Posted on

BAB 9

This post is part of the series EASYGOING COUPLE

Other posts in this series:

  1. BAB 7
  2. BAB 8
  3. BAB 9 (Current)
  4. BAB 10
  5. BAB 11

Riyu dan Yuki langsung pulang setelah membeli buku di toko buku tadi. Mereka berdua cukup malu menjadi pusat perhatian disana. Jelas saja, mereka berdua tengkar hanya karena berebut komik. Padahal mereka berdua sama-sama membawa uang cukup untuk membeli buku-buku itu.

Saat sudah di tepi jalan, mereka hendak menghentikan taxi. Kemudian ada taxi yang berhenti tepat di depan mereka. Tanpa berlama-lama Yuki membuka pintu belakang taxi dan masuk. Tapi belum sempat Riyu masuk, Yuki sudah menutup pintu itu dengan keras.

“Kau duduk di depan saja sama Pak Taxi,” ucap Yuki dengan santainya berbicara lewat jendela pintu mobil taxi.

“Apa-apaan sih?? Dasar bocah,” omel Riyu yang kesal dengan Yuki. Ia langsung membuka pintu taxi di kursi depan dan melemparkan tas belanja berisi buku yang tadi Ia bawa ke Yuki, “Jalan, Pak.”

“Sakiiitt…!!” Yuki menaruh tas belanjaan itu ke sampingnya dengan kasar dan mencondongkan badannya ke depan untuk memukul pundak Riyu dari belakang, “Hati-hati kalau naruh barang!!” omel Yuki dengan geram.

“Salah sendiri duduk di belakang sendiri seperti itu. Kau pikir kau itu nyonya besar??” celoteh Riyu yang kesal karena Ia merasa seperti pelayan dari Yuki.

“Pemikiranmu saja yang kekanakan. Aku hanya tidak mau duduk bersebelahan denganmu,” ucap Yuki yang memandang keluar jendela sambil cemberut.

“Sebenarnya siapa yang paling kekanakan disini?? Menurut Bapak siapa yang kekanakan??” tanya Riyu kepada Pak supir taxi yang dari tadi diam saja mendengar Yuki dan Riyu saling tengkar.

“Ehm… Anu, Mas, ini mau kemana yah?? Dari tadi belum ngasih alamat,” jawab sang Supir Taxi yang dibuat bingung oleh Yuki dan Riyu.

¨¨¨

“Owh… Kamu sudah pulang, Nak??” sambut Mama Riyu dengan ramahnya. Kemudian pandangan Mama Riyu menuju ke Yuki yang tadinya berada di belakang Riyu sekarang mulai nampak karena Riyu berjalan melewati Mamanya begitu saja, “Riyu, dia siapa??” teriak Mama Riyu sambil terus menatap Yuki, “Adek siapa?? Tersesat tidak tau rumah, yah??” tanya Mama Riyu dengan polosnya.

Mendengar pertanyaan dari Mama Riyu membuat hati Yuki sedikit tergetar, ‘Kenapa Mama dan anak sama saja??’ celoteh Yuki dalam hati. Walaupun Ia mengomel di dalam hatinya, tapi mulutnya tetap tersenyum menghormati Mama Riyu.

“Haha… Dia teman Riyu, Ma. Namanya Yuki. Kayak bocah, kan??” ejek Riyu dengan senangnya saat mendengar Mamanya memanggil Yuki dengan sebutan ‘Adik’ dan juga Yuki sampai Mamanya kira tersesat.

“Apa?? Riyu, kamu tidak sopan,” omel Mama Riyu yang merasa bersalah kepada Yuki, “Maaf, yah,             “Apa?? Riyu, kamu tidak sopan,” omel Mama Riyu yang merasa bersalah kepada Yuki, “Maaf, yah, Yuki. Tante kira kamu anak-anak sekolahan. Habisnya kamu imut sekali. Wajah kamu hemat banget gak boros umur. Coba saja Tante juga punya wajah kayak kamu,” celoteh Mama Riyu yang semakin menjadi dengan Yuki. Jelas saja, Riyu adalah anak tunggal dan dulunya Mama Riyu menginginkan seorang anak perempuan.

“Terima kasih, Tante,” jawab Yuki dengan malu-malu karena pujian Mama Riyu.

“Apaan sih, Ma?? Nanti dia besar kepala. Ayo ikut ke atas!!” ajak Riyu yang berjalan menaiki anak tangga di rumahnya. Rumah Riyu bisa dibilang cukup bagus. Walaupun tidak terlalu luas, tapi tatanan barang-barangnya sangat pasa sekali sehingga bisa membuat ruangan yang seharusnya tampak sempit jadi terlihat lebih luas.

“Yuki permisi dulu, Tante,” ucap Yuki dengan ramahnya melewati Mama Riyu dengan membungkukkan badannya.

Saat sudah dilantai 2, disana hanya ada 3 pintu yang sepertinya kamar Riyu, entah kamar siap dan kamar mandi. Di depan kamar Riyu ada ruang santai beserta TV yang cukup nyaman. Yuki hanya diam saja dan duduk diatas sofa di depan TV. Ia tidak tau mau melakukan apa. Sedangkan Riyu memasuki kamarnya untuk menaruh tasnya. Tidak mungkin Yuki mengikuti Riyu masuk ke kamarnnya.

“Apa lihat-lihat kamarku??” tanya Riyu yang sedikit terkejut karena saat Ia keluar dari kamar, Yuki tampak sedang memperhatikan kmarnya.

“Tidak,” elak Yuki yang langsung memalingkan kepalanya ke arah lain dan mengambil tas belanja berisi buku yang Ia beli tadi. Yuki mulai menyibukkan diri dengan buku-buku baru itu. Ia membuka plastik pembungkus buku tersebut. Setelah sudah terbuka, Yuki menciumi aroma buku baru yang keluar saat Yuki membuka halaman di buku itu.

“Sadar nggak kalau seperti itu, kau benar-benar seperti bocah??” goda Riyu tersenyum sambil melihat Yuki yang sedang mencium aroma buku baru yang keluar dari bukunya. Entah sejak kapan, Riyu mulai suka menggoda Yuki.

“Diamlah!!” jawab Yuki dengan jengkel. Yuki tidak menghiraukan Riyu yang berjalan mendekat menuju dirinya dan duduk di atas karpet dibawah Yuki.

“Anak-anak ini camilan dan minumannya. Kalian mau belajar kelompok?? Wah… Tumben sekali Riyu belajar kelompok sama temannya. Kamu pasti spesial yah Yuki??” celoteh Mama Riyu yang membuat pipi Yuki menjadi merah merona.

“Mama apaan sih?? Sudah, Riyu mau belajar,” ucap Riyu yang sedikit malu juga. Memang benar selama ini Riyu tidak pernah mengajak temannya ke rumah. Entah kenapa Ia bisa mengajak Yuki ke rumahnya dengan sangat mudah tanpa beban sedikitpun.

Mereka berdua membaca komik dengan serius dan sesekali Yuki menggambar adegan yang ada di dalam komik. Kemudian saat Riyu hendak minum dan gelas berada di tangannya, Yuki bersin dengan cukup keras sehingga membuat Riyu terkejut dan tanpa sengaja minuman yang tadinya Ia bawa jadi tumpah ke baju Yuki.

“Riyu…!!” teriak Yuki dengan geram.

“Maaf. Itu karena kau membuatku terkejut. Kau ganti baju saja pakai bajuku dulu daripada pakai baju lengket gitu,” ucap Riyu yang merasa bersalah karena menyiram Yuki dengan minumannya. Yuki hanya diam saja dan cemberut. Riyu masuk ke kamarnya untuk mengambilkannya baju ganti.

Yuki masih berusaha membersihkan bajunya denggan tissue. Tapi tetap saja gagal.

“Yuki, kau ganti pakai bajuku ini saja. Mungkin kebesaran, tapi lebih baik daripada…”

“Terima kasih,” potong Yuki yang mengambil baju di tangan Riyu dengan kasarnya. Tanpa memperdulikan Riyu, Yuki memasuki kamar mandi yang letaknya berada tepat di samping Riyu.

Riyu hanya duduk di tempat duduknya tadi dan membereskan bekas minuman yang tumpah tadi. Untung saja minumannya tidak tumpah ke gambaran Yuki ada bahan-bahannya. Yuki pasti akan sangat marah.

BRAAKK…

Yuki keluar dengan kaos biru tua yang cukup besar celana pendek sepaha yang tadi Ia pakaipun hampir tertutup oleh kaos Riyu yang cukup panjang saat dikenakan Yuki. Tapi penampilan Yuki saat ini membuatnya tampak sangat lucu dan juga imut. Apalagi Yuki mengikat rambutnya dengan asal seperti saat mereka berdua bertemu di taman. Tapi saat ini Yuki benar-benar tampak sangat imut dan menggemaskan.

Continue reading this series: