Posted on

BAB 7

This post is part of the series EASYGOING COUPLE

Other posts in this series:

  1. BAB 5
  2. BAB 6
  3. BAB 7 (Current)
  4. BAB 8
  5. BAB 9

“Hari ini Bapak akan mengumumkan hasil pra produksi yang terbaik. Bukannya bapak ingin menonjolkan kelompok ini, tapi Bapak ingin kalian juga meniru mereka walaupun jika dilihat secara langsung kelompok ini cukup kasihan. Selamat untuk kelompok Yuki dan Riyu. Kalian sudah bekerja sama dengan baik walaupun hanya berdua. Bapak ingin kalian meniru semangat mereka berdua. Mereka berdua sering konsultasi dengan saya. Bukan hanya seminggu sekali seperti yang Bapak suruh, tapi mereka konsultasi hampir setiap hari dan saat mereka mendapat kesulitan. Bertanya kepada dosen bukanlah hal yang memalukan karena tidak bisa melakukannya sendiri melainkan itu hal yang benar karena dengan begitu kita bisa mengetahui secara pasti apa yang seharusnya dilakukan dengan benar. Bapak ingin kalian berkonsultasi dengan sungguh-sungguh, bukan hanya karena Bapak suruh. Dan sekarang hasilnya apa?? Kelompok yang hanya beranggotakan 2 orang yang kalian telantarkan ini yang mengumpulkan pra produksi paling sempurna diantara kalian. Sejujurnya Bapak sedikit kecewa dengan kalian,” celoteh Pak Bagus secara panjang lebar. Sedangkan Riyu dan Yuki saling tersenyum merasa bangga sambil bertoss ria dibawah meja.

Setelah jam pelajaran berakhir, Pak Bagus sengaja meninggalkan laporan pra produksi semua kelompok diatas meja dosen. Para mahasiswa langsung berhamburan maju ke meja dosen untuk melihat karya Riyu dan Yuki. Mereka sangat penasaran dengan laporan yang mereka buat. Mereka penasaran apakah pujian Pak Bagus benar atau hanya omongan belaka. Sedangkan Riyu dan Yuki masih tersenyum-senyum bangga sambil membereskan buku-buku dengan pelan.

“Lihat ini, pra produksi mereka memang bagus,” ucap salah satu mahasiswa.

“Iya, dengan melihat ide ceritanya saja sudah membuatku penasaran,” ucap mahasiswa lainnya.

“Lihatlah karakternya!! Bukankah itu sangat keren??” berbagai pujian keluar dari mulut mereka secara tidak langsung.

“Bodohnya kita membuang orang-orang seperti itu. Kira-kira apa bisa kalau kita meminta bantuan kepada mereka, yah??” salah satu mahasiswa tampak menyesal dan sangat ingin meminta bantuan kepada Riyu dan Yuki. Tapi kemudian proposal yang Ia pegang diambil oleh seseorang dari belakang.

“Permisi, ini punyaku dan Yuki, kan?? Terima kasih sudah diambilkan,” ucap Riyu dengan sombongnya. Ia merasa senang melihat ekspresi anak-anak kelasnya yang tadinya membuangnya dan Yuki tapi kini tampak ingin meminta bantuan dengannya. Mereka semua memang tau benar kalau Yuki dan Riyu sangat pintar dan cukup cerdas, tapi mereka berdua sama-sama buruk dalam hal bekerja sama. Tapi kenapa saat ini mereka jadi sangat bagus??

“Permisi, yah?? Kami mau bekerja sama dulu mengerjakan project ini,” ucap Yuki yang sedikit menekankan kata bekerja sama. Dan akhirnya mereka berduapun pergi meninggalkan kelas dengan perasaan bangga dan senang.

Yuki dan Riyu makan siang bersama di kantin sebagai peringatan proposalnya menjadi yang terbaik di kelas. Untuk pertama kalinya mereka makan bersama secara damai tanpa ada pertengkaran sedikitpun, melainkan suasana yang santai dan menyenangkan karena hasil dari bekerja sama mereka.

“Yuki, apa kau lihat tadi ekspresi mereka saat tau kalau proposal kita sempurna?? Entah kenapa aku merasa senang melihatnya,” celoteh Riyu yang semakin hari semakin bawel kepada Yuki.

“Aku juga entah kenapa merasa senang melihat ekspresi mereka tadi. Tapi tunggu sebentar. Yuki?? Tumben sekali kau memanggil namaku??” tanya Yuki yang bertanya dengan polosnya sambil menyuapkan mie ayam ke mulutnya. Memang selama ini mereka berdua tidak pernah memanggil satu sama lain dengan nama. Biasanya mereka berdua memanggil satu sama lain dengan seenaknya sendiri. Entah ‘heh’, ‘eh’, atapun ‘kau’.

“Entahlah, aku juga tidak sadar mengatakannya. Kau membuat moodku jatuh saja,” Riyu tampak salah tingkah secara tidak sadar. Sikap dinginnya perlahan mulai luntur. Sedangkan Yuki entah kenapa masih saja bersikap dingin kepadanya.

“Memangnya kenapa?? Tidak ada salahnya juga memanggil namaku. Nama kan memang untuk memudahkan seseorang saat memanggil,” jelas Yuki dengan cueknya. Entah kenapa Ia sedikit tidak tega saat Riyu mengatakan bahwa Ia tidak mood.

“Iyalah, terserah. Hanya saja kau tidak pernah memanggil nam…”

“Riyu…” potong Yuki sambil menatap Riyu yang tadinya tatapannya berjalan-jalan, tapi kini Ia menatap Yuki yang sedang menatap Riyu dengan lembut dengan senyum tipis.

“Apa yang kau lakukan??” tanya Riyu sambil menatap Yuki yang saat itu cukup manis.

“Aku hanya memanggil namamu saja supaya kamu kembali mood. Ayo cepat makan saja. Makanannya tidak bisa masuk ke perutmu dengan sendirinya,” celoteh Yuki dengan sedikit kesal. Ia sudah berusaha mengembalikan mood Riyu tapi respon Riyu malah menyebalkan seperti itu.

“Terima kasih,” ucap Riyu sambil meminum minumannya dan memandang ke arah lain menghindari kontak mata dengan Yuki.

“Sama-sama,” Yuki sedikit tersenyum melihat tingkah Riyu yang menurutnya cukup lucu saat itu.

“Ehm… Bolehkah kita ikut bergabung disini??” ucap seorang gadis yang wajahnya tidak asing bagi Yuki.

Yuki hanya mengangguk saja dan gadis itu dengan agak ragu duduk di sebelah Riyu karena tempat duduk disamping Riyu lebih dekat.

“Ada apa??” tanya Riyu sambil berdiri dan berpindah tempat duduk. Ia mendorong Yuki sedikit sambil memberi isyarat supaya Yuki bergeser sedikit. Riyu merasa enggan duduk bersebelahan dengan cewek lain. Tapi entah kenapa Ia merasa nyaman dan santai jika duduk di sebelah Yuki.

“Ehm… Anu… Aku…” gadis itu tampak terbata-bata dan sedikit takut untuk berbicara dengan Riyu dan Yuki. Nampaknya gadis itu lebih takut dengan Riyu.

“Mau minta tolong tentang project Pak Bagus?? Kau bukannya gadis yang ada di bangku taman?? Yang dimarahi Riyu itu, kan” tanya Yuki yang memotong omongan gadis itu yang menurutnya terlalu lama karena terbata-bata.

Riyu tampak bingung dan dengan spontan Ia menatap Yuki dan tatapannya seolah berkata, ‘Siapa yang kau maksud??’.

“Dia gadis yang mau aku beri buku jilidan yang kau kira itu project kita,” ucap Yuki yang seolah paham bahwa Riyu butuh penjelasan.

“Hm… Bukannya kau dan anak-anak di kelas sudah tau bagaimana kita??” ucap Riyu yang mulai angkat bicara. Riyu sebenarnya cukup tegas jika dibandingkan dengan Yuki yang lebih ke arah santai.

“Benar kata Riyu. Kita tidak akan bisa membantumu banyak hal. Mungkin aku hanya bisa meminjamkanmu buku ini dan sisanya kau bisa cari di perpus atau bertanya dengan Pak Bagus.

“Maaf aku dan anak-anak sudah salah menilai kalian. Owh iya, namaku Intan,” ucap Intan yang sangat rama menjabat tangan Yuki.

“Sudah, tidak apa. Lagipula memang sikap kita yang tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitar,” Yuki mencoba bersikap ramah terhadap Intan. Ia sadar bahwa Ia tidak boleh hidup dengan cara menyendiri seperti dulu.

“Kalau kalian butuh bantuan atau apa, kalian bisa bilang padaku. Owh iya ini nomorku. Hubungi aku kapan saja. Aku masih ada urusan, aku pergi dulu yah?? Ah, Yuki, bukumu aku pinjam dulu yah?? Mau aku copy, besok aku balikin,” Intan kemudian pergi dengan tersenyum dan tampak senang.

“Apa ini?? Tidak biasanya kau bersikap ramah seperti itu. Ada apa??” tanya Riyu yang sedikit penasaran dengan sikap Yuki.

“Tidak apa. Aku hanya sedikit sadar bahwa aku tidak bisa hidup dengan cara menyendiri terus-terusan seperti dulu,” jawab Yuki dengan santainya sambil meminum minumannya.

 

Continue reading this series: