Posted on

BANDUNG

Oleh : Suci Purnamayanti

 

Hari kamis, jum’at tanggal merah. Hari sabtu libur minggu libur. Aku ambil cuti di kantor ah…., sengaja kuambil karena aku ingin pergi dengan anak dan teman-temanku. Maunya si pergi kesalah satu rumah temanku di karawang, tapi hal itu kami gagalkan karena temanku yang di karawang akan pergi ke Yogyakarta. Akhirnya kami memutuskan akan pergi ke bandung.

Pada hari rabu malam temanku menginap, karena kami akan pergi pada pagi harinya di terminal depok. Kami berencana naik bus MGI. Kami membawa perbekalan secukupnya kami pun berangkat pukul 05.30 wib. Bercerita panjang lebar sampai akhirnya lupa…..perkenalkan namaku ani, nama anakku Anjani dan kedua temanku bernama Meymey dan Yuli. Sesampainya di terminal depok jam 6 pagi dan kami langsung naik bus mgi dan langsung berangkat. Kurang lebih 2 jam kami telah sampai di terminal luewipanjang. Sesampainya disana kami mencari penginapan. Dan akhirnya kami mendapatkannya di sebelah terminal leuwipanjang. Kami akhirnya beristirahat sebentar setelah itu kami berniat untuk pergi ke ciwideuy. Akhirnya kami langsung berangkat ke ciwideuy sekitar jam 1 siang. Kami hanya membawa perbekalan secukupnya dan bahkan kami tidak tahu harus naik apa dan ke arah mana. Kami hanya mengandalkan gps. Harus naik angkot apa dan turun dimana semuanya hanya mengandalkan gps temanku. Tetapi sampai di bawah gunung mau kearah ciwideuy kami bermasalah dengan supir angkot disana. Ya kalau boleh dibilang mereka memaksa kami untuk naik ke angkot mereka. Tapi karena harga yang mereka tawarkan bagi kami diluar logika, kami tidak mau. Akhirnya kami berjalan ke luar menuju arah jalan besar. Dan kemudian salah satu temanku Yuli menghubungi kakaknya untuk menjemput kami disana. Akhirnya sambil menunggu kakak Yuli, kami tetap diintai oleh supir angkot, bahkan mereka menunggu kami. Tidak lama kemudian kakak Yuli datang dan kami akhirnya di antarkan sampai ke terminal leuwipanjang. Akhirnya kami kembali ke penginapan lalu beristirahat, dan tidak jadi ke ciwideuy. Kami tiba tepat saat azan maghrib berkumandang. Setelah itu kami masuk ke penginapan. Anakku menangis kencangnya bukan main tepat saat aku dan anakku melewati kaca panjang menuju ke kamar mandi.’’mimi…..mimi…hu….hu…hu…., anakku menangis kencang sekali. Anjani kenapa dek?? Aku jadi bingung mendengar anakku menangis terus sedangkan dia belum bisa bicara. Teman-temanku pun kebingungan. Kami berusaha untuk mendiamkan anjani tapi dia tidak mau diam. Tapi ada yang aneh dengan pandangannya, anjani selalu melihat ke kaca. Akupun merasa ada sesuatu dengan kaca itu, akhirnya aku berinisiatif untuk menutup kaca tersebut dan anjani pun akhirnya diam. Sambil sesenggukan akhirnya anjani perlahan mulai diam dan akhirnya akupun mengajaknya untuk membersihkan diri dan beristirahat.

Keesokan harinya kami pergi ke dago pakar. Sama seperti kemarin kami membawa bekal dan hanya mengandalkan gps. Untuk menuju ke dago pakar kami dari terminal leuwi panjang naik bus. Setelah itu kami naik angkot ke terminal dago. Dari sana kami terus saja berjalan, karena dari terminal kami sudah berniat untuk jalan dan tidak berniat naik ojek. Anjani kugendong di belakang punggungku. Kami berjalan lewat belakang dago pakar. Kami melewati perumahan warga, dan sesampainya disana kami melewati jalan berbatu dan hutan pinus. Tanah disana subur dan terdapat 2500 jenis tanaman yang terdiri dari 40 familia dan 112 species, setidaknya itu penjelasan orang yang menjaga tiket tersebut. Luas taman hutan raya air H. djuanda sekitar 590 hektare yang membentang dari kawasan dago pakar sampai maribaya. Disini banyak tempat yang menarik seperti Monumen Ir. H. Juanda, Museum Ir. H. Juanda, Curug Dago, Batu Prasasti Kerajaan Thailand, Curug Lalay, Curug Omas, Taman Bermain, tempat out bond, Goa Jepang, Goa Belanda, Penangkaran Rusa, dan Tebing Keraton. Anda bisa mengetahuinya di karcis masuk dan papan informasi yang ada di gerbang masuk. Kami lalu berjalan masuk menuju air terjun maribaya. Dalam perjalanan tersebut di kanan kiri kami banyak pohon jadi suasana sekitar menjadi sejuk dan adem sekali. Sebelum sampai di air terjun maribaya kami melewati gua jepang dan gua belanda. Tapi bila ingin ke maribaya kami harus melewati gua belanda. kami berjalan memasuki gua tapi kami tidak meminjam senter. Kami hanya mengandalkan handphone. Setelah keluar dari gua belanda kami melanjutkan perjalanan naik ke atas menuju air terjun maribaya. Kebetulan pada malam harinya hujan jadi jalanannya agak becek. Kami terus berjalan sampai di tengah perjalanan ada longsor dan pohon besar menutupi jalanan yang kami lewati. Kalau motor tidak bisa lewat kecuali memaksa melewati tunggul pohon besar yang rubuh. Kami terus berjalan dan akhirnya kami hampir sampai di air terjun maribaya, kami melewati banyak kera. Sesampainya disana kami tidak bisa turun karena semua jalan ke air terjun ditutup dengan pagar berkawat. Jadi kami tidak bisa turun dan hanya menikmati air terjun dari atas saja. mungkin karena volume airnya yang cukup deras makanya diberi pagar pembatas. Tapi airnya terasa hangat., kami bisa merasakannnya karena airnya bercipratan.

Kami beristirahat disana sambil makan-makanan kecil. Tidak berapa lama kemudian kami pulang  dengan berjalan kaki lagi. Di tengah perjalanan setelah longsor itu kami menemukan jejak kaki kuda. Padahal kuda tidak bisa melewati tempat itu karena longsor. Agak janggal menurut kami.

Sesampainya mulut gua jam setengah empat sore. Kami langsung memasuki gua sesampainya di dalam gua sudah agak gelap. Kami menyalakan handphone posisinya saya berada di tengah mereka, pas di tengah gua kami mendengar ada suara rantai diseret. Padahal didalam gua itu tidak ada siapapun. Dan tidak ada rantai didalam gua tersebut. Kami mempercepat jalan kami karena dalam hati kami agak dag dig dug juga.. akhirnya kami sampai di luar kami pun bernafas lega. melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sampai terminal dago. Setelah itu kami naik bis dan angkot sampai ke penginapan. Malam harinya temanku memutuskan jalan pada malam hari untuk hunting foto. Aku dan anakku diam di penginapan dan beristirahat. Aku tetap terjaga sampai temanku pulang. Dan malam harinya aku bermimpi. Di tempat setelah gua belanda menuju puncak maribaya ada pasar dan orang orang disana berpakaian layaknya jaman dulu hanya kemben kain panjang lalu ada orang belanda ada para prajurit yang menaiki kuda. Aku ingin bertanya salah satu dari mereka tapi mereka hanya memandangku dengan muka yang sangat marah. Tiba-tiba ada sekelompok prajurit yang datang dan membunuh orang pribumi secara massal, akhirnya aku terbangun dengan keringat di sekujur tubuhku pukul empat pagi. Akhirnya aku membangunkan temanku daan aku lalu bercerita pada mereka. Dadaku masih berdebar sangat kencang.

Akhirnya aku tertidur lagi sebentar dan pada pukul 6 pagi kami akhirnya pulang. Dalam perjalanan pulang aku masih terus mengingat mimpi itu, itulah hal yang buruk dalam diriku, pada saat aku merasakan sesuatu yang ganjil, pada malam harinya pun aku langsung bermimpi. Entahlah kejadian yang tidak bisa kujawab dari kecil hingga saat ini. Mimpi itu masih teringat sampai sekarang dan tidak bisa kulupakan.

 

***

255 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini