbui hubungan sex.
Benarkah seperti itu? Jika aku sedikit saja mengikuti pemikiran mereka, prinsipku yang putih ini akan terlihat abu-abu ditengah banyak pendapat yang ku dengar. Aku terdiam cukup lama untuk memikirkannya sampai tanpa sadar aku tertidur dengan sendirinya.
Pagi ini, aku sudah menjadwalkan pertemuanku dengan Ronald. Sudah kuputuskan, aku akan mengakhiri hubungan kami. Meskipun semuanya semakin terlihat abu-abu, meskipun cinta dalam diriku masih begitu menggebu. Ada keputusan yang harus aku ambil untuk menentukan masa depanku. Aku tidak boleh menyesal, bagaimanapun juga Ronald adalah bagian dari perjalanan hidupku, dan aku harus berterima kasih kepadanya, karena selama ini dia sudah menjagaku dengan baik,  dan menghormatiku sebagai wanita. Keputusan ini juga aku ambil karena aku menghormatinya sebagai seorang lelaki, sex itu sesuatu yang suci, yang hanya akan aku lewati setelah mendapatkan restu sang Ilahi.
Namaku Abigail, hari ini aku telah mengambil sebuah keputusan, mengorbankan hubungan yang telah sekian lama kubangun dengan sebuah harapan, untuk terus memilih prinsip yang kupertahankan. Meskipun ujungnya menjadikanku rapuh, dan kembali membangun kepingan hati yang seolah runtuh, aku tidak ingin kesucian prinsipku menjadi abu-abu, dalam hasrat yang tidak menentu.  Jika banyak orang mengatakan “iya” bukan berarti aku juga harus mengatakan hal yang sama. Aku yakin suatu saat nanti, Tuhan akan mempertemukanku dengan seseorang yang mampu melihat putih dan hitam tanpa rasa gamang dan tidak lagi memberikan pilihan ragu yang terlihat abu-abu.

421 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini