Posted on

Because Cans My Brother Gone – Part 2

This post is part of the series Because Cans My Brother Gone

Other posts in this series:

  1. Because Cans My Brother Gone – Part 1
  2. Because Cans My Brother Gone – Part 2 (Current)
  3. Because Cans My Brother Gone – Part 3

Dengan langkah pelan, David mendekati adiknya dan kakek itu. Mereka tampak sedang bermain jungkat-jungkit.
“Sam?” panggilnya namun Sam sama sekali tidak menoleh.
“Sam?” panggilnya lagi dan tetap tidak dijawab. Tiba-tiba kakek itu turun dari jungkat-jungkit dan mendekati David.
“adikmu sudah senang disini. Untuk apa kau mengambilnya lagi?” tanya kakek itu.
Perkataan kakek itu benar bahkan adiknya sekarang sudah tertawa-tawa.
“Dia adikku, aku harus membawanya pulang,”
“Biarkan dia yang memilih, ikut kau atau ikut aku,”
Setelahnya mereka beralih menatap Sam yang sudah turun dari jungkat-jungkit. Tiba-tiba tangannya diangkat dan menunjuk kakek itu. Setelahnya David merasakan Ia ditarik oleh sesuatu dan terjatuh,
“aww” pekiknya dan terbangun dari mimpi. Ternyata David hanya mimpi buruk dan terjatuh dari tempat tidur.
David mencoba bangun dan melirik adiknya yang ternyata memang tidak ada diatas tempat tidur. Dengan terburu-buru David turun dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. David melihat bangunan tua didepannya dan Sam yang sedang membuka pintu bangunan tua itu. Apakah ini juga mimpi?. David mencubit pipinya dan sama sekali tidak terasa sakit. Artinya ini bukan mimpi.
Dengan cepat Ia berlari keluar dari rumahnya menuju bangunan tua itu. David membuka pagar dan kemudian kembali berlari menuju pintu utama. Dengan sangat takut, Ia membuka pintu itu. Pintu itu langsung tembus menuju halaman belakang yang terdapat sebuah gereja tua. Apa yang sebenarnya terjadi, pikir David.
Perlahan David berjalan menuju gereja tua tersebut. Ia dapat mendengar suara dentingan bandul jam yang berasal dari dalam gereja tua tersebut.
Kini Ia berada tepat didepan pintu gereja. Tangannya mulai terulur untuk membuka pintu gereja. Namun tiba-tiba kelelawar beterbangan yang membuat David langsung menarik tangannya kembali.
Setelah sunyi kembali, David kembali mengulurkan tangannya dan membuka pintu itu secara perlahan. Dari tempatnya sekarang Ia dapat melihat jam yang terletak tepat didepannya namun Ia dapat melihat dengan jelas kalau yang ada didalam jam itu bukan bandul melainkan sesuatu yang lain. dengan langkah pelan, David berjalan mendekati jam tersebut.
Keadaan gereja tua itu benar-benar sangat usang dengan debu-debu yang ada dimana-mana bahkan ketika David menginjakkan kakinya dilantai kayu maka akan berbunyi menandakan kayu-kayunya sudah lapuk.
Sambil berjalan mendekat menuju jam tersebut, David melihat kesekelilingnya. Gereja ini benar-benar gelap tanpa adanya lampu. Hanya sinar bulanlah yang masuk lewat ventilasi kecil, namun tidak cukup untuk menerangi bagian dalam gereja ini.
David semakin dekat dengan jam itu namun Ia masih tidak bisa apa yang tergantung didalam jam itu karena suasana yang sangat gelap. Tiba-tiba kakinya menendang sesuatu, dengan cepat Ia mengendalikan dirinya agar tidak berteriak ataupun lari. David mencoba menunduk dan mendapatkan senter. Ia pun berjongkok lalu mengambil senter itu.
Setelah dapat, David segera menghidupkan senter dan mengarahkannya ke jam itu. Ia dapat melihat dengan jelas kalau yang tergantung di jam itu adalah Sam.

420 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Continue reading this series: