Posted on

BAB 8

This post is part of the series EASYGOING COUPLE

Other posts in this series:

  1. BAB 6
  2. BAB 7
  3. BAB 8 (Current)
  4. BAB 9
  5. BAB 10

“Arg… Aku menyerah. Aku bingung harus menggambarnya bagaimana. Pikiranku sangat berantakan,” celoteh Yuki yang merasa sangat jenuh dan juga bosan. Jelas saja selama hampir satu minggu Yuki dan Riyu mengerjakan project ini di perpus.

“Kau benar. Aku juga seperti mual melihat bahan yang hanya itu-itu saja. Kita seperti sudah melihat semua buku yang ada di perpus ini. Daripada buku materi, sepertinya lebih baik kita membaca komik saja sekalian,” Riyu tampak sangat berantakan saat ini. Kemeja yang Ia kenakan sebelumnya juga Ia lepas sehingga Ia sekarang hanya mengenakan kaos polos.

“Ide bagus. Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke toko buku??” ajak Yuki yang sedikit senang karena sudah lama Ia tidak jalan-jalan ke toko buku.

“Baiklah. Setelah itu kita lanjutkan ini di rumahku saja. Supaya kita bisa istirahat sedikit,” ucap Riyu yang rumahnya memang tidak terlalu jauh dari kampus.

“Oke. Tunggu apa lagi?? Ayo!!” Yuki langsung saja mengemasi buku-bukunya dan berdiri untuk bersiap-siap ke toko buku.

Yuki dan Riyu ke mall terdekat dengan taxi. Mereka berdua tidak pernah membawa kendaraan ke kampus sebelumnya karena jarak dari kampus ke rumah masing-masing cukup dekat. mungkin mereka membawa sepeda kayuh kalau memang sedang ingin sekalian berolahraga. Hubungan Riyu dan Yuki saat ini semakin lama semakin membaik.  Es batu yang ada di hati mereka berduapun semakin lama semakin meleleh.

¨¨¨

Mereka berjalan-jalan sambil menikmati udara di sore hari. Saat sampai di toko buku, Yuki langsung mencium aroma buku baru yang tercium dari toko tersebut.

“Aroma buku baru, yah??” tanya Riyu yang sedikit tersenyum melihat tingkah Yuki yang tengah mencium aroma toko buku ini. Yuki memang suka dengan aroma buku baru.

“Iya. Aku suka,” jawabnya sambil tersenyum senang.

“Aku juga suka aroma buku baru. Tapi aku tidak berlebihan sepertimu saat ini,” ucap Riyu dengan menyebalkannya sambil berjalan mendahului Yuki ke arah rak-rak buku.

‘Bagaimanapun juga dia tetap menyebalkan,’ celoteh Yuki dalam hati yang merasa kesal dengan Riyu. Tanpa pikir panjang Ia jalan-jalan untuk melihat-lihat buku. Yuki sangat senang sekali berlama-lama di toko buku seperti ini. Tidak ada kata bosan bagi Yuki untuk memilih-milih buku.

Ketika sedang memilih-milih buku, Yuki sedikit tertarik dengan buku yang letaknya agak tinggi. Ia tidak yakin bisa menggapai buku itu. Tapi Ia tidak putus asa, Ia berusaha mencoba mengangkat tangannya untuk meraih buku itu. Walaupun ternyata gagal dalam kesempatan pertama. Kemudian Ia mencoba lagi di kesempatan kedua sambil berjinjit dan mencoba meraih buku itu dengan sedikit lompatan kecil. Tiba-tiba ada sebuah tangan dari belakang Yuki yang meraih buku yang hendak Yuki ambil.

“Makanya jangan terlalu pendek jadi orang. Kalau begini susah sendiri kan??” ucap pemilik lengan yang menjuntai panjang mengambilkan buku yang Yuki maksud. Langsung saja Yuki memutar tubuhnya menghadap ke pemilik lengan itu yang ternyata adalah Riyu.

Yuki melirik Riyu dengan tatapan sedikit cemberut karena dibilang pendek, tapi jantung Yuki berdegub cukup kencang karena posisi mereka yang lumayan dekat.

“Apa lirik-lirik??” ucap Riyu dengan menyebalkannya. Kemudian Ia melihat buku yang tadi hendak Yuki ambil ‘Sherlock Holmes’ tertera judul di sampul buku yang dipegang Riyu, “Kau suka novel misteri juga?? Kau suka Sherlock Holmes??” tanya Riyu yang tampak sedikit tertarik dengan Yuki.

“Memangnya apa urusanmu??” ucap Yuki yang mengambil buku di tangan Riyu dengan kasarnya dan pergi meninggalkan Riyu dibelakangnya begitu saja. Ia sedikit kesal dengan tingkah Riyu yang menyebalkan.

“Biasa saja, kalau pendek yah pendek,” goda Riyu yang membungkukkan badannya sambil berjalan mendahului Yuki. Jujur saja hal itu membuat Yuki tersentak sekaligus berdebar-debar. Ia bisa merasakan nafas Riyu di telinganya.

‘Apa-apaan sih dia?? Semakin hari semakin menyebalkan,’ gumam Yuki yang semakin jengkel dengan tingkah Riyu. Ia juga jengkel dengan jantungnya yang mudah sekali berdegub kencang saat Riyu melakukan suatu hal.

Yuki mencoba menenangkan pikirannya dengan mencari buku yang berhubungan dengan projectnya. Ia mencari komik yang ceritanya tidak jauh beda dan sedikit mirip dengan komik yang hendak mereka buat. Karena letak rak komik yang rendah, membuat Yuki tampak lelah membungkuk dan Iapun berjongkok untuk melihat-lihat komik. Tidak lama kemudian kakinya merasa lelah menahan beban Yuki hingga akhirnya Yuki menyerah dan meletakkan seluruh beban tubuhnya ke lantai.

“Heh…!! Jangan membuatku malu dengan duduk disitu,” Riyu datang dan berjongkok di samping Yuki. Gerak-geriknya seperti tidak mau orang-orang tau kalau Riyu mengenal Yuki.

“Aku capek,” jawab Yuki yang cuek bebek dan masih melihat-lihat buku yang menurutnya jauh lebih menarik daripada celoteh Riyu yang merupakan omong kosong baginya.

“Apa?? Bukannya cewek paling suka kalau diajak jalan-jalan belanja sesuatu yang Ia suka??” Riyu tampak terkejut karena Yuki memang benar-benar berbeda dengan cewek yang biasa Riyu tau.

“Aku memang berbeda dengan cewek-cewek yang kau maksud. Sekarang coba lihat ini!! Ceritanya hampir sama dengan milik kita,” ucap Yuki yang tampak tidak peduli dan menyodorkan komik yang Ia maksud tadi.

“Aku juga menemukan komik yang juga hampir sama dengan cerita kita,” Riyu juga menyodorkan buku komik yang Ia maksud sehingga Yuki dan Riyu saling bertukar buku.

Yuki dan Riyu sama-sama berkonsentrasi melihat buku itu. Mereka sama sekali tak terusik dengan suara yang ada di sekitarnya, hingga akhirnya mereka menutup buku secara bersamaan, “Kita ambil buku ini,” ucap mereka secara bersamaan.

“Buku mana yang kau maksud??” tanya Riyu dengan penasaran dan sedikit curiga kalau mereka berbeda pendapat lagi.

“Tentu saja buku yang kau pilih. Ceritanya jauh lebih bagus yang ini daripada buku yang aku pilih tadi,” jelas Yuki dengan polosnya menunjuk-nunjuk buku yang ada di tangannya.

“Adik kecil yang manis. Kau terlalu capek untuk memberi pendapat. Kau pasti tidak teliti sekarang. Buku yang aku pilih jelas buku ini, yang ada di tanganku. Sedangkan buku yang ada di tanganmu belum cukup memuaskan untuk kita jadikan contoh project kita,” Riyu mulai sedikit kesal dengan Yuki yang menurutnya terlalu cepat mengambil keputusan dan keputusannya itu salah.

“Berhenti memanggilku seperti itu!!” Yuki langsung bangun dari duduknya diikuti juga Riyu yang ikut berdiri di depan Yuki, “Aku tidak salah pilih. Buku yang kau ambil ini benar-benar bisa membantuku dalam membuat komik. Katanya kita mau bekerja sama tapi kenapa kau tidak percaya padaku??” omel Yuki yang mulai terbakar emosinya gara-gara dipanggil adik kecil tadi.

“Ini bukan tentang percaya atau tidak percaya. Kau juga tidak percaya dengan pilihanku,kan??” tanya Riyu yang ikut emosi. Ia tidak terima diomeli seseorang yang badannya kecil seperti anak SD.

“Terus apa??!!” Yuki semakin menjadi. Emosinya benar-benar terbakar. Saat ini banyak orang yang memperhatikan mereka berdua. Hingga akhirnya datanglah pelayan tokoh yang ingin mencoba melerai mereka berdua.

“Maaf ada apa ini??” tanya si pelayan wanita di toko itu.

“Cowok ini keras kepala, Mbak. Masa dia lebih suka komik yang aku pilih. Padahal komik yang dia pilih lebih baik,” ucap Yuki yang mengadu ke pelayan toko.

“Dia memutar balikkan fakta, Mbak. Buku yang dia pilih yang jauh lebih baik,” balas Riyu tidak mau kalah.

“Maksudmu apa??”

“Maksudmu yang apa??” Yuki dan Riyu terus saja berdebat.

“Sudah, Mbak, Mas. Daripada kalian bertengkar seperti ini bagaimana kalau kalian beli keduanya?? Itu lebih baik kan?? Kalian bisa mengganggu pembeli lainnya jika ribut seperti itu disini,” jelas sang pelayan dengan sopannya.

Yuki dan Riyu diam sejenak dan melihat di sekelilingnya banyak orang yang memperhatikan. Kemudian mereka saling memandang, mengangguk bersamaan dan kemudian memberikan buku yang mereka perebutkan dan beberapa buku ke pelayan toko, “Kita ambil itu, Mbak,” ucap Yuki dan Riyu secara bersamaan.

 

Continue reading this series: